My Favorite Selfie

As I mentioned in my previous post, I instruct my students to create a blog as the media to publish their structured assignments. Besides posting the materials we discuss at class, I also have decided some topics for them to post. I posted the topics in my blogspot blog.

To make it fair, I opt to also do the topic writing. So, starting from today until the end of this semester, I will also write posts with at least 200 words for each post about the topics decided. Frankly, it is useful for me, too πŸ˜„

So, topic for week 1 was about the reason why choosing the current study major. I skipped the topic because I already made one as the sample. I put and share the writing with the downloadble link in my blogspot blog. It means now my turn to write topic 2: my favorite selfie and why. 

Me at Nong Noch Village Pattaya

Yep, the pic above is just one of favorite selfies I have. Do I like doing selfie? Not really. I only take selfie in certain occasion, not every day like majority of women today do. Well, a lot of people love taking picture of themselves, so no wonder many smartphone companies today compete to enhance the quality of their camera, especially the front camera with higher resolution to result a good selfie. If yesterday rarely we found handphone with high-res front camera, nowadays, we have a lot of options from variety of smartphone brands that build very high resolution camera for taking selfie. 

And the selfie I put in this post, I took it with my iPhone 5c. The resolution for the front camera is only 5megapixel. But I think it’s already good enough for a selfie 😁 You see the result? Sun bright like a diamond, no? Hahaha.

Well, it was because at that time, the sun did shine really bright. The weather was so HOT! But I love the place so much. Do you know where I took the selfie? True! It was when I visited Thailand on March this year. With my friends from American Corner Untan, I went to Nong Noch Village in Pattaya, Thailand. At the very first time I saw the beautiful garden with many colorful flowers, I already intended to capture the moment into at least one selfie. And there I was, having a selfie in the garden ❀

Actually at that time, I really still wanted to go around the garden and take more pictures of the beautiful garden. Unfortunately, we (I and other people who joined the tour&travel agent) had to visit other places in Thailand. So long, Nong Noch Village Pattaya. Insya Allah one day I will go there again, with my husbandπŸ˜€

Do you have any favorite selfie? Come on, share yours in your blog or social media once in a lifetime. Don’t be embarrassed, sharing a selfie pic might be a good way to build your confidence and let yourself open 😁

1 Passion – 2 Suasana

Selain passion, salah 1 alasan saya bertahan di sebuah tempat kerja adalah suasana kerja yang nyaman, termasuk di dalamnya: pimpinan + rekan kerja yang asik. 

“Hari gini masih punya pimpinan din? Jadi bos di istana sendiri dong, masa jadi kuli terus sih”. Iyaa, kamunya jadi pimpinan tapi ga punya karyawan emangnya bisa jalan tu bisnis hahaha. Tiap posisi dalam profesi punya ladang amalnya masing-masing. Jadi bos tapi dzolim percuma juga eiym, keduluan bawahannya ntar masuk syurga 😁 syudah ah, no more banding-bandingin pimpinan bawahan yes. Kali ini saya ingin fokus bahas tentang salah 1 faktor yang bisa membuat orang betah bekerja dan makin mencintai pekerjaannya. 

As I mentioned earlier, passion masih jadi hal pertama yang membuat saya rela “dibayar murah” untuk sebuah profesi. Passion adalah hal yang menguatkan saya untuk bertahan bahkan ketika saya rasa, suasana di tempat kerja sudah tak seasik dulu. Alhamdulillaah, sampai dengan detik ini sih di semua tempat kerja saya, suasananya bisa dibikin asik aja *macam iklan rokok ya πŸ˜‚. Meski kadang ada juga yang mulai bikin suasana jadi kurang asik, ya saya hempasss manjah lemparkan sejauh-jauhnya dari pandangan baik lewat ketajaman tatapan ala Meriam Bellina maupun lewat tajamnya lidah silet demi kelancaran menjalankan aktivitas yang saya sukai πŸ™ˆπŸ™Š

Coba deh bayangkan, kita kerja dari badan masih seger aroma melati sampai badan mulai bau matahari, ehh hari-hari di tempat kerja, otak yang semestinya dipake buat mikirin cara selesaikan kerjaan malah harus terbagi buat menghadapi rekan kerja yang sepertinya memang Allah kirimkan untuk menguji tingkat kesabaran. Malesin dan bikin pengen cepet-cepet pulang loh itu *terpaksa* punya rekan kerja macam begitu πŸ’‰πŸ˜šπŸ˜.

