Generasi Gengsi

Bismillaah. 

Saya tidak ingin larut dalam emosi yang beberapa waktu lalu saya bawa-bawa karena geramnya dengan reaksi seorang kawan tentang 1 topik yang sebetulnya sudah religiously, logically, even socially accepted sehingga tak perlu diperdebatkan lagi karena landasan argumen yang kuat. Maka saya (berusaha) menulis tulisan ini dengan kepala dingin dan hati yang sudah memaafkan πŸ˜‡

Topik apa sih? Bagi kawan-kawan yang berkawan dengan saya (dan juga mengikuti update saya) di Facebook atau Blackberry Messenger (BBM), mungkin sudah tau ya topiknya, yaitu tentang IZIN gunakan penghasilan atau harta istri. Bermula dari ‘keisengan’saya sharing gambar ini di BBM:

Lalu seorang teman lama yang kemarin masih ada di daftar pertemanan di BBM saya, lelaki, merespon update tersebut, sangsi dengan kalimat di bawah Surah Al-Baqarah ayat 233. Menurutnya, ada asumsi (entah asumsi ulama mana πŸ˜…) bahwa istri menjadi boleh bekerja karena mendapat izin dari suami, sehingga penghasilan istri menjadi halal, dan suami pun berhak atas gaji istri, tidak perlu izin jika akan memakai, yang penting istri tau. Dia bilang, yang perlu izin gunakan uang suami itu ya malah istri. Izin izinan itu udah masuk ranah PRIVASI katanya. Padahal Islam pun mengatur hal yang jauh lebih privasi daripada sekedar izin make duit istri, ya gak sih 😁

Pertimbangannya,kata dia, seperti jika seorang suami hendak poligami, yang dalam syariat, boleh saja dilakukan meski tanpa izin istri. Serta jika suami akan pergi ke luar rumah, tak diatur pula dalam syariat untuk izin dengan istri. Sehingga, menurutnya, kenapa tidak berlaku juga untuk penghasilan istri? Setelah menikah kan harta menjadi milik bersama. Setelah menikah kan istri sudah menjadi hak milik suami, bukan lagi milik orang tua. Begitu dia bilang. Katanya dia, selama ini hanya mendengar perihal IZIN gunakan harta istri dari “ustadz atau ustadzah entertain” yang ceramahnya di TV nasional. Dia belum pernah mendengar ceramah dari ulama sekelas Ustadz Khalid Basalamah yang mengeluarkan statement begitu, sehingga bagian “Suami harus izin dengan istri untuk gunakan gaji istri” masih menjadi klaim sepihak yang diragukan. 

Sebagai orang yang sudah sejak dulu mendukung pernyataan “Uang suami adalah uang istri dan uang istri adalah uang istri”, saya pun mencari referensi tentang ini, dan mendapati 2 website yang menurut saya trustworthy enough (Ummi Online dan Muslim.or.id). Rupanya belum cukup kuat untuk meyakinkannya bahwa IZIN dan ridho istri itu mutlak. 

Hingga akhirnya saya cari video di YouTube, dan tak lama kemudian saya temukan video berjudul “Bagaimana jika penghasilan istri lebih besar“, statement ustadz Khalid Basalamah yang terang benderang menyebutkan bahwa harta istri seperti penghasilannya bekerja, harta warisan, penghasilan berdagang adalah hak istri yang seorang suami tak punya sepeser pun hak di dalamnya, kecuali jika istri ridho. I felt so glad to find that video since it answered the clash and confusion he had, so I share it to him. 

