Kalimat-Kalimat Hikmah Umar bin Khattab

Sa’id bin Musayyib berkata:
“Umar bin Al Khathab radilayahu ‘anhu mengucapkan delapan belas kalimat, semuanya adalah kata-kata hikmah, beliau berkata:

Tidaklah engkau memberikan balasan kepada orang yang memaksiati Allah kepadamu, (yang lebih bagus) dengan seperti engkau mentaati Allah kepadanya.

Letakkanlah urusan saudaramu pada tempatnya yang paling baik, sampai datang kepadamu dari dia sesuatu yang membuatmu kalah.

Janganlah berprasangka buruk kepada kata-kata yang tidak baik yang keluar dari mulut seorang muslim, sementara engkau masih mendapatkan kemungkinan baik padanya.

Siapa yang mencampakkan dirinya kepada tuduhan, janganlah ia mencaci orang yang berburuk sangka kepadanya.

Siapa yang menyembunyikan rahasianya, maka kebaikan akan selalu berada di tangannya.

Hendaklah berteman dengan orang yang jujur, niscaya engkau akan hidup bahagia ditengah-tengah mereka, karena mereka adalah hiasan di kala senang dan bantuan dikala susah.

Hendaklah engkau berbuat jujur walaupun engkau dibunuh.

Jangan menyindir dalam perkara yang tidak bermanfaat.

Jangan bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, karena yang telah terjadi saja menyibukkan kita dari sesuatu yang belum terjadi.

Janganlah engkau meminta keperluan kepada orang yang tidak suka jika engkau mendapatkannya.

Jangan meremehkan bersumpah dusta, karena Allah akan membinasakanmu.

Jangan berteman dengan orang-orang yang jahat untuk mempelajari kejahatan mereka.
Jauhilah musuhmu.

Waspadalah terhadap temanmu, kecuali teman yang amanah, dan teman yang amanah adalah yang takut kepada Allah.

Bersikap khusyu’lah di sisi kuburan.

Bersikap hinalah ketika berbuat taat.

Tahan dirimu ketika dihadapkan kepada maksiat.

Bermusyawarahlah dengan orang-orang yang selalu takut kepada Allah, karena Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”.
(Fathir: 28).
(Kanzul ‘Ummaal 16/262 no 44372).

(Kesimpulan):
Maksud perkataan beliau: Tidaklah engkau memberikan balasan kepada orang yang memaksiati Allah kepadamu, (yang lebih bagus) dengan seperti engkau mentaati Allah kepadanya. Maksudnya adalah apabila ada orang yang memaksiati Allah kepada kita seperti menggibah atau menuduh, maka balasan yang paling baik untuknya adalah dengan mentaati Allah kepadanya yaitu dengan membalas air tuba dengan air susu, kemaksiatan dibalas dengan ketaatan.)

Mengapa Kami Begitu Cinta Jalan Dakwah

Dalam sebuah konspirasi busuk Hasan Al Banna akhirnya mati kehabisan darah di rumah sakit tanpa mendapatkan pertolongan. Lukanya tidak parah sebab setelah ditembak justeru dia yang memapah pengawalnya yang luka parah ke rumah sakit.

Ia meninggal sebab pihak rumah sakit telah mendapatkan perintah agar membiarkannya sampai mati. Di kamar rumah sakit bukan dokter yang berdiri menemaninya tapi seorang polisi bersenjata lengkap yang menunggu sampai ia betul-betul tewas.

Sayyid Quthb di gantung oleh orang yang selama ini memanggilnya abang. Kepala penjara yang setiap hari menyiksanya menyatakan dengan tegas dihadapan adik perempuannya bahwa kalian orang baik bahkan orang terbaik yang ada di negara ini. Tapi tetap saja Sayyid Qutub digantung.

Zainab Al Ghazali seorang ibu tidak berdosa harus menjadi santapan anjing lapar di penjara sempit dan berbau. Berhari-hari, berbulan-bulan bahkan sampai bertahun tahun ia tinggal dalam sel penyiksaan itu. Padahal ia hanya seorang perempuan biasa yang setiap hari menyampaikan ceramah dari satu rumah ke rumah yang lain, dari satu majlis ke majlis yang lain.

