Long Distance Marriage is Never a Good Idea

image

Reaching 5 years of our marriage! Alhamdulillah. Laughters, tears, smiles, frowns, disappointments, surprises berganti-gantian menghiasi 5 tahun pernikahan kami. 5 tahun versi tahun masehi. 5 Februari 2011. Saya sah menjadi istrinya Abang Priana Ashri.

Dan memilih menjalani hubungan pernikahan jarak jauh atau Long Distance Relationship atau LDR is totally a wrong selfish decision that I’ve done. LDR sangat tidak sehat dan menyiksa. There. I said it. With full of my conscience.

Ketika saya memutuskan untuk lanjut kuliah di Pontianak yang berarti dalam 1 bulan saya harus 2 kali bolak balik Pontianak – Sekadau, kemudian saat akan selesai, selama 1 bulan saya stay di Pontianak untuk fokus dengan vacation project alias tesis, teman saya pernah menanyakan saya apakah tidak sedih dan galau LDRan begitu? Dia bilang, sebagian besar teman-temannya merasa tersiksa harus LDR setelah menikah. Waktu itu, I answered NO I didn’t feel sad. I meant it. Waktu itu, yang ada dalam kepala saya adalah: segera setelah urusan tesis ini kelar, saya akan balik lagi ke Sekadau, sehingga tidak sempat sedih dan merana.

Sekarang, situasinya berbeda. LDR yang saya jalani barangkali seperti LDR yang kemarin-kemarin dijalankan oleh orang lain. LDR yang belum tau kapan bisa akan benar-benar settled menjalani kehidupan berumah tangga seperti di 3 tahun pertama pernikahan.

Segala sesuatu ada baik buruknya, termasuk LDR, meskipun tentu saja, buruknya jauuh lebih banyak. So far, yang baik dari LDR itu ya rasa rindu yang berlapis-lapis. Lebih tebal dari lapisan wafer tango haha. Buruknya LDR? Waah you name it!

Terlepas dari baik buruknya LDR, LDR after marriage is never a good idea. Apalagi kalo bukan jenis LDR yang terpaksa harus dilakukan. LDR yang terpaksa itu misalnya, suami istri sama-sama PNS, sedangkan salah 1 atau keduanya belum dapat izin pindah ikut pasangan. Contoh lain, suami atau istri dapat beasiswa ke luar negeri tapi tidak memungkinkan untuk membawa serta pasangan dan anak. Itu LDR yang memang terpaksa harus dijalani, tidak bisa dihindari. Tugas negara, tidak bisa diganggu gugat. Sedangkan LDR yang sebetulnya bisa dihindari itu contohnya yang seperti saya ini. Tidak ada yang PNS, tidak ada yang dapat beasiswa, tapi demi memenuhi keinginan orang tua, maka terjadilah LDRan. Sebagai wanita yang sudah berstatus istri, kadangkala sering lupa (atau tidak enak untuk menolak) bahwa urutan patuhnya adalah: 1. Allah dan Rasul, 2. Suami, 3. Orang tua. Bagi seorang istri, tidak ada istilah patuh pada orang tua. Patuh itu ya sama suami, baru ke orang tua. Tentu dengan catatan, yang diperintahkan suami berada dalam koridor syariat. And I am a living proof of this theory.

Dan memang beginilah kehidupan pernikahan. Tidak ada kehidupan rumah tangga yang benar-benar sempurna. Tidak mungkin bahagia terus tanpa sedih. Satu-satunya yang menjadikan sebuah rumah tangga terasa dan tampak sempurna adalah rasa syukur dan ikhlas menerima apapun yang sudah Allah gariskan, either itu di pasangan kita, atau pada situasi dalam pernikahan yang kita jalani.

Di usia 5 tahun pernikahan kami, dengan level kesabarannya yang seringkali bikin saya speechless, saya berdoa supaya Allah berkenan hadiahkan 1 rumah di syurga untuk suami saya, sebut saja bang Aci. Sedangkan saya, saya masih harus terus banyak belajar menata diri, menata emosi, menata hati supaya nanti layak menemani bang Aci di syurgaNya Allah. Aamiin.