Mulanya saya beranggapan, case would be closed and done dengan video itu. Ternyata, bukan salah bundo menganduang, teman saya ini malah masih menampakkan keengganan untuk mengakui bahwa izin istri memang mutlak, in his annoying and snobbish way πŸ˜… Oh come man, you deal with the wrong woman at the wrong time sehingga saya pun terpaksa mengeluarkan sisi Meriam Bellina yang saya yakin, bikin dia tercabik-cabik πŸ˜‚πŸ˜œ Bagian inilah yang saya maksud sebagai “larut dalam emosi” πŸ™πŸ™πŸ™

Dari diskusi kemarin yang akhirnya mengorbankan pertemanan bertahun-tahun itu, saya mendapati hikmah dan pelajaran berharga:

1. Sesekali, menurunkan level GENGSI diri, baik dengan meminta IZIN atau MENGAKU KELIRU, tidaklah lantas menurunkan harga diri kita. Ini juga berlaku untuk saya. Di aspek hubungan apapun: pertemanan, suami istri, professional kerja, dan lain sebagainya. Admitting our own flaws doesn’t necessarily stoop down our prestige. 

2. Kadang kala, kita tanpa sadar berlaku kurang ajar pada syariat. Bertanya tentang hukum suatu syariat bukan untuk dapatkan jawaban yang shohih dan kemudian diikuti, tapi untuk membenarkan praktek keliru yang kita lakukan, atau mencari pembenaran dari keinginan diri yang nurani kita pun sudah tau kebenarannya. KEBENARAN akan selalu menang melawan PEMBENARAN. Saya menggunakan kata “kita”, berarti berlaku juga untuk saya. 

3. Hindari diskusi apalagi debat dengan orang yang dari dalam dirinya sudah punya pembenaran untuk tindakan yang ia lakukan. Ngeyelnya bakalan bikin anda jadi hendak belajar mengeluarkan sisi Meriam Bellina kepada saya πŸ™ŠπŸ™ˆ *yang ini jangan ditiru yes hahaha πŸ€—*

4. Hati-hati dengan BAPERnya kaum lelaki. Sekali baper, imbasnya bisa lebih parah daripada ngadepin perempuan PMS. Kebayang kan? *winkwink*

5. Suami mau poligami atau keluar rumah, mungkin memang ga ada syariatnya ya dalam Islam wajib pake izin istri segala. Nanti search lagi deh tentang ini di YouTube hihi. Namun etika dan sopan santun berumah tangga tentulah tidak menganjurkan hal itu. Sekali lagi, sekedar ngabari demi membuat istri tidak shock kalo suami tiba-tiba kawin lagi itu tak bikin harga diri jatuh kok. 

Ya udah, itu aja deh. Untuk teman saya yang menjadi inspirasi munculnya tulisan ini, I do apologize for my – that you called “Grade C level human being” kind of act and also to have burst out that Meriam Bellina side of me πŸ™πŸ™πŸ™. 

Thank you for a dozen years of kindness.

Untuk kita semua, mari kita belajar menanggalkan GENGSI yang tidak perlu 😁 

How to Publish a Blog Post from Smartphone

mobile blogging

With our so-called hectic daily activity, not always we have time to publish our writing to our blog by turning on the laptop or computer. Why bothering yourself with laptop if you can always maximize your smartphone to have your postings published? Here are the steps to do it!

For WordPress Users

If you use WordPress to blog, you simply need to download the application in Play Store or Apple Store. Once the application is downloaded to your smartphone, then voila! You’re ready to blog on-the-go!

Step 1

Go to Play Store or Apple Store

Step 2

Search with keyword “WordPress”.

Step 3

Login to your WordPress account.

Step 4

By clicking the pen icon, you’re ready to publish your post!

WP Android 1

WordPress in Android. In Apple, it’s more or less the same.

Using WordPress mobile app, you can also schedule your post, label it, categorize it, add picture, almost the same features you have in the Website. That’s why, if you are using WordPress platform to blog, I recommend you to download this app to your smartphone.

For Blogger or Blogspot Users

I also experienced downloading BloggerΒ app for Android, but I think the application is not representative and comfortable enough as Blogger we have for Website. So, if you are using Blogger and still want to be simply posting via your smartphone, here’s the step.