Antum tahu ikhwah mengapa mereka mendapatkan semua itu? Karena mereka sedang memperjuangkan Islam yang menegara.

Hari ini kita hanya di cemooh, kita hanya dikomentari oleh orang-orang yang tidak paham terhadap apa yang kita yakini ini. Kita hanya di ancam untuk dibubarkan. Belum diminta menyerahkan nyawa.

Tetaplah di sini, biar mereka faham mengapa kita begitu mencintai dakwah ini. Tegarlah di sini sampai akhirnya Allah memanggil kita dengan keridhaannya…

-Ustadz Ahsanur Ahmad, Lc-

Mengatakan Sesuatu Tanpa Ilmu Pengetahuan dan Berlandaskan Dugaan

Ringkasan Tafsir Al Israa ayat 36 Tentang segala sesuatu yang ada dalam diri kita dan yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawaban

Surah Al Isra:36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra:36)”

Penjelasan

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…….”

Maksudnya, jangan mengikuti apa yang tidak kamu ketahui dan tidak penting bagimu. Jika kita memiliki pengetahuan, maka manusia boleh menetapkan suatu hukum berdasarkan pengetahuannya itu. (Tafsir Imam Qurthubi)

“…….Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”

Maksudnya masing-masing dari semua itu ditanya tentang apa yang dilakukannya. Hati ditanya tentang apa yang dia pikirkan dan dia yakini. Pendengaran dan penglihatan ditanya tentang apa yang dia lihat, dan pendengaran ditanya tentang apa yang ia dengar. Semua anggota tubuh akan diminta pertanggungjawaban di hari kiamat. (Tafsir Imam Qurthubi, Ibnu Katsir.)

Allah SWT melarang mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu berdasarkan zan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan dan ilusi (Tafsir Ibnu Katsir)

“Dan janganlah kamu mengikuti (Al-qafwu, maknanya adalah al-ittiba’ yaitu mengikuti) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang…”

Hikmah dari ayat ini adalah memberikan batasan-batasan hukuman, karena banyak kerusakan yang disebabkan oleh perkataan yang tanpa dasar. Janganlah kamu mengikuti perkataan dan perbuatan yang tidak kamu ketahui ilmunya, dan janganlah kamu mengucapkan aku melihat ini padahal aku mendengar ini padahal kamu tidak mendengarnya. Firmannya ,”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”
Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya, karena Allah Ta’ala akan menanyakan anggota badan ini pada hari Kiamat tentang apa yang telah di ucapkan oleh pemiliknya atau yang dikerjakannya maka dia akan bersaksi dengan apa yang dia ucapkan atau yang dikerjakan dari perkataan dan perbuatan yang dilarang.
Haram berkata atau berbuat tanpa didasari oleh ilmu, karena dapat menyebabkan kerusakan. Dan Allah Ta’ala akan menanyakan seluruh anggota badan dan meminta persaksiannya pada hari Kiamat. (Tafsir Al Aisar)

Bahaya Berkata Tanpa Ilmu

Sebagai nasehat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

1.Hal itu merupakan perkara tertinggi yang diharamkan oleh Allah.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)”

(Al-A’raf:33)

Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata:

“Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Alloh mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Dan berbicara tentang Alloh tanpa ilmu meliputi: berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukumNya, syari’atNya, dan agamaNya. Termasuk berbicara tentang nama-namaNya dan sifat-sifatNya, yang hal ini lebih besar daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syari’atNya, dan agamaNya.”

[Catatan kaki kitab At-Tanbihat Al-Lathifah ‘Ala Ma Ihtawat ‘alaihi Al-‘aqidah Al-Wasithiyah, hal: 34, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit:Dar Ibnil Qayyim]

2. Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk dusta atas (nama) Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.

(QS. An-Nahl (16): 116)

–tambahan dari Abu Zuhriy–

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Marwan mengutus ‘Abdullah bin Utbah kepada Subai’ah binti Al Harits untuk menanyakan tentang sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam fatwakan kepadanya, lalu Subai’ah menceritakan, bahwa dirinya adalah isteri dari Sa’ad bin Khaulah, kemudian dia ditinggal mati olehnya pada saat haji Wada’ dan dia termasuk orang yang ikut serta dalam perang Badar.