Untuk seluruh pasangan suami istri yang menjalani Long Distance Relationship, baik karena terpaksa atau terlanjur, mari kencangkan sabar kita. Buahnya sabar selalu manis, ya kan? :)

Kita dan Rencana yang Bikin Hidup Jadi Lebih Menantang

image

2015 sebentar lagi habis, dan beberapa orang tampaknya sudah sangat optimis dengan rencana-rencana mereka di 2016. Are you one of them?

Resolusi. Kata yang populer di ujung dan awal tahun. Lulus kuliah, dapat beasiswa, being settled di pekerjaan dan bisnis, menikah dengan idaman hati pujaan jiwa, punya anak, hidup sehat bahagia selama-lamanya dunia akhirat, itu dia harapan-harapan sebagian besar umat manusia tiap ditanya mau apa di tahun berikutnya. Ada yang Allah uji dengan kemudahan mendapatkan semuanya sekaligus, ada yang diuji dengan dicicil satu per satu, ada yang diuji dengan cara yang hanya Allah dan dia saja yang tau.

Ketika sharing di kelas, saya pernah berkata pada para siswa/mahasiswa saya bahwa menjadi manusia yang hidup dengan rencana itu jauh lebih kece daripada hidup dengan prinsip “biarkan mengalir seperti air”. Bagi saya, prinsip mengalir seperti air biarlah berlaku ketika segala macam ikhtiar dan lantunan doa akan rencana yang kita rancang sudah berjalan maksimal. Kalau dari awal sudah ngaliir aja, kok yaa rasa-rasanya seperti hidup tanpa visi. Karena itulah kita perlu rencana. Teman saya bilang, rencana-rencana dalam hidup itu bisa membuat hidup kita jadi lebih menantang loh.

Di 2016, saya yang sangat berbakat punya badan melar ini punya harapan supaya bisa bebas ngemil dan makan apa saja tapi bodi bisa tetap ideal seperti suami saya yang memang tidak punya bakat gemuk sama sekali. An absurd resolution, yes I know 😂. That’s why, saat saya tersadar bahwa teknologi buang lemak dengan aplikasi atau alat bakalan masih lama banget terwujudnya dan entahlah akankah saya masih hidup di era itu kelak, saya segera menuliskan rencana-rencana realistis demi terwujudnya berat badan ideal. Jangan anggap harapan ini harapan konyol, loh! Punya berat badan ideal dan tidak gampang melar ini berdampak di berbagai aspek dan rencana-rencana lainnya, terutama buat saya. Berbadan ideal impacts to economics, aesthetics, social, health, psychological side, endesbre endesbre 😎

Letak menantangnya adalah ketika kami *saya dan beberapa orang yang punya harapan sama* berjuang sekuat tenaga mewujudkan harapan tersebut. Menarik badan dari kasur yang senantiasa bermagnet tiap akan pergi olahraga, berusaha pura-pura lapar ketika cemilan sedang banyak-banyaknya, ajakan hangout yang dibarengi icip-icip, wow you guys don’t know how they will be such challenging challenges haha.

Itu sekedar contoh bagaimana rencana bisa bikin hidup jadi penuh tantangan untuk sebuah harapan sederhana. Bayangkan, seberapa besar tantangan yang akan teman-teman hadapi dengan harapan-harapan besar yang telah tertulis maupun sekedar dipetakan di kepala? Baru membayangkannya saja udah bikin berdebar ya :)

Apapun rencana dan langkah yang kelak akan kita lewati di 2016, baik nanti bakalan terwujud atau tidak, harapan saya, kita semua menjadi manusia yang tak cuma bertambah usianya, tapi bertambah juga amal baiknya. Amalan-amalan baik yang semoga saja bisa jadi penyebab Allah memberikan kita rahmatNya, trus jadi penghuni syurga deh selama-lamanya 😁 Aamiin kaan yuuk mari.