Step 1

Login to your blogspot account.

Step 2

Go to the Dashboard.

Step 3

Click on ‘Setting’.

Step 4

Click Email, and then type your customized email on the menu: ‘Posting using email’, after that, choose ‘Publish immediately’ if you want to have your posting published soon after you send the email.

tutorial posting by email

And, done! Your postings will be published shortly after you hit the enter via email on your smartphone.

Now you can always publish your posts everywhere you go with your smartphone.

 

I can’t imagine life without aeroplaneΒ 

Have you ever imagined if an airplane was never invented? Let’s have a minute and be thankful to God for He has created human beings with such an indigenous brain so today we can enjoy traveling fast and comfortably by an airplane ✈ 

I can’t imagine what if Abbas ibn Firnas had never tried to fly with his glider in 852. Rite, according to a source I read in Researchgate, Muslim Memo, Forgotten Islamic History via Kompas, it turns out that Wright Brothers were actually not the first human being who flew. Ibn Firnas was the one. Anyway, whoever first invented the airplane, let’s appreciate and respect them because their intelligence has contributed a lot to human beings until today! 

If I have to imagine, I guess life without aeroplane must be very chaos and complicated. As an individual, we wouldn’t be able to reach a destination with a long distance shortly. From economics side, many countries might encounter a crisis. Well a trade might be still happening, but it wouldn’t be as great and quick as today. Not to mention from the health side. Many people dying out there need an extra fast service for medicine and health care equipments. Everything would ruin. 

Without aeroplanes, there would be no quick goods delivery, no quick traveling, no quick and stable economy running in the countries, wow aeroplanes really take an important role in our life! 

Viva Aeroplanes!! ✈ ✈ ✈ 

My Skills are My Mood BoosterΒ 

This week topic for blog writing is about Skill(s). What is actually “a skill”? I define “skill” as people’s flair which can contribute a value to themselves as well as to other people. The contribution to the people themselves can be in form of material and/or immaterial. But the best skill, I presume, should be one that can enhance the quality of the people themselves, in any aspect of their life.

I was kind of confused to mention what actually my skill is. Is it public speaking because I am a radio announcer and a teacher, or can I categorize “English” as one skill simply because I teach it? But I can also sing, and some people say that my voice when singing was good enough, proven by some trophies I brought home back in the old time. In addition, I think I’m also quite good in writing. Maybe not in academic writing, but at least I get paid for being a website content writer until now. Plus, I just got promoted to be the News Editor at the radio station I work for, which requires writing skill, yes? Well then, so I guess those are my skills: public speaking plus English language capability, singing, and writing. 

What have I done with those skills? So many. I’ve been a broadcaster since March 2004, and from being a broadcaster, some event organizers (mostly academic events) trusted me to be their Master of Ceremony. Do I get money from it? Sure I do. Not only money, I also expand my networking. 

While with writing, besides having money, self-pleasure is the priceless gift I have from writing. Sometimes I get my logic back after writing, especially when I write for myself. Most of the time I smile and become happy again after writing. My skills always boost my mood. 

English language in Indonesia, especially in Pontianak is so far still being learned as a foreign language, so to master this language has become a plus value for me. Out there, in Pontianak, maybe you’ll find many people with public speaking and writing skill, also people who can speak and write in English well. But I believe, the number of people who can do those things (public speaking, mastering English language, writing) at a time is still limited. Well, I am Limited Edition πŸ˜πŸ˜„πŸ€—

Somehow, I am not saying that I master those skills perfectly. I am still learning while doing them. Learning is a never ending process so I will not stop learning and enhancing my skills. 

Even I think I will also learn other skills like sewing (so at least I can have my own gown without having to go to tailors), photoshop and corel draw, photography, videography, journalism, martial arts, and cooking. I want and I will learn them, Insya Allah. Just wait for my next writing when I will post about the stuffs I will make with those new skills, okay πŸ˜πŸ˜ƒ

Orang Kaya vs Orang Miskin

Perbedaan mendasar dari orang kaya dan miskin adalah sikap terhadap harta. Orang kaya cenderung ingin memberi sedangkan orang miskin cenderung ingin diberi.

