Jika Hamil Itu Kompetisi Apakah Semua Perempuan Harus Jadi Pemenang?

Originally posted on Flying so light to the sky:

Marisa Tomei, Artis dan Produser Marisa Tomei, Artis dan Produser

Seorang teman saya membagikan sebuah link artikel yang pernah ditulisnya ketika belum melahirkan. Salah satu kalimat yang saya ingat betul adalah hamil itu bukan lomba makan kerupuk, siapa yang paling cepat habis maka dialah pemenangnya. SAYA MENGAMININYA DENGAN SEGALA IMAN KEBERTUHANAN YANG SAYA PUNYA.

Tahun ini, saya dan Daniel memasuki pernikahan ketiga. Maka intensitas pertanyaan kapan hamil makin sengit kaya walang sangit….Jika di bulan-bulan awal pernikahan pertanyaan, “Kapan hamil?” masih bisa saya jawab dengan senyum-senyum manis, bayangin dong di tahun ketiga ini bagaimana saya menjawab pertanyaan itu. Dengan mencoba tersenyum. Dicatat ya, mencoba tersenyum. Iya ngga bisa senyum santai kaya dulu karena terlalu amat sangat bosan mendengar pertanyaan seputar hamil. Begini kira-kira reaksi dalam hati ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

View original 1,141 more words

Orang yang Pantas Dicemburui

image

Hukum asalnya, sifat iri dan cemburu terhadap kelebihan orang lain dalam Islam tidak diperbolehkan. Karena sifat ini mengandung prasangka buruk kepada Allah dan tidak ridha dengan pembagian yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammengecualikan beberapa orang yang boleh dan pantas untuk dicemburui karena kelebihan besar yang mereka miliki.

Siapakah mereka? Temukan jawabannya dalam hadits berikut ini,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari).

Maksud “iri/cemburu” dalam hadits ini adalah iri yang benar dan tidak tercela, yaitual-gibthah, yang artinya menginginkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut.

Coba perhatikan dan renungkan hadits ini dengan seksama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenyebutkan dua golongan manusia yang pantas untuk dicemburui, yaitu orang yang memahami al-Qur’an dan mengamalkannya serta orang yang memiliki harta dan menginfakkannya di jalan Allah.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan sebab yang menjadikan mereka pantas untuk dicemburui, bukan karena kelebihan dunia semata yang mereka miliki, tapi karena mereka mampu untuk menundukkan hawa nafsu yang mencintai dunia secara berlebihan, sehingga harta yang mereka miliki tidak menghalangi mereka untuk meraih keutamaan tinggi di sisi Allah.

Inilah kelebihan sejati yang pantas dicemburui, adapun kelebihan harta atau kedudukan duniawi semata maka ini sangat tidak pantas untuk dicemburui, karena ini hakikatnya bukan merupakan kelebihan tapi celaan dan fitnah bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah s shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta”.

Oleh karena itu, cemburu dan iri hanya karena kelebihan harta yang dimiliki seseorang tanpa melihat bagaimana penggunaan harta tersebut, ini adalah sifat yang sangat tercela. Allah berfirman tentang orang-orang yang iri melihat harta kekayaan Qarun:

{فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ. فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ. وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ}

Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan perhiasannya (harta bendanya). Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: “Duhai kiranya kami mempunyai harta kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar memiliki keberuntungan yang besar. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: “Celakalah kalian! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Maka kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang (mampu) menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudkan (harta benda) Qarun itu berkata: “Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Al Qashash: 79-92)

Adapun contoh sikap cemburu yang benar adalah sikap cemburu dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sempurna iman mereka, para shahabatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dia berkata: Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah datang menemui beliaushallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah Ta’ala) dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta…”. Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah kerunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya“.

Imam Ibnu Hajar berkata: “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah Ta’ala) pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang kaya”.

Kesimpulannya, termasuk orang yang pantas dicemburui, bahkan kecemburuan tersebut dipuji dalam Islam adalah orang yang memiliki kelebihan dalam harta tapi dia selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah. Karena kecemburuan ini dapat menjadi motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan yang diperintahkan dalam agama. Allah berfirman:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” (QS al-Baqarah: 148).

