Pendaftaran Siswa Baru MAN 2 Pontianak 2016/2017

ESC_PINK

Terakhir kali saya bikin postingan tentang MAN 2 itu sekitar 4 tahun lalu, dan sebagai salah seorang lulusan MAN 2 Pontianak yang juga pernah wara wiri di ruang guru *karena ceritanya diamanahi buat ngajar Conversation dan jadi pembimbing English Study Club*, saya merasa ingin dan perlu bikin postingan ini walaupun info ini udah dipost di fanpage MAN 2 Pontianak sejak bulan juni lalu. Check it out!

Daya tampung: 7 lokal (252 siswa)

IPA: 4 kelas, IPS: 2 Kelas, Keagamaan: 1 kelas.

Syarat-syarat pendaftaran:

  1. Lulus SMP/MTs
  2. Usia calon siswa maksimal 18 tahun.

Waktu pendaftaran: 11 – 13 Juli 2016.

Pengambilan formulir: pukul 07.30 – 11.00.

Sistem pendaftaran:

  1. Mengisi formulir pendaftaran
  2. Menyerahkan ijazah, SKHU/SKYBS asli dan photocopy yang dilegalisir 1 lembar, photocopy kk 1 lembar, pas photo ukuran 3×4 warna 4 lembar.
  3. Semua berkas dimasukkan ke dalam map kertas polio. MTs: MAP HIJAU. SMP: MAP KUNING.
  4. Penyerahan berkas ke panitia pukul 07.30 – 12.00 WIB
  5. Tes praktek sholat dan baca AlQur’an, siswa memakai pakaian seragam sekolah/madrasah asal (Pukul 07.30 – 12.00 WIB).
  6. Tes tertulis dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2016. Mata pelajaran: agama, matematika, IPA.

PENGUMUMAN:

  • Panitia mengumumkan hasil seleksi siswa baru pada 15 Juli 2016.
  • Panitia mengembalikan berkas calon siswa yang tidak lulus pada tanggal 15 Juli 2016.

REGISTRASI/DAFTAR ULANG

  • Waktu registrasi setelah dinyatakan lulus: tanggal 15 – 16 Juli 2016.
  • Calon siswa yang dinyatakan lulus seleksi diwajibkan mendaftar ulang dengan persyaratan:
  1. Menyarahkan pas photo warna ukuran 2×3 sebanyak 4 lembar dan 3×4 sebanyak 4 lembar.
  2. Membayar biaya administrasi sesuai ketentuan.
  3. Menandatangani perjanjian Tata Tertib (wajib ditandatangani siswa dan orang tua)
  4. Surat pernyataan kesanggupan orang tua untuk bekerja sama dalam pendidikan anaknya.
  5. Jam kerja: 07.30 – 12.00 WIB.

Tempat pendaftaran: MAN 2 Pontianak Jl. A. Yani No. 9 Telp. 0561-732795

Masa orientasi dan belajar hari pertama: tanggal 18 Juli 2016.

Good luck yaa buat yang akan menjadi siswa/i MAN 2 Pontianak. You’ll be proud to be the part of this amazing school, as I always feel😀

youcantberightbydoing.jpg.jpeg

Membenarkan yang Tidak Benar

Hari ini, 31 Mei 2016 adalah tahun kedua saya kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup saya. 31 Mei 2014 pukul 14.51 WIB bapak saya kembali pada Allah. Saya tak mau lagi berlarut-larut dalam sedih dan tangis. Semoga tak menangis saat mengetik tulisan ini bukan karena hati saya menjadi keras, melainkan karena berusaha ikhlas menerima ketetapan Allah. Mengutip Maher Zain dari lagunya So Soon, “I have to move on cause I know it’s been too long”. Jasadnya sudah tidak lagi menemani kami yang sangat mencintainya, tapi kenangan bersama bapak mana mungkin terlupakan. Termasuk pesan-pesan yang bapak tinggalkan ke saya, baik tersurat juga tersirat.