Paling kentara adalah saat pembagian sembako gratis atau apa pun yang gratis. Orang miskin merasa paling layak dan berhak mendapatkan jatah.

Ternyata kekayaan bisa dipelihara layaknya memelihara hewan kesayangan seperti komodo, buaya, atau macan tutul. Maaf, maksudnya kucing, kura-kura, serta ikan hias.

Caranya dengan menyediakan kandang atau tempat hidup yang cocok untuk hewan kesayangan itu. Simple.

Barangkali analogi yang paling pas adalah memelihara ikan hias, syaratnya kita perlu menyiapkan akuarium. 

Atau ingin mengundang kupu-kupu, syaratnya buatlah taman di depan rumah kita sehingga kupu-kupu datang sendiri.

Nah kekayaan pun begitu. Kalau mau memelihara kekayaan, siapkan “kandangnya” agar kekayaan nyaman dan betah berlama-lama di rumah kita.

Buatlah taman yang membuat kekayaan datang sendiri layaknya kupu-kupu yang hinggap di ujung bunga.

Pertanyaannya adalah apa yang menjadi “kandang” kekayaan? Lalu bagaimana cara perawatan kekayaan agar dia tumbuh besar dan semakin besar?

Saya yakin Anda yang membaca tulisan ini tidak sabar dengan jawabannya dan semakin Anda penasaran, semakin Anda bertekad untuk menuntaskan membaca tulisan ini hingga selesai.

Baiklah saya buka rahasianya.

Ternyata yang menjadi kandang kekayaan atau taman yang bisa mengundang kekayaan layaknya kupu-kupu yang datang sendiri adalah MEMBERI.

Jadi memberi bukanlah karena kaya, tapi cara mengundang kekayaan. Kenapa orang kaya suka memberi? Karena dengan cara itu mereka -sebenarnya- menjadi kaya dan bahkan semakin kaya.

Pertanyaannya, bagaimana cara memberi bagi orang miskin? Bukankah dia tidak memiliki apa yang mau diberi? 

Ternyata, memberi bukanlah masalah materi. Tapi masalah NIAT. Bila dimulakan dari niat, maka akan menjalar ke semua SIKAP.

Nah sikap memberi ini menjadi pangkal PEMBERIAN. Maksudnya?

Sebagai pengguna angkutan umum, rebutan tempat duduk sudah menjadi hal yang lumrah. Saking ingin dapat tempat duduk, pintu bis yang lebarnya gak sampai 1 meter dijejali oleh 20 orang sekaligus.

Itu pengalaman saya dulu. 

Sampai saya merasa percuma dan memutuskan untuk masuk paling akhir walau pun artinya tidak mendapat tempat duduk. 

Kenapa? Karena sekalipun mendapat tempat duduk, bila ada wanita atau orang tua yang berdiri, saya selalu mengalah memberikan tempat duduk ke mereka.

Jadi buat apa rebutan tempat duduk kalau akhirnya berdiri juga?

Saat itu saya miskin, rajin antri di tiap pembagian sembako gratis atau pasar murah. Tapi saya suka memberi, memberi tempat duduk ke orang yang lebih perlu.

Jadi, memberi tidak melulu materi. Sekedar mengalah dari antrian untuk mengutamakan orang lain pun termasuk memberi.

Dalam kapasitas kita, selalu ada kesempatan memberi. Saya menyebutnya KONTRIBUSI. Kita mampu memberi kontribusi pada kehidupan orang lain. Di posisi apa pun level kehidupan kita.

Orang miskin berfokus pada menerima kontribusi. Dia berfikir dan bertindak CARA MENERIMA ATAU MENDAPAT kontribusi dari orang lain. 

