Pemilihan Duta Bahasa Kalimantan BaratΒ 

Globalisme membuat bahasa asing, misalnya bahasa Inggris akan masuk ke sendi-sendi kehidupan banyak negara, termasuk Indonesia. Sebab, sebagai bahasa global yang digunakan antar-negara, bahasa Inggris akan dianggap lebih penting daripada bahasa suatu negara. Reformasi bidang politik, ekonomi dan hukum yang bergulir sejak Reformasi 1998 telah meniupkan angin kebebasan, termasuk dalam tata cara dan perilaku berbahasa masyarakat kita, tak terkecuali di Kalimantan Barat.

Keresahan inilah yang menjadi salah satu latar belakang pemilihan Duta Bahasa. Duta bahasa adalah representasi pemuda yang memiliki kepekaan terhadap permasalahan di bidang kebahasaan dan kesastraan serta memiliki kemampuan berbahasa yang baik, yakni Bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing. Pemuda yang mampu menempatkan bahasa Indonesia sebagai tuan rumah di negara sendiri, serta mampu melestarikan bahasa daerah sebagai wujud kearifan dan kekayaan budaya lokal, disamping juga mampu berbahasa asing untuk berkomunikasi sekaligus bersaing dengan pihak asing.

PESERTA
Persyaratan Umum 
1. Pria atau wanita berusia 18–25 tahun
2. Tinggi badan minimal putri 155 cm, putra 160 cm
3. Pendidikan minimal lulus SLTA
4. Berdomisili di Pontianak
5. Belum menikah
6. Mampu berbahasa Indonesia tulis dan lisan, berbahasa daerah, serta berbahasa asing dengan baik

Persyaratan Administrasi
Menyerahkan berkas pendaftaran berupa:
1. Salinan kartu tanda identitas 1 lembar
2. Pasfoto warna ukuran 4×6 1 lembar
3. Daftar riwayat hidup
4. Salinan sertifikat atau piagam penghargaan (bila ada)
5. Salinan nilai UKBI dan bahasa lain (bila ada)

PENGHARGAAN
Pria dan Wanita dengan nilai tertinggi akan terpilih menjadi Duta Bahasa Kalimantan Barat. Selanjutnya Duta terpilih berhak mengikuti Pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional. Pada tahapan ini tiket dan akomodasi ditanggung oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat. Pemenang 1, 2, dan 3 juga akan mendapatkan piala dan piagam penghargaan dari Balai Bahasa Kalimantan Barat. Informasi selanjutnya akan disampaikan oleh panitia.

TEMPAT DAN TANGGAL PENTING
Pemilihan duta bahasa diselenggarakan di Balai Bahasa Kalimantan Barat Jalan Ahmad Yani Pontianak. Jadwal kegiatan sebagai berikut.
1. Pendaftaran peserta tanggal 8 Agustusβ€”2 September 2016
2. Seleksi UKBI tanggal 5 September 2016
3. Pengarahan dan pengambilan nomor undian tanggal 6 September 2016 
4. Penilaian meliputi pembuatan dan presentasi desain/proposal kegiatan kebahasaan dan kesastraan jika terpilih menjadi Duta Bahasa tanggal 7-8 September 2016
5. Menggugah kesadaran masyarakat untuk menempatkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing pada posisinya masing-masing pada kegiatan Gerakan Cinta Berbahasa Indonesia tanggal 9 September 2016 
6. Putusan: 12 September 2016.

KONTAK & ALAMAT
Balai Bahasa Kalimantan Barat
Jalan Ahmad Yani Pontianak
Telpon 0561-583839
Laman: balaibahasakalbar.web.id
FB: Balai Bahasa Kalimantan Barat
Narahubung: Lubna +628125756591

Mendisiplinkan Orang Indonesia

Saya seringkali kesal melihat kurang disiplinnya beberapa orang Indonesia di jalan raya. Menerobos lampu lalu lintas, menggunakan HP saat berkendara, tidak pakai helm, dan pelanggaran-pelanggaran lain yang sepertinya sepele tapi amat sangat nyebelin dan bisa berakibat fatal, tak hanya untuk yang melanggar peraturan, tapi juga untuk orang lain yang sudah berusaha disiplin. 

