My Skills are My Mood Booster 

This week topic for blog writing is about Skill(s). What is actually “a skill”? I define “skill” as people’s flair which can contribute a value to themselves as well as to other people. The contribution to the people themselves can be in form of material and/or immaterial. But the best skill, I presume, should be one that can enhance the quality of the people themselves, in any aspect of their life.

I was kind of confused to mention what actually my skill is. Is it public speaking because I am a radio announcer and a teacher, or can I categorize “English” as one skill simply because I teach it? But I can also sing, and some people say that my voice when singing was good enough, proven by some trophies I brought home back in the old time. In addition, I think I’m also quite good in writing. Maybe not in academic writing, but at least I get paid for being a website content writer until now. Plus, I just got promoted to be the News Editor at the radio station I work for, which requires writing skill, yes? Well then, so I guess those are my skills: public speaking plus English language capability, singing, and writing. 

What have I done with those skills? So many. I’ve been a broadcaster since March 2004, and from being a broadcaster, some event organizers (mostly academic events) trusted me to be their Master of Ceremony. Do I get money from it? Sure I do. Not only money, I also expand my networking. 

While with writing, besides having money, self-pleasure is the priceless gift I have from writing. Sometimes I get my logic back after writing, especially when I write for myself. Most of the time I smile and become happy again after writing. My skills always boost my mood. 

English language in Indonesia, especially in Pontianak is so far still being learned as a foreign language, so to master this language has become a plus value for me. Out there, in Pontianak, maybe you’ll find many people with public speaking and writing skill, also people who can speak and write in English well. But I believe, the number of people who can do those things (public speaking, mastering English language, writing) at a time is still limited. Well, I am Limited Edition 😁😄🤗

Somehow, I am not saying that I master those skills perfectly. I am still learning while doing them. Learning is a never ending process so I will not stop learning and enhancing my skills. 

Even I think I will also learn other skills like sewing (so at least I can have my own gown without having to go to tailors), photoshop and corel draw, photography, videography, journalism, martial arts, and cooking. I want and I will learn them, Insya Allah. Just wait for my next writing when I will post about the stuffs I will make with those new skills, okay 😁😃

Orang Kaya vs Orang Miskin

Perbedaan mendasar dari orang kaya dan miskin adalah sikap terhadap harta. Orang kaya cenderung ingin memberi sedangkan orang miskin cenderung ingin diberi.

Paling kentara adalah saat pembagian sembako gratis atau apa pun yang gratis. Orang miskin merasa paling layak dan berhak mendapatkan jatah.

Ternyata kekayaan bisa dipelihara layaknya memelihara hewan kesayangan seperti komodo, buaya, atau macan tutul. Maaf, maksudnya kucing, kura-kura, serta ikan hias.

Caranya dengan menyediakan kandang atau tempat hidup yang cocok untuk hewan kesayangan itu. Simple.

Barangkali analogi yang paling pas adalah memelihara ikan hias, syaratnya kita perlu menyiapkan akuarium. 

Atau ingin mengundang kupu-kupu, syaratnya buatlah taman di depan rumah kita sehingga kupu-kupu datang sendiri.

Nah kekayaan pun begitu. Kalau mau memelihara kekayaan, siapkan “kandangnya” agar kekayaan nyaman dan betah berlama-lama di rumah kita.

Buatlah taman yang membuat kekayaan datang sendiri layaknya kupu-kupu yang hinggap di ujung bunga.

Pertanyaannya adalah apa yang menjadi “kandang” kekayaan? Lalu bagaimana cara perawatan kekayaan agar dia tumbuh besar dan semakin besar?

Saya yakin Anda yang membaca tulisan ini tidak sabar dengan jawabannya dan semakin Anda penasaran, semakin Anda bertekad untuk menuntaskan membaca tulisan ini hingga selesai.

Baiklah saya buka rahasianya.

Ternyata yang menjadi kandang kekayaan atau taman yang bisa mengundang kekayaan layaknya kupu-kupu yang datang sendiri adalah MEMBERI.

Jadi memberi bukanlah karena kaya, tapi cara mengundang kekayaan. Kenapa orang kaya suka memberi? Karena dengan cara itu mereka -sebenarnya- menjadi kaya dan bahkan semakin kaya.

Pertanyaannya, bagaimana cara memberi bagi orang miskin? Bukankah dia tidak memiliki apa yang mau diberi? 

Ternyata, memberi bukanlah masalah materi. Tapi masalah NIAT. Bila dimulakan dari niat, maka akan menjalar ke semua SIKAP.

Nah sikap memberi ini menjadi pangkal PEMBERIAN. Maksudnya?

Sebagai pengguna angkutan umum, rebutan tempat duduk sudah menjadi hal yang lumrah. Saking ingin dapat tempat duduk, pintu bis yang lebarnya gak sampai 1 meter dijejali oleh 20 orang sekaligus.

Itu pengalaman saya dulu. 

Sampai saya merasa percuma dan memutuskan untuk masuk paling akhir walau pun artinya tidak mendapat tempat duduk. 

Kenapa? Karena sekalipun mendapat tempat duduk, bila ada wanita atau orang tua yang berdiri, saya selalu mengalah memberikan tempat duduk ke mereka.

Jadi buat apa rebutan tempat duduk kalau akhirnya berdiri juga?

Saat itu saya miskin, rajin antri di tiap pembagian sembako gratis atau pasar murah. Tapi saya suka memberi, memberi tempat duduk ke orang yang lebih perlu.

Jadi, memberi tidak melulu materi. Sekedar mengalah dari antrian untuk mengutamakan orang lain pun termasuk memberi.

Dalam kapasitas kita, selalu ada kesempatan memberi. Saya menyebutnya KONTRIBUSI. Kita mampu memberi kontribusi pada kehidupan orang lain. Di posisi apa pun level kehidupan kita.

Orang miskin berfokus pada menerima kontribusi. Dia berfikir dan bertindak CARA MENERIMA ATAU MENDAPAT kontribusi dari orang lain. 

Jadi, orang miskin akan mengakali cara memanfaatkan orang lain demi mendapat kontribusi dari orang itu.

Saya yakin ini bukan Anda yang sedang membaca tulisan ini.

Sedangkan orang kaya berfokus cara memberi kontribusi pada kehidupan orang lain. Dia berfikir cara MEMBERI MANFAAT kepada sesama.

Mungkin Anda perawat yang jaga malam, daripada hitung-hitungan jam kerja, Anda malah berfokus meringankan penderitaan pasien dengan pelayanan yang lebih baik dan lebih tulus.

Inilah “kandang” kekayaan.

Atau Anda seorang staff biasa, daripada hitung-hitungan bonus, Anda berfokus membuat atasan Anda merasa beruntung mempekerjakan Anda dan rekan kerja Anda merasa bahagia terhadap kehadiran Anda.

Inilah “taman” kekayaan.

Jadi dalam benak Anda hanya ada satu: Bagaimana caranya berkontribusi pada kehidupan sesama?

Inilah cara merawat kekayaan!

Selama Anda berfokus pada apa yang (seharusnya) Anda dapat, selama itu pula Anda berada pada kelompok orang miskin.

Sebanyak apa pun uang yang berhasil Anda dapatkan, sebanyak itu pula yang Anda habiskan. Efeknya kekurangan lagi.

Tapi bila Anda mampu berfokus apa yang (seharusnya) Anda beri, selama itu pula Anda telah (menjadi) kaya.

Sekecil apa pun uang yang Anda terima, tak akan membuat Anda kekurangan apalagi menderita. Selalu saja ada jalan dan ada solusi atas tantangan yang Anda hadapi.

Dan sejujurnya, tulisan ini adalah cara saya berkontribusi kepada Anda. 

Sekarang, di posisi manakah Anda berada? Lalu kontribusi apakah yang akan Anda berikan?

Wallahu ‘alam
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi

Semoga Syurga untuk Bang Indra 

Beliau penyiar favorit banyak orang. Beliau guru untuk sebagian besar penyiar dan kru Volare yang sempat berinteraksi semasa beliau hidup. Bagi para pendengar setianya, guyonan, saran, dan nasehat bijak yang bang Indra sampaikan lewat banyak program acara yang dibawakannya di Radio Volare, masih dan akan selalu terngiang-ngiang hingga detik ini. 

Saya ingat betul waktu saya masih SMP, sebelum bergabung dengan Volare, di program pagi saat membuka siaran bang Indra berkata, mulailah hari dengan sesuatu yang dapat membuat mood kita bagus sepanjang hari, salah satunya dengan menyimak lagu favorit. Sering saya terapkan. And most of the times, it works. 

Saya juga masih ingat dengan istilah “Satkepar Semkepar” yang beliau gunakan di acara Rhythm of the Night, sebuah program malam minggu yang Volare adakan untuk para pendengar yang mau curhat tentang apa saja lalu dikasih masukan oleh penyiar. Ketika ada pendengar yang meminta saran tentang masalahnya, bang Indra menyebutkan istilah tersebut, “Satkepar Semkepar”, singkatan dari “Satu ke paret semue ke paret” :’)) Waktu itu saya ngakak sendiri di kamar. It did sound funny when he said it. Istilah itu, “satkepar semkepar”, hingga kini masih saya gunakan sesekali sebagai ice breaking terutama ketika menjawab soal bersama mahasiswa atau peserta pelatihan. 

Setelah saya bergabung menjadi penulis naskah sampai akhirnya bersiaran di Radio Volare, entah sudah berapa banyak ilmu yang tanpa sadar bang Indra teruskan pada saya sekedar lewat ngobrol santai sebelum maupun sesudah siaran. Ilmu bersiaran, ilmu politik, ilmu ikhlas, banyak sekali. Setiap ngobrol dengan bang Indra, setelahnya saya selalu merasa lebih senang. He has such a positive vibe! Selalu menebarkan rasa bahagia. Setiap beliau selesai menyimak saya siaran, notifikasi LINE saya akan muncul, berisi pesan dari bang Indra yang kadang suka ngisengin dengan ngajak ngobrol pake bahasa hulu (nyaris selalu begini sejak pertama kali beliau tau bahwa orang tua saya berasal dari Sintang), namun lebih sering memuji siaran saya hingga saya merasa berbunga-bunga :’) 

Dulu, sebelum saya menikah dan pindah ke Sekadau, saya dan bang Indra sempat ngobrol-ngobrol di sela pergantian jadwal siaran. Ngobrolin politik, ngobrolin teman akrab saya waktu itu, sampai ngobrol tentang rencana beliau untuk berhaji. Kami memang tidak terlalu akrab, tapi entah kenapa saya melihat bang Indra seperti melihat bapak sendiri. Selain memang usia bapak saya dan usia bang Indra yang tidak jauh beda, mungkin juga karena beliau pun melihat saya seperti anak sendiri. Yang terakhir ini, sayang sekali tak sempat saya tanyakan langsung ke bang Indra 😢

Kemarin, bertepatan dengan hari lahirnya yang ke 57, Allah mengambil beliau kembali. Selesai sudah tugas bang Indra di dunia. Insya Allah sudah berguguran dosa-dosa beliau semasa hidup, terangkat melalui perjuangan beliau melawan kanker. Saya dan banh Indra tak bisa lagi ngobrol seperti dulu di dunia. Insya Allah, mudah-mudahan Allah jumpakan kami lagi di syurga, bertetangga dengan Baginda Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam, dengan bapak saya (Allahuyarham), dengan para penghuni syurga. Aamiin. 

Selamat jalan, Bang Indra. You will always be missed. 

Why I Continue My Study

I believe that our motivation to continue (or not to continue) our study to university level must be various and has its own uniqueness. So did mine. 

Few years ago, I wrote about this in a posting entitled “Halo, Motivasi!“. I re-read it, and suddenly appeared one mysterious motivation inside me to continue study to S3 level 😂😭 Noo waay, I’m not sure I’m ready hahaha. 

Anyway, what were actually my real intentions to continue my study to postgraduate level? Isn’t it enough, even more than enough to have S.Pd behind my name? 

Well, it turns out that it’s not about having the degree. It’s about my huge eagerness to learn. For me, learning something has no ending. Including learning English, or for my case is English language education. I always want to learn. I declare myself as a lifetime learner. We all are lifetime learners, aren’t we? 

Never ever crossed to my mind before I finally deciding to continue my study that I would move to Pontianak and become a lecturer at Untan. Moreover, I am not a civil servant. I did not work for any institution. I had no affiliation to any academic institutions at all at the time I decided to continue my study. And for your information, I continued my study with no scholarship from anyone but from my husband. My husband was the one who paid everything, starting from the study fee, the costs for books, all in. And I’m really glad of it because it means, I don’t “owe” myself to anyone but my husband 😁😁😁😁

So then, why did I really want to continue my study to postgraduate level? At that time, in 2003, I really missed the “aha + brilliant moment”, when an idea for doing assignments from lecturers came to mind. I also did miss “relieved and relaxed moment”, when the assignments were finally done and submitted to the lecturers no matter what my score would be 😁😂. I missed the learning atmosphere. I missed hanging out with my classmates when having the class break. Somehow, those stuffs I mentioned above actually can still be realized in the workplace, although of course the sense is different.

Now that I am already in the workplace, I really feel the advantage of having those formal education. Not about money or position, but about mindset and knowledge. I know that we can always upgrade ourselves through any kind of life stages we experience, but I believe, formal education always offers us something that we might not find outside the classroom door 😃

Jadi Penyiar itu Ga Gampang

Enak yaa sepertinya jadi penyiar. Kerjanya cuma ngomong, muterin lagu, udah deh. 

Seperti itu juga ya mikirnya? Padahal, tak semudah itu looh menjadi penyiar. Ada beragam kisah di balik bilik studio. 

Yang tampak dan yang terdengar, profesi penyiar sepertinya ya memang sekedar ngomong plus memutarkan lagu untuk pendengar. Faktanya, menjadi penyiar tidak cukup hanya dengan modal suara. Karena, tidak semua orang bersuara mikrofonis punya rasa percaya diri yang oke untuk bicara di depan publik, meskipun yang terdengar hanya suara. Selain suara dan kepercayaan diri, seorang penyiar juga harus terus memperkaya diri dengan wawasan supaya suara mikrofonisnya berfaedah. 

Bukan itu saja, berdasarkan pengalaman saya menjadi penyiar di Radio Volare Pontianak sejak tahun 2004, masih banyak lagi keterampilan lain yang sebaiknya dimiliki penyiar. Keterampilan bersosialisasi, misalnya. Mentang-mentang kerjanya lebih banyak di studio, bukan berarti skill sosialisasi menjadi tak berguna loh. Justru penyiar lah yang sangat perlu keterampilan ini, terutama ketika bersiaran dengan rekan penyiar lain. Tak mudah loh menumbuhkan chemistry di udara, apalagi kalau sehari-hari jarang bertemu dan berkomunikasi. Gagal membangun chemistry yang oke dengan tandem siaran, bisa bikin bad mood berkepanjangan. 

Keterampilan bersosialisasi dan berkomunikasi juga diperlukan  saat memandu program talkshow yang melibatkan tamu dari luar, yang bisa jadi, adalah pertama kalinya bagi mereka bersiaran di radio. Mengoperasikan peralatan siaran sambil mengajak tamu ngobrol supaya mereka tak merasa dicuekkin terutama saat off air bukanlah hal mudah. We need a great multi-tasking skill to do it. 

Bukan saat off air saja, tamunya kita undang hadir di studio kan untuk berbagi ilmu dan cerita di udara. Maka sebagai penyiar yang memandu acara, kita harus cerdas mengolah kata, tanggap merespon jawaban, dan kritis tapi tetap sopan dengan tamu. Saya sendiri hingga kini masih belajar nih untuk poin ini. 

Hal penting lainnya yaitu KOMITMEN. sepertinya, bukan hanya menjadi penyiar saja yaa yang perlu komitmen. Semua profesi sepertinya mewajibkan ini. Ketika kita sudah memilih untuk bergabung di dunia penyiaran, komitmen kita lah yang pada akhirnya akan menentukan berapa lama kita sanggup bertahan menjadi penyiar. Kalo dari pengalaman pribadi saya, komitmen berbanding lurus dengan passion terhadap dunia siaran. Saya sendiri, meskipun siaran sudah bukan lagi aktivitas utama, namun masih cinta dunia siaran sehingga saya cukup sulit melepas diri dari dunia siaran. Saking tetap ingin paling tidak sepekan sekali bersiaran, saya berpesan pada semua rekan yang mengaturkan jadwal mengajar saya agar tidak ada kelas di hari Kamis malam, karena hari itu adalah satu-satunya jadwal saya siaran 😁😄

Belum lagi kalau tanggal merah atau libur panjang. Orang-orang pada liburan, para penyiar ya liburannya dengan bersiaran 😂. Apalagi kalau hari libur ditambah hujan deras sedangkan mobil belum punya, berangkat siaran hujan-hujanan deh. Menggigil di studio saat musim hujan itu sudah biasa bagi kami para penyiar Radio Volare. Semua itu kami lakukan demi siapa lagi kalau bukan demi menemani Bujang Dare yang setia menyimak siaran kami 😊 Thanks for always listening us! 