Jadi, orang miskin akan mengakali cara memanfaatkan orang lain demi mendapat kontribusi dari orang itu.

Saya yakin ini bukan Anda yang sedang membaca tulisan ini.

Sedangkan orang kaya berfokus cara memberi kontribusi pada kehidupan orang lain. Dia berfikir cara MEMBERI MANFAAT kepada sesama.

Mungkin Anda perawat yang jaga malam, daripada hitung-hitungan jam kerja, Anda malah berfokus meringankan penderitaan pasien dengan pelayanan yang lebih baik dan lebih tulus.

Inilah “kandang” kekayaan.

Atau Anda seorang staff biasa, daripada hitung-hitungan bonus, Anda berfokus membuat atasan Anda merasa beruntung mempekerjakan Anda dan rekan kerja Anda merasa bahagia terhadap kehadiran Anda.

Inilah “taman” kekayaan.

Jadi dalam benak Anda hanya ada satu: Bagaimana caranya berkontribusi pada kehidupan sesama?

Inilah cara merawat kekayaan!

Selama Anda berfokus pada apa yang (seharusnya) Anda dapat, selama itu pula Anda berada pada kelompok orang miskin.

Sebanyak apa pun uang yang berhasil Anda dapatkan, sebanyak itu pula yang Anda habiskan. Efeknya kekurangan lagi.

Tapi bila Anda mampu berfokus apa yang (seharusnya) Anda beri, selama itu pula Anda telah (menjadi) kaya.

Sekecil apa pun uang yang Anda terima, tak akan membuat Anda kekurangan apalagi menderita. Selalu saja ada jalan dan ada solusi atas tantangan yang Anda hadapi.

Dan sejujurnya, tulisan ini adalah cara saya berkontribusi kepada Anda. 

Sekarang, di posisi manakah Anda berada? Lalu kontribusi apakah yang akan Anda berikan?

Wallahu ‘alam
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi

Semoga Syurga untuk Bang IndraΒ 

Beliau penyiar favorit banyak orang. Beliau guru untuk sebagian besar penyiar dan kru Volare yang sempat berinteraksi semasa beliau hidup. Bagi para pendengar setianya, guyonan, saran, dan nasehat bijak yang bang Indra sampaikan lewat banyak program acara yang dibawakannya di Radio Volare, masih dan akan selalu terngiang-ngiang hingga detik ini. 

Saya ingat betul waktu saya masih SMP, sebelum bergabung dengan Volare, di program pagi saat membuka siaran bang Indra berkata, mulailah hari dengan sesuatu yang dapat membuat mood kita bagus sepanjang hari, salah satunya dengan menyimak lagu favorit. Sering saya terapkan. And most of the times, it works. 

Saya juga masih ingat dengan istilah “Satkepar Semkepar” yang beliau gunakan di acara Rhythm of the Night, sebuah program malam minggu yang Volare adakan untuk para pendengar yang mau curhat tentang apa saja lalu dikasih masukan oleh penyiar. Ketika ada pendengar yang meminta saran tentang masalahnya, bang Indra menyebutkan istilah tersebut, “Satkepar Semkepar”, singkatan dari “Satu ke paret semue ke paret” :’)) Waktu itu saya ngakak sendiri di kamar. It did sound funny when he said it. Istilah itu, “satkepar semkepar”, hingga kini masih saya gunakan sesekali sebagai ice breaking terutama ketika menjawab soal bersama mahasiswa atau peserta pelatihan. 

Setelah saya bergabung menjadi penulis naskah sampai akhirnya bersiaran di Radio Volare, entah sudah berapa banyak ilmu yang tanpa sadar bang Indra teruskan pada saya sekedar lewat ngobrol santai sebelum maupun sesudah siaran. Ilmu bersiaran, ilmu politik, ilmu ikhlas, banyak sekali. Setiap ngobrol dengan bang Indra, setelahnya saya selalu merasa lebih senang. He has such a positive vibe! Selalu menebarkan rasa bahagia. Setiap beliau selesai menyimak saya siaran, notifikasi LINE saya akan muncul, berisi pesan dari bang Indra yang kadang suka ngisengin dengan ngajak ngobrol pake bahasa hulu (nyaris selalu begini sejak pertama kali beliau tau bahwa orang tua saya berasal dari Sintang), namun lebih sering memuji siaran saya hingga saya merasa berbunga-bunga :’) 

Dulu, sebelum saya menikah dan pindah ke Sekadau, saya dan bang Indra sempat ngobrol-ngobrol di sela pergantian jadwal siaran. Ngobrolin politik, ngobrolin teman akrab saya waktu itu, sampai ngobrol tentang rencana beliau untuk berhaji. Kami memang tidak terlalu akrab, tapi entah kenapa saya melihat bang Indra seperti melihat bapak sendiri. Selain memang usia bapak saya dan usia bang Indra yang tidak jauh beda, mungkin juga karena beliau pun melihat saya seperti anak sendiri. Yang terakhir ini, sayang sekali tak sempat saya tanyakan langsung ke bang Indra 😒

Kemarin, bertepatan dengan hari lahirnya yang ke 57, Allah mengambil beliau kembali. Selesai sudah tugas bang Indra di dunia. Insya Allah sudah berguguran dosa-dosa beliau semasa hidup, terangkat melalui perjuangan beliau melawan kanker. Saya dan banh Indra tak bisa lagi ngobrol seperti dulu di dunia. Insya Allah, mudah-mudahan Allah jumpakan kami lagi di syurga, bertetangga dengan Baginda Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam, dengan bapak saya (Allahuyarham), dengan para penghuni syurga. Aamiin. 

Selamat jalan, Bang Indra. You will always be missed. 

Why I Continue My Study

I believe that our motivation to continue (or not to continue) our study to university level must be various and has its own uniqueness. So did mine. 

Few years ago, I wrote about this in a posting entitled “Halo, Motivasi!“. I re-read it, and suddenly appeared one mysterious motivation inside me to continue study to S3 level πŸ˜‚πŸ˜­ Noo waay, I’m not sure I’m ready hahaha. 

Anyway, what were actually my real intentions to continue my study to postgraduate level? Isn’t it enough, even more than enough to have S.Pd behind my name? 

Well, it turns out that it’s not about having the degree. It’s about my huge eagerness to learn. For me, learning something has no ending. Including learning English, or for my case is English language education. I always want to learn. I declare myself as a lifetime learner. We all are lifetime learners, aren’t we? 

Never ever crossed to my mind before I finally deciding to continue my study that I would move to Pontianak and become a lecturer at Untan. Moreover, I am not a civil servant. I did not work for any institution. I had no affiliation to any academic institutions at all at the time I decided to continue my study. And for your information, I continued my study with no scholarship from anyone but from my husband. My husband was the one who paid everything, starting from the study fee, the costs for books, all in. And I’m really glad of it because it means, I don’t “owe” myself to anyone but my husband 😁😁😁😁

So then, why did I really want to continue my study to postgraduate level? At that time, in 2003, I really missed the “aha + brilliant moment”, when an idea for doing assignments from lecturers came to mind. I also did miss “relieved and relaxed moment”, when the assignments were finally done and submitted to the lecturers no matter what my score would be πŸ˜πŸ˜‚. I missed the learning atmosphere. I missed hanging out with my classmates when having the class break. Somehow, those stuffs I mentioned above actually can still be realized in the workplace, although of course the sense is different.

Now that I am already in the workplace, I really feel the advantage of having those formal education. Not about money or position, but about mindset and knowledge. I know that we can always upgrade ourselves through any kind of life stages we experience, but I believe, formal education always offers us something that we might not find outside the classroom door πŸ˜ƒ