So, what’s your plan for 2016? Are you ready to make them true? ;)

Kita dan Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan

happiness is pray on time

Wilson J. Washington pernah berkata, “Happiness comes from within. Granting another human being the power to determine your level of happiness is removing your ability to decide“.

Mr. Washington sepertinya juga hidup di zaman ketika sebuah perasaan yang hakikatnya hadir dari dalam diri kita masing-masing, tanpa sadar dibuat standarisasinya. Ngerasa gitu juga, ya kan? Bahwa di event-event tertentu dalam hari-hari yang kita jalani, akan selalu saja ada “Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan” yang sepertinya menjadi bahagia setelah membuat standar kebahagiaan hahaha.

Kita semua sepakat bahwa tiap orang punya trigger of bliss yang berbeda-beda. Meskipun, yes, bagi saya dan muslim lainnya, kebahagian sejati tentu lah ketika kelak di akhirat mendapatkan rahmat dari Allah berupa jannah yang kekal abadi. Yang begini adalah hal yang pasti, undebatable, undeniable. But this is not what I really mean as standarisasi kebahagiaan dalam keseharian yang kita lewati.

Yang disayangkan adalah stereotip kebahagiaan yang terlanjur berlaku nasional maupun lokal dalam pergaulan sosial kita di dunia. Saya mengobservasi bahwa masih banyak sekali orang yang membuat standar bahwa prosedur-kehidupan-maka-kalian-pastilah-bahagia itu haruslah sesuai dengan isi otak mereka. Masih sedikit yang seiya sekata dengan kesepakatan global mengenai “happiness comes from within”, sama sedikitnya dengan jumlah manusia yang bersedia hidup tanpa peduli dengan kata-kata “Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan”.

Saya menyimak cukup banyak kisah dari beberapa teman, tentangĀ ibu mertua, tentang suaminya, tentang pekerjaannya, tentang kuliahnya, tentang anak-anaknya, dan beragam kisah lainnya. Dari cerita yang menurut saya sangat simple dan sungguh absurd sekali untuk dijadikan alasan untuk bersedih atau bahagia, sampai cerita yang saya pun ikut sedih, geram, dan ikut bahagia sekali bahkan sekedar menyimak kisahnya. So there I try to walk a mile in their shoes. Lah orang saya aja sekedar jajan gamis dan dapat khimar yang matching dengan gamisnya bisa merasa bahagia luar biasa haha.

Mari mencoba untuk tak lagi masuk dalam Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan. Kalau menurut kita orang lain akan lebih bahagia jika mereka mendapatkan hal-hal yang menurut kita harus mereka dapatkan, ayo kita latih supaya itu tidak menjadi standar bahagianya dia. Karena kita tak tau kan apa iya yang ada dalam kepala kita itu adalah hal yang akan bikin mereka bahagia hanya karena kita sudah duluan merasakannya? Belum tentu, ya khaan ~

Apa iya kita harus punya standar kebahagiaan hidup yang sama? Apa iya kita harus jalani prosedur kehidupan serupa? Ada orang yang senang dan bahagia dengan sekadar melihat lautan, tanpa harus menceburkan diri ke dalamnya. Pun ada, juga tak mengapa ketika baru merasa bahagia setelah kaki basah oleh air laut. Lantas, kenapa bahagia kita harus disamaratakan? Bukankah kita menjalani kehidupan yang berbeda. Mengutip kalimat seorang teman, “Kebahagiaan bukan matematika, yang rumus dan hasilnya sama seantero jagad manusia”. Selagi bukan kebahagiaan orang lain yang engkau curi, hiduplah tentram dengan standar bahagia kita sendiri.

Well. Ternyata sekedar membuat tulisan ini pun I feel so happy, as happy as I find out that you’ve read this post 😁 Thanks a lot for reading and becoming the part of my happiness ;).