Tapi yaa begitulah kehidupan di dunia kerja yakhaan. Mirip-mirip kehidupan berumah tangga juga laah itu kalo ditengok-tengok. Tidak ada yang benar-benar sempurna as we wish. Kalau ingin terus bertahan, harus ada pihak yang mengalah otherwise, yaa bisa-bisa lantas jadi berantem, either itu psy war alias perang dingin atau heboh-hebohan kayak yang biasa kita liat di gedung parlemen saat anggotanya lagi pada rapat bahas anggaran negara 😜

So far, setahun kembali ke dunia kerja, alhamdulillaah I feel that I get both passion and enjoyable working atmosphere. Baik di Radio Volare maupun di American Corner (Amcor) Untan. Dan 2 bulan belakangan ini, tambah 1 lagi yaitu di UPT Bahasa Untan πŸ˜„πŸ˜ Minor conflicts did occur, tapi kelarnya ya hari itu juga. Dedek-dedek gemes volunteers Amcor Untan juga tandem siaran saya di Volare Chit Chat sih anaknya asik-asik dan ga gampang ngambek, so I love working with them all hihi.

Punya pekerjaan, adalah nikmat dari Allah yang harus kita syukuri. Berprofesi sesuai dengan passion adalah nikmat dari Allah yang harus kita syukuri. Passion yang menghasilkan nominal banyak buat bersedekah ditambah lingkungan kerja yang bikin ga berasa kerja, maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan? Semuanya harus kita syukuri. Alhamdu…lillaah. sesuatuuk 😁

Students, create a blog!Β 

New semester at the university has started, and I am also starting to execute some new plans which I haven’t executed before in my teaching history like giving instruction to my students for this semester to have their own blog.

I read in some journals that a few researchers stated that blog for education is considered “so yesterday” thing to do. Also it has some points of proven disadvantages, particularly for ELT. But question appeared: Where is this stance valid? 
As my previous research for my so-called vacation project was about blog writing, the idea to have each of my students had a blog will be in line with the part of my chapter five of the thesis. Hence, this semester, I instruct my students to create a blog and post their writings as the structured assignment. 

Execution of this idea is based from what I learn from the previous semester, where the structured assignment score was taken from their weekly portfolio from what they have got along the teaching learning process at the classroom, submitting the assignments in a bunch of papers, and I was getting so much dizzy. Hundreds of students with thousand papers. So many kilograms. Really not “Go Green”. Then I think, a blog will be very handful for me. One student one blog. 

I realized from the beginning of designing this idea that it will be time consuming. Reading hundreds blogs, with the students writing that…. well I can imagine how good and how bad the quality of their writing later πŸ˜‚, but at least, I guarantee that I will not throw their assignments away into the trash bin. It will last for a long time in Internet as long as they don’t delete their blog. Go green, yes? 

Anyway, interesting facts appeared at the very first week of the meeting. I still find a student, in this very year, at this very all digital era, who still has no email! Is he inspired by the story of the successful entrepreneur who sold tomatoes because being rejected by a company for not having an email? Could be. One other fact so far is there are also a few students who got no idea how to create a blog, and consult to me (via LINE) instead of googling by themselves, or ask their friends. I was in the middle of wanting to laugh and trying hard not to cry for knowing this fact. So sad but real. 

Having my students have a blog seem like forcing some of them to do something that they might not reay like to do. I also realize this point. But I believe, people all over the world also know that English language has 4 skills: reading, writing, listening and speaking. So blogging is my way to insist them producing a good writing. Eventually, they will still have to write for their paper. Even though writing in blog is considered less academic based on some researches even my own one, but getting them used to writing via blog is not a bad idea anyway, I guess. 