Jadi cemburu dan iri kepada kelebihan harta yang dimiliki seseorang bukan karena kelebihan harta yang dimilikinya semata-mata, akan tetapi karena motivasi kebaikan besar yang dimilikinya dengan banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Inilah sebaik-baik harta yang dimiliki oleh orang yang beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sebaik-baik harta yang shaleh (penuh berkah) adalah untuk hamba yang shaleh”.

Adapun sifat rakus dan ambisi berlebihan terhadap harta tanpa mempertimbangkan keberkahan dan manfaatnya dalam meraih keridhaan Allah maka ini perbuatan tercela dan sebab yang akan merusak keimanan seorang hamba, serta menjadikannya jauh dari segala kebaikan dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”5.

Semoga Allah meudahkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Sumber: Muslim.or.id

Sholatku, sudah benarkah?

image

Alhamdulillaah, hari ini Allah ringankan langkah saya untuk hadir di majelis ilmu, Kajian Muslimah yang dilaksanakan oleh Pos Wanita Keadilan DPC PKS Pontianak Barat tiap sebulan sekali. Bulan ini, tema kajiannya sungguh menarik hati: “Sholatku, sudah benarkah?”. Pematerinya Ustadz Misyruqi Asy-Syairi, M.P.I. Tadinya saya pikir M.P.I itu Magister Pendidikan Islam. Ternyata P nya stands for Pemikiran. Hehe kalo Pendidikan kan disingkat Pd. Gimana sih ah tamatan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan :p

Sholat, bagi kita yang Islam, menurut saya bukan sekedar kewajiban, melainkan kebutuhan. ‘Makanan’ untuk jiwa kita, seperti jasmani yang diperlu disuapi makan secara teratur. Islam pun menetapkan ibadah ini sebagai pembeda antara muslim dan kafir.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Insya Allah memenuhi kebutuhan sholat 5x/hari well done yaa kita. Nah the question is, sudah benarkah sholat kita menurut syariat Islam?

Ketika menyampaikan materi tadi, ustad Misyruqi mengatakan bahwa bab sholat ini tak mungkin cukup dipaparkan secara detail dalam waktu 2-3 jam. Maka di kajian tadi, bahasannya meski tak detail, tapi mencakup hal-hal yang perlu kita ketahui dalam rangka sempurnakan sholat kita.

Jadi, sholat itu ada syarat²nya. Syarat wajib dan syarat sah. Syarat wajib sholat udah pada tau kan yaa? Udah dipelajari sejak duduk di bangku SD ni barangkali :D Yak benar. 3 syarat wajib shalat: Muslim, baligh/dewasa, dan berakal. Artinya, kalau ada muslim yang tak sholat, mungkin dia belum baligh. Atau kalau sudah baligh, yaa barangkali tidak berakal hehehe.

Bahkan yang sedang sakit pun tetap wajib sholat. Kalau tak kuat berdiri, maka duduk. Tak kuat duduk, boleh berbaring. Tak bisa berbaring, gunakan isyarat lewat tangan atau mata. Tak juga bisa, tetap wajib sholat dengan isyarat dalam hati. Kalau koma? Ya itu termasuk hilang akal kan? Which means kewajiban sholatnya jadi gugur.

Sholat harus penuhi syarat sahnya juga. Yakni: sudah masuk waktu sholat, suci dari hadas kecil dan besar, suci dari najis baik najis pada pakaian yang kita kenakan untuk sholat maupun tempat sholat, menutup aurat, dan menghadap kiblat. Berkenaan dengan tempat sholat, ternyata ada 7 tempat yang tidak boleh dijadikan tempat sholat, yaitu di tempat sampah, tempat pemotongan hewan, kuburan, di tengah jalan, di kamar mandi, tempat onta/kandang hewan, dan di atas ka’bah. Kalo nekat sholat di tempat² tadi meskipun katakanlah tempatnya bersih dan kita anggap layak untuk sholat, sholat kita tetap tidak sah. Wallahualam.