Kita dan Piknik yang Kurang Terus

image

Kurang piknik, *apalagi kurang dzikir*, amat sangat berpengaruh terhadap tingginya angka sensitivitas dan emosi kita *atau cuma saya?* sebagai manusia biasa. Normally, people get bored with their daily routines. Kalaupun beruntung dapat kerjaan yang tak bikin bosan, I believe normal people can also get tired of routines, secinta apapun sama pekerjaan. Untuk itulah manusia butuh piknik. Supaya sumpeknya hilang dan segar kembali menjalani hari-hari. Mengutip kata-kata Imam Syafi’i, “Lakukanlah safar, karena di dalamnya ada lima faedah: menghilangkan kesumpekan, mengais rezeki, mendapatkan ilmu, adab, dan teman yang baik”.

Tapi itu kan safar, bukan piknik, din! Iya, kak. Piknik dalam perspektif saya ketika menulis postingan ini adalah piknik yang kita perlu bersafar (traveling) untuk melakukannya. Sepakat yes dengan definisi piknik di postingan ini? Baiklaah ~

Bagi saya, piknik adalah niscaya. Yaah minimal ke pantai terdekat di kota anda gitu deh. Tak ada waktu buat piknik karena pekerjaan terlalu menumpuk? Disempat-sempatkan doong ah. Seperti yang saya tuliskan di status Facebook saya setelah jalan-jalan ke Singkawang akhir bulan lalu, piknik itu sebetulnya mesti disempat-sempatkan, karena kalau nunggu sempat, kapan pikniknya? Works won’t stop, sedangkan jiwa raga perlu rehat sejenak dari hiruk pikuk rutinitas. Kalau belum sempatnya karena repot bawa anak sih beda kasus kali yaaw. I haven’t had any experience piknik sembari bawa-bawa anak.

Throwing back to the past time, rasa-rasanya saya justru lebih sering piknik ketika otak sedang ngepul-ngepulnya kayak kopi panas. Saya pergi piknik bukan di hari orang-orang pada umumnya berpiknik. Misal, dulu di kelas 3 SMA, saat mayoritas kawan-kawan berencana ke pantai setelah ujian nasional, saya dan beberapa teman dekat malah memilih untuk ke pantai sebelum UN, ketika les tambahan untuk persiapan UN sedang banyak-banyaknya. I thought it was more effective, and yes it was, karena tujuan ke pantainya kan untuk lepas lelah. Maka, ketika sedang lelah itulah waktu yang pas buat piknik.

Selain itu, saya pun bukan tipikal orang yang suka keramaian. Lokasi piknik saat weekend atau hari libur bisa dipastikan crowded with a lot of people. And I don’t really like it. Pertama, kurang dapet suasana relaksasinya. Kedua, kurang maksimal pose buat jepret-jepret dokumentasi, bakalan ‘rebutan’ spot sama pengunjung lain haha. Anyway, timing piknik ini menyesuaikan dengan selera masing-masing sih. Tidak semua orang suka suasana yang sepi, pun tak semua orang bisa suka-suka memilih kapan mau piknik. Kapanpun itu, piknik lah seperlunya tanpa meninggalkan tanggung jawab kita. Kalo macam saya yang kuli pengajar ini, alhamdulillah masih bisa cari pengganti agar kelas tetap berjalan. Atau, mengganti kelas di hari lain sesuai kesepakatan bersama. Begitu.

Dan walopun sudah piknik lalu kembali lagi bekerja, selalu saja rasanya piknik yang kemarin-kemarin itu masih kurang 😂😂😂. Pengennya pikniiik aja melulu hahahah. Do you feel the same way? Barangkali sebetulnya kita saya ini bukan kurang piknik sih, tapi kurang dzikir. Dzikirnya masih kurang maksimal, perlu ditingkatkan lagi kualitas dan kuantitasnya supaya isi pikirannya tak melulu ngumpulin duit buat jalan-jalan kesana kemari huhu.