Let’s see what happens next. I can’t wait to read their writings πŸ˜‡

Pemilihan Duta Bahasa Kalimantan BaratΒ 

Globalisme membuat bahasa asing, misalnya bahasa Inggris akan masuk ke sendi-sendi kehidupan banyak negara, termasuk Indonesia. Sebab, sebagai bahasa global yang digunakan antar-negara, bahasa Inggris akan dianggap lebih penting daripada bahasa suatu negara. Reformasi bidang politik, ekonomi dan hukum yang bergulir sejak Reformasi 1998 telah meniupkan angin kebebasan, termasuk dalam tata cara dan perilaku berbahasa masyarakat kita, tak terkecuali di Kalimantan Barat.

Keresahan inilah yang menjadi salah satu latar belakang pemilihan Duta Bahasa. Duta bahasa adalah representasi pemuda yang memiliki kepekaan terhadap permasalahan di bidang kebahasaan dan kesastraan serta memiliki kemampuan berbahasa yang baik, yakni Bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing. Pemuda yang mampu menempatkan bahasa Indonesia sebagai tuan rumah di negara sendiri, serta mampu melestarikan bahasa daerah sebagai wujud kearifan dan kekayaan budaya lokal, disamping juga mampu berbahasa asing untuk berkomunikasi sekaligus bersaing dengan pihak asing.

PESERTA
Persyaratan Umum 
1. Pria atau wanita berusia 18–25 tahun
2. Tinggi badan minimal putri 155 cm, putra 160 cm
3. Pendidikan minimal lulus SLTA
4. Berdomisili di Pontianak
5. Belum menikah
6. Mampu berbahasa Indonesia tulis dan lisan, berbahasa daerah, serta berbahasa asing dengan baik

Persyaratan Administrasi
Menyerahkan berkas pendaftaran berupa:
1. Salinan kartu tanda identitas 1 lembar
2. Pasfoto warna ukuran 4×6 1 lembar
3. Daftar riwayat hidup
4. Salinan sertifikat atau piagam penghargaan (bila ada)
5. Salinan nilai UKBI dan bahasa lain (bila ada)

PENGHARGAAN
Pria dan Wanita dengan nilai tertinggi akan terpilih menjadi Duta Bahasa Kalimantan Barat. Selanjutnya Duta terpilih berhak mengikuti Pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional. Pada tahapan ini tiket dan akomodasi ditanggung oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat. Pemenang 1, 2, dan 3 juga akan mendapatkan piala dan piagam penghargaan dari Balai Bahasa Kalimantan Barat. Informasi selanjutnya akan disampaikan oleh panitia.

TEMPAT DAN TANGGAL PENTING
Pemilihan duta bahasa diselenggarakan di Balai Bahasa Kalimantan Barat Jalan Ahmad Yani Pontianak. Jadwal kegiatan sebagai berikut.
1. Pendaftaran peserta tanggal 8 Agustusβ€”2 September 2016
2. Seleksi UKBI tanggal 5 September 2016
3. Pengarahan dan pengambilan nomor undian tanggal 6 September 2016 
4. Penilaian meliputi pembuatan dan presentasi desain/proposal kegiatan kebahasaan dan kesastraan jika terpilih menjadi Duta Bahasa tanggal 7-8 September 2016
5. Menggugah kesadaran masyarakat untuk menempatkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing pada posisinya masing-masing pada kegiatan Gerakan Cinta Berbahasa Indonesia tanggal 9 September 2016 
6. Putusan: 12 September 2016.

KONTAK & ALAMAT
Balai Bahasa Kalimantan Barat
Jalan Ahmad Yani Pontianak
Telpon 0561-583839
Laman: balaibahasakalbar.web.id
FB: Balai Bahasa Kalimantan Barat
Narahubung: Lubna +628125756591

Mendisiplinkan Orang Indonesia

Saya seringkali kesal melihat kurang disiplinnya beberapa orang Indonesia di jalan raya. Menerobos lampu lalu lintas, menggunakan HP saat berkendara, tidak pakai helm, dan pelanggaran-pelanggaran lain yang sepertinya sepele tapi amat sangat nyebelin dan bisa berakibat fatal, tak hanya untuk yang melanggar peraturan, tapi juga untuk orang lain yang sudah berusaha disiplin. 

