Mencari Ilham, Menggali Inspirasi Lebih Dalam

mencariilham

12 tahun lalu, pada peringatan Hari Anak Nasional, saya dan abang kelas saya di MAN 2 Pontianak, Ilham Kurniawan diminta untuk memandu acara di GOR Pontianak. 12 tahun kemudian, which is saat ini, rekan ngMC saya itu jadi MC kondang dan terpandang dan juga menjadi owner sebuah event organizer bernama Mayor Management. Sepertinya dinamai “Mayor” karena bang Iam (begitu saya biasa menyapa beliau) bercita-cita menjadi walikota.

Bukan hanya event organizer, bang Iam juga mulai merambah bisnis kuliner “Iam Mungbean”. Sepertinya bang Iam ingin membuktikan kepada dunia *minimal kepada ibunya*, bahwa sarjana ilmu pendidikan Bahasa Inggris tidaklah harus berkarir di ruang kelas menjadi guru. Seorang sarjana pendidikan juga bisa menjadi businessman, juga entertainer.

Lewat sebuah talkshow berjudul “Mencari Ilham”, bang Iam menghadirkan bincang-bincang santai tapi sarat makna, inspirasi, dan motivasi. Dimulai sejak Maret 2016, sampai dengan hari ini, “Mencari Ilham” sudah menghadirkan 8 tamu dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari owner bisnis-bisnis yang ada di Pontianak, band lokal dan nasional, sampai pedagang kecil seperti Pak Darmadi yang punya ciri khas dengan “Peyek 1000”. Semua episodenya menarik. Tapi saya punya 2 episode favorit: yaitu episode 2 yang menghadirkan Pak Darmadi pedagang peyek di area Jalan Gajah Mada Pontianak, dan episode 6, wawancara dengan Naga Lyla.

Di episode 2, dengan bahasa melayu Pontianak yang “meletop”, Pak Darmadi membincangkan tentang suka duka menjadi pedagang peyek, tentang bagaimana mencari nafkah untuk keluarga harus menepikan gengsi, tentang orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi lebih sukses daripada mereka. Sedangkan di episode 6 bersama Naga vokalisnya Lyla, salah 1 yang menarik adalah talkshow ini di dalam pesawat, dari ketinggian 12.000 kaki dalam perjalanan menuju Sintang. Ceritanya, Lyla akan konser dan well, obviously, bang Iam adalah MC konsernya😀 Shockingly, saat talkshow, terjadi turbulensi di dalam pesawat dan 2 entertainer asal Kalbar ini, sepenglihatan saya, cukup lihai laah menyembunyikan kekagetannya hihi.

Lebih asik sih nonton sendiri ya talkshownya. Jadi, buat teman-teman, langsung ke Channel Mencari Ilham, dan jangan lupa klik subscribe okay😉

Untuk Bang Iam dan team Mencari Ilham, good luck dan semangat selalu yaa berkarya serta menghadirkan hal-hal unik dan inspiratif dari tanah Kalbar, luar Kalbar, dari manapun kelak berada. Tak hanya Bang Iam kok yang terinspirasi. Kami semua yang “Mencari Ilham” ikut mendapat inspirasi lebih dalam setelah menyaksikan talkshownya. Kita tunggu episode-episode berikutnya looh:)

Women, when everything matters

image

Women are way more complex and complicated than men. At least, that’s what I can infer from today’s sharing and from an on-going observation that has happened for few years. The data of observation derived from what I have been read in an online forum, listening to some friends’ stories of their life, also the reality I find surround me.

We, women, tend to express our feelings, show what we have, share our pride, till come to the point which sometimes we never realize that it turns out as a ‘competition’. For example when women get married, that’s not the end of a happy life. How’s the husband treat you, have you got pregnant directly after married, where you live, how’s your in-law treat you, that becomes matter when you discuss it with most of women. Also not end of a happy life yet. You now have kid(s).

It matters what you feed them. It matters whether you choose to give them vaccines or not. It matters how you gave birth: normal or caesar? It matters how your parenting style is. It matters whether your kid(s)’ growth is ideal as how kids should grow although all moms realize that every single kid has different stage of ability.