Hampir setiap hari saya lihat sendiri ada aja yang keukeuh jalan terus padahal terang benderang lampunya udah berubah warna merah. Ada juga pengemudi atau pengendara yang ga sabaran banget! Belum juga sedetik merah berubah ke hijau, udah bunyikan klakson bertubi-tubi. Rasanya pengen saya lempar tuh orang-orang ke sungai kapuas biar bisa merasakan lalu lintas tanpa lampu merah hahaha 😈

Tuh gitu, kalo maen HP jangan di jalan 😁✌

Kenapa ya, sebagian (entah besar entah kecil) orang Indonesia kok susah sekali disiplin? Beda jauh sama penduduk Kuching, Malaysia. Tahun 2014, saya, suami dan ibu sempat *terpaksa* stay di Kuching selama sekitar 2 pekan untuk pengobatan bapak saya. Selama di sana, kami bawa kendaraan sendiri. Pulang pergi dari penginapan ke medical centre berbekal navigasi via google map. Saya takjub dengan kedisiplinan mereka dalam berlalu lintas. Taat dengan lampu merah, ngasih jalan untuk kendaraan lain, ga maen asal klakson bahkan nyaris tidak pernah saya dengar suara klakson yang tidak perlu selama 2 pekan di sana. Beda banget lah pokoknya sama di sini yang bahkan buat say hi atau bye sama teman pun, kadang pake klakson yakhan πŸ˜‚

Saya lagi-lagi bertanya-tanya, kenapa sih warga Indonesia kok susah bener disiplin? Padahal peraturan tentang lalu lintas ini sudah ada undang-undangnya. Misalnya, peraturan tentang traffic light, diatur di Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“PP 79/2013) dan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009. Bagi yang melanggar, dendanya 500.000 atau kurungan selama 2 bulan loh. Masa iya sih harus ada polantas sepanjang waktu jagain jalan atau harus diadakan razia terus setiap hari supaya disiplin πŸ˜‘ 

Kalau ngomongin solusi untuk negara ini sepertinya susah-susah gampang. Lebih banyak susahnya daripada gampangnya. Saking susahnya, salah seorang dosen saya menganggap bahwa mental ketidakdisiplinan sebagian orang Indonesia ini sudah memfosil. Susah sekali untuk diubah. Do you think so, too? 

Lalu gimana ya memunculkan mental disiplin orang Indonesia? Dalam hal ini disiplin berlalu lintas aja dulu deh. Apa perlu di setiap traffic light dan sepanjang jalan raya dipasangin CCTV yang bisa otomatis merekam nomor plat kendaraan-kendaraan yang melanggar lalu lintas. Trus nanti saat pemilik nomor plat tersebut bayar pajak kendaraan, dikasi bill sesuai nominal pelanggarannya, dan kalo ga mau bayar, masukkan penjara supaya jera. Kira-kira solusi begitu termasuk konkrit dan realistis gak yaa untuk diimplementasikan di negara hukum yang….. Ah sudahlah πŸ™ˆπŸ™Š

Anyway, solusi paling gampang dan terkesan abstrak sih yaa palingan memulai disiplin dari diri sendiri. Beberapa tahun lalu saya pernah kok maenan HP sambil berkendara. Tangan kanan pegang stang motor, tangan kiri balas sms. Selain memang bahaya untuk keselamatan jiwa, saya sebel banget liat orang lain macam begitu, akhirnya sampai sekarang saya tak pernah begitu lagi. Makanya cukup pede nih bikin tulisan ini, karena udah ga maen HP lagi di jalan πŸ˜πŸ˜„

Kalau menurut teman-teman, solusi lain yang lebih konkrit dan applicable kira-kira gimana? 

​Doa: Haruskah Spesifik dan Tervisualisasi

Doa adalah salah satu senjata ampuh seseorang yang beriman. Ketika mereka yang tidak memiliki tuhan hanya bisa berusaha mencapai keinginannya dengan kerja dan kerja. Maka kita memiliki dua cara untuk mewujudkannya, ya.. doa dan usaha.