Kemudian dia melahirkan sebelum berlalu masa empat bulan sepuluh hari dari kematian suaminya, lalu dia bertemu dengan Abu as-Sanaabil -yaitu Ibnu Ba’kak- setelah suci dari nifasnya dan menggunakan celak.

Kemudian Abu as-Sanaabil berkata kepadanya,

“Tahanlah dirimu -atau kalimat yang serupa dengannya-, mungkin kamu menghendaki nikah, sesungguhnya masa iddahmu adalah empat bulan sepuluh hari dari kematian suamimu.”

(dalam riwayat lain Abu as-Sanaabil berkata:

“Sepertinya engkau ingin menyatakan bahwa sudah baa’ah (selesai iddah dan siap menikah), ketahuilah engkau belum boleh menikah hingga lewat satu dari dua iddah yang terlama…”)

Subai’ah lalu berkata,

“Maka aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kepada beliau apa yang telah dikatakan oleh Abu as-Sanaabil bin Ba’kak.”

(Dalam riwayat lain Rasulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كَذَبَ أَبُو السَّنَابِلِ

Abu Sanaabil telah berkata dusta…”

إِذَا أَتَاكِ أَحَدٌ تَرْضَيْنَهُ فَأْتِينِي بِهِ أَوْ قَالَ فَأَنْبِئِينِي فَأَخْبَرَهَا أَنَّ عِدَّتَهَا قَدْ انْقَضَتْ

“Jika seseorang yang engkau sukai datang melamarmu maka datanglah kepadaku atau kabarilah aku, maka Subai’ah mengabari Nabi bahwa iddahnya sudah lewat.”)

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

قَدْ حَلَلْتِ حِينَ وَضَعْتِ حَمْلَكِ

“Kamu telah halal untuk menikah sejak kamu melahirkan kandunganmu.”

(HR. Ahmad. Dishahihkan Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 69. Asal kisah riwayat Bukhari dan Muslim)

Syaikh al-’Utsaimin rahimahullah berkata:

Dusta artinya ucapan atau khabar yang berlawanan dengan kenyataan/fakta (Waqi’) sedangkan “Benar/Jujur” adalah berita atau khabar yang sesuai dengan fakta/kenyataan.Jika ada orang yang berkata :“Orang itu telah datang hari ini”,padahal orang itu tidak datang maka ini disebut dusta, meskipun orang itu tidak sengaja mengatakannya.

[Jadi orang boleh saja disebut "telah BERDUSTA", WALAUPUN orang tersebut mengatakannya dengan TIDAK BERMAKSUD dan TIDAK MENYENGAJA untuk BERDUSTA, -pent].

Kemudian, Syaikh membawakan hadits diatas sebagai argumen dari pernyataan beliau diatas…

(Lihat Kitab Tafsir Surat al-Kahfi Syaikh al-Utsaimin)

–selesai tambahan dari Abu Zuhriy–

3.Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan kesesatan dan menyesatkan orang lain.

Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain.

(HSR. Bukhari no:100, Muslim, dan lainnya)

Hadits ini menunjukkan bahwa

“Barangsiapa tidak berilmu dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan tanpa ilmu, dan mengqias (membandingkan) dengan akalnya, sehingga mengharamkan apa yang Alloh halalkan dengan kebodohan, dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan tanpa dia ketahui, maka inilah orang yang mengqias dengan akalnya, sehingga dia sesat dan menyesatkan.”

(Shahih Jami’il Ilmi Wa Fadhlihi, hal: 415, karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, diringkas oleh Syeikh Abul Asybal Az-Zuhairi)

–tambahan dari abu zuhriy–

Bahkan orang yang berfatwa tanpa ilmu tersebut bisa MENGHANCURKAN KEHIDUPAN DUNIA dan AKHIRAT yang bertanya kepadanya.

Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah berkata, “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas radhiallahuanhu. menceritakan tentang seorang laki-laki di zaman . yang terluka pada bagian kepalanya, kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah beritanya kepada Rasulullah ., maka beliau bersabda, yang artinya,

قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ

‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan/memerangi mereka. Bukankah bertanya merupakan obat kebodohan’?”