You have a son already. Well now it matters when you will have daughter. You have daughter, now it matters whether you work or stay home being a housewife. Moreover when you got your degree. You need to be strong to tackle people’s comment when you’re choosing to stay home but you got madter degree.

You have both now, son and daughter. Does it end of story? Not yet, of course! We, women make it’s an important thing to notice on where the kids should have their education. Is it at school? Which school? Does the school have good prestige and sufficient background for children? Or is it homeschooling? Why homeschooling? How the kids would socialize? Everything becomes matter. Some of us might deny that, “No that’s not I or we compete. We just share our way”. Well yeah, that’s us. We have too high prestige to admit that we also sometimes judge and secretly put some doubts towards other women’s strategy in managing their life.

See? Even now I am really judgemental judging us, women, to be that way hahaha. Some, or maybe most of us don’t do that. Or vice versa, most of us do that. Anyway, if we, women, live our life to fulfill other people’s satisfactory that they even won’t get any impact directly to their own life, I believe it will be really rare to find a moment of peace within our days. We know that, right? And we still don’t care, and we still wanna prove people that what we do is the right one hahaha.

Now men, you may thank me because I have revealed transparently some secrets about women. Yes, you’re very welcome 😁✌

Learning English in Volare Chit Chat

image

One of the perks being a broadcaster for a program named “Volare Chit Chat” is I always get a chance to improve my English language in a very fun way. Salah satunya seperti yang terpajang di foto di atas, ketika teman-teman mahasiswa program exchange students Prancis – Indonesia (yang juga merupakan salah satu program Politeknik Negeri Pontianak) bertamu ke studio Volare untuk Volare Chit Chat.

Volare Chit Chat adalah salah satu program acara edukatif di Radio Volare. Dibawakan 2 orang penyiar: Saya dan Lailatul Fidyati, mengudara setiap hari Kamis, pukul 6-8pm. Program ini memiliki 5 segmen:

1. How to say it, membahas sebuah idiom beserta cara pelafalan yang benar. Agar gampang dipahami, dikasi contoh kalimat beserta terjemahannya. Berhubung yang siaran bukan native speaker alias penutur asli Bahasa Inggris, maka di segmen ini diputarkan juga pelafalan idiom yang dibahas versi native speaker. Tujuannya apalagi kalo bukan supaya Bujang Dare yang menyimak bisa melafalkan idiom yang dipilih dengan baik dan benar.

2. Idiom, seperti segmen pertama, segmen ini pun membahas sebuah idiom dilengkapi makna dan contoh kalimat. Bedanya, segmen kedua menyertakan 1 lagu yang judulnya merupakan idiom yang dibahas. Contoh idiom dan lagunya? Coba cek ke http://www.volarefm.com, komplit dipublish beserta pembahasannya loh😉

3. Bilingual, berita dua bahasa yang up to date.

4. FunSizeFact, memberikan fakta-fakta seputar kata, frasa, budaya, dan lain sebagainya. Tidak semua orang tau kaan kalau “butterfly” tadinya bernama “flutterby?”. Itu salah 1 contoh fakta yang biasa kami sibak di Volare Chit Chat😀

5. English, please. Segmen favorit saya nih😀 Kalau di 4 segmen sebelumnya saya dan Fidya bersiaran dengan code mixing and switching, bahasa Indonesia – bahasa Inggris, di segmen ini, seperti namanya, “English, please!”. Di sini lah saya melatih skill speaking sekaligus menyalurkan hobi chit chat di udara hihi. Bonusnya, dapat banyak teman baru, expanding my networks, opening my mind to new things, feeling a brand new experience bahkan sekedar dari cerita guest speakers tentang topik yang hari itu kami bahas. Sounds so fun, yes? Well, yes because IT IS very fun:)

Seperti kamis kemarin, misalnya. Again, Volare kedatangan exchange students dari Prancis: Raphaël dan Fatima.

image

I was excitingly surprised saat pertama kali melihat Fatima. She’s wearing hijab 😍 I mean, well it’s just very rapturous for me to see a French woman wearing hijab. Hihi harap maklum yaa, bukan bermaksud rasis tapi ada bule dari negara yang bukan mayoritas muslim, berhijab, dan juga ketika masuk waktu Isya dia izin sholat di studio, it’s really a WOW for me ✌ Rasanya kayak ada manis-manisnyaa gitu 😁