Jadi, masih tetap yakin untuk menjadi penyiar di Radio Volare? Yuk, dicoba. Siapa tau rejeki dan passionnya memang ada di dunia siaran 😉

Thanks for Listening 

Happiness is: masih dipercaya menjadi penyiar untuk program belajar Bahasa Inggris di stasiun radio favorit saya, Volare 103.4 FM Pontianak. Dari sejak program acaranya masih bernama English Teletalk, hingga kini berganti menjadi Volare Chit Chat. And let me let you know, it all started with listening

Mampu berbahasa Inggris adalah salah satu keinginan saya sejak lama. Ketika pertama kali kenal Volare, saya mulai menjadikan radio swasta pertama dan nomor 1 di Pontianak ini sebagai salah 1 media untuk belajar Bahasa Inggris. Memperkaya kosakata lewat lagu-lagu yang diputar, juga menyimak beragam program acaranya yang berkualitas dan mendidik para pendengar. Program favorit saya saat itu namanya English Teletalk

English Teletalk *waktu itu – sekitar tahun 2000an* adalah program mingguan berdurasi 1 jam yang mengudara tiap hari minggu sore. Talkshow interaktif full English. Pertama kalinya saya menyimak acara tersebut yaitu ketika saya masih kelas 3 SMP, ketika bisa bicara bahasa Inggris masih sekedar mimpi. Not even a single sentence I understood from the broadcasters. Saya mendengarkan 2 penyiarnya bersiaran dengan Bahasa Inggris tanpa paham mereka lagi ngomongin apa. But I kept listening. Setiap pekan selalu saya dengarkan. 

Seperti yang pernah saya tuliskan 5 tahun lalu, dengan tetap menyimak acara tersebut membuat saya semakin menguatkan tekad untuk harus bisa berbahasa Inggris. Maka, ketika saya ditantang untuk menjadi penyiar program English Teletalk, selain grogi berat, ya saya merasa tertantang dan merasa perlu untuk menjawab tantangan itu 😁✌ Dan proses itu berawal dari LISTENING. 

Sampai detik ini, saya masih membawakan program belajar Bahasa Inggris di Radio Volare. Bukan karena saya enggan beranjak dari comfort zone. Simply, because I really love sharing and enriching myself with something new, dan program Volare Chit Chat mengakomodir passion saya. Berbagi ilmu gratis, sekaligus mendapatkan ilmu secara gratis dan menyenangkan pula. What do I ask more? 

Happy 44th anniversary, Radio Volare. I’m growing up with you and I am proud of it. Untuk teman-teman, bujang dare yang setia menjadi pendengar Radio Volare, we really thank you for listening. #Thx4Listening and please keep listening to Volare 103.4 FM 😉.

Achilles’ Heel – Volare Chit Chat 19 Jan 2017

achilless-heel

Idiom yang akan kita bahasa hari ini adalah ACHILLES’ HEEL. Idiom ini terdiri dari dua kata yaitu kata ACHILLES’ dan HEEL. Kata ACHILLES’ yang ejaannya A-C-H-I-L-L-E-S dengan petik koma diatas adalah seorang tokoh dalam mitos Yunani yang sangat kuat dan sama sekali tidak punya kelemahan dalam pertempuran kecuali pada tumitnya. Kemudian kata HEEL yang ejaannya H-E-E-L artinya adalah “Tumit”. Ketika menjadi sebuah idiom, maka ACHILLES’ HEEL artinya adalah “Suatu kelemahan dalam diri seseorang atau sebuah system biarpun kuat secara menyeluruh, yang bisa berakibat fatal”.

Berikut ini contohnya:

1. He was very brave, but fear of spiders was his Achilles’ heel.
(Dia sangatlah berani, namun ketakutan pada laba-laba merupakan kelemahannya)

2. This division, which is rarely profitable, is the company’s Achilles’ heel.
(Divisi ini, yang mana jarang memberikan keuntungan, adalah titik lemah perusahaan)

3. The country’s dependence on imported oil could prove to be its Achilles’ heel if prices keep on rising.
(Ketergantungan Negara terhadap impor minyak bisa membuktikan kelemahan Negara tersebut jika harganya terus naik)

4. Maths has always been my Achilles heel.
(Matematika selalu menjadi kelemanhanku)

#idiom : Heart Skips A Beat (The XX – Heart Skips A Beat)

Idiom merupakan sebuah kata atau gabungan dua kata atau lebih yang memiliki makna berbeda, namun ketika disatukan akan membentuk makna baru yang berbeda dari makna kata aslinya. Lebih banyak kita menguasai idiom, maka semakin baiklah kemampuan bahasa inggris yang kita miliki.

Hari ini idiom yang kita bahas adalah HEART SKIPS A BEAT. Idiom ini terdiri dari beberapa kata utama yaitu kata HEART, SKIPS, dan BEAT. Kata HEART yang ejaannya H-E-A-R-T artinya adalah “Hati/Jantung”. Kata SKIPS yang ejaannya S-K-I-P-S “Melompati atau Melampaui”. Kemudian kata BEAT yang ejaannya B-E-A-T artinya adalah “Irama/debaran/denyut”. Ketika menjadi sebuah idiom, maka HEART SKIPS A BEAT artinya adalah “Tiba tiba merasa senang, bersemangat, gelisah, gugup, takut, atau terkejut karena sesuatu”.

Berikut ini contohnya:

1. Every time he looks at me my heart skips a beat.
(Setiap kali dia melihatku jantungku berdebar)

2. When the teacher called my name for the presentation, my heart skipped a beat.
(Ketika guru memanggil namaku untuk presentasi, aku tiba-tiba gugup)

3. Our heart skipped a beat while the judges announced the winner.
(Kami merasa gugup saat juri mengumumkan pemenangnya)

4. I think I fall in love with him. Every time I see him passing by, my heart skips a beat.
(Sepertinya aku jatuh cinta padanya. Setiap saat aku melihatnya berjalan, jantungku berhenti berdetak)

#bilingual : Music Service Spotify Recruits Barack Obama

Bilingual adalah berita dua bahasa yang akan membantu Bujang Dare untuk mempelajari dan lebih memahami Bahasa Inggris. Serta menambah wawasan dunia tentang berbagai informasi dan berita masa kini. Untuk hari ini sebuah topik telah dipilih khusus untuk Bujang Dare.

Music Service Spotify Recruits Barack Obama
(Layanan Music Spotify Merekrut Barack Obama)

Barack Obama gave his final speech as President of the United States. His final day in office is Friday, January 20. That is the day that Donald Trump will be sworn in as America’s 45th president. The Obama family plans to continue living in Washington, D.C. while younger daughter Sasha finishes high school. But what will the former president do with his time?

(Barack Obama memberikan pidato terkahirnya sebagai Presiden Amerika. Hari terkahirnya bertugas adalah hari Jum’at, tanggal 20 Januari. Hari itu adalah hari dimana Donald Trump akan diambil sumpahnya sebagai Presiden Amerika yang ke 45. Keluarga Obama berencana untuk tetap tinggal di Washington D.C. sementara anak bungsu mereka Sasha menyelesaikan SMA. Namun apa yang akan dilakukan mantan presiden sehabis tugasnya?)

Some observers think Obama will get to work helping the Democratic Party find new candidates who can win local elections in 2018. Obama said in 2015 that he might go back to working on issues similar to those he worked on before he got involved in politics. Before he became a state senator in Illinois, he helped poor communities in Chicago.

(Beberapa orang mengira Obama akan bekerja membantu Partai Demokrat menemukan kandidat-kandidat baru yang bisa memenangkan pemilihan daerah di tahun 2018. Obama berkata di tahun 2015 bahwa dia mungkin akan kembali bekerja di bidang yang sama dengan yang dia lakukan sebelum terlibat di dunia politik. Sebelum dia menjadi senat di Illinois, dia membantu komunitas masyarakat tidak mampu di Chicago.)

But, in case Obama changes his mind, the popular music streaming service Spotify seems to have a job for him.The music service published a job posting for a “President of Playlists.” Some of requirements for the job are very specific. Obama is likely the only person in the world who is qualified for the job. The job requirements include having had singer Kendrick Lamar perform at a birthday party. Lamar, Obama and Janelle Monae all sang “Happy Birthday” to Obama’s daughter Malia in 2016. Another requirement is eight years of “running a highly-regarded nation.” Spotify also says the applicants must have a Nobel Peace Prize. The listing also mentions being one of the “greatest speakers of all time.”

(Namun, jika Obama berubah pikiran, layanan pemutar music online terkenal Spotify sepertinya mempunyai pekerjaan untuknya. Layanan music tersebut menerbitkan lowongan pekerjaan untuk “President of Playlist”. Beberapa persyaratan untuk pekerjaan itu sangatlah spesifik. Obama sepertinya hanya satu-satunya orang di dunia ini yang sesuai persyaratan pekerjaan itu. Persyaratannya termasuk pernah menghadirkan Kendrick Lamar dalam sebuah pesta ulang tahun. Kendrick Lamar, Obama, dan Janelle pernah bernyanyi “happy Birthday” untuk putri Obama, Malia, di tahun 2016. Persyaratan lainnya adalah pernah memimpin sebuah Negara adidaya selama 8 tahun. Spotify juga menyebutkan pelamar harus pernah memenangkan hadiah nobel perdamaian. Selain itu juga disebutkan bahawa pelamar adalah seorang pembicara luar biasa sepanjang masa)

Many people enjoyed Obama’s summer music playlists he created last August. His playlists included artists like Miles Davis, Aloe Blacc and Leon Bridges. The founder of Spotify is Daniel Ek of Sweden. He tweeted the job listing. He wrote: “Hey Barack Obama, I heard you were interested in a role at Spotify. Have you seen this one?” The message was liked and retweeted almost 20,000 times. One person said she would sign-up for Spotify if Obama came to work for the service.

(Banyak orang menikmati playlist lagu musim panas Obama yang dia buat di bulan Agustus lalu. Daftar lagunya terdiri dari seniman seperti Miles Davis, Aloe Blacc dan Leon Bridges. Pendiri Spotify adalah Daniel Ek dari Swedia. Dia menulis cuitan tentang persyaratan pekerjaan tersebut. Dia menulis : “Hey Barack Obama, Ku dengar dirimu tertarik akan pekerjaan di Spotify. Sudahkah kamu melihat yang satu ini?”. Pesan tersebut disukai dan di twit ulang hampir 20.000 kali. Seorang wanita berkata bahwa dia akan mendaftar ke Spotify jika Obama bekerja untuk layanan tersebut)

#VolareEntertainmentNews

–Michael Buble pulls out of hosting BRIT Awards to care for his son Noah as he battles cancer

Canadian superstar Michael Buble has pulled out of hosting the BRIT Awards next month to care for his eldest son Noah, who is battling liver cancer .

The chart-topping singer cancelled all work commitments last year following three-year-old Noah’s devastating diagnosis in November but was still expected to make his presenting debut at the ceremony. But BRITs bosses held their first planning meeting ahead of the bash at London’s O2 Arena on February 22 and were told they need to find a new host.

Doctors have given toddler Noah 90% chance of survival and he is currently undergoing chemotherapy with Michael and his actress wife Luisana Lopilato by his side. The couple have a second son Elias, who will celebrate his first birthday on Sunday. A source said: “It is a delicate situation due to the nature of Noah’s illness. No pressure was ever put on Michael to fulfil his obligations.

“He will always be welcome at the BRITs but it’s important that he is with his family. It would not look good to be singing and dancing on stage while his son is so ill.” The race is now on to find a replacement presenter for the annual star-studded bash, which will be shown live on ITV1 and include performances from Little Mix and Emeli Sande, 29.

–Ed Sheeran Creates Chart History Down Under

Ed Sheeran has made history Down Under by becoming the first artist to have simultaneous debuts at No. 1 and No. 2 on the ARIA Singles Chart, while three soundtracks manage a feat never seen before on the national albums chart.

Sheeran sets a new record with “Shape Of You” (Asylum/Warner) and “Castle On The Hill” (Atlantic/Warner), respectively, which earn the solo star a return to the market’s top 50 as a lead artist for the first time since “Photograph” cracked the top 10 back in June 2015.
“Shape Of You” becomes the English singer’s third No. 1 on the national singles chart, after “Sing” (May 2014) and “Thinking Out Loud” (October 2014).

“Shape Of You” and “Castle On The Hill” have now done the double-double. The tracks are also No. 1 and No. 2 in the U.K., and “Shape of You” is set to blow into the Billboard Hot 100 chart, possibly with a debut at No. 1 (with “Castle on the Hill” shaping for a top 10 bow). The two new songs dropped Jan. 6 ahead of Sheeran’s forthcoming third album album ÷ (pronounced “Divide”), due March 3.