Hampir setiap hari saya lihat sendiri ada aja yang keukeuh jalan terus padahal terang benderang lampunya udah berubah warna merah. Ada juga pengemudi atau pengendara yang ga sabaran banget! Belum juga sedetik merah berubah ke hijau, udah bunyikan klakson bertubi-tubi. Rasanya pengen saya lempar tuh orang-orang ke sungai kapuas biar bisa merasakan lalu lintas tanpa lampu merah hahaha 😈

Tuh gitu, kalo maen HP jangan di jalan 😁✌

Kenapa ya, sebagian (entah besar entah kecil) orang Indonesia kok susah sekali disiplin? Beda jauh sama penduduk Kuching, Malaysia. Tahun 2014, saya, suami dan ibu sempat *terpaksa* stay di Kuching selama sekitar 2 pekan untuk pengobatan bapak saya. Selama di sana, kami bawa kendaraan sendiri. Pulang pergi dari penginapan ke medical centre berbekal navigasi via google map. Saya takjub dengan kedisiplinan mereka dalam berlalu lintas. Taat dengan lampu merah, ngasih jalan untuk kendaraan lain, ga maen asal klakson bahkan nyaris tidak pernah saya dengar suara klakson yang tidak perlu selama 2 pekan di sana. Beda banget lah pokoknya sama di sini yang bahkan buat say hi atau bye sama teman pun, kadang pake klakson yakhan πŸ˜‚

Saya lagi-lagi bertanya-tanya, kenapa sih warga Indonesia kok susah bener disiplin? Padahal peraturan tentang lalu lintas ini sudah ada undang-undangnya. Misalnya, peraturan tentang traffic light, diatur di Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“PP 79/2013) dan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009. Bagi yang melanggar, dendanya 500.000 atau kurungan selama 2 bulan loh. Masa iya sih harus ada polantas sepanjang waktu jagain jalan atau harus diadakan razia terus setiap hari supaya disiplin πŸ˜‘ 

Kalau ngomongin solusi untuk negara ini sepertinya susah-susah gampang. Lebih banyak susahnya daripada gampangnya. Saking susahnya, salah seorang dosen saya menganggap bahwa mental ketidakdisiplinan sebagian orang Indonesia ini sudah memfosil. Susah sekali untuk diubah. Do you think so, too? 

Lalu gimana ya memunculkan mental disiplin orang Indonesia? Dalam hal ini disiplin berlalu lintas aja dulu deh. Apa perlu di setiap traffic light dan sepanjang jalan raya dipasangin CCTV yang bisa otomatis merekam nomor plat kendaraan-kendaraan yang melanggar lalu lintas. Trus nanti saat pemilik nomor plat tersebut bayar pajak kendaraan, dikasi bill sesuai nominal pelanggarannya, dan kalo ga mau bayar, masukkan penjara supaya jera. Kira-kira solusi begitu termasuk konkrit dan realistis gak yaa untuk diimplementasikan di negara hukum yang….. Ah sudahlah πŸ™ˆπŸ™Š

Anyway, solusi paling gampang dan terkesan abstrak sih yaa palingan memulai disiplin dari diri sendiri. Beberapa tahun lalu saya pernah kok maenan HP sambil berkendara. Tangan kanan pegang stang motor, tangan kiri balas sms. Selain memang bahaya untuk keselamatan jiwa, saya sebel banget liat orang lain macam begitu, akhirnya sampai sekarang saya tak pernah begitu lagi. Makanya cukup pede nih bikin tulisan ini, karena udah ga maen HP lagi di jalan πŸ˜πŸ˜„

Kalau menurut teman-teman, solusi lain yang lebih konkrit dan applicable kira-kira gimana? 

​Doa: Haruskah Spesifik dan Tervisualisasi

Doa adalah salah satu senjata ampuh seseorang yang beriman. Ketika mereka yang tidak memiliki tuhan hanya bisa berusaha mencapai keinginannya dengan kerja dan kerja. Maka kita memiliki dua cara untuk mewujudkannya, ya.. doa dan usaha.