Doa. Betapa Allah menyukai orang-orang yang berdoa penuh harap kepadaNya. Bahkan, mereka yang tidak pernah berdoa, dianggap sombong dan pantas masuk nerakaNya. Seperti dalam firmanNya dalam surat Al Mu’min ayat 60 :

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mu’min [40] : 60)

Perihal doa..  dewasa ini kita banyak disuguhi teori bahwa doa haruslah spesifik dan tervisualisasi. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan istilah Law of Attraction. Bagaimana teori ini menurut Islam? Mari kita belajar dari hamba-hamba terpilih tentang doa.

Hamba agung pertama adalah Musa. Betapa payah dia berlari dari Mesir hingga Madyan, dikejar pasukan setelah membunuh. Kisah yang diabadikan Surah Al Qashash itu amat indah, bahwa dalam lelah dan gelisah Musa tetap tergerak menolong sesama. Ada dua putri Syu’aib yang tersebab kehormatan diri tak ingin berdesak-desak menunggu giliran memberi minum ternak. Maka Musa -yang walau perkasa tapi tenaganya tinggal sisa-sisa- menolong kedua gadis mulia itu dengan begitu ksatria. Seusainya, Musa bernaung di tempat yang agak teduh. Para Mufassir menyebutkan, dia begitu lapar dan memerlukan makanan. Tapi apakah kemudian Musa berdoa secara detail, spesifik, & divisualisasikan atas apa yang dia hajatkan? Mari kita simak.

Musa berdoa: “Rabbi, inni lima anzalta ilayya min KHAIRIN faqiir.. Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap yang Kau turunkan padaku dari antara KEBAIKAN; aku amat faqir, amatlah memerlukan.” {QS 28: 24}.

Kalimat doanya dipilih dengan indah. Musa tidak menyebut hajatnya yang amat jelas; lapar. Musa tak menyebut kebutuhannya yang sangat mendesak; makanan. Dengan amat santun dan mesra, dia mohon pada Rabb-nya kebaikan. Dan dia tahu, Allah lebih mengetahui yang terbaik baginya. Maka apa sajakah yang diterima Musa dari Allah atas doa yang tidak detail, tidak spesifik, dan tidak tervisualisasi ini? Musa bukan hanya mendapat makan atas laparnya, tapi juga perlindungan, bimbingan, pekerjaan, bahkan kelak istri dan kerasulan. Betapa Allah Maha Pemurah, doa hambaNya yang santun dan sederhana, dijawab dengan limpahan karunia melampaui hajat utama.

Hamba agung kedua yang kita akan belajar doa darinya ialah Yunus, ‘Alaihis Salam -setelah dia marah dan pergi dari kaumnya-. Mari kita fahami betapa berat tugas da’wah Yunus di Ninawa. Betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Lalu diapun pergi sembari mengancamkan ‘adzab Allah yang sebagaimana terjadi dahulu, pasti turun pada kaum pendurhaka. Tapi dia pergi karena ketaksabarannya sebelum ada perintah Allah, maka Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain.

Kita tahu, ringkasnya, Yunus dibuang ke laut dari atas kapal setelah 3 kali undian muncul namanya. Lalu ia ditelan ikan. Menurut sebagian Mufassir, ikan yang menelannya ditelan ikan lebih besar. Jadilah ia gelap, dalam gelap, dalam gelap. Bahkan ikan itu membawanya ke dasar samudera. Maka terinsyaf Yunus akan khilafnya, lalu menghibalah dia. Bagaimana doanya? Apakah doanya detail, spesifik, & tervisualisasi -jika yang paling dihajatkan Yunus saat itu ialah keluar dari perut ikan-?

Tapi doanya justru: “La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin.. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau, Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” {QS 21: 87}

Indah & mesra; penuh kerendahan hati. Apa yang diperoleh Yunus dari doa yang amat tidak spesifik, tidak detail, dan tidak tervisualisasi ini? Sungguh berlimpah! Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan, dia bahkan tak perlu payah berenang karena ‘diantar’ sampai daratan. Dan bukan sembarang daratan! Ibn Katsir mengetengahkan riwayat, Yunus didamparkan di tanah yang ditumbuhi suatu tanaman. Ketika Yunus memakannya; tanaman itu memulihkan tenaga dan kesehatannya setelah sakit dan payah berpuluh hari di perut ikan & lautan. Yunuspun bugar, bersemangat, dan berjanji pada Allah untuk nanti tak menyerah mendakwahi kaumnya, apapun yang terjadi. Tapi alangkah takjub penuh syukurnya dia, ketika kembali ke Ninawa, seluruh kaumnya justru telah beriman pada Allah.