Sholat pun ada rukun-rukun atau fardhunya. Artinya, harus kita penuhi agar ibadah sholat kita diterima Allah. Rukun-rukun sholat antara lain:
1. Niat. Nah, niat sholat rupanya cukup yang ada dalam hati saja. Tak perlu dilafadzkan dengan lisan. Anyway, kara ustadz Misyruqi tadi, menurut Imam Syafi’i, jika niat dilafadzkan dengan tujuan untuk menguatkan niat dari hati kita, diperbolehkan. Tapi melafadzkan niat bukanlah bagian dari fardhu sholat. Analoginya begini. Misal teman² niat makan ni, ya niatnya udah ada kan, tinggal eksekusi deh, gak pake lafadz “Saya niat makan siang 3 piring blablaba” gitu.

2. Takbiratul ihram. Ada 3 cada, yang ketiganya berlandaskan hadits shahih: lafadz takbir dulu baru gerakan tangan (mengangkat takbir), gerakan dulu baru lafadz takbir, dan lafadz + gerakan bersamaan. Adapun posisi telapak tangan, harus menghadap kiblat dan sejajar dengan bahu atau telinga ketika diangkat. Saat bersedekap, tangan diletakkan di atas dada, yakni area dada hingga perut.

3. Wajib berdiri bagi yang sehat dan mampu. Untuk sholat sunnah, boleh dilakukan dalam posisi duduk meskipun kia sehat. Tapi lebih diutamakan berdiri dong ya :)

4. Membaca surah Al Fatihah. Di poin ini, biasa kita jumpai ada imam sholat yang membaca basmalah dan juga tidak pakai baca basmalah. Keduanya boleh. Karena Baginda Rasulullah pernah melakukan keduanya. Lalu, untuk ucapan aamiin, baik imam maupun makmum, sama² membaca aamiin. Aamiin ya, bukan amin, aamin, atau amiin. Karena, keliru harokat bisa beda makna soalnya :D

Setelah baca surah Al Fatihah, disunnahkan membaca surah pendek.

5. Ruku’. Disunnahkan sebelum ruku’ mengangkat kedua tangan (seperti takbir). Posisi ruku’ harus sejajar antara kepala dan punggung. 90° gitu. Saat ruku’, tangan kita diletakkan di tempurung lutut. Bukan di paha atau di betis yes.

6. I’tidal, atau berdiri dari ruku’. Disunnahkan mengangkat tangan. Tangan boleh bersedekap, boleh juga tidak. Kalo saya biasanya gak pake sedekap. 2-2nya boleh menurut ijtihad ulama.

7. Sujud, yakni meletakkan 7 anggota tubuh pada tempat sujud. Yaitu: sebagian dahi, ujung hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari² kaki. Saat letakkan dahi, pastikan antara dahi dan tempat sujud tidak dibatasi apapun. Baik kain, apalagi batu hehe. Biasanya kalo kita² yang muslimah kan suka pake kain daleman keruding tu ya. Nah itu kainnya diangkat dikit supaya dahinya langsung menyentuh tempat sujud.

8. Tuma’ninah. Artinya, jeda sejenak. Tuma’ninah ini dilakukan ketika kita selesai baca Al Fatihah, saat hendak ruku’, sujud, intinya memberi jeda agar sholatnya tidak tergesa-gesa.

9. Tasyahud, awal dan akhir. Saat tasyahud, disunnahkan memberi isyarat dengan jari telunjuk yang ditundukkan. Atau membentuk setengah lingkaran. Ada 2 pendapat terkait poin ini, yaitu ada yang menyatakan bahwa telunjuknya digerak2kan, ada juga yang tidak. Bagian ini adalah hal yang furu’ atau cabang ilmu fiqih sehingga jika terjadi perbedaan, tidak perlu diperpanjang sampe debat kusir segala.

10. Salam, yang kanan dulu yaa. Leher aja yang digerakkan ke kanan, badannya jangan ikutan miring alias harus tetap menghadap kiblat dengan posisi tangan tetap di atas paha. Salamnya ga perlu dijawab wa’alaikumussalam yaa mentang² jawab salam itu wajib hihihi. Lafadz salam di sini adalah bagian dari rukun sholat.