Dulu ketika kuliah, sebelum menikah, salah 1 aktivitas favorit saya adalah ngobrol sama bapak membahas random things mulai dari topik tentang keluarga sampai topik politik. Among those random discussions, ada 1 pesan tersirat dari bapak yang ingin saya bahas, yaitu tentang kebiasaan manusia yang sering membenarkan yang tidak benar, yang berimbas pada melonjaknya angka perilaku keliru karena merasa dibenarkan. Atau sebaliknya, menyalahkan tindakan yang benar sehingga orang jadi minder atau sungkan untuk meneruskan. Supaya lebih jelas, dikasih contoh dari berbagai aspek kehidupan deh hihi.

image

Contoh kecil adalah mengerjakan PR di sekolah. Saya tidak tau apakah kebiasaan ini masih berlangsung sampai sekarang atau tidak. Tapi jaman saya sekolah dulu, terutama di masa SMP-SMA, datang pagi-pagi ke sekolah untuk bikin PR adalah kejadian yang nyaris rutin terjadi. Either karena lupa ngerjain PR di rumah, atau PRnya kelewat susah sehingga hampir 1 kelas melakukan tindak kriminal ini hahaha. It’s a wrong thing to do, right? Tapi dibenarkan oleh banyak orang sehingga tindakan yang keliru itu berlangsung terus dan menjadi kebiasaan. Malahan, kalo ada yang laporan ke guru siapa aja yang bikin PR di sekolah, otomatis jadi public enemy 😂😂😂😂.

Masih di ruang lingkup pendidikan, contoh lainnya adalah ketika ada siswa melanggar peraturan, lalu guru memberi hukuman. Meminjam kata-kata yang banyak beredar di media sosial:

image

Walhasil, seperti yang ditulis oleh Dr. Badrul Mustafa di sini, zaman sekarang guru-guru jadi terkesan apatis dan enggan memberi hukuman pada siswa yang sebetulnya memang layak dihukum (dihukum ya, bukan dianiaya 😁✌) karena sudah melanggar peraturan yang ditetapkan. Khawatir berujung di penjara, atau minimal ‘dilaporkan’ secara terbuka lewat media massa atau media sosial yang kalau sudah jadi viral, sulit sekali menghapus jejakmu. Jadi, daripada menanggung risiko berkepanjangan yang mungkin akan muncul, lebih baik cari aman.

Dari ranah sosial, saya ambil contoh MBA atau married by accident atau hamil di luar nikah. Tidak seperti di negara barat sana, di Indonesia, hamil di luar nikah is still (or it isn’t anymore?) considered as an aib, a shameful thing. Jumlahnya makin banyak, iya kan? Saya ambil 1 sample aja deh untuk kasus ini via radarjogja. Di tempat lain, seperti di Kabupaten Sekadau, dari info yang saya dapatkan, jumlahnya pun semakin bertambah. Kira-kira karena apa ya selain karena perkembangan teknologi yang menjadi-jadi? Menurut saya, makin banyaknya kejadian hamil di luar nikah ini juga karena para pelaku justru ‘dimanja’ oleh lingkungan sekitar. Berdalih “yang terjadi biarlah terjadi, sudah terlanjur”, tindakan keliru ini justru ditindaklanjuti dengan pemakluman dari orang sekitar. Mungkin tidak semua orang tau ya hal-hal penting mengenai hamil di luar nikah seperti yang dibahas di website konsultasi syariah. Belum lagi jumlah public figure yang mengalami hal serupa, atau film-film yang alur ceritanya, ya gitu deeh. Sehingga, tanpa sadar, kita pun kini ikut-ikutan maklum dan ‘cukup tau aja’ deh kalo ada kejadian begini.