(Shahih, HR Ibnu Majah [572], ad-Daraquthni [1/190/4], al-Hakim [1/178], ath-Thabrani [11472], Abu Nu’aim dalam al-Hilyab [111/317-318])

Hal tersebut masih bisa dikatakan ‘mending’ karena mereka ‘hanya’ membunuhnya (yakni hanya menghancurkan kehidupan dunianya). Lantas bagaimana lagi jika dengan perkataan mereka, mereka MENYESATKAN orang-orang yang bertanya kepada mereka?!

Lihat pula dalam hadits diatas Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam MENDOAKAN KEJELEKAN bagi siapasaja yang BERKATA DENGAN KEBODOHAN!!

–selesai tambahan dari abu zuhriy–

4.Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan sikap mengikuti hawa-nafsu.

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rohimahulloh berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya, dan Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun

(Al-Qashshash:50)”

(Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

–tambahan dari abu zuhriy–

5. Berbicara tanpa ilmu merupakan PERBUATAN ORANG-ORANG ZHALIM

Allah berfirman

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.

(Ar-rum: 29)

–selesai tambahan dari abu zuhriy–

6. Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan sikap mendahului Allah dan RasulNya.

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(QS. Al-Hujuraat: 1)

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh berkata:

“Ayat ini memuat adab terhadap Alloh dan RosulNya, juga pengagungan, penghormatan, dan pemuliaan kepadanya. Alloh telah memerintahkan kepada para hambaNya yang beriman, dengan konsekwensi keimanan terhadap Alloh dan RosulNya, yaitu: menjalankan perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-laranganNya. Dan agar mereka selalu berjalan mengikuti perintah Alloh dan Sunnah RosulNya di dalam seluruh perkara mereka. Dan agar mereka tidak mendahului Alloh dan RosulNya, sehingga janganlah mereka berkata, sampai Alloh berkata, dan janganlah mereka memerintah, sampai Alloh memerintah”.

(Taisir Karimir Rahman, surat Al-Hujurat:1)

7. Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu menanggung dosa-dosa orang-orang yang dia sesatkan.

Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah orang sesat dan mengajak kepada kesesatan, oleh karena itu dia menanggung dosa-dosa orang-orang yang telah dia sesatkan. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun.

(HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah)

–tambahan dari abu zuhriy–

Dalam riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ

“Barang siapa yang diberi fatwa tanpa ilmu maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberikan fatwa.”

ditambahkan sulayman al mahriy:

‎مَنْ أَشَارَ عَلَى أَخِيهِ بِأَمْرٍ يَعْلَمُ أَنَّ الرُّشْدَ فِي غَيْرِهِ فَقَدْ خَانَهُ

“Barangsiapa memberi isyarat kepada saudaranya dalam suatu perkara dan ia mengetahui bahwa yang benar ada pada orang lain, maka sungguh ia telah berkhianat kepadanya.”

(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan dinilai hasan Al Albani di dalam Shahihul Jaami’, 6068-6069, lihat Al Qaul Al Mufid, II/68, silakan baca juga Ibthaalut Tandiid bi ikhtishaari Syarhi Kitaabit Tauhid, hal. 209-210)

Allah mengisahkan dalam al Qur-aan bagaimana di hari kiamat kelak terjadi bantah-membantah antara pemimpin yang menyesatkan yang diikuti oleh pengikut-pengikutnya yang bodoh (lihat ibrahim: 21, al a’raaf: 37-38, saba: 31-33, ghafir: 47-48, ash-shaaffat: 28-32, shaad; 59-64)

Bahkan para pengikut mereka mendoakan kejelekan bagi mereka, sebagaimana dalam firmanNya:

رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ

“Ya Rabb kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka”.

(shaad: 61)

dalam firmanNya yang lain, Dia mengisahkan perkataan pengikut tersebut:

رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ

Ya Rabb kami; mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka

Allah berfirman:

لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ

Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui”.

(Al-A’raaf: 38)

Maka alangkah celakanya mereka!