Doa. Betapa Allah menyukai orang-orang yang berdoa penuh harap kepadaNya. Bahkan, mereka yang tidak pernah berdoa, dianggap sombong dan pantas masuk nerakaNya. Seperti dalam firmanNya dalam surat Al Mu’min ayat 60 :

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mu’min [40] : 60)

Perihal doa..  dewasa ini kita banyak disuguhi teori bahwa doa haruslah spesifik dan tervisualisasi. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan istilah Law of Attraction. Bagaimana teori ini menurut Islam? Mari kita belajar dari hamba-hamba terpilih tentang doa.

Hamba agung pertama adalah Musa. Betapa payah dia berlari dari Mesir hingga Madyan, dikejar pasukan setelah membunuh. Kisah yang diabadikan Surah Al Qashash itu amat indah, bahwa dalam lelah dan gelisah Musa tetap tergerak menolong sesama. Ada dua putri Syu’aib yang tersebab kehormatan diri tak ingin berdesak-desak menunggu giliran memberi minum ternak. Maka Musa -yang walau perkasa tapi tenaganya tinggal sisa-sisa- menolong kedua gadis mulia itu dengan begitu ksatria. Seusainya, Musa bernaung di tempat yang agak teduh. Para Mufassir menyebutkan, dia begitu lapar dan memerlukan makanan. Tapi apakah kemudian Musa berdoa secara detail, spesifik, & divisualisasikan atas apa yang dia hajatkan? Mari kita simak.

Musa berdoa: “Rabbi, inni lima anzalta ilayya min KHAIRIN faqiir.. Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap yang Kau turunkan padaku dari antara KEBAIKAN; aku amat faqir, amatlah memerlukan.” {QS 28: 24}.

Kalimat doanya dipilih dengan indah. Musa tidak menyebut hajatnya yang amat jelas; lapar. Musa tak menyebut kebutuhannya yang sangat mendesak; makanan. Dengan amat santun dan mesra, dia mohon pada Rabb-nya kebaikan. Dan dia tahu, Allah lebih mengetahui yang terbaik baginya. Maka apa sajakah yang diterima Musa dari Allah atas doa yang tidak detail, tidak spesifik, dan tidak tervisualisasi ini? Musa bukan hanya mendapat makan atas laparnya, tapi juga perlindungan, bimbingan, pekerjaan, bahkan kelak istri dan kerasulan. Betapa Allah Maha Pemurah, doa hambaNya yang santun dan sederhana, dijawab dengan limpahan karunia melampaui hajat utama.

Hamba agung kedua yang kita akan belajar doa darinya ialah Yunus, ‘Alaihis Salam -setelah dia marah dan pergi dari kaumnya-. Mari kita fahami betapa berat tugas da’wah Yunus di Ninawa. Betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Lalu diapun pergi sembari mengancamkan ‘adzab Allah yang sebagaimana terjadi dahulu, pasti turun pada kaum pendurhaka. Tapi dia pergi karena ketaksabarannya sebelum ada perintah Allah, maka Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain.

Kita tahu, ringkasnya, Yunus dibuang ke laut dari atas kapal setelah 3 kali undian muncul namanya. Lalu ia ditelan ikan. Menurut sebagian Mufassir, ikan yang menelannya ditelan ikan lebih besar. Jadilah ia gelap, dalam gelap, dalam gelap. Bahkan ikan itu membawanya ke dasar samudera. Maka terinsyaf Yunus akan khilafnya, lalu menghibalah dia. Bagaimana doanya? Apakah doanya detail, spesifik, & tervisualisasi -jika yang paling dihajatkan Yunus saat itu ialah keluar dari perut ikan-?

Tapi doanya justru: “La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin.. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau, Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” {QS 21: 87}

Indah & mesra; penuh kerendahan hati. Apa yang diperoleh Yunus dari doa yang amat tidak spesifik, tidak detail, dan tidak tervisualisasi ini? Sungguh berlimpah! Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan, dia bahkan tak perlu payah berenang karena ‘diantar’ sampai daratan. Dan bukan sembarang daratan! Ibn Katsir mengetengahkan riwayat, Yunus didamparkan di tanah yang ditumbuhi suatu tanaman. Ketika Yunus memakannya; tanaman itu memulihkan tenaga dan kesehatannya setelah sakit dan payah berpuluh hari di perut ikan & lautan. Yunuspun bugar, bersemangat, dan berjanji pada Allah untuk nanti tak menyerah mendakwahi kaumnya, apapun yang terjadi. Tapi alangkah takjub penuh syukurnya dia, ketika kembali ke Ninawa, seluruh kaumnya justru telah beriman pada Allah.