Bicara soal public figure, di era media sosial begini di mana smartphone is owned by almost all people and always in their hand, sepertinya cukup berat jadi orang terkenal. Apalagi di dunia politik dan showbiz yang konsumennya adalah masyarakat dari berbagai kalangan. Masyarakat memilih sendiri siapa yang hendak mereka jadikan idola, dan juga, di era sosmed ini, terkesan sangat amat bebas mencerca cela public figure atau selebritis yang menurut mereka tidak layak tampil di layar kaca. Either itu karena menurut masyarakat, si public figure tidak punya skill dan kualitas apapun untuk tampil, atau karena jengah dengan tingkah polah mereka. Misalnya, Donald Trump yang karena statementnya yang berbau SARA, walhasil dia banyak mendapat kecaman dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan di Instagram, cukup sering saya liat orang-orang posting meme yang lumayan kejam untuk Trump 😂. Di Indonesia, ada Saiful Jamil yang jadi bahan ejekan karena kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, selain karena bapak ini, sebelum kasusnya mencuat ke permukaan, apa-apa dijawab pake nyanyi hahaha. Selain itu, ada juga Mulan Jameela, yang hingga hari ini tampaknya masih belum mendapat ampun dari masyarakat akibat kesalahannya di masa lalu. Ini tercermin dari banyaknya *meminjam istilah kawan saya* haters militan si artis. Apa-apa yang berkaitan dengan Muljem, selalu diserang habis-habisan oleh netizen. Kejadian terbaru terpampang nyata di akun Instagram @riomotret yang memposting maternity shootnya Mulan dan panen ribuan hujatan mengerikan.

Kira-kira, apakah tindakan menghujat orang yang tak mereka kenal secara pribadi itu adalah tindakan yang boleh dibenarkan? Secara kemanusiaan, tentu salah besar. Mana ada bullying yang halal hahaha 😂. Lalu, apakah perilaku dari public figure di atas, mulai dari membuat pernyataan yang menyinggung agama, dugaan pelecehan seksual, sampai ‘dugaan’ kawin siri sama suami sahabat sendiri yang sudah membesarkan nama di dunia showbiz adalah perilaku yang boleh dibenarkan? A rhetorical question needs no answer. Lantas, apa mereka jadi layak dibully dan dicaci maki? Menurut saya, sebagai sesama manusia dengan perasaan sensitif seperti kulit bayi *halaah*, setegar apapun mereka, tidak ada seorang pun di dunia ini yang layak diperlakukan begitu. Again, mengutip kata-kata kawan saya, “kita tidak bisa mengatur-atur orang lain mau beropini atau berprasangka apa dengan yang kita lakukan, tapi kita bisa memilih untuk berhenti atau tidak melakukan hal-hal yang berpotensi memancing prasangka orang lain”. Jadi yaa, siapa lah kita ini yang hanya rakyat jelata biasa mau ngatur-ngatur orang komen apa di akun orang lain. Mending fokus meningkatkan kualitas diri, menahan diri untuk gak mancing-mancing minta diprasangkai hehe ✌.

Anyway, that’s the truth, no? What comes around, goes around. Hidup ini memang tak lepas dari risiko atas pilihan-pilihan hidup yang sudah kita putuskan, kan? Baik pilihan manis atau pahit, berlaku ketetapan yang sama. Entah itu imbasnya kita sendiri yang langsung merasakan, atau menurun ke anak cucu kita di dunia, atau oleh Allah ditangguhkan ganjarannya hingga nanti di akhirat.

Finally, melampirkan kembali isi pesan tersirat dari obrolan dengan bapak saya, untuk urusan dunia maupun akhirat, jangan membenarkan yang keliru. Singkat, dan kadang kala agak “ringan di lidah berat di langkah” sih ya 😁. Well, thank you for reading. Last but not least, overall, tulisan ini practically is just another piece of my-nampol-of-the-day. Plak!

Mencari Ilham, Menggali Inspirasi Lebih Dalam

mencariilham

12 tahun lalu, pada peringatan Hari Anak Nasional, saya dan abang kelas saya di MAN 2 Pontianak, Ilham Kurniawan diminta untuk memandu acara di GOR Pontianak. 12 tahun kemudian, which is saat ini, rekan ngMC saya itu jadi MC kondang dan terpandang dan juga menjadi owner sebuah event organizer bernama Mayor Management. Sepertinya dinamai “Mayor” karena bang Iam (begitu saya biasa menyapa beliau) bercita-cita menjadi walikota.