Anyway, ladies and gentlemen, kembali ke kalimat pembuka postingan ini, jangan sampai kita kurang piknik, apalagi kurang berdzikir. Tak perlu merasa kalau kita selalu kurang piknik, tapi saya rasa tak mengapa kalau kita senantiasa merasa kurang dzikir, supaya hari-hari diisi sama dzikir terus, gitu. Karena untuk berdzikir, persiapannya tak serempong persiapan pergi piknik, ya khaan? ;)

Tentang Kita dan Pekerjaan yang Kita Pilih

image

Kata Steve Jobs, satu-satunya cara memiliki kinerja oke adalah dengan mencintai apa yang kita kerjakan. Do you agree?

Saya setuju bahwa mencintai pekerjaan adalah cara yang ampuh agar kinerja kita kece dan memuaskan. Tapi kalau dibilang satu-satunya cara, well I think we can have more reasons to do great work, even if maybe we’re in a situation where we haven’t had any love to the job. Misalnya? Bekerja adalah ibadah, ikhtiar dalam rangka bertanggung jawab menafkahi anak istri, that’s also a very motivating reasons to do a great work, isn’t it? Meskipun tentu saja akan jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan manakala kita menikmati dan sangat mencintai pekerjaan yang kita pilih.

Beda manusia, beda pilihannya. Setiap kita memiki interest dan passion yang beragam. Setiap kita punya alasan dan latar belakang kenapa kita pilih 1 pekerjaan yang kadangkala tak perlu kita jabarkan alasannya kepada orang lain. Maka, tak perlu merasa profesi yang kita pilih adalah profesi paling enak di dunia. Merasa superior karena nominal yang kita dapat tiap bulannya nol-nya banyak. Merasa kece sendiri karena profesi yang dijalani terbukti membuat kita bebas mau jalan kapan saja dengan keluarga. Merasa paling keren karena kerjaan kita bergengsi di mata masyarakat. Stop comparing what we do with what others do.

Orang-orang seperti saya, yang memilih menjadi kuli dengan cara berbagi ilmu dengan anak-anak orang yang datang dari berbagai daerah punya kepuasan yang tak bisa kami jelaskan kepada orang-orang seperti suami saya, yang memilih untuk menjadi ‘bos’ bagi diri sendiri. Pun orang-orang seperti beberapa teman saya yang memilih bekerja di perusahaan swasta dengan kerja shift-shiftan pagi sore malam, tentulah punya kepuasan kerja berbeda dari orang-orang seperti ibu saya yang kerja di kantor pemerintah dengan jam kerja senin hingga jumat dari pagi hingga sore. We’re just different but I believe we enjoy our job in our own ways.

Bagi saya, misalnya, yang dengan kesadaran penuh memilih MENJADI PENGAJAR sebagai lahan bekerja dan berdakwah, rasa puas dan bahagia selalu menyertai pada saat dan setiap selesai mengajar. Apalagi ketika yang diajak berbagi ilmu menampakkan antusiasme tinggi. Rasanya bahagiaaa sekali. I love that they love learning. I assume that they learn with pleasure. Kalo kata Alfred Mercier,

What we learn with pleasure we never forget.

And I totally agree with that. That’s why I always try my best to create a fun and pleasure ambience when teaching. Supaya proses berbagi ilmunya dijalani dengan penuh rasa bahagia sehingga ilmunya pun betah nempel berlama-lama di otak :)

Pun demikian kan dengan teman-teman? Saya yakin, dalam tiap detail pekerjaan yang kita lakukan setiap harinya, paling tidak ada 1 atau 2 hal yang bisa membuat kita puas dan bahagia setelah selesai mengerjakannya. Kepuasan yang tak bisa kita jelaskan pada orang lain, karena yah begitulah, setiap orang punya interest dan passion yang berbeda. Jadi, kenapa harus merasa pekerjaan kita yang paling ideal?

image

Selagi kita senang dan bahagia mengerjakan pekerjaan kita masing-masing, banyak-banyaklah bersyukur. Kalaupun sekarang belum cinta dengan pekerjaan kitadan belum cukup berani memutuskan untuk beralih pekerjaan, just see from the bright side. Anggaplah sekarang sedang berada dalam zona tantangan, out of the box, you still get a lot of things from what you do no matter what ;).