Doa sederhana itu diijabah, bebas dari perut ikan, selamat dari laut ke darat, tanaman pembugar, & berimanlah kaumnya! Berkata Ibn Taimiyah; “Di antara seagung doa, ialah doa Yunus AS. Padanya terkandung 2 hal; pengagungan keesaan Allah.. dan pengakuan akan dosa.” Sungguh untuk bermesra dengan Allah dan dikaruniai nikmat agung, 2 hal dalam doa Yunus ini cukup.

Dari, dua orang hamba Allah yang terpilih di atas. Kita mungkin terhenyak. Kaget. Dan menyadari, bahwa jika dilihat lebih jeli.. betapa jauh LoA dari ‘aqidah Diin ini. Bukankah memang demikianlah berdoa? Berdoa bukan lah cara kita memberi tahu Allah apa yang kita perlukan, sebab Allah Maha Tahu, Maha Bijaksana. Berdoa itu berbincang mesra, agar Allah mengaruniakan yang terbaik untuk kita dengan ilmu dan kuasaNya yang sungguh Maha.

Di atas soal ‘boleh-tidak boleh’, ada perbincangan tentang Adab kepada Allah SWT, hingga para ‘ulama memuji doa Adam AS. Doa dengan kalimat imperatif (mengandung Fi’lul Amr/kata kerja perintah). Sesungguhnya tak terlarang, tapi Adam mengajarkan Adab.

“Rabbana zhalamna anfusana, wa IN LAM taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.. Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri sendiri. ANDAI Kau TAK ampuni & sayangi kami, sungguh kami pastilah termasuk orang merugi.”

Doa indah itu menghiba -merendah, mengakui lemah, fakir, salah, & bernodanya diri- disertai mengagungkan keesaan Allah. Tanpa hendak mengatakan bahwa doa detail, spesifik, & tervisualisasi itu dilarang. Mari kita ambil hikmahnya. Bahwa memang ada Adab dalam berdoa. Jika sebuah doa yang sederhana dan santun sudah menghadirkan banyak karunia, kenapa harus kita persulit dengan sembuat spesifikasi dan visualisasinya? Bukankah kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui?

Wallahu’alam bishowab..

*disarikan dari kultwit @SalimAFillah

We Work and We Get Paid

Hampir semua orang di dunia ini inginnya kerja ringan tapi penghasilan berat. Kerja sebentar tapi mau dapat penghasilan banyak. Kerja nyantai tapi penghasilan serius dan ga nyantai. 
Teman-teman gak mau yang begitu? Saya sih mau 😜 The question is, emangnya ada kerjaan macam begitu? Yang namanya kerja kan emang berat dan ga nyantai. Kalo nyantai sih namanya liburaan meeen. 

Ya jelas ada laah. Bagi orang-orang yang menikmati dan mencintai pekerjaan, kerja udah gak berasa kerja. Kerja berasa liburan. 

Saya punya kenalan yang kerjaannya jalan-jalan aja terus. Galeri instagramnya isinya pemandangan baguuus melulu. Ternyata he owns a tour and traveling agent, profesinya adalah tour leader, and he loves his job! Traveling is his passion so he follows up the passion into a profession. Saya juga punya kenalan yang kerjaannya makaaan aja melulu. Saban hari update foto makanan, bikin laper *dan kadang baper, karena belom makan πŸ˜πŸ˜‚*. Well, ternyata dia adalah seorang food blogger. Ada juga yang emang kerjanya bikinin kue pesanan pelanggan. Their life looks very delicious. 
Tapi, apakah passion saja cukup? Ada loh orang yang passionnya di bidang kuliner, bekerja pun di area yang tak jauh dari makanan, tapi belum bisa sungguh-sungguh menikmati kerjaannya. Well, bosan adalah hal yang manusiawi. Bahkan saat kita melakukan pekerjaan yang kita pilih pun, menurut saya bosan tetap wajar. Jadi tentu saja passion saja rupanya belum lah cukup. 