Bukan hanya event organizer, bang Iam juga mulai merambah bisnis kuliner “Iam Mungbean”. Sepertinya bang Iam ingin membuktikan kepada dunia *minimal kepada ibunya*, bahwa sarjana ilmu pendidikan Bahasa Inggris tidaklah harus berkarir di ruang kelas menjadi guru. Seorang sarjana pendidikan juga bisa menjadi businessman, juga entertainer.

Lewat sebuah talkshow berjudul “Mencari Ilham”, bang Iam menghadirkan bincang-bincang santai tapi sarat makna, inspirasi, dan motivasi. Dimulai sejak Maret 2016, sampai dengan hari ini, “Mencari Ilham” sudah menghadirkan 8 tamu dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari owner bisnis-bisnis yang ada di Pontianak, band lokal dan nasional, sampai pedagang kecil seperti Pak Darmadi yang punya ciri khas dengan “Peyek 1000”. Semua episodenya menarik. Tapi saya punya 2 episode favorit: yaitu episode 2 yang menghadirkan Pak Darmadi pedagang peyek di area Jalan Gajah Mada Pontianak, dan episode 6, wawancara dengan Naga Lyla.

Di episode 2, dengan bahasa melayu Pontianak yang “meletop”, Pak Darmadi membincangkan tentang suka duka menjadi pedagang peyek, tentang bagaimana mencari nafkah untuk keluarga harus menepikan gengsi, tentang orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi lebih sukses daripada mereka. Sedangkan di episode 6 bersama Naga vokalisnya Lyla, salah 1 yang menarik adalah talkshow ini di dalam pesawat, dari ketinggian 12.000 kaki dalam perjalanan menuju Sintang. Ceritanya, Lyla akan konser dan well, obviously, bang Iam adalah MC konsernya😀 Shockingly, saat talkshow, terjadi turbulensi di dalam pesawat dan 2 entertainer asal Kalbar ini, sepenglihatan saya, cukup lihai laah menyembunyikan kekagetannya hihi.

Lebih asik sih nonton sendiri ya talkshownya. Jadi, buat teman-teman, langsung ke Channel Mencari Ilham, dan jangan lupa klik subscribe okay😉

Untuk Bang Iam dan team Mencari Ilham, good luck dan semangat selalu yaa berkarya serta menghadirkan hal-hal unik dan inspiratif dari tanah Kalbar, luar Kalbar, dari manapun kelak berada. Tak hanya Bang Iam kok yang terinspirasi. Kami semua yang “Mencari Ilham” ikut mendapat inspirasi lebih dalam setelah menyaksikan talkshownya. Kita tunggu episode-episode berikutnya looh:)

Women, when everything matters

image

Women are way more complex and complicated than men. At least, that’s what I can infer from today’s sharing and from an on-going observation that has happened for few years. The data of observation derived from what I have been read in an online forum, listening to some friends’ stories of their life, also the reality I find surround me.

We, women, tend to express our feelings, show what we have, share our pride, till come to the point which sometimes we never realize that it turns out as a ‘competition’. For example when women get married, that’s not the end of a happy life. How’s the husband treat you, have you got pregnant directly after married, where you live, how’s your in-law treat you, that becomes matter when you discuss it with most of women. Also not end of a happy life yet. You now have kid(s).

It matters what you feed them. It matters whether you choose to give them vaccines or not. It matters how you gave birth: normal or caesar? It matters how your parenting style is. It matters whether your kid(s)’ growth is ideal as how kids should grow although all moms realize that every single kid has different stage of ability.

You have a son already. Well now it matters when you will have daughter. You have daughter, now it matters whether you work or stay home being a housewife. Moreover when you got your degree. You need to be strong to tackle people’s comment when you’re choosing to stay home but you got madter degree.

You have both now, son and daughter. Does it end of story? Not yet, of course! We, women make it’s an important thing to notice on where the kids should have their education. Is it at school? Which school? Does the school have good prestige and sufficient background for children? Or is it homeschooling? Why homeschooling? How the kids would socialize? Everything becomes matter. Some of us might deny that, “No that’s not I or we compete. We just share our way”. Well yeah, that’s us. We have too high prestige to admit that we also sometimes judge and secretly put some doubts towards other women’s strategy in managing their life.