Let’s stop interfering and judging others’ choices. Focus on yours. Nggrecokin pilihan kerjaan orang lain juga tidak menambah kualitas bahagia di hati kita, ya khaan? *ngomong sama diri sendiri karena dulu pernah begini hahahahah 😝*.

And finally, I just would like to say that I really loooovvvveeee what I am doing now. Bekerja tapi menambah ilmu dan bersenang-senang, eh di awal bulan tau-tau dibayar hihihi. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

image

Tentang Kita dan Baper yang Kita Punya

image

Gambar di atas sempat membuat saya ngikik elegan *ahelah, macamana itu ngikik elegan :p*. Karena momennya pas betul di pekan ketika saya merasa saya BAPER!

Apa sih “baper”?. Entah siapa pencetus singkatan ini, tapi saat ini istilah baper cukup sering digunakan terutama di kalangan anak muda masa kini, atau anak yang tak lagi muda tapi yaah boleh lah dibilang berjiwa muda. Baper, singkatan dari bawa perasaan. Maksudnya apa ya bawa perasaan?

Setau saya, belum ada konsensus khusus yang membahas definisi baper. Tapi, dari berbagai konteks kalimat dan situasi yang saya jumpai *juga alami hahahahah*, baper sering dikaitkan dengan tingkat sensitivitas seseorang terhadap suatu keadaan ataupun kepada orang (atau orang-orang) tertentu.

Sebenarnya siiih dari jaman dulu juga saya rasa kita semua pernah mengalami situasi di mana baper seringkali di bawa-bawa. Misalkan, ketika SMA, atau kuliah, atau di tempat kerja, sempat dekat dengan si X, lahluuu karena X sekarang udah jadi pejabat atau jadi paduka raja yang menyebabkan kesibukannya kian ekstra, lantas jadi seperti tak punya waktu lagi untuk sekedar sapa-sapa atau lambai-lambai sebentar ke kita. Well, everybody’s changing, no? Nah, rasa keberatan atau kurang ikhlasnya kita menerima perubahan inilah yang lantas sama beberapa orang disebut BAPER. Bawa perasaan. Dijadikan persoalan. Begitulah kira-kira mungkin yaa ~

Contoh lainnya sebetulnya sih masih banyak. Tapi khawatirnya nanti dibilang nyindir kalo saya paparkan semua :p Semoga contoh kasus di atas cukup memperjelas makna baper yaa untuk yang masih bingung baper itu apa :D

image

Lalu, apa maksud saya menampilkan screenshot di atas? Hihihihi.

Tidak ada maksud apapun selaiiin sepakat dengan gambar tersebut bahwa baper, menurut saya ya ini, memang boleh-boleh saja kok. Dalam beberapa situasi, malah baper sangat diperlukan. Baper, atau menurut generasi yang belum terlalu banyak makan micin dinamakan ‘sensitif’, tetap perlu kita miliki terutama saat berurusan dengan orang lain. Kita perlu peka dengan situasi orang lain. Bilamana mendapati teman yang tadinya pernah dekat, kalo chat pernah asik betul, kalo nanya-nanya bahasa inggrisnya ini itu ke kita *ini kenapa nyambil curcol hahahahaha 😜😜😜*, lalu baik secara mendadak atau perlahan tapi pasti mulai ada jarak terbentang, maka saya rasa kita perlu mempertajam sensitivitas kita. Bukan untuk mempermasalahkan perubahannya dia, melainkan melihat ke diri sendiri kesalahan macam apa yaa kira-kira yang pernah kita lakukan. Mungkiiin, tanpa disadari pernah menyunggung perasaan dia, pernah bohongi dia, atau yaa mungkin kitanya yang emang sudah tak seasik dulu, as simple as that.