Doa sederhana itu diijabah, bebas dari perut ikan, selamat dari laut ke darat, tanaman pembugar, & berimanlah kaumnya! Berkata Ibn Taimiyah; “Di antara seagung doa, ialah doa Yunus AS. Padanya terkandung 2 hal; pengagungan keesaan Allah.. dan pengakuan akan dosa.” Sungguh untuk bermesra dengan Allah dan dikaruniai nikmat agung, 2 hal dalam doa Yunus ini cukup.

Dari, dua orang hamba Allah yang terpilih di atas. Kita mungkin terhenyak. Kaget. Dan menyadari, bahwa jika dilihat lebih jeli.. betapa jauh LoA dari ‘aqidah Diin ini. Bukankah memang demikianlah berdoa? Berdoa bukan lah cara kita memberi tahu Allah apa yang kita perlukan, sebab Allah Maha Tahu, Maha Bijaksana. Berdoa itu berbincang mesra, agar Allah mengaruniakan yang terbaik untuk kita dengan ilmu dan kuasaNya yang sungguh Maha.

Di atas soal ‘boleh-tidak boleh’, ada perbincangan tentang Adab kepada Allah SWT, hingga para ‘ulama memuji doa Adam AS. Doa dengan kalimat imperatif (mengandung Fi’lul Amr/kata kerja perintah). Sesungguhnya tak terlarang, tapi Adam mengajarkan Adab.

“Rabbana zhalamna anfusana, wa IN LAM taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.. Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri sendiri. ANDAI Kau TAK ampuni & sayangi kami, sungguh kami pastilah termasuk orang merugi.”

Doa indah itu menghiba -merendah, mengakui lemah, fakir, salah, & bernodanya diri- disertai mengagungkan keesaan Allah. Tanpa hendak mengatakan bahwa doa detail, spesifik, & tervisualisasi itu dilarang. Mari kita ambil hikmahnya. Bahwa memang ada Adab dalam berdoa. Jika sebuah doa yang sederhana dan santun sudah menghadirkan banyak karunia, kenapa harus kita persulit dengan sembuat spesifikasi dan visualisasinya? Bukankah kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui?

Wallahu’alam bishowab..

*disarikan dari kultwit @SalimAFillah

We Work and We Get Paid

Hampir semua orang di dunia ini inginnya kerja ringan tapi penghasilan berat. Kerja sebentar tapi mau dapat penghasilan banyak. Kerja nyantai tapi penghasilan serius dan ga nyantai. 
Teman-teman gak mau yang begitu? Saya sih mau 😜 The question is, emangnya ada kerjaan macam begitu? Yang namanya kerja kan emang berat dan ga nyantai. Kalo nyantai sih namanya liburaan meeen. 

Ya jelas ada laah. Bagi orang-orang yang menikmati dan mencintai pekerjaan, kerja udah gak berasa kerja. Kerja berasa liburan. 

Saya punya kenalan yang kerjaannya jalan-jalan aja terus. Galeri instagramnya isinya pemandangan baguuus melulu. Ternyata he owns a tour and traveling agent, profesinya adalah tour leader, and he loves his job! Traveling is his passion so he follows up the passion into a profession. Saya juga punya kenalan yang kerjaannya makaaan aja melulu. Saban hari update foto makanan, bikin laper *dan kadang baper, karena belom makan πŸ˜πŸ˜‚*. Well, ternyata dia adalah seorang food blogger. Ada juga yang emang kerjanya bikinin kue pesanan pelanggan. Their life looks very delicious. 
Tapi, apakah passion saja cukup? Ada loh orang yang passionnya di bidang kuliner, bekerja pun di area yang tak jauh dari makanan, tapi belum bisa sungguh-sungguh menikmati kerjaannya. Well, bosan adalah hal yang manusiawi. Bahkan saat kita melakukan pekerjaan yang kita pilih pun, menurut saya bosan tetap wajar. Jadi tentu saja passion saja rupanya belum lah cukup. 