See? Even now I am really judgemental judging us, women, to be that way hahaha. Some, or maybe most of us don’t do that. Or vice versa, most of us do that. Anyway, if we, women, live our life to fulfill other people’s satisfactory that they even won’t get any impact directly to their own life, I believe it will be really rare to find a moment of peace within our days. We know that, right? And we still don’t care, and we still wanna prove people that what we do is the right one hahaha.

Now men, you may thank me because I have revealed transparently some secrets about women. Yes, you’re very welcome 😁✌

Learning English in Volare Chit Chat

image

One of the perks being a broadcaster for a program named “Volare Chit Chat” is I always get a chance to improve my English language in a very fun way. Salah satunya seperti yang terpajang di foto di atas, ketika teman-teman mahasiswa program exchange students Prancis – Indonesia (yang juga merupakan salah satu program Politeknik Negeri Pontianak) bertamu ke studio Volare untuk Volare Chit Chat.

Volare Chit Chat adalah salah satu program acara edukatif di Radio Volare. Dibawakan 2 orang penyiar: Saya dan Lailatul Fidyati, mengudara setiap hari Kamis, pukul 6-8pm. Program ini memiliki 5 segmen:

1. How to say it, membahas sebuah idiom beserta cara pelafalan yang benar. Agar gampang dipahami, dikasi contoh kalimat beserta terjemahannya. Berhubung yang siaran bukan native speaker alias penutur asli Bahasa Inggris, maka di segmen ini diputarkan juga pelafalan idiom yang dibahas versi native speaker. Tujuannya apalagi kalo bukan supaya Bujang Dare yang menyimak bisa melafalkan idiom yang dipilih dengan baik dan benar.

2. Idiom, seperti segmen pertama, segmen ini pun membahas sebuah idiom dilengkapi makna dan contoh kalimat. Bedanya, segmen kedua menyertakan 1 lagu yang judulnya merupakan idiom yang dibahas. Contoh idiom dan lagunya? Coba cek ke http://www.volarefm.com, komplit dipublish beserta pembahasannya loh😉

3. Bilingual, berita dua bahasa yang up to date.

4. FunSizeFact, memberikan fakta-fakta seputar kata, frasa, budaya, dan lain sebagainya. Tidak semua orang tau kaan kalau “butterfly” tadinya bernama “flutterby?”. Itu salah 1 contoh fakta yang biasa kami sibak di Volare Chit Chat😀

5. English, please. Segmen favorit saya nih😀 Kalau di 4 segmen sebelumnya saya dan Fidya bersiaran dengan code mixing and switching, bahasa Indonesia – bahasa Inggris, di segmen ini, seperti namanya, “English, please!”. Di sini lah saya melatih skill speaking sekaligus menyalurkan hobi chit chat di udara hihi. Bonusnya, dapat banyak teman baru, expanding my networks, opening my mind to new things, feeling a brand new experience bahkan sekedar dari cerita guest speakers tentang topik yang hari itu kami bahas. Sounds so fun, yes? Well, yes because IT IS very fun:)

Seperti kamis kemarin, misalnya. Again, Volare kedatangan exchange students dari Prancis: Raphaël dan Fatima.

image

I was excitingly surprised saat pertama kali melihat Fatima. She’s wearing hijab 😍 I mean, well it’s just very rapturous for me to see a French woman wearing hijab. Hihi harap maklum yaa, bukan bermaksud rasis tapi ada bule dari negara yang bukan mayoritas muslim, berhijab, dan juga ketika masuk waktu Isya dia izin sholat di studio, it’s really a WOW for me ✌ Rasanya kayak ada manis-manisnyaa gitu 😁

Fatima bercerita bahwa dia sempat bingung memutuskan untuk ke Thailand atau ke Indonesia untuk exchange program ini, lalu orang tuanya menyarankannya untuk memilih Indonesia. She told, “So when we went to Mecca, my parents meet Indonesians there and they told me that Indonesian people are kind”. Orang Indonesia memang mahsyur dengan keramah tamahannya, dek Fatima 😁. Another thing that impressed me about Fatima is she can speak 5 languages! French, English, Spanish, Italian, dan 1 lagi saya lupaaa namanya hehee.