Fatima bercerita bahwa dia sempat bingung memutuskan untuk ke Thailand atau ke Indonesia untuk exchange program ini, lalu orang tuanya menyarankannya untuk memilih Indonesia. She told, “So when we went to Mecca, my parents meet Indonesians there and they told me that Indonesian people are kind”. Orang Indonesia memang mahsyur dengan keramah tamahannya, dek Fatima 😁. Another thing that impressed me about Fatima is she can speak 5 languages! French, English, Spanish, Italian, dan 1 lagi saya lupaaa namanya hehee.

Raphaël, is also such a nice and friendly guy. Kalau Fatima adalah campuran Prancis-Algeria, Raphaël murni Prancis. Mereka 1 kelas, di semester 4 jurusan physics measurement (begitu tadi yang saya tangkap, maapkanlaah apabila keliru ✌😁). Bersama 5 temannya, mereka akan mengikuti internship program selama 3 bulan di Pontianak.

Because of English isn’t our mother language, maka sama seperti saya, teman-teman mahasiswa dari Prancis ini pun belajar Bahasa Inggris juga. Jadi, ketika ngobrol dan ada kata dalam Bahasa Inggris yang kami lupa atau tidak tau padanannya, we’re literally speechless karena nyebutin kata yang dimaksud dalam L1 atau first language masing-masing juga kami sama-sama tidak paham hahaha.

Begitulah sebagian kecil dari menyenangkannya siaran untuk program Volare Chit Chat. Misalkan teman-teman (khususnya yang berdomisili di Pontianak) ingin juga melatih speaking skill lewat program ini, bisa juga looh mendaftar untuk jadi guest speaker di segmen “English, please”. Jangan khawatir keliru dan salah-salah ngomong, namanya juga belajar ya khaan😉 Kalau serius, bisa hubungi saya via kolom komen postingan ini, atau lewat personal message ke akun sosmed saya juga boleh. Misalkan masih malu-malu, tetap simak programnya yaa sampai siap ber-casciscus chit chat di udara with me and Fidya😀

Learning is not always about sitting in a classroom, listening to our teachers or lecturers explaining materials. It can also be really refreshing like listening to radio. You know what, unlike watching TV, while listening to radio, you can also do other things like driving, cooking, even doing your school or college assignments😉

So, let’s keep learning English wherever and whenever we are, okay 👌

Sayonarakah Kita

image

1. “Berhasil bikin situasi tidak nyaman dengan dia”

2. “Ternyata selama ini kakak yang mempengaruhi dia”

3. “Dia sudah terpengaruh oleh kakak”,

Pamungkas. Petrified. Shock.

Demi husnudzon dengan orang yang sudah dipilih dia, aku terpaksa mengingat-ingat momen yang mungkin sudah jauh terbuang dalam jurang memori, tentang kapan aku pernah berjumpa dengan orang yang melontarkan kalimat-kalimat bernada judgemental itu. Berhari-hari tak juga ketemu. Aku takut keliru, takut akulah yang salah sangka menyangka orang yang dipilihnya itulah yang akhlaknya entah kemana karena tiba-tiba muncul dengan tuduhan-tuduhan membingungkan. Tendensius. Insecure. Menuduh orang yang sekali pun tak pernah interaksi di mana pun, ketika niat baik diasumsikan sebagai “mempengaruhi untuk melawan”. Ketika halal pun belum.

Sakit hati. Sedih. Murka. Kesal. Kecewa luar biasa karena the true colors dari orang yang dipilihnya baru nampak *atau ditampakkan* manakala segala persiapan menuju mitsaqan ghalidza sudah nyaris lengkap. Meski di awal dulu sudah terlalu banyak pertanda yang terang benderang ditampakkan, untuk sebuah perjalanan panjang yang bukan cuma melibatkan 2 insan manusia, keraguan yang dia lontarkan padaku pun tak lagi berguna.