Kerja sesuai passion, menurut saya nih ya, perlu disertai dengan target untuk dicapai. Target apa aja deh. You name it. Target finansial kah itu, atau target sosial, target harian bulanan tahunan, target jangka pendek jangka panjang, target dunia akhirat, apa aja yang penting ada orientasi yang perlu kita buat. Once in a while we do really need to think through a plan to reach the target.

Jika Pegawai Negeri Sipil atau PNS setiap bulan sudah diatur nominal penghasilan berdasarkan golongan, tak peduli apakah jam dan beban kerjanya kurang atau lebih dari hak yang harus di dapatkan, maka pekerja yang bukan PNS mendapat penghasilan sesuai dengan, katakanlah, ‘jam masuk kerja’ masing-masing. Contoh kecilnya seperti karyawan honorer yang dibayar sesuai dengan jumlah jam kerja, atau kayak saya, ada penghasilan ya kalo saya mengajar, atau diminta jadi MC. 


Yang ini fotografernya gak dibayar πŸ˜‚

Atau seperti fotografer atau graphic designer, dapat pemasukan ya kalo ada yang hire jasanya. Atau lagi, seperti pedagang yang kalo ikutan libur alias tutup toko di tanggal merah, pemasukan di hari itu pun ikut libur alias nihil. We work, then we get paid. Fair enough, eh? 😁

Tapi saya bukan mau banding-bandingin penghasilan karyawan BUMN atau PNS dengan yang bukan kok ini. Contoh di atas itu hanyalah perumpamaan untuk menentukan target finansial dari suatu profesi. Jadi, logikanya dan idealnya ya memang begitu kan ya. Kalo kitanya mau dapatkan penghasilan (dalam bentuk duit) yang banyak, kerja keras saja belum cukup. Tindak lanjuti juga dengan kerja cerdas. Kalo ujug-ujug maunya langsung kerja nyantai dengan penghasilan besar, yaa coba cari pengusaha sukses muda berbakat trus ajak nikah *lohhh πŸ™ˆ* siapa tau bisa langsung dimodalin buat bikin usaha 😜 

Anyway, setelah setahun belakangan saya kembali lagi ke dunia kerja, dengan gelombang-gelombang yang sesekali diiringi hujan petir menggelegar (ini semacam kiasan bahwa pekerjaan yang saya jalani juga ada yang bikin hati periiih πŸ˜­πŸ˜‚), jadinya saya berusaha untuk membuat kembali target-target untuk saya capai. Berhubung saya berstatus sebagai istrinya Pak Aci, saya tidak pasang target finansial. Jadi kalo ada honor yang dibayar ‘dudi’, yaah aku rapopo πŸ˜„. Target saya saat ini masih pada proses sharing ilmu dan motivasi. Soal duit sih, mending langsung ditransfer aja lah ya biar gak rempong hahaha *teteuup, perlu juga laah duit buat nambah-nambahin jajan HermΓ©s πŸ™ˆπŸ™Š. 

We work, and we get paid. Saat kita bekerja dan merasa yang kita kerjakan tidak sebanding dengan pendapatan, maka ada 3 pilihan untuk dipertimbangkan: 1. Reconsider why it can happen. Coba dicekricek, jangan-jangan jadi tak sebanding karena faktor dari kita sendiri πŸ˜‰  Kalo bukan, ya baru deh yang ke 2. Cari kerja sampingan *kalo orang melayu bilang, can tepi* yang kira-kira bisa nambah-nambahin duit jajan. Kalo pekerjaan utama tidak memungkinkan untuk kerja sampingan, baru deeh ke pilihan yang ke 3. Step back and find other jobs that can accommodate what we want. 

Terakhir, sebagai friendly reminder untuk kita bersama, banyakin bersyukur, perbanyak sedekah dan kurang-kurangin mengeluh. Kurang-kurangin juga ngasih jelingan ala Meriam Bellina ke orang-orang yang gak kamu suka πŸ™ˆ *yang terakhir cuekin aja, itu nasehat untuk diri sendiri 😜