Kerja sesuai passion, menurut saya nih ya, perlu disertai dengan target untuk dicapai. Target apa aja deh. You name it. Target finansial kah itu, atau target sosial, target harian bulanan tahunan, target jangka pendek jangka panjang, target dunia akhirat, apa aja yang penting ada orientasi yang perlu kita buat. Once in a while we do really need to think through a plan to reach the target.

Jika Pegawai Negeri Sipil atau PNS setiap bulan sudah diatur nominal penghasilan berdasarkan golongan, tak peduli apakah jam dan beban kerjanya kurang atau lebih dari hak yang harus di dapatkan, maka pekerja yang bukan PNS mendapat penghasilan sesuai dengan, katakanlah, ‘jam masuk kerja’ masing-masing. Contoh kecilnya seperti karyawan honorer yang dibayar sesuai dengan jumlah jam kerja, atau kayak saya, ada penghasilan ya kalo saya mengajar, atau diminta jadi MC. 


Yang ini fotografernya gak dibayar πŸ˜‚

Atau seperti fotografer atau graphic designer, dapat pemasukan ya kalo ada yang hire jasanya. Atau lagi, seperti pedagang yang kalo ikutan libur alias tutup toko di tanggal merah, pemasukan di hari itu pun ikut libur alias nihil. We work, then we get paid. Fair enough, eh? 😁

Tapi saya bukan mau banding-bandingin penghasilan karyawan BUMN atau PNS dengan yang bukan kok ini. Contoh di atas itu hanyalah perumpamaan untuk menentukan target finansial dari suatu profesi. Jadi, logikanya dan idealnya ya memang begitu kan ya. Kalo kitanya mau dapatkan penghasilan (dalam bentuk duit) yang banyak, kerja keras saja belum cukup. Tindak lanjuti juga dengan kerja cerdas. Kalo ujug-ujug maunya langsung kerja nyantai dengan penghasilan besar, yaa coba cari pengusaha sukses muda berbakat trus ajak nikah *lohhh πŸ™ˆ* siapa tau bisa langsung dimodalin buat bikin usaha 😜 

Anyway, setelah setahun belakangan saya kembali lagi ke dunia kerja, dengan gelombang-gelombang yang sesekali diiringi hujan petir menggelegar (ini semacam kiasan bahwa pekerjaan yang saya jalani juga ada yang bikin hati periiih πŸ˜­πŸ˜‚), jadinya saya berusaha untuk membuat kembali target-target untuk saya capai. Berhubung saya berstatus sebagai istrinya Pak Aci, saya tidak pasang target finansial. Jadi kalo ada honor yang dibayar ‘dudi’, yaah aku rapopo πŸ˜„. Target saya saat ini masih pada proses sharing ilmu dan motivasi. Soal duit sih, mending langsung ditransfer aja lah ya biar gak rempong hahaha *teteuup, perlu juga laah duit buat nambah-nambahin jajan HermΓ©s πŸ™ˆπŸ™Š. 

We work, and we get paid. Saat kita bekerja dan merasa yang kita kerjakan tidak sebanding dengan pendapatan, maka ada 3 pilihan untuk dipertimbangkan: 1. Reconsider why it can happen. Coba dicekricek, jangan-jangan jadi tak sebanding karena faktor dari kita sendiri πŸ˜‰  Kalo bukan, ya baru deh yang ke 2. Cari kerja sampingan *kalo orang melayu bilang, can tepi* yang kira-kira bisa nambah-nambahin duit jajan. Kalo pekerjaan utama tidak memungkinkan untuk kerja sampingan, baru deeh ke pilihan yang ke 3. Step back and find other jobs that can accommodate what we want. 

Terakhir, sebagai friendly reminder untuk kita bersama, banyakin bersyukur, perbanyak sedekah dan kurang-kurangin mengeluh. Kurang-kurangin juga ngasih jelingan ala Meriam Bellina ke orang-orang yang gak kamu suka πŸ™ˆ *yang terakhir cuekin aja, itu nasehat untuk diri sendiri 😜

Memaafkan tanpa Tapi

Interaksi horizontal kita sesama manusia hakikatnya mungkin seperti tanaman kaktus yang tak pernah sengaja ingin menyakiti. Duri-durinya ada di situ untuk melindungi, supaya tidak sembarangan diganggu orang. Tak pernah bermaksud menyakiti, tapi karena kesenggol dikit, kena durinya, sakit deh. 

Kadangkala hidup bisa sefilosofis kaktus dan durinya. Terserah mau memposisikan diri sebagai kaktus dengan duri-durinya, atau sebagai orang lewat yang baik ga sengaja atau sengaja iseng aja nyenggolin kaktus. Manusia sewaktu-waktu memang bisa selucu itu 😁

Either we are like the cactus or not, berduri-duri, naturally, when we did something wrong to other human beings, hal pertama yang secara refleks akan kita lakukan adalah meminta maaf. Dan sebagai orang yang merasa bersalah, hal pertama yang kita harapkan adalah dimaafkan kesalahannya. 

Kalau orang yang disakitin masih tampak cuek dan tak lagi seperti dulu, biasanya sih akan muncul persepsi bahwa kita belum dimaafkan. Sambil mengeluarkan kalimat seperti “Allah saja Maha Pemaaf, mengampuni hambaNya yang bertaubat”, “Rasulullah saja dengan Yahudi yang menghina beliau, tetap memaafkan”, dan kalimat sejenis lainnya. 

Mungkin, di situ lah letak perbedaan antara Sang Khalik dan ciptaanNya yang ma’shum dengan manusia biasa seperti kita. Atau seperti saya deh more specifically πŸ˜‚

Seiring makin seringnya kita berinteraksi lalu melewati masa-masa disakiti, tak sengaja menyakiti, membuat orang lain kecewa, atau dikecewakan, saya menyimpulkan bahwa tiap manusia punya metode memaafkan yang berbeda. Ada orang yang setelah disakiti sedemikian rupa, bahkan tanpa permintaan maaf sekali pun, bisa dengan lapang dada memaafkan tanpa tapi. Maafin gue ya, iya gue maafin, jangan diulangin lagi ya, oke yuk kita jalan lagi kayak dulu πŸ˜πŸ‘«πŸ‘¬πŸ‘­. Ibaratnya seperti piring abis pecah, trus beli piring baru gitu deh. Tak nampak bekas pecahannya sama sekali. *Yaiyalah namanya juga beli piring baru πŸ˜‚

Ada juga jenis manusia yang sudah memaafkan, juga sudah melupakan kesalahan orang lain, atau sebut saja sudah get over dan move on, tapi memilih berhati-hati, belajar dari pengalaman karena udah terkoyak-koyak dan tercabik-cabik dengan luka dalam *halahh*. Ibarat kata pepatah, “Forgiving is easy, but to trust again is another story”. Every person experiences different kind of feelings, no? Kebanyakan manusia, termasuk saya, kan seringnya suka ngelunjak. Udah dimaafin, diulangin lagi salahnya. Sampai-sampai kadang terlintas di pikiran saya, terlalu sering dikasih amnesti bikin manusia jadi mudah meremehkan kesalahan. Mikirnya ya, ah nanti kalo bikin salah juga orang-orang bakalan lupa, bakal dimaafin kok nanti. Walhasil, tak ada efek jera. Yaah kira-kira seperti tulisan saya tentang membenarkan yang tidak benar kemarin itu lah yaa.

Saya pribadi pernah berada di posisi keduanya: 1. Ga sengaja nyakitin *kayaknya yang ini sering sekali 😭*, dan juga 2. Disakitin pake banget, baik dengan atau tanpa permintaan maaf dari orang yang menyakiti. 

Well, maybe that’s why I’m always trying to understand once certain people treat me different than before. Mungkin kemarin-kemarin pernah tersinggung karena keseringan ditanya “kapan kawin kapan beres kuliah” dengan cara brutal πŸ™ˆ. Memaafkan itu memang gampang, ya kan? Tapi buat bisa akrab lagi seperti kemarin-kemarin, I can’t think more awkward situation than trying too hard for being close to somebody we have lost the vibe with. Pastilah sangat tidak nyaman. 
Jadi, kalau boleh saya menyimpulkan tulisan yang sebenarnya  agak dalem tapi bisa jadi gaje alias gak jelas ini 😁✌, sesungguhnya memaafkan itu melegakan. We forgive, then we get peace. Silakan memilih, mau memaafkan tanpa tapi, atau memaafkan sembari berhati-hati. You know what suits you and what’s best for you.

Yang Penting Mental, bukan GelarΒ 

Saat mendapat beasiswa ke Australia 1995, mahasiswa Indonesia sempat diinapkan 3 malam di rumah penduduk di suatu perkampungan untuk meredam shock culture yang dihadapi.

Saya bersama dengan kawan dari Thailand menginap di Balarat, di peternakan seorang Ausie yang tinggal suami istri bersama dengan anak tunggalnya. Luas peternakannya kira-kira sekecamatan Arcamanik, dengan jumlah sapi dan dombanya, ratusan, yang pemliknya sendiri tak tahu secara pasti, karena tak pernah menghitungnya dan sulit memastikannya dengan eksak.

Suatu sore saya terlibat perbincangan dengan anak tunggalnya di pelataran rumah di musim panas yang panjang, di bulan Janauari 1995.

Aussie: “Why so many people form your country take a PhD and Master degree here?”

Saya: “Why not? Your country give a grant, not loan, for us? So, it is golden opportunity for us to get higher degree. Why you just finish your education at Diploma level, even it is free for Aussie to take higher degree?”

Aussie: “I don’t need that degree, my goal is just to get a skill how to make our business broader. Now I am starting my own business in textile and convection, so I just need the technique to produce it, not to get any rubbish degree”.


Dua puluh tahun kemudian saya masih termenung, berusaha mencerna fenomena yang terjadi di negeri ini. Begitu banyak orang tergila-gila pada gelar doktor, profesor, sama seperti tahun 1970an ketika banyak orang tergila-gila pada gelar ningrat RM, RP, GKRH.

Dan tentu orang yang berusaha mendapatkan gelar itu tak terlalu paham dengan substansi yang dikandung dalam gelar yang diisandang. Pernah dengan iseng kutanyakan kepada supervisorku di Inggris sana, saat mengambil PhD:

“Why don’t you take a professor?” tanya saya lugu kepada supervisorku yang belum profesor padahal Doktornya cumlaude dan sudah membimbing 10 doktor baru.

Dengan serta merta ditariknya tangan kanan saya. Ditatapnya mata saya tajam-tajam. 
“Look,” katanya dengan muka serius:
“Professor is not a status symbol or level in expertise, but professor is mentality, is a spirit, is a way of life, is a wisdom, so get it, is just the matter of time if you have ready for all requirements… But have you ready with the consequence of it?”

Dan profesor saya lebih cepat, saya dapatkan dari pembimbing saya yang arif dan bijaksana itu.

Merenungi dua kejadian itu, semakin saya sadari, bahwa Indonesia memiliki segala sumber daya untuk maju, tapi mentality lah yang menjadi kendala utama.

Social sciences dan social behaviour menjadi hal terpenting dalam study yang harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan IQ, EQ dan SQ yang tinggi. Dan celakanya, sudah lama kadung diyakini di sini bahwa ilmu eksakta lebih sulit dari pada non exacta. Dan persyaratan masuk jurusan non exacta yang di Australia butuh IELTS 7.5 dibandingkan dengan engineering yang hanya butuh 6.0, berbanding terbalik dengan yang diterapkan di sini. Akibatnya, negara menjadi amburadul karena yang banyak mengatur negara dan pemerintahan bukanlah orang yang memilki kemampuan untuk itu.

Dari mana mesti mulai membenahi hal ini?
Pendidikan dasar dan Pendidikan Tinggi. Seperti Finlandia yang pendidikannya termasuk terbaik di dunia. Guru-guru di sana merupakan profesi terhormat dengan pemenuhan kebutuhan diri yang mencukupi. Jadi guru didapatkan dari the best of class dari level pendidikan yang ditempuh. Sehingga penduduk Finlandia sudah hampir 100% memiliki degree Master. Bukan didapatkan dari pilihan kedua, pilihan ketiga, atau daripada tidak bekerja.