Terlalu banyak hal mencengangkan. Tak dinyana. Aku dan suamiku yang dulu paling mendukung dengan landasan husnudzon dan ingin dia bahagia, hari ini malah dianggap seperti virus ebola. Dijauhkan, diputus semua alur komunikasi darinya dengan sengaja, seolah tak pernah sekalipun dan tak ada satu pun hal baik yang kami lakukan untuk dia dan orang itu. Aku harus husnudzon, bahwa barangkali ketika madah tentang memutus silaturahim itu dilarang, orang itu berhalangan hadiri lingkaran.

Tak diduga, ketika belum akan diminta secara resmi ke orang tua, tabiat orang yang dia pilih itu tertutupi lewat keberaniannya membuka komunikasi dengan suamiku. Meminta sebuah design. Dan kami semakin husnudzon meski sudah begitu banyak suara-suara lain yang ternyata sangat menolak keras dia jalan terus dengan orang itu karena sudah lebih dulu kenal betul tabiatnya. Tak diduga, ternyata aku yang tertipu.

Dan tanganku pun sepertinya ikut “terpengaruh” denganku, terlalu kecewa untuk meneruskan cerita ini. Cerita yang terserah saja mau dianggap nyata atau fiksi. Well, either it’s a real story or a fiction, what I’m trying to say is: Seperti kalimat di gambar itu, peduli ku pun berbatas waktu:)

Luka ini amat sangat dalam. Terlalu dalam. Hingga aku kehilangan kekuatan untuk membalas perbuatan yang sudah membuat kami (by kami, I mean: aku dan suami) terluka dan dilecehkan. Pun aku enggan mengotori diri sendiri dengan membalas, menjatuhkan level diri. Kami sepakat menyerahkan hal yang “forgiven but can never be forgotten” ini kepada Allah saja, sebaik-baik Pembalas ☺

Till the second I write this post, I still have no idea: is this our goodbye? Our end? By our, I mean: aku dan dia. I have no idea.

Aku hanya bisa menyimpulkan: well, I guess this is it. I’m done. I’m done thinking about it. I’m done.:)

Marah, Kecewa, dan Persahabatan Kita

image

Kekecewaan ibarat tikungan tajam bagi seorang pembalap. Di sana dia dapat terjungkal, atau justru menyalip lawan. Tergantung penyikapan…

Kekecewaan akan selalu menyapa. Sebagai isyarat, walau kita harus ikhtiar sekuat tenaga, tapi jangan menuntut segalanya harus sempurna…

Kecewa sering lahir dari espektasi dan pemujaan berlebihan. Selalulah bersikap wajar…..tapi jangan liberal…:)

Kecewa tak mungkin kita hindari. Tapi kita dapat hindari sikap dan ucapan tak terkendali.

Saat kita kecewa, banyak juga orang lain yang kecewa. Hanya saja, ada yang menatanya dengan tenang, ada yang melampiaskannya dengan berang.

Yang menyedihkan adalah kekecewaan berlebihan untuk hal-hal yang dia tidak tahu persis latar belakang masalahnya dan tidak terlibat langsung di dalamnya.

Sebagaimana kecewa, kemarahanpun sering menerpa. Jika memang harus terjadi, jangan mudah melampiaskannya. Ingat pesan nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wa sallam,

مَنْ كَظَمَ غَيظاً، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ سُبحَانَهُ وَتَعَالى عَلَى رُؤُوسِ الخَلائِقِ يَومَ القِيامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الحُورِ العِينِ مَا شَاءَ

“Siapa yang menahan amarah padahal dia mampu melampiaskannya, Allah akan panggil dia di hadapan makhluk-makhluknya yang mulia di hari kiamat, lalu dipersilahkan untuknya memilih bidadari yang dia suka.”
(HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Jika ada saudara kita yang sedang marah dengan saudaranya, jangan ikut-ikutan marah. Jika mampu medamaikannya, bagus. Jika tidak, cukup doakan dan diam.

Sahabat akrab dari sahabat kita, layak kita akrabi. Sahabat yang sedang tidak akrab dengan sahabat kita, tidak mesti harus kita musuhi.

Jika begitu saja kita ikut memusuhi orang yang dimusuhi sahabat kita, boleh jadi di lain waktu mereka berbaikan sedangkan kita masih bermusuhan.