Raphaël, is also such a nice and friendly guy. Kalau Fatima adalah campuran Prancis-Algeria, Raphaël murni Prancis. Mereka 1 kelas, di semester 4 jurusan physics measurement (begitu tadi yang saya tangkap, maapkanlaah apabila keliru ✌😁). Bersama 5 temannya, mereka akan mengikuti internship program selama 3 bulan di Pontianak.

Because of English isn’t our mother language, maka sama seperti saya, teman-teman mahasiswa dari Prancis ini pun belajar Bahasa Inggris juga. Jadi, ketika ngobrol dan ada kata dalam Bahasa Inggris yang kami lupa atau tidak tau padanannya, we’re literally speechless karena nyebutin kata yang dimaksud dalam L1 atau first language masing-masing juga kami sama-sama tidak paham hahaha.

Begitulah sebagian kecil dari menyenangkannya siaran untuk program Volare Chit Chat. Misalkan teman-teman (khususnya yang berdomisili di Pontianak) ingin juga melatih speaking skill lewat program ini, bisa juga looh mendaftar untuk jadi guest speaker di segmen “English, please”. Jangan khawatir keliru dan salah-salah ngomong, namanya juga belajar ya khaan😉 Kalau serius, bisa hubungi saya via kolom komen postingan ini, atau lewat personal message ke akun sosmed saya juga boleh. Misalkan masih malu-malu, tetap simak programnya yaa sampai siap ber-casciscus chit chat di udara with me and Fidya😀

Learning is not always about sitting in a classroom, listening to our teachers or lecturers explaining materials. It can also be really refreshing like listening to radio. You know what, unlike watching TV, while listening to radio, you can also do other things like driving, cooking, even doing your school or college assignments😉

So, let’s keep learning English wherever and whenever we are, okay 👌

Sayonarakah Kita

image

1. “Berhasil bikin situasi tidak nyaman dengan dia”

2. “Ternyata selama ini kakak yang mempengaruhi dia”

3. “Dia sudah terpengaruh oleh kakak”,

Pamungkas. Petrified. Shock.

Demi husnudzon dengan orang yang sudah dipilih dia, aku terpaksa mengingat-ingat momen yang mungkin sudah jauh terbuang dalam jurang memori, tentang kapan aku pernah berjumpa dengan orang yang melontarkan kalimat-kalimat bernada judgemental itu. Berhari-hari tak juga ketemu. Aku takut keliru, takut akulah yang salah sangka menyangka orang yang dipilihnya itulah yang akhlaknya entah kemana karena tiba-tiba muncul dengan tuduhan-tuduhan membingungkan. Tendensius. Insecure. Menuduh orang yang sekali pun tak pernah interaksi di mana pun, ketika niat baik diasumsikan sebagai “mempengaruhi untuk melawan”. Ketika halal pun belum.

Sakit hati. Sedih. Murka. Kesal. Kecewa luar biasa karena the true colors dari orang yang dipilihnya baru nampak *atau ditampakkan* manakala segala persiapan menuju mitsaqan ghalidza sudah nyaris lengkap. Meski di awal dulu sudah terlalu banyak pertanda yang terang benderang ditampakkan, untuk sebuah perjalanan panjang yang bukan cuma melibatkan 2 insan manusia, keraguan yang dia lontarkan padaku pun tak lagi berguna.

Terlalu banyak hal mencengangkan. Tak dinyana. Aku dan suamiku yang dulu paling mendukung dengan landasan husnudzon dan ingin dia bahagia, hari ini malah dianggap seperti virus ebola. Dijauhkan, diputus semua alur komunikasi darinya dengan sengaja, seolah tak pernah sekalipun dan tak ada satu pun hal baik yang kami lakukan untuk dia dan orang itu. Aku harus husnudzon, bahwa barangkali ketika madah tentang memutus silaturahim itu dilarang, orang itu berhalangan hadiri lingkaran.