Dalam sholat pun, ada hal² yang diperbolehkan dan yang bisa membatalkan. Yang bisa membatalkan sholat antara lain:
1. Sengaja makan dan minum saat sholat. Misal, abis makan rendang nih, mau zuhur, wudhu, eeh rupanya masih ada daging nyangkut di gigi. Ketahuannya saat sholat. Nah itu jangan dikunyah ya, karena sholatnya bisa batal 😁
2. Berbicara yang bukan bacaan sholat. 3. Tertawa dalam sholat.
4. Banyak gerak yang di luar gerakan sholat dan tidak ada uzur syar’i.
5. Sengaja meninggalkan salah 1 rukun sholat.

Sedangkan yang dibolehkan dalam sholat antara lain:
1. Menangis saat sholat, asalkan tidak mengurangi makhroj dari surah yang kita baca.
2. Menoleh karena kebutuhan.
3. Membunuh ular atau kalajengking.
4. Membawa/menggendong anak kecil, dengan syarat sang anak tidak membawa najis.
5. Mengucapkan subhanallaah ketika imam salah gerakan atau bacaan sholat bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan, cukup dengan menepukkan punggung tangan kanan ke telapak tangan kiri untuk memberi isyarat jika imam keliru.

Waaah panjang yaa postingan kali ini, dan ini belum mencakup hal² detail lainnya tentang sholat loh. Pastilah masih ada pertanyaan² di kepala kita terkait sholat ini. Dan tanyakan saja. Tanyakan pada yang berilmu, yang mempelajari fiqih sholat. Nanya² di sini pun boleeh ~, nanti pertanyaannya saya teruskan ke ustadz Misyruqi dan jawavannya saya balas di komen :D

Baiklah. Semoga bermanfaat yaa bahasannya. Tinggal kita terapkan dalam sholat kita setiap hari :)

Laugh, I love.

I love people who make me laugh. I honestly think it’s the thing I like most, to laugh. It cures a multitude of ills. It’s probably the most important thing in a person.

~ Audrey Hepburn

You had to know a person well to make them laugh like that.

~ Cassandra Clare, Clockwork Prince

image

Laugh, I love.

Mereka bilang, Bahagia itu Sederhana

image

Read what Marilyn Monroe said

“You look happy, or are you always happy?” I am (still) glad that somebody asked me the question. It was asked on the day of my thesis exam, by my thesis + academic supervisor.

I don’t know how exactly I looked when the examiners began to ask me some questions and give me suggestions for the improvement of my thesis. But I do still remember that I felt nervous on the beginning, but started to feel relax when the first examiner, Pak Ardi Marwan who is one my favorite lecturers, asked about my TOEFL score then suggested me to send my paper to be published in international journal. I feel so honoured that he trusts me, although actually I still think that I haven’t been there yet. Not even close.

Anyway, his ‘on-the-spot’ motivation really boosted my mood which had been really good because of the presence of my husband. So I think maybe I did not only become more relax along my thesis defense, but also looked so happy. So happy, so that my academic advisor uttered the question :D

Happiness, regardless what might be its trigger, is basically a choice. Classic but true that people say happiness is actually simple. We simply need to create its cause! And don’t you think we have too many reasons to feel happy? Why waiting for certain big moments to be happy? And that’s what I’m trying to rebuild. As a human being, having problem(s) in this temporary life is sunnatullah. We won’t be able to get away from it. That’s what makes our life meaningful, no?

So what I’m trying to say is, being happy doesn’t equal to having no problem at all, yet having problems shouldn’t make us avoid the reasons to choose happy. Or in this sense, to be grateful. And being really happy, in my opinion, will impact on the image to (always) look happy. Even unfortunately sometimes it also impacts on the weight of certain women, or a woman, called me, which making me look big *an unfair justification* :p

Every single time I write and publish things to my blog, I always hope what I share will enliven your mood, turn you to be (more) happy, or at least bring smile to your face :)

Let’s be happy :*

When irrational things work rationally

image

Greetings among the flowers

Kita sungguh patut bersyukur karena Allah ‘hanya’ memerintahkan kita untuk mensyukuri nikmatNya, bukan menghitungnya. Manalah mampu kita menghitung yang uncountable 😂

Teman saya, yang menghadiahi saya dengan the greetings among the flowers yang menghiasi postingan ini, pernah menulis di akun Google+ “Irrational things work rationally”. Saya bertanya-tanya, what kind of irrational things that can work rationally?

Limpahan nikmat dari Allah-lah jawabannya.

Misal, ketika kita bersedekah, logikanya kita yang keluarkan materi, maka berkuranglah pundi-pundi dari dalam lemari besi. Namun prakteknya, setelah kita bersedekah, yang kita sedekahkan malah kian bertambah. Bisa hingga 10 kali lipat. To think of it, this is irrational. Namun, ketika kita ingat bahwa rumus ini langsung dibuat oleh Allah, maka yang tampak irasional menjadi sangat rasional.

Pun persis seperti pengalaman yang saya rasakan terutama saat proses selesaikan studi, mulai dari awal ‘vacation’ sampai dengan jelang wisuda. Untuk teman-teman yang mungkin masih bingung kenapa sering sekali saya sebut-sebut vacation, itu karena vacation adalah istilah yang saya dan rekan-rekan seangkatan gunakan untuk menamai kegiatan perkuliahan yang menyenangkan layaknya liburan. Penjelasan detailnya pernah saya tulis di blogspot saya: Vacation, Vacation, Passion.

image

image

Greetings among flowers

image

Kegiatan liburan akademis saya murni disponsori oleh suami. Tidak ada beasiswa dari institusi manapun. Jadi, mulai dari fee, beli buku, biaya transportasi Sekadau – Pontianak – Sekadau, jajan, dll, suami saya lah yang menanggung. I do not mean to boast that my husband is rich, has so much money, or the like. Not at all. Frankly, justru karena tidak begitu kondisinya. Hidup kami sebetulnya pas-pasan :D Pertolongan Allah-lah yang membuat segalanya menjadi mungkin dan masuk akal.

Itulah sebabnya di awal saya tuliskan bahwa kita patut bersyukur karena kita tak diminta untuk menghitung² rezeki yang Allah berikan. Rezeki sejak dari awal kuliah hingga thesis defense kelar saja, duh entah sudah berapa banyak. Alhamdulillah. Alhamdulillaahirabbil’alamiin.

Dan saya benar-benar takjub akan keajaiban rezeki yang Allah limpahkan setelah umat manusia bersedekah, dan juga setelah manikah. Berlipat-lipat ganda. Kalau dipikir-pikir, suami saya yang sekedar pengusaha kecil, dan saya yang setelah menikah tidak ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, but we can make this happen, karena pintu rezeki tetap terbuka sebagaimana yang Allah janjikan. I am really amazed.

Bersyukurlah, maka nikmat akan bertambah. Begitu perintah Allah dalam QS Ibrahim ayat 7. Bersyukur. Bukan menghitung nikmat-nikmatNya. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Vacation Project: When I was surrounded by the people I love

image

With the super husband

Alhamdulillaah. Alhamdulillaahirabbil’alamiin. I feel super happy today for I finally did the examination of my vacation project. Alhamdulillaah that it went very well. All of the examiners attended. Plus, my husband devotes his time to come supporting me directly. I find no words to describe this bliss.

image

With the examiners

I feel very content for the result of my thesis examination. It just beyond my expectation. I really think that this isn’t because of I deserve the score. But more because Allah granted my parents, husband, and friends’ wishes for me :’)

image

With 'teman sebangku'

Additional event that boosted my happiness is my close friend, Ara, had her seminar of research proposal today. So, in the morning I had my thesis exam, and in the afternoon she did her seminar. We went home together, sharing our relief on the way home, aah everything is just indescribable.

image

With some friends of S2 Vacation

image

Just did the exam :D

Now I am counting down the days for the inauguration day while finishing the revision of my thesis and the journal.

Again. I thank to all people who never stop supporting me whom I can’t list one by one. Thank you so much for your ideas, inspiration, motivation, the time, thanks for everything. I believe this is not the end of my journey to pursue my passion, and I hope they can keep supporting me for my next steps which I don’t know how and when, but I believe I will. Yes, I know I will :)