–selesai tambahan dari abu zuhriy–

8. Berbicara tentang Allah tanpa ilmu akan dimintai tanggung-jawab

Alloh Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)

Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata:

“Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: bahwa Alloh Ta’alamelarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.”

(Tafsir Al-Qur’anul Azhim, surat Al-Isra’:36)

–tambahan dari abu zuhriy–

Qatadah mengatakan:

“Jangan kamu katakan bahwa kamu melihat sementara kamu tidak melihat, mendengar sementara kamu tidak mendengar, mengetahui sementara kamu tidak mengetahui karena Allah akan bertanya kepadamu tentang itu semua.”

Pemuka para shåhabat, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, ash-Shidiqul Akbar, Rådhiyallåhu ‘anhu berkata:

“Bumi mana tempatku berpijak, dan langit mana tempatku bernaung; jika aku berbicara tentang kitabullåh (atas) apa yang tidak aku ketahui ilmunya:

[Atsar ini Dhåif, lihat as-silsilah adh-dhåifah (no. 1783); dinukil dari kitab tafsiyr shåhiyh ibnu katsiyr]

–selesai tambahan dari abu zuhriy–

9. Orang yang berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan.

Syeikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami t menyatakan:

“Fashal: Tentang Haramnya berbicara tentang Allah tanpa ilmu, dan haramnya berfatwa tentang agama Allah dengan apa yang menyelisihi nash-nash”. Kemudian beliau membawakan sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya adalah firman Allah di bawah ini:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

(QS. 5:44)

–tambahan dari Abu Zuhriy–

Kemudian beliau berkata,

“Kekafiran yang dimaksud dengan ayat diatas bukan berarti KELUAR dari AGAMA ISLAM. sebagaimana yang MASYHUR dari kalangan AHLUS-SUNNAH WAL JAMA’AH; yakni hal ini bisa termasuk kufur akbar, bisa pula termasuk kufur ashghår.”

(–sampai disini perkataan beliau–)

–selesai tambahan dari Abu Zuhriy–

Allåhul musta’aan

10. Berbicara agama tanpa ilmu menyelisihi jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rohimahulloh menyatakan di dalam aqidah Thahawiyahnya yang masyhur:

“Dan kami berkata: “Wallahu A’lam (Allah Yang Mengetahui)”, terhadap perkara-perkara yang ilmunya samar bagi kami”.

[Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393]

–tambahan dari Abu Zuhriy–

Apakah mereka merasa LEBIH BAIK dari MALAIKAT dan PARA NABI-RASUL?!

Allåh Ta’ala berfirman:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:

أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

(al-baqarah 2:31)

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا . إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Mereka (Malaikat) menjawab:

“Maha Suci Engkau, TIDAK ADA YANG KAMI KETAHUI selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

(al-baqarah 2:32)

Imam Asy-Sya’by pernah ditanya tentang sesuatu, beliau menjawab: “Saya tidak tahu”. Tapi beliau malah ditanya lagi: “Apakah engkau tidak malu mengucapkan tidak tahu, sedangkan engkau seorang ahli fiqih di Iraq ?”. Asy-Sya’by menjawab: “Tetapi Malaikat tidak malu untuk berkata: سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami’ “.

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, sesungguhnya ada seorang yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,

“Wahai rasulullah tempat apakah yang paling buruk?”.

Jawaban Rasul:

لاَ أَدْرِى

“Aku tidak tahu”.

Ketika Jibril datang menjumpai Nabi, beliau bertanya kepada Jibril:

يَا جِبْرِيلُ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ

“Wahai Jibril, tempat apakah yang paling buruk?”.

Jibril berkata:

لاَ أَدْرِى حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّى عَزَّ وَجَلّ

“Aku tidak tahu. Kutanyakan dulu kepada Rabbku (Allåh) azza wa jalla”.

Jibril lantas pergi; kemudian setelah beberapa waktu lamanya, Jibril datang dan berkata:

يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ سَأَلْتَنِى أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقُلْتُ لاَ أَدْرِى

“Wahai Muhammad, engkau pernah bertanya kepadaku tentang tempat yang paling buruk, lalu jawabku adalah aku tidak tahu.