Tak diduga, ketika belum akan diminta secara resmi ke orang tua, tabiat orang yang dia pilih itu tertutupi lewat keberaniannya membuka komunikasi dengan suamiku. Meminta sebuah design. Dan kami semakin husnudzon meski sudah begitu banyak suara-suara lain yang ternyata sangat menolak keras dia jalan terus dengan orang itu karena sudah lebih dulu kenal betul tabiatnya. Tak diduga, ternyata aku yang tertipu.

Dan tanganku pun sepertinya ikut “terpengaruh” denganku, terlalu kecewa untuk meneruskan cerita ini. Cerita yang terserah saja mau dianggap nyata atau fiksi. Well, either it’s a real story or a fiction, what I’m trying to say is: Seperti kalimat di gambar itu, peduli ku pun berbatas waktu:)

Luka ini amat sangat dalam. Terlalu dalam. Hingga aku kehilangan kekuatan untuk membalas perbuatan yang sudah membuat kami (by kami, I mean: aku dan suami) terluka dan dilecehkan. Pun aku enggan mengotori diri sendiri dengan membalas, menjatuhkan level diri. Kami sepakat menyerahkan hal yang “forgiven but can never be forgotten” ini kepada Allah saja, sebaik-baik Pembalas ☺

Till the second I write this post, I still have no idea: is this our goodbye? Our end? By our, I mean: aku dan dia. I have no idea.

Aku hanya bisa menyimpulkan: well, I guess this is it. I’m done. I’m done thinking about it. I’m done.:)

Marah, Kecewa, dan Persahabatan Kita

image

Kekecewaan ibarat tikungan tajam bagi seorang pembalap. Di sana dia dapat terjungkal, atau justru menyalip lawan. Tergantung penyikapan…

Kekecewaan akan selalu menyapa. Sebagai isyarat, walau kita harus ikhtiar sekuat tenaga, tapi jangan menuntut segalanya harus sempurna…

Kecewa sering lahir dari espektasi dan pemujaan berlebihan. Selalulah bersikap wajar…..tapi jangan liberal…:)

Kecewa tak mungkin kita hindari. Tapi kita dapat hindari sikap dan ucapan tak terkendali.

Saat kita kecewa, banyak juga orang lain yang kecewa. Hanya saja, ada yang menatanya dengan tenang, ada yang melampiaskannya dengan berang.

Yang menyedihkan adalah kekecewaan berlebihan untuk hal-hal yang dia tidak tahu persis latar belakang masalahnya dan tidak terlibat langsung di dalamnya.

Sebagaimana kecewa, kemarahanpun sering menerpa. Jika memang harus terjadi, jangan mudah melampiaskannya. Ingat pesan nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wa sallam,

مَنْ كَظَمَ غَيظاً، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ سُبحَانَهُ وَتَعَالى عَلَى رُؤُوسِ الخَلائِقِ يَومَ القِيامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الحُورِ العِينِ مَا شَاءَ

“Siapa yang menahan amarah padahal dia mampu melampiaskannya, Allah akan panggil dia di hadapan makhluk-makhluknya yang mulia di hari kiamat, lalu dipersilahkan untuknya memilih bidadari yang dia suka.”
(HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Jika ada saudara kita yang sedang marah dengan saudaranya, jangan ikut-ikutan marah. Jika mampu medamaikannya, bagus. Jika tidak, cukup doakan dan diam.

Sahabat akrab dari sahabat kita, layak kita akrabi. Sahabat yang sedang tidak akrab dengan sahabat kita, tidak mesti harus kita musuhi.

Jika begitu saja kita ikut memusuhi orang yang dimusuhi sahabat kita, boleh jadi di lain waktu mereka berbaikan sedangkan kita masih bermusuhan.

Jika Allah selamatkan kita dari sengketa yang terjadi di antara saudara-saudara kita, mestinya kita selamatkan sikap dan lidah kita dari sengketa tersebut.

Semoga hati kita selalu disatukan dalam cinta karena Allah, marah dan kecewa segera sirna berganti cinta, canda dan tawa…

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc