Adakah Dosa Jariyah?

image

Kita sering mendengar istilah sedekah jariyah. Itulah sedekah yang pahalanya akan terus mengalir, meskipun kita telah meninggal dunia. Kita akan tetap terus mendapatkan kucuran pahala, selama harta yang kita sedekahkan masih dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk melakukan ketaatan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani).

Sebagai orang beriman, yang sadar akan pentingnya bekal amal di hari kiamat, tentu kita sangat berharap bisa mendapatkan amal semacam ini. Di saat kita sudah pensiun beramal, namun Allah tetap memberikan kucuran pahala karena amal kita di masa silam.

Dosa Jariyah

Disamping ada pahala jariyah, dalam islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.

Betapa menyedihkannya nasib orang ini, di saat semua orang membutuhkan pahala di alam barzakh, dia justru mendapat kucuran dosa dan dosa. Anda bisa bayangkan, penyesalan yang akan dialami manusia yang memiliki dosa jariyah ini.

Satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Allah berfirman di surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya.

Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini.

Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini.

Sumber Dosa Jariyah

Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Pertama, mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Anda bisa bayangkan, orang yang pertama kali mendesain rok mini, pakaian you can see, kemudian dia sebarkan melalui internet, lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak ngajak khalayak untuk memakai rok mini, namun mengingat dia yang mempeloporinya, kemudian banyak orang yang meniru, dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun.

Tak jauh beda dengan mereka yang memasang video parno atau cerita seronok di internet, tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton atau membacanya, dan dengan membaca itu dia melakukan onani atau zina atau bahkan memperkosa, maka yang memasang di internet akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya.

Termasuk juga para wanita yang membuka aurat di tempat umum, sehingga memancing lawan jenis untuk menikmatinya, maka dia mendapatkan dosa membuka aurat, plus dosa setiap pandangan mata lelaki yang menikmatinya. Meskipun dia tidak mengajak para lelaki untuk memandanginya.

Kedua, mengajak melakukan kesesatan dan maksiat

Dia mengajak masyarakat untuk berbuat maksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukan maksiat itu. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)

Imam Mujahid mengatakan,

يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا

Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/566).

Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Anda bisa perhatikan para propagandis yang menyebarkan aliran sesat, menyebarkan pemikiran menyimpang, menyerukan masyarakat untuk menyemarakkan kesyirikan dan bid’ah, menyerukan masyarakat untuk memusuhi dakwah tauhid dan sunah, merekalah contoh yang paling mudah terkait hadis di atas.

Sepanjang masih ada manusia yang mengikuti mereka, pelopor kemaksiatan dan penghasung pemikiran menyimpang, selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah. Merekalah para pemilik dosa jariyah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amal jariyah dan menjauhkan kita dari dosa jariyah. Amin…

Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

Wallahu’alam bishawwab

Sumber: konsultasi syariah

Berbuat baik, lalu lupakan

image

“Kalau bukan karena saya, ndak bakalan lah dia ada di situ sekarang”

“Sombong benar, ndak ingat siapa yang pertama kali disamperin waktu awal-awal dulu”

Aduh. Saya malu sebetulnya menulis postingan ini. Dua kalimat di atas rasa-rasanya pernah, bahkan sepertinya sering saya ucap. Baik terucap dalam hati atau diucapkan di hadapan orang lain.

Merasa berjasa itu berbahaya. Mengikis ikhlas yang mungkin sudah menghias niat di awal perbuatan. Diri ini harus lebih piawai lagi mengelola perasaan agar tak muncul kecenderungan ingin diterimakasihi. Juga harus lebih lihai mengingat orang-orang yang sudah berjasa atas hal-hal baik yang terjadi dalam hidup. Tak perlu sering-sering ngasi hadiah. Nanti disangka gratifikasi ya kan. Cukuplah dengan tidak berubah sikap dengan orang yang turut andil walaupun kecil dalam tiap langkah hidup yang sudah diambil.

Berbuat baik, lalu lupakan. Tujuannya, supaya tak usah merasa berjasa. Guru les bahasa Inggris saya, bapak wagiman allahuyarham, sering mewanti-wanti kami *saya dan teman-teman les* agar berhati-hati gunakan kalimat seperti contoh kalimat di atas. Kalau bukan karna saya, and so blablabla. Beliau bilang, kalimat seperti itu mengarah pada syirik. Karena sesungguhnya, segala sesuatu terjadi bukan karena kita, ya kan? Semua terjadi atas izin Allah. Kenapa kita merasa perlu merasa berjasa sekedar menjadi perantara pun. Maka, berbuat baik lalu lupakan.

Tapi, jangan pernah sekalipun melupakan perbuatan baik orang lain. Boleh saja orang lain lupa lalu berubah sikap dengan kita. Itu pilihannya, dan kita sama sekali tak punya hak untuk memaksa supaya dia atau mereka kembali seperti dulu lagi, ya kan. Namun kita punya ‘kuasa’ atas diri kita. Kita bisa memilih untuk tidak lupakan kebaikan orang-orang. Kebaikan sekecil apapun, hargailah. Termasuk karena sudah berbaik hati membaca postingan ini hingga selesai, baik ngasi komen ataupun membaca saja. Terima kasih ya :)

Quote
“]image
Adakalanya para penyeru kebenaran harus menjadi kepompong, berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi, bila tiba saatnya menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan kecuali terbang, melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia.

Merampot french fries, Tanguy said

image

Kamis, 21 Mei 2015 lalu saya berkesempatan ngobrol dan having fun dengan mahasiswa dari Prancis yang ikut program pertukaran pelajar di Radio Volare 103.4 FM untuk program Volare Chit Chat. Seru dan lucu :D

Ada 4 mahasiswa prancis peserta program pertukaran pelajar. They are Arthur, Elyas, Tanguy (dibaca: tonggi), dan Pierre. Unfortunately hari itu Poerre sedang sakit sehingga tidak bisa hadir di studio Volare. Anyway, siarannya tetap berempat, yaitu Arthur, Elyas, Tanguy, ditemani pak Ali yang adalah kepala International Office Politeknik Negeri Pontianak. Polnep Pontianak menjadi institusi tempat teman-teman mahasiswa Prancis dari Université de Valenciennes ini menjalin MoU. Which means, kata pak Ali, nanti gantian mahasiswa Polnep Pontianak yang akan belajar di Prancis. Seru yaa ~

Kami (saya + Fidya) mengawali Volare Chit Chat dengan beberapa segmen seperti biasanya. Belajar bahasa Inggris lewat idiom, how to say it, juga bilingual info. Baru deh dilanjut dengan ngobrol2 bareng tamu spesial malam itu.

Arthur, Elyas, dan Tanguy menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah kami siapkan. Termasuk pertanyaan-pertanyaan titipan :D Kita pengennya tanya2 tentang pengalaman mereka dong ya, things that we couldn’t find the answer by googling hehe. So we asked them, what was the first thing came through their mind when they were selected as the students to represent France to join the exchange program. And what they prepared for it.

Mereka bilang, they were so happy, excited, they called their mom, also did google to find out about Indonesia. Terkait ini, Fidya asked a brilliant question which was, their expectation before they came to Pontianak. Ternyata, dalam bayangan mereka, ketika tiba di sini mereka bisa ke pantai setiap hari 😂 Ternyata pantainya jauh dari Pontianak hihihi.

But they did go to the beach. Mereka sudah diajak ke Singkawang sama pak Ali, menghadiri acara nikahan. Juga ke pantai tentunya. And surprisingly, mereka juga sudah snorkeling ke Lemukutan. Saya yang penduduk Kalbar aja belum pernah ke sana 😂

Selain tempat-tempat wisata, mereka juga berbagi pengalaman tentang makanan khas yang sudah pernah mereka cicip selama di Pontianak. Arthur paling suka mie tiaw, Tanguy awalnya suka sate tapi lantas batal suka karena setelah makan sate malah mules2 hahaha. Sedangkan Elyas said he likes nasi goreng. Mereka bilang mereka tidak tahan pedas, walhasil ketika nongkrong di tempat makan, mereka selalu pesan “Tidak pedas” ke waiternya.

One culture shock yang dialami teman-teman Prancis kita ini adalah manakala menjumpai french fries di Pontianak. Mereka bilang, french fries di sini sangat berbeda dengan di negara asal mereka. Dari bentuk sampai rasa, jauh berbeda. Sampai-sampai Tanguy bilang, “It was merampot french fries” hahahahaa.

Oh yes, teman-teman kita ini juga sudah menguasai beberapa kosakata bahasa Indonesia loh. Bahkan bahasa melayu Pontianak :D Termasuk “merampot” tadi hihi. Merampot means lie, bohong. Arthur menyebut “Yok lah balek” waktu kami tanya bahasa melayu apa saja yang sudah dia kuasai. Sedangkan Elyas menjawab “Aok”. Bahasa melayu Pontianak ini diajarkan secara cuma-cuma oleh teman-teman mahasiswa Polnep Pontianak yang malam itu mengantarkan mereka ke studio Volare. Thanks a lot yaa Ricky Adiputra, Agustian Pratama, dan Doni Ilhamsyah. Ingat pesan saya, jangan diajari bahasa melayu yang tadak-tadak bule2 kece tu hihihihi.

Ohh iya, bule, in French, artinye stupid loh hahaha. Mereka mestilah terkaget-kaget saat pertama kali tiba di Pontianak karena berkali-kali dilabeli bule. Luckily they can speak English so they now get it right after someone explained them about the term.

Selain makanan dan bahasa, mereka juga bercerita tentang perbedaan antara atmosfer pendidikan di Pontianak dan Prancis. Menurut mereka, di Pontianak hubungan antara dosen dan mahasiswa bisa sangat akrab seperti dengan teman. Sesuatu yang kata Arthur jarang dijumpai di Prancis. Tanguy sempat memaparkan tentang berbedanya sistem punishment atau consequence yang didapat jika tidak hadir pada pertemuan perkuliahan. Di Prancis, jika mahasiswa tak hadir, the student will get a trouble but they do not need to pay, tak perlu bayar denda. Sedangkan di Pontianak (in this case is Polnep Pontianak), kalo absen harus bayar denda. Namun hal ini diluruskan oleh pak Ali. Ujar beliau, mahasiswa tidak wajib membayar. Prosedurny adalah, jika absen kuliah, maka harus mengganti dengan kerja/magang. Kalau tidak bersedia, baru deh diganti dengan bayar denda. Gitu. Anyway, secara umum sih sama ya. Karena di kampus lain seperti Untan Pontianak, kalo gak hadir tak perlu bayar. Rugi sendiri aja palingan ya kalo ketinggalan 1 kali pertemuan. 1 perbedaan lain menurut Elyas yaitu seragam. Mungkin karena sehari-hari Elyas melihat mahasiswa Polnep berseragam mungkin ya. Something that he doesn’t find in his college.

Di ujung acara, Fidya menanyai mereka tentang musik Indonesia. Mereka bilang mereka suka dangdut hihihi. And one other funny moment was when Elyas + Tanguy sang a song yang liriknya diubah. Intinya tentang kecintaan mereka kepada nasi goreng hahahaha. Sayang sekali saya tidak abadikan lewat video hehe.

Waktu 1 jam terasa kurang untuk ngobrol2 dengan mereka. Sehingga, ketika off air setelah acara, saya lanjut tanya-tanya lagi ke mereka hahaha. Apalagi setelah dikasi tau sama pak Ali bahwa Elyas rupanya muslim. Saya pun nanya-nanya pendapat Elyas tentang muslim di Pontianak. He said we’re great. Dan Elyas rutin juga jumatan meski khutbahnya pake Bahasa Indonesia *yaiyalah kalo di Prancis baru pake bahasa Prancis :p

Kata teman-teman Polnep yang bawa mereka ke studio, daripada nongkrong2 di Café, mereka lebih senang berolahraga seperti basket dan renang selama di Pontianak. Trus juga, di Prancis tidak ada yang pakai Blackberry Messenger, pakainya WhatsApp. Walhasil, mereka baru instal bbm di Indonesia karena banyak yang minta pin bbm, selain juga buanyak yang minta foto bareng tentunya hahaha.

image

After broadcasting

There’s still lot of questions to ask. Sayang sekali udah malem, sayanya harus segera pulang, mereka pun harus lanjut ke agenda berikutnya. They will still be staying in Pontianak till July 12, which means Elyas dan kawan2 akan merasakan pengalaman pertama jalani Ramadhan di Pontianak. Semoga lancar jaya segala macam aktivitas mereka sampai kembali lagi ke negara tercinta.

Semoga nanti saya bisa ketemu mereka lagi. Kalo bukan di Pontianak, di Prancis barangkali? Takdir siapa yang tau ya khaan ~ ;)

Jika Hamil Itu Kompetisi Apakah Semua Perempuan Harus Jadi Pemenang?

Originally posted on Flying so light to the sky:

Marisa Tomei, Artis dan Produser Marisa Tomei, Artis dan Produser

Seorang teman saya membagikan sebuah link artikel yang pernah ditulisnya ketika belum melahirkan. Salah satu kalimat yang saya ingat betul adalah hamil itu bukan lomba makan kerupuk, siapa yang paling cepat habis maka dialah pemenangnya. SAYA MENGAMININYA DENGAN SEGALA IMAN KEBERTUHANAN YANG SAYA PUNYA.

Tahun ini, saya dan Daniel memasuki pernikahan ketiga. Maka intensitas pertanyaan kapan hamil makin sengit kaya walang sangit….Jika di bulan-bulan awal pernikahan pertanyaan, “Kapan hamil?” masih bisa saya jawab dengan senyum-senyum manis, bayangin dong di tahun ketiga ini bagaimana saya menjawab pertanyaan itu. Dengan mencoba tersenyum. Dicatat ya, mencoba tersenyum. Iya ngga bisa senyum santai kaya dulu karena terlalu amat sangat bosan mendengar pertanyaan seputar hamil. Begini kira-kira reaksi dalam hati ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

View original 1,141 more words

Orang yang Pantas Dicemburui

image

Hukum asalnya, sifat iri dan cemburu terhadap kelebihan orang lain dalam Islam tidak diperbolehkan. Karena sifat ini mengandung prasangka buruk kepada Allah dan tidak ridha dengan pembagian yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammengecualikan beberapa orang yang boleh dan pantas untuk dicemburui karena kelebihan besar yang mereka miliki.

Siapakah mereka? Temukan jawabannya dalam hadits berikut ini,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari).

Maksud “iri/cemburu” dalam hadits ini adalah iri yang benar dan tidak tercela, yaitual-gibthah, yang artinya menginginkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut.

Coba perhatikan dan renungkan hadits ini dengan seksama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenyebutkan dua golongan manusia yang pantas untuk dicemburui, yaitu orang yang memahami al-Qur’an dan mengamalkannya serta orang yang memiliki harta dan menginfakkannya di jalan Allah.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan sebab yang menjadikan mereka pantas untuk dicemburui, bukan karena kelebihan dunia semata yang mereka miliki, tapi karena mereka mampu untuk menundukkan hawa nafsu yang mencintai dunia secara berlebihan, sehingga harta yang mereka miliki tidak menghalangi mereka untuk meraih keutamaan tinggi di sisi Allah.

Inilah kelebihan sejati yang pantas dicemburui, adapun kelebihan harta atau kedudukan duniawi semata maka ini sangat tidak pantas untuk dicemburui, karena ini hakikatnya bukan merupakan kelebihan tapi celaan dan fitnah bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah s shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta”.

Oleh karena itu, cemburu dan iri hanya karena kelebihan harta yang dimiliki seseorang tanpa melihat bagaimana penggunaan harta tersebut, ini adalah sifat yang sangat tercela. Allah berfirman tentang orang-orang yang iri melihat harta kekayaan Qarun:

{فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ. فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ. وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ}

Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan perhiasannya (harta bendanya). Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: “Duhai kiranya kami mempunyai harta kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar memiliki keberuntungan yang besar. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: “Celakalah kalian! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar. Maka kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang (mampu) menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudkan (harta benda) Qarun itu berkata: “Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Al Qashash: 79-92)

Adapun contoh sikap cemburu yang benar adalah sikap cemburu dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sempurna iman mereka, para shahabatRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dia berkata: Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah datang menemui beliaushallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah Ta’ala) dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta…”. Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah kerunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya“.

Imam Ibnu Hajar berkata: “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah Ta’ala) pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang kaya”.

Kesimpulannya, termasuk orang yang pantas dicemburui, bahkan kecemburuan tersebut dipuji dalam Islam adalah orang yang memiliki kelebihan dalam harta tapi dia selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah. Karena kecemburuan ini dapat menjadi motivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan yang diperintahkan dalam agama. Allah berfirman:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” (QS al-Baqarah: 148).

Jadi cemburu dan iri kepada kelebihan harta yang dimiliki seseorang bukan karena kelebihan harta yang dimilikinya semata-mata, akan tetapi karena motivasi kebaikan besar yang dimilikinya dengan banyak membelanjakan hartanya di jalan Allah. Inilah sebaik-baik harta yang dimiliki oleh orang yang beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sebaik-baik harta yang shaleh (penuh berkah) adalah untuk hamba yang shaleh”.

Adapun sifat rakus dan ambisi berlebihan terhadap harta tanpa mempertimbangkan keberkahan dan manfaatnya dalam meraih keridhaan Allah maka ini perbuatan tercela dan sebab yang akan merusak keimanan seorang hamba, serta menjadikannya jauh dari segala kebaikan dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)”5.

Semoga Allah meudahkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Sumber: Muslim.or.id

Sholatku, sudah benarkah?

image

Alhamdulillaah, hari ini Allah ringankan langkah saya untuk hadir di majelis ilmu, Kajian Muslimah yang dilaksanakan oleh Pos Wanita Keadilan DPC PKS Pontianak Barat tiap sebulan sekali. Bulan ini, tema kajiannya sungguh menarik hati: “Sholatku, sudah benarkah?”. Pematerinya Ustadz Misyruqi Asy-Syairi, M.P.I. Tadinya saya pikir M.P.I itu Magister Pendidikan Islam. Ternyata P nya stands for Pemikiran. Hehe kalo Pendidikan kan disingkat Pd. Gimana sih ah tamatan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan :p

Sholat, bagi kita yang Islam, menurut saya bukan sekedar kewajiban, melainkan kebutuhan. ‘Makanan’ untuk jiwa kita, seperti jasmani yang diperlu disuapi makan secara teratur. Islam pun menetapkan ibadah ini sebagai pembeda antara muslim dan kafir.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Insya Allah memenuhi kebutuhan sholat 5x/hari well done yaa kita. Nah the question is, sudah benarkah sholat kita menurut syariat Islam?

Ketika menyampaikan materi tadi, ustad Misyruqi mengatakan bahwa bab sholat ini tak mungkin cukup dipaparkan secara detail dalam waktu 2-3 jam. Maka di kajian tadi, bahasannya meski tak detail, tapi mencakup hal-hal yang perlu kita ketahui dalam rangka sempurnakan sholat kita.

Jadi, sholat itu ada syarat²nya. Syarat wajib dan syarat sah. Syarat wajib sholat udah pada tau kan yaa? Udah dipelajari sejak duduk di bangku SD ni barangkali :D Yak benar. 3 syarat wajib shalat: Muslim, baligh/dewasa, dan berakal. Artinya, kalau ada muslim yang tak sholat, mungkin dia belum baligh. Atau kalau sudah baligh, yaa barangkali tidak berakal hehehe.

Bahkan yang sedang sakit pun tetap wajib sholat. Kalau tak kuat berdiri, maka duduk. Tak kuat duduk, boleh berbaring. Tak bisa berbaring, gunakan isyarat lewat tangan atau mata. Tak juga bisa, tetap wajib sholat dengan isyarat dalam hati. Kalau koma? Ya itu termasuk hilang akal kan? Which means kewajiban sholatnya jadi gugur.

Sholat harus penuhi syarat sahnya juga. Yakni: sudah masuk waktu sholat, suci dari hadas kecil dan besar, suci dari najis baik najis pada pakaian yang kita kenakan untuk sholat maupun tempat sholat, menutup aurat, dan menghadap kiblat. Berkenaan dengan tempat sholat, ternyata ada 7 tempat yang tidak boleh dijadikan tempat sholat, yaitu di tempat sampah, tempat pemotongan hewan, kuburan, di tengah jalan, di kamar mandi, tempat onta/kandang hewan, dan di atas ka’bah. Kalo nekat sholat di tempat² tadi meskipun katakanlah tempatnya bersih dan kita anggap layak untuk sholat, sholat kita tetap tidak sah. Wallahualam.

Sholat pun ada rukun-rukun atau fardhunya. Artinya, harus kita penuhi agar ibadah sholat kita diterima Allah. Rukun-rukun sholat antara lain:
1. Niat. Nah, niat sholat rupanya cukup yang ada dalam hati saja. Tak perlu dilafadzkan dengan lisan. Anyway, kara ustadz Misyruqi tadi, menurut Imam Syafi’i, jika niat dilafadzkan dengan tujuan untuk menguatkan niat dari hati kita, diperbolehkan. Tapi melafadzkan niat bukanlah bagian dari fardhu sholat. Analoginya begini. Misal teman² niat makan ni, ya niatnya udah ada kan, tinggal eksekusi deh, gak pake lafadz “Saya niat makan siang 3 piring blablaba” gitu.

2. Takbiratul ihram. Ada 3 cada, yang ketiganya berlandaskan hadits shahih: lafadz takbir dulu baru gerakan tangan (mengangkat takbir), gerakan dulu baru lafadz takbir, dan lafadz + gerakan bersamaan. Adapun posisi telapak tangan, harus menghadap kiblat dan sejajar dengan bahu atau telinga ketika diangkat. Saat bersedekap, tangan diletakkan di atas dada, yakni area dada hingga perut.

3. Wajib berdiri bagi yang sehat dan mampu. Untuk sholat sunnah, boleh dilakukan dalam posisi duduk meskipun kia sehat. Tapi lebih diutamakan berdiri dong ya :)

4. Membaca surah Al Fatihah. Di poin ini, biasa kita jumpai ada imam sholat yang membaca basmalah dan juga tidak pakai baca basmalah. Keduanya boleh. Karena Baginda Rasulullah pernah melakukan keduanya. Lalu, untuk ucapan aamiin, baik imam maupun makmum, sama² membaca aamiin. Aamiin ya, bukan amin, aamin, atau amiin. Karena, keliru harokat bisa beda makna soalnya :D

Setelah baca surah Al Fatihah, disunnahkan membaca surah pendek.

5. Ruku’. Disunnahkan sebelum ruku’ mengangkat kedua tangan (seperti takbir). Posisi ruku’ harus sejajar antara kepala dan punggung. 90° gitu. Saat ruku’, tangan kita diletakkan di tempurung lutut. Bukan di paha atau di betis yes.

6. I’tidal, atau berdiri dari ruku’. Disunnahkan mengangkat tangan. Tangan boleh bersedekap, boleh juga tidak. Kalo saya biasanya gak pake sedekap. 2-2nya boleh menurut ijtihad ulama.

7. Sujud, yakni meletakkan 7 anggota tubuh pada tempat sujud. Yaitu: sebagian dahi, ujung hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari² kaki. Saat letakkan dahi, pastikan antara dahi dan tempat sujud tidak dibatasi apapun. Baik kain, apalagi batu hehe. Biasanya kalo kita² yang muslimah kan suka pake kain daleman keruding tu ya. Nah itu kainnya diangkat dikit supaya dahinya langsung menyentuh tempat sujud.

8. Tuma’ninah. Artinya, jeda sejenak. Tuma’ninah ini dilakukan ketika kita selesai baca Al Fatihah, saat hendak ruku’, sujud, intinya memberi jeda agar sholatnya tidak tergesa-gesa.

9. Tasyahud, awal dan akhir. Saat tasyahud, disunnahkan memberi isyarat dengan jari telunjuk yang ditundukkan. Atau membentuk setengah lingkaran. Ada 2 pendapat terkait poin ini, yaitu ada yang menyatakan bahwa telunjuknya digerak2kan, ada juga yang tidak. Bagian ini adalah hal yang furu’ atau cabang ilmu fiqih sehingga jika terjadi perbedaan, tidak perlu diperpanjang sampe debat kusir segala.

10. Salam, yang kanan dulu yaa. Leher aja yang digerakkan ke kanan, badannya jangan ikutan miring alias harus tetap menghadap kiblat dengan posisi tangan tetap di atas paha. Salamnya ga perlu dijawab wa’alaikumussalam yaa mentang² jawab salam itu wajib hihihi. Lafadz salam di sini adalah bagian dari rukun sholat.

Dalam sholat pun, ada hal² yang diperbolehkan dan yang bisa membatalkan. Yang bisa membatalkan sholat antara lain:
1. Sengaja makan dan minum saat sholat. Misal, abis makan rendang nih, mau zuhur, wudhu, eeh rupanya masih ada daging nyangkut di gigi. Ketahuannya saat sholat. Nah itu jangan dikunyah ya, karena sholatnya bisa batal 😁
2. Berbicara yang bukan bacaan sholat. 3. Tertawa dalam sholat.
4. Banyak gerak yang di luar gerakan sholat dan tidak ada uzur syar’i.
5. Sengaja meninggalkan salah 1 rukun sholat.

Sedangkan yang dibolehkan dalam sholat antara lain:
1. Menangis saat sholat, asalkan tidak mengurangi makhroj dari surah yang kita baca.
2. Menoleh karena kebutuhan.
3. Membunuh ular atau kalajengking.
4. Membawa/menggendong anak kecil, dengan syarat sang anak tidak membawa najis.
5. Mengucapkan subhanallaah ketika imam salah gerakan atau bacaan sholat bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan, cukup dengan menepukkan punggung tangan kanan ke telapak tangan kiri untuk memberi isyarat jika imam keliru.

Waaah panjang yaa postingan kali ini, dan ini belum mencakup hal² detail lainnya tentang sholat loh. Pastilah masih ada pertanyaan² di kepala kita terkait sholat ini. Dan tanyakan saja. Tanyakan pada yang berilmu, yang mempelajari fiqih sholat. Nanya² di sini pun boleeh ~, nanti pertanyaannya saya teruskan ke ustadz Misyruqi dan jawavannya saya balas di komen :D

Baiklah. Semoga bermanfaat yaa bahasannya. Tinggal kita terapkan dalam sholat kita setiap hari :)