Kalau punya kasus serupa, plis baper lah pada tempatnya yaw. Jangan nuduh saya nyindir loh :p

Pesan saya hanya 1: Jangan terlalu memaksakan diri dengan interaksi yang nyaris tak mungkin dibangun lagi. Atau seperti tulisan di gambar ini deh:

image

Atau boleh juga coba laksanakan kutipan dari Mark Chernoff ini:

image

Sepakat ya :D

Dan btw, seriously, postingan ini saya tulis dalam keadaan bebas baper berlebihan. Saya tulis dalam keadaan woles sambil senyum-senyum bahagia *karena sambil bbman dengan orang-orang terkasihhh :p*. So, semoga bermanfaat dan jangan takut dianggap baper. Kalo ada yang nuduh baper, anggap saja yang nuduh kebanyakan makan micin hahaha.

Pontianak Menyapa Dunia

image

It’s October 23! I devote my time to write this post special to commemorate the 244th anniversary of my beloved hometown, Pontianak. Happy 244th Anniversary Pontianak!

Why do I write this post in English? Because I expect broader audience so I can introduce to people outside there who do not speak Bahasa Indonesia, to let them know that Indonesia is not only Bali, Jakarta, or Java. Indonesia also has Pontianak. And they deserve to know this. Through this post, I also intend to invite my friends to together acquaint and promote Pontianak through some fun ways based on our own passion and interest.

You know, there are several media we can use to make Pontianak noticeably famous, or at least recognized globally.

1. Through sport events.

Well I personally do not really understand how the sport in Pontianak goes. But once I read an article that Pontianak conducted some sport events that attract people’s attention, particularly the tourists to visit Pontianak. Pontianak *or broader, West Kalimantan* athletes or you who love sport, can also promote Pontianak through your achievements in your sport skill. Going abroad and being Pontianak even Indonesia representative can be a very good way to let them know about this beloved city.

2. Through writing.

Writing can be the academic or non academic ones. For the academic writing, I have some lecturers who have published their academic writing to some international journals, and I believe that they must be introduced as the writers from Pontianak, Indonesia. Pride! While for non academic writing, we also have some great local writers. Writing novel, books, or blog like I do! I know that what I am doing now can not be ideally defined as writing to promote Pontianak to people around the world since I do realize that my blog hasn’t been that famous to notice haha. Anyway, I am trying.

3. Through social media.

This is the easiest and the most fun way, I think. It’s only on the tip of our finger and we do this almost everyday. And I have seen many of my friends do this. They proudly shared about Pontianak, the events, things like the project they do to celebrate the anniversary, and other many fun ways that worth-social media-sharing. Using hashtag like #IndonesiaBukanHanyaJawa (Indonesia is not only Java) to catch people’s attention that we’re here in Pontianak still the part of Indonesia. Have you promoted Pontianak through your social media accounts?

4. Through Trading.

We’re now in the era called AFTA. Asean Free Trade Association. And trading is one good way to promote our local product, no? We have good agricultural products, handmade things, competitive goods and services that I believe are also great to promote our city.

5. Through Food.

Who doesn’t like food? Almost no one! I think culinary is the best way to promote Pontianak and West Kalimantan. We have a lot of special local food to offer. Asam pedas, chai kue, bubur padas, aloe vera, pacri nanas, oh come on don’t force me to mention it more, I am hungry enough writing this post :p

6. Through culture

This is also very interesting. As foreigners, I believe you will love this a lot because this one is the thing you can’t find in your country. If the food is maybe not really suit your taste, then some of our traditional cultures might be able to attract your attention. We have zapin dance, dayak dance with its various stories behind the dance, saprahan, and so many others.

7. Through some tourism places.

What does Pontianak have? We have a lot! Equator monument, rumah radakng, aloe vera center, alun-alun kapuas or waterfront city, and of course the longest river in Indonesia, Kapuas river. Although I do realize that some of the places are still in need of more expert ‘touching’ to make it more splendid, but at least those places are still worthy to visit ;)

Do you have any other ways to promote Pontianak? Come on, share here in the comment box :D

Happy 244th anniversary, Pontianak!