Melihat acara Kick Andy beberapa hari lalu: Nelson Tansu dan Basuki, sebagai tamu undangan, adalah contoh konkrit, dua orang expert Indonesia yang qualified yang bekerja di negara USA dan Swedia, dan mereka tergabung dalam 800 orang expert Indonesia yang diakui di luar negeri dan bekerja di luar negeri. Artinya Indonesia bisa, Indonesia memiliki kemampuan. Yang menjadi masalah adalah how to manage them in Indonesia environment? How we arrange them, how to make synergy between government, industry, university to bring Indonesia together to be world class?

Melihat management pemerintahan yang amburadul?

Tidak usah susah-susah menganalisis dengan integral lipat tiga segala. Lihat saja satu spek sederhana: gaji Presiden yang 62.5 juta dan gaji menteri yang 32.5 juta dibandingkan dengan gaji direktur BUMN dan lembaga keuangan yang mencapai lebih dari 100 juta per bulan, itu sudah kasat mata, bahwa menentukan gaji saja sudah tidak memperhatikan: range of responsibility, authority, impact to the Indonesia society, dan sebagainya, apalagi menentukan yang lain. Semua asal copy paste dari luar tanpa melihat esensi yang dikandungnya.

Aku termenung, mengingat pembicaranku dengan ayahanda saat kelulusanku dulu 26 tahun yang lalu. Kepada beliau kuutarakan niatku untuk merantau ke luar negeri, dan apa jawab beliau: 

“Tidak usah pergi, kalau semua anak Indonesia yang pintar ke luar negeri, siapa nanti yang akan mendidik orang Indonesa sendiri?”

Kini aku tergulung dalam idealisme, aktualisasi diri, dan kepatuhanku kepada orang tua.

Hal yang paling kutakuti dalam hidup adalah jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak sidiq, amanah, tabliq, fathonah. Dan terutama dipimpin oleh orang yang tidak lebih pandai, sehingga semuanya jadi kacau. Dan kekacauan terjadi di mana-mana, dalam berbagai level.

Wallahu alam bisawab..

*Renungan dan kegusaran seorang prof ITB, Prof Dermawan Wibisono (TI 84, dosen SBM ITB).*

Berhenti Salah Gunakan Kata Autis

Masih sering sekali saya baca dan dengar, beberapa orang keliru dalam diksi. Entah sengaja keliru, entah tidak tau, entahlah. Adalah autis, kata yang sering disalahgunakan dan dianggap jokes oleh sebagian orang.  

Lagi bosan nih nungguin teman. Lama amat. Udah kayak orang autis nih mainkan hp terus daritadi


Si itu tu tiap hari kerjaannya ngadap hp, sibuk sorang, meng-autis terus


Dan sejenisnya.

Pernah dengar dan baca yang demikian juga kan?  

Jujur saja, saya sangat risih dan terganggu dengan penyalahgunaan kata ‘autis’ tersebut. Yang pertama saya bayangkan ekspresi wajahnya bukanlah orang yang dituduh autis, tapi seorang ibu atau ayah, yang qodarullah, anaknya terlahir dalam kondisi autis. 

Seperti cerita di halaman kompasiana ini seorang kakak yang memaparkan betapa justru adiknya yang autis itu jenius, dan pilu hatinya ketika mendengar ‘autis’ malah dijadikan bahan becandaan.

Kita semua pastilah sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa autis, down syndrome, epilepsi, dan jenis disorders lainnya yang masih sering dijadikan bahan olok-olok, adalah kondisi yang tak seorangpun inginkan. Tak ada seorang calon ayah yang ketika istrinya sedang hamil, berharap agar anaknya kelak mengidap autis, down syndrom, atau penyakit apapun kan?

Ya, autis bukan bahan becandaan. Waspada jika mulai terbiasa, atau bahkan mulai nyaman menggunakannya, ternyata malah jadi doa. Na’udzubillahimindzaliik. Segera hentikan kebiasaan buruk itu mulai sekarang. 

*Tulisan ini tulisan lama saya, sengaja saya repost dari blog saya di dhzblog karena masih ada aja yang keliru menggunakannya.