Jika Allah selamatkan kita dari sengketa yang terjadi di antara saudara-saudara kita, mestinya kita selamatkan sikap dan lidah kita dari sengketa tersebut.

Semoga hati kita selalu disatukan dalam cinta karena Allah, marah dan kecewa segera sirna berganti cinta, canda dan tawa…

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Long Distance Marriage is Never a Good Idea

image

Reaching 5 years of our marriage! Alhamdulillah. Laughters, tears, smiles, frowns, disappointments, surprises berganti-gantian menghiasi 5 tahun pernikahan kami. 5 tahun versi tahun masehi. 5 Februari 2011. Saya sah menjadi istrinya Abang Priana Ashri.

Dan memilih menjalani hubungan pernikahan jarak jauh atau Long Distance Relationship atau LDR is totally a wrong selfish decision that I’ve done. LDR sangat tidak sehat dan menyiksa. There. I said it. With full of my conscience.

Ketika saya memutuskan untuk lanjut kuliah di Pontianak yang berarti dalam 1 bulan saya harus 2 kali bolak balik Pontianak – Sekadau, kemudian saat akan selesai, selama 1 bulan saya stay di Pontianak untuk fokus dengan vacation project alias tesis, teman saya pernah menanyakan saya apakah tidak sedih dan galau LDRan begitu? Dia bilang, sebagian besar teman-temannya merasa tersiksa harus LDR setelah menikah. Waktu itu, I answered NO I didn’t feel sad. I meant it. Waktu itu, yang ada dalam kepala saya adalah: segera setelah urusan tesis ini kelar, saya akan balik lagi ke Sekadau, sehingga tidak sempat sedih dan merana.

Sekarang, situasinya berbeda. LDR yang saya jalani barangkali seperti LDR yang kemarin-kemarin dijalankan oleh orang lain. LDR yang belum tau kapan bisa akan benar-benar settled menjalani kehidupan berumah tangga seperti di 3 tahun pertama pernikahan.

Segala sesuatu ada baik buruknya, termasuk LDR, meskipun tentu saja, buruknya jauuh lebih banyak. So far, yang baik dari LDR itu ya rasa rindu yang berlapis-lapis. Lebih tebal dari lapisan wafer tango haha. Buruknya LDR? Waah you name it!

Terlepas dari baik buruknya LDR, LDR after marriage is never a good idea. Apalagi kalo bukan jenis LDR yang terpaksa harus dilakukan. LDR yang terpaksa itu misalnya, suami istri sama-sama PNS, sedangkan salah 1 atau keduanya belum dapat izin pindah ikut pasangan. Contoh lain, suami atau istri dapat beasiswa ke luar negeri tapi tidak memungkinkan untuk membawa serta pasangan dan anak. Itu LDR yang memang terpaksa harus dijalani, tidak bisa dihindari. Tugas negara, tidak bisa diganggu gugat. Sedangkan LDR yang sebetulnya bisa dihindari itu contohnya yang seperti saya ini. Tidak ada yang PNS, tidak ada yang dapat beasiswa, tapi demi memenuhi keinginan orang tua, maka terjadilah LDRan. Sebagai wanita yang sudah berstatus istri, kadangkala sering lupa (atau tidak enak untuk menolak) bahwa urutan patuhnya adalah: 1. Allah dan Rasul, 2. Suami, 3. Orang tua. Bagi seorang istri, tidak ada istilah patuh pada orang tua. Patuh itu ya sama suami, baru ke orang tua. Tentu dengan catatan, yang diperintahkan suami berada dalam koridor syariat. And I am a living proof of this theory.

Dan memang beginilah kehidupan pernikahan. Tidak ada kehidupan rumah tangga yang benar-benar sempurna. Tidak mungkin bahagia terus tanpa sedih. Satu-satunya yang menjadikan sebuah rumah tangga terasa dan tampak sempurna adalah rasa syukur dan ikhlas menerima apapun yang sudah Allah gariskan, either itu di pasangan kita, atau pada situasi dalam pernikahan yang kita jalani.