وَإِنِّى سَأَلْتُ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ

Hal itu telah kutanyakan kepada tuhanku azza wa jalla,

أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ

‘Tempat apakah yang paling buruk?’.

فَقَالَ َسْوَاقُهَ

JawabNya, “Pasar”.

(HR Ahmad no 16790, namun Syeikh Syu’aib al Arnauth mengatakan, ‘Sanadnya LEMAH’; namun maknanya BENAR).

Namun dalam riwayat lain, yang lafazh: أسواقها ; maka hadits ini diHASANkan oleh Syaikh al Albaaniy dalam shifatul fatwa

Juga dalam hadits Ibnu Umar; dari Ibnu Umar, ada seorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tempat apakah yang paling buruk?”.

Jawaban Nabi,

لا أدري حتى أسأل جبريل

“Aku tidak tahu, Kutanyakan dulu kepada Jibril”.

Setelah ditanyakan kepada Jibril, Jibril mengatakan,

لا أدري حتى أسأل ميكائيل

“Aku juga tidak tahu. Kutanyakan dulu kepada Mikail”.

Pada akhirnya, Jibri datang dan mengatakan,

خير البقاع المساجد وشرها الأسواق

“Tempat yang paling baik adalah masjid. Sedangkan tempat yang paling buruk adalah pasar”.

(HR Ibnu Hibban no 1599. Syeikh Syuaib al Arnauth mengatakan, “Hadits HASAN”).

[dua hadits diatas nukil dari artikel ustadz aris munandar hafizhahullåh, http://ustadzaris.com/katakan-saja-saya-tidak-tahu%5D

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam juga pernah bersabda (dalam HADITS JIBRIL, ketika beliau ditanya tentang kiamat):

مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.”

(HR. Bukhari, Muslim)

dari Humaid bin ‘Abdirrahmaan, ia berkata :

“Menjawab dengan jawaban tidak tahu, itu lebih aku sukai daripada harus memaksakan diri menjawab sesuatu yang tidak aku ketahui”

[Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 149 – sanadnya jayyid]

dari Ibnu Siiriin, ia berkata :

“Aku tidak peduli, aku ditanya tentang sesuatu yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui. Jika aku ditanya tentang sesuatu yang aku ketahui, maka akan aku katakan apa-apa yang aku ketahui. Namun jika aku ditanya tentang sesuatu yang tidak aku ketahui, maka akan aku katakan : ‘Aku tidak tahu’”

[Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 189 – sanadnya shahih].

‘Abdul-Malik bin Abi Sulaimaan, ia berkata : Sa’iid bin Jubair pernah ditanya tentang satu permasalahan, lalu ia menjawab : “Aku tidak tahu”. Kemudian ia melanjutkan : “Sungguh celaka orang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui : ‘Sesungguhnya aku mengetahuinya’”

[Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih no. 1568, tahqiq : Abul-Asybaal Az-Zuhairiy; Daar Ibnil-Jauziy, Cet. 1/1414 – sanadnya hasan].

baca: artikel abul jauzaa’

–selesai tambahan dari Abu Zuhriy–

11.Berbicara agama tanpa ilmu merupakan perintah syaithan

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui.

(QS. 2:169)

Keterangan ini kami akhiri dengan nasehat: barangsiapa yang ingin bebicara masalah agama hendaklah dia belajar lebih dahulu. Kemudian hendaklah dia hanya berbicara berdasarkan ilmu.

Wallohu a’lam bish showwab. Al-hamdulillah Rabbil ‘alamin.

Disalin dari Berbagai Sumber:

Wahai Da’i, Engkau Begitu Istimewa

.: Wahai Da’i, Engkau Begitu Istimewa :.
Kami salut dan takjub dengan orang-orang yang berusia muda (juga telah tua namun memiliki semangat yang kadang lebih kencang dari anak muda), yang kontribusinya untuk dakwah sungguh amat luar biasa.Sementara teman-teman seusianya sedang sibuk merisaukan harga tiket bioskop yg naik, ia sibuk menyusun program kerja untuk Dakwah Kampus, Dakwah Sekolah, dan Dakwah di Masyarakat.