Di usia 5 tahun pernikahan kami, dengan level kesabarannya yang seringkali bikin saya speechless, saya berdoa supaya Allah berkenan hadiahkan 1 rumah di syurga untuk suami saya, sebut saja bang Aci. Sedangkan saya, saya masih harus terus banyak belajar menata diri, menata emosi, menata hati supaya nanti layak menemani bang Aci di syurgaNya Allah. Aamiin.

Untuk seluruh pasangan suami istri yang menjalani Long Distance Relationship, baik karena terpaksa atau terlanjur, mari kencangkan sabar kita. Buahnya sabar selalu manis, ya kan?:)

Kita dan Rencana yang Bikin Hidup Jadi Lebih Menantang

image

2015 sebentar lagi habis, dan beberapa orang tampaknya sudah sangat optimis dengan rencana-rencana mereka di 2016. Are you one of them?

Resolusi. Kata yang populer di ujung dan awal tahun. Lulus kuliah, dapat beasiswa, being settled di pekerjaan dan bisnis, menikah dengan idaman hati pujaan jiwa, punya anak, hidup sehat bahagia selama-lamanya dunia akhirat, itu dia harapan-harapan sebagian besar umat manusia tiap ditanya mau apa di tahun berikutnya. Ada yang Allah uji dengan kemudahan mendapatkan semuanya sekaligus, ada yang diuji dengan dicicil satu per satu, ada yang diuji dengan cara yang hanya Allah dan dia saja yang tau.

Ketika sharing di kelas, saya pernah berkata pada para siswa/mahasiswa saya bahwa menjadi manusia yang hidup dengan rencana itu jauh lebih kece daripada hidup dengan prinsip “biarkan mengalir seperti air”. Bagi saya, prinsip mengalir seperti air biarlah berlaku ketika segala macam ikhtiar dan lantunan doa akan rencana yang kita rancang sudah berjalan maksimal. Kalau dari awal sudah ngaliir aja, kok yaa rasa-rasanya seperti hidup tanpa visi. Karena itulah kita perlu rencana. Teman saya bilang, rencana-rencana dalam hidup itu bisa membuat hidup kita jadi lebih menantang loh.

Di 2016, saya yang sangat berbakat punya badan melar ini punya harapan supaya bisa bebas ngemil dan makan apa saja tapi bodi bisa tetap ideal seperti suami saya yang memang tidak punya bakat gemuk sama sekali. An absurd resolution, yes I know 😂. That’s why, saat saya tersadar bahwa teknologi buang lemak dengan aplikasi atau alat bakalan masih lama banget terwujudnya dan entahlah akankah saya masih hidup di era itu kelak, saya segera menuliskan rencana-rencana realistis demi terwujudnya berat badan ideal. Jangan anggap harapan ini harapan konyol, loh! Punya berat badan ideal dan tidak gampang melar ini berdampak di berbagai aspek dan rencana-rencana lainnya, terutama buat saya. Berbadan ideal impacts to economics, aesthetics, social, health, psychological side, endesbre endesbre 😎

Letak menantangnya adalah ketika kami *saya dan beberapa orang yang punya harapan sama* berjuang sekuat tenaga mewujudkan harapan tersebut. Menarik badan dari kasur yang senantiasa bermagnet tiap akan pergi olahraga, berusaha pura-pura lapar ketika cemilan sedang banyak-banyaknya, ajakan hangout yang dibarengi icip-icip, wow you guys don’t know how they will be such challenging challenges haha.

Itu sekedar contoh bagaimana rencana bisa bikin hidup jadi penuh tantangan untuk sebuah harapan sederhana. Bayangkan, seberapa besar tantangan yang akan teman-teman hadapi dengan harapan-harapan besar yang telah tertulis maupun sekedar dipetakan di kepala? Baru membayangkannya saja udah bikin berdebar ya:)

Apapun rencana dan langkah yang kelak akan kita lewati di 2016, baik nanti bakalan terwujud atau tidak, harapan saya, kita semua menjadi manusia yang tak cuma bertambah usianya, tapi bertambah juga amal baiknya. Amalan-amalan baik yang semoga saja bisa jadi penyebab Allah memberikan kita rahmatNya, trus jadi penghuni syurga deh selama-lamanya 😁 Aamiin kaan yuuk mari.

So, what’s your plan for 2016? Are you ready to make them true?😉