Ketika teman-teman seusianya lebih banyak habiskan anggaran untuk hiburan dan hangout, ia infaqkan harta yang ia miliki untuk agenda dakwah.

Ketika teman-teman seusianya nongkrong di coffee shop, sepekan bisa 3x nonton bioskop, ia sedang menghadiri halaqah, majelis ta’lim, dan majelis ilmu lainnya untuk menambah ilmu dan hafalan alqur’an.

Ketika teman seusianya sekedar memikirkan kesejahteraan diri dan keluarganya semata, ia memikirkan bagaimana agar masyarakat juga sejahtera.

Dan ketika ia tengah sibuk dengan dakwah, teman-temannya malah ada yang menuding bahwa ia haus kekuasaan. Niat karna Allah sajalah yang membuatnya terus bertahan di jalan dakwah.

Sungguh, para da’i, pewaris para Nabi, engkau begitu istimewa :)

 

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3:104)

“Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata: Rusulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. bersabda: Barang siapa yang menyeru orang kepada petunjuk Allah, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, dan mereka sedikitpun tidak akan dikurangi pahalanya. Dan barang siapa yang mengajak orang kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, sedikit pun ia tidak akan dikurangi dosanya”. (HR. Muslim, Malik, Abu Daud, dan Tumudzi).

Nomofobia, Penyakit Kecanduan Ponsel

Takut adalah hal lumrah bagi manusia. Misalnya, takut gelap, takut ketinggian, takut benda tajam, dan sebagainya. Namun, takut yang satu ini unik, yakni takut telepon selulernya ketinggalan alias tidak terbawa. Rasa takut ini populer disebut sebagai Nomophobia, dari kata no mobile dan phobia (=takut).

 

Tentu saja “penyakit” ini hanya dimiliki oleh orang-orang modern. Orang-orang yang tidak mau lepas dari gadget yang saling menghubungkan mereka satu sama lain. Memang, modernitas seperti dibilang sosiolog Zygmunt Baumant berjalan secara ambigu. Di satu sisi menyuguhkan kemudahan yang tidak diperoleh orang-orang di zaman sebelumnya (katakanlah dua dekade silam). Di sisi lain, modernitas juga menyuguhkan aneka risiko. Salah satunya adalah alienasi manusia pada dirinya sendiri. Orang menjadi terasing dengan dirinya. Dan, nomophobia adalah contoh konkretnya.

Bagaimana bisa seorang merasakan takut tidak bisa terhubung dengan orang lain lantaran ponselnya ketinggalan? Menariknya, hal ini tidak terjadi di era sebelum ponsel berada. Dulu, orang hidup sendiri dalam arti tidak terhubung dengan orang, juga bukan sebuah masalah. Sekarang, tidak kontak dengan orang lain, entah telepon, BBM, WhatsApp, chatting di Line dan sebagainya, hidup terasa kurang. Persis di sinilah proses alienasi teknologi terjadi. Padahal eksistensi kemanusiaan orang itu sama sekali tidak tergantung pada ada dan tidaknya ponsel tersebut.

Menurut data SecurEnvoy yang melakukan survei atas 1.000 responden di UK menemukan 66 persen responden takut dirinya ketinggalan maupun kehilangan telepon selulernya. LA Times juga melaporkan hal senada yang mana pada tahun lalu, ada 53 persen responden menyatakan khawatir ponsel mereka ketinggalan.

Perempuan, menurut kajian di atas, menjadi pihak yang merasa paling menderita dari nomophobia ini. Survei teranyar menemukan 70 persen perempuan takut kehilangan ponsel mereka. Hanya 61 persen laki-laki mengatakan mereka terjangkiti nomophobia.

Selain itu, kajian tadi juga menyebut nomophobia menjangkiti sebagian besar generasi yang lebih muda yang mana 77 persen responden yang berusia antara 18-24 tahun menderita nomophobia tersebut.

Penderita nomophobia bahkan dapat memeriksa ponselnya hingga 34 kali sehari dan sering membawanya hingga ke toilet. Ketakutan tersebut termasuk dalam hal kehabisan baterai, melewatkan telepon atau sms, dan melewatkan informasi penting dari jejaring sosial.

Gimana caranya mendeteksi Nomophobia? Perhatikan tanda-tanda berikut ini:

  1. Ketidakmampuan untuk mematikan ponsel
  2. Obsesif memeriksa panggilan, email dan SMS
  3. Terus-menerus mengisi baterai karena takut kehabisan
  4. Membawa ponsel kemanapun pergi, bahkan hingga ke kemar mandi

Hmm.. are you a Nomophobia?

Sumber: Mindtalk

I think sometimes I am, unless I am sleeping :P

 

Tanpa Sadar Mengkritisi Firman Allah

image

Ingat-ingatlah lagi: seberapa sering kita mengkritisi kalimat yang keluar bukan dari ustadz ustadzah, tapi ternyata adalah perintah atau larangan yang telah lama tertulis dalam kitab suci AlQur’an, hanya karena kita menjadikan mushaf sekedar sebagai pajangan di lemari, tanpa mau membaca ayat-ayatNya, melewatkan kesempatan untuk menelaah terjemahnya? Apa hanya dijadikan mahar untuk pernikahan saja lalu selesai? What a shame!!

Untukmu barangkali terlalu jauh jika bicara tentang mengamalkan isi AlQur’an. Baca, pahami, resapi saja dulu lah sebelum asal bicara. Kecilkan sedikit keangkuhan itu kalau tak mau membuangnya habis dari dalam diri yang kau pikir besar.

Astaghfirullaahal’adziim. Astaghfirullahal’adziim. Astaghfirullahal’adziim.

7 Kata Kunci Ajaib Google Yang Jarang Diketahui Orang

Do A Barrel Roll

Berikut Kata Kunci Ajaib Google yang jarang Diketahui Orang Seperti dilansir dari berbagi sumber:

1. Do A Barrel Roll
Ingin merasakan seperti apa rasanya terbang dengan jet tempur sembari mencari sesuatu di internet? Ketik ‘do a barrel roll’ pada bar pencarian Google dan saksikan seluruh laman akan berjumpalitan.

2. What Is The Loneliest Number?
Jangan takut menanyakan pertanyaan sulit pada Google. Ketik query ‘What is the loneliest number’ dan Google akan menjawab ‘1’. Kalkulator akan memberi jawaban sama saat Anda mengetik query ‘the answer to life, the universe, and everything’ dan ‘the number of horns on a unicorn’.

3. Askew
Saat mengetik query ini, Google akan mejadi sedikit mabuk.

4. Google Gravity
Lelah dengan Google yang tak memiliki berat? Masuk ke google.com dari pc/laptop dan ketik kata kunci “Google gravity’ lalu klik ‘I’m feeling lucky’ (di sebelah tulisan google gravity yang muncul). Saat bar pencarian, tombol dan logo jatuh ke bawah laman, Anda bisa melempar-lemparkannya di sekitar laman cukup dengan mengklik, drag dan melepasnya.

5. Recursion
Anda tahu saat masuk kamar mandi dengan banyak cermin dan saat berbalik, melihat pantulan diri seolah tak terbatas? Ini disebut recursion. Menurut Merriam-Webster, kata ini berarti ‘prosedur yang bisa diulang-ulang’. Pada Google, saat Anda mencari kata ini, Anda akan dibawa kembali dan kembali ke laman baru di mana hal ini seolah tak ada hentinya.

6. Where Is Chuck Norris?

Google akan memberi Anda laman kosong saat Anda mengklik “I’m Feeling Lucky” untuk mencari query tersebut. Pengguna akan diarahkan pada laman www.NoChuckNorris.com yang menampilkan teks dengan tulisan ‘Google tak akan mencarikan Chuck Norris karena Google tahu Anda tak mencari Chuck Norris, ia yang mencari Anda’. Laman ini juga memberi pengguna pilihan untuk mencari ‘laman dari jenggot Chuck’.

7. Once In A Blue Moon

Google Calculator juga mengembalikan pertanyaan sulit Anda. Ketik query ‘baker’s dozen’ dan kalkulator Google akan mengembalikannya dengan ‘13’. Mencari ‘once in a blue moon’ akan memberi Anda sejumlah angka komik kecil.