Berbaik Sangka Kepada Allah

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (10: 107)

 

Seringkali kita mengaku beriman kepada Allah, percaya pada takdir yang telah Allah gariskan sejak lama di Lauhul Mahfudz. Pengakuan tersebut pastilah baru bisa dipercaya jika kita terbukti mengamalkannya.

Dan fase inilah yang kini sedang saya lewati.

Kaget, shock, tak menyangka, nyaris tak percaya bahwa malam itu, Sabtu 29 Maret 2014 bapak saya tercinta dicabut nikmat sehatnya oleh Allah (untuk sementara, Insya Allah). Bapak terkena serangan stroke, anggota tubuh bapak yang sebelah kiri tidak bisa bergerak, dan pecah pembuluh darah di otak. Rasanya saya tak perlu bercerita berapa banyak derai air mata yang saya habiskan ketika kejadian tersebut. Mulai dari membawa bapak ke Rumah Sakit di dekat rumah dengan ambulance, dirujuk ke Rumah Sakit lain, sampai dengan ikut serta mendampingi bapak menjalani operasi dan pemulihan di Normah Medical Specialist Centre, Kuching.

Hidup adalah ladang hikmah. Dan kondisi saat ini adalah fase bagi saya, kami sekeluarga untuk memetik hikmah-hikmah yang demikian banyak. Saya dan keluarga senantiasa berusaha untuk husnudzon pada Allah. Inilah barangkali cara Allah menggugurkan dosa-dosa dan segala khilaf bapak. Saya bersyukur Allah menegur kami di dunia. Semoga di akhirat kelak,  yang kami dapatkan, terutama bapak yang langsung merasakan sakit, tinggal menerima ganjaran atas amalan-amalan kebaikan yang bapak lakukan selama di dunia. Aamiin ya Rabb.

Ada pula 1 pelajaran lain yang saya dapatkan dari Bapak Muchlis Muchyie, International Public Relation Executive Normah Medical Specialist Centre. Beliau menyampaikan banyak motivasi dan nasehat berguna untuk kami selaku keluarga pasien. Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika beliau mengatakan bahwa sebagai manusia, senantiasalah berlaku baik kepada semua orang bahkan kepada orang yang menjahati kita. Tak perlu membalas, karena jika kita membalas kejahatan orang tersebut dengan skenario dendam kita sendiri, maka Allah mungkin tak lagi akan turut campur membalas perbuatan jahat orang tersebut dengan caraNya yang pastilah lebih dahsyat dari skenario kita.

Saya jadi teringat pesan Anis Matta yang bunyinya kurang lebih begini: jika kita mendapati orang lain zholim kepada kita, serahkanlah urusan tersebut kepada yang di langit. Artinya, biarkan saja kita lanjut dengan kehidupan kita, karena Allah pun geram dengan perbuatan jahat manusia, dan sudah memiliki caraNya sendiri untuk memberikan balasan setimpal kepada orang yang berbuat jahat pada kita. Tugas kita adalah mengikhlaskan, kemudian serahkan pada Allah.

Saya berharap, siapapun yang membaca tulisan ini, apabila bapak saya, juga saya, pernah berlaku zholim kepada teman-teman, bersedia memaafkan kesalahan kami, sehingga Allah bukakan pintu maafNya pula untuk bapak dan Allah titipkan kembali nikmat sehat kepada bapak.

Nikah kok gak ngundang-ngundang?

Undangan Walimah

“Waah udah nikah kok gak ngundang-ngundang?” Pertanyaan begitu mestilah tak asing terutama bagi pasangan pengantin baru. Saya sendiri pun pernah mengajukan pertanyaan di atas, terutama kalau yang menikah adalah orang dekat, atau pernah menjadi orang dekat, misal: pernah 1 liqo, pernah menjadi murobbiyah, atau pernah dekat ketika 1 sekolah/kampus, tapi sayanya jangankan diundang, dikabari aja tidak sama sekali *haha, kemudian curcol ;p*.

Namun lantas saya mereview persiapan pernikahan saya sendiri. Bagian membuat list undangan memang salah satu persiapan yang lumayan menguras energi dan pikiran.

Jarak masa khitbah menuju walimah saya adalah sekitar 6 bulan. Waktu yang relatif cukup untuk mempersiapkan hal-hal yang sudah saya buatkan wedding checklistnya. Gedung, dekorasi, tata rias, kostum, daftar undangan, dan lain-lain kami siapkan dalam kurun waktu 6 bulan. And I do really need you all to know, bahwa saya bisa dibilang sudah menyiapkan list daftar undangan bahkan sejak sebelum saya dikhitbah :D

Boleh kan? Toh sejak kelas 3 SMP saya sudah punya target mau menikah di usia 23. Sebagai perempuan berjiwa bervisioner *hatsaaah*, tak perlu menunggu dilamar dong untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan saya undang ke resepsi pernikahan saya hahaha :P

Dan saya merekomendasikan persiapan ini untuk teman-teman terutama yang kini sudah masuk usia menikah. Usia menikah emangnya berapa? Yaa silakan gunakan standar sendiri. Kalau misalkan ada teman yang mengisengi dengan kalimat, “Lagian, umur sekiansekian belom kawin”, mungkin udah bolehlaah ya dari sekarang siapkan list undangan minimal dari pihak sendiri walaupun belum tau kelak nikahnya dengan siapa hihi ^^v

Supaya gampang, ketika siapkan daftar undangan, buatlah kategori-kategori. Misal, guru dan dosen, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman kerja (atasan/rekan/bawahan), orang tuanya teman akrab (terutama yang sudah kenal kita), teman-teman yang pernah 1 halaqoh, para binaan yang kira-kira perlu diundang atau minimal dikasitau *hatchiiiim*, dan kategori-kategori lain.

Jangan lupa cross check sekiranya ada nama yang sama di kategori berbeda untuk menghindari pemborosan kartu undangan. Bikin yang kayak begini kalau dari jauh-jauh hari gak akan memicu stress kok. Malah kita bisa sembari nostalgia tanpa sadar loh, bisa senyum-senyum sendiri mengingat kekonyolan di masa silam *kemudian curcol melulu*. Plus, bikin daftar undangan ini bisa disambil. Misal, di sela istirahat kerja, ketika nunggu antrian di bank, lagi di bis, dll. Dulu, saya bikinnya sambil nunggu jam ngajar berikutnya. Beres dengan koreksian, bikin coret-coretan deh untuk daftar undangan.

Khawatir terlewat orang-orang penting untuk diundang? Tenang, sekarang mah udah canggih. Ada Facebook yang bisa kita dayagunakan untuk menyortir nama-nama yang akan kita undang atau sekedar kita beritau. Bisa juga cek daftar kontak di ponsel atau email. Atau, kalau sekolah ngasi buku alumni dan masih disimpan, sekaranglah saatnya gunakan buku itu ;)

Anyway, bahkan dengan persiapan begitu pun, masih ada saja kemungkinan nama-nama yang terlewat dari daftar undangan. Dan ketika pertanyaan, “Kok gak ngundang-ngundang?” terlontar, rasanya itu….auuuw salting gimancee gitcuh. Rasanya pengen dijawab, “Siapa elo?” tapi ntar digampar hahahaha *kidding yes*.

Maka, sekarang setelah merasakan gak enak hati ketika ditanyai “Kok nikah gak ngundang-ngundang?” oleh orang yang derajat kedekatannya biasa aja dan belum pernah punya sejarah dekat, saya mulai berhati-hati mengajukan pertanyaan tersebut. Supaya aman, didoakan saja agar pernikahannya berkah.

Lagipula, tak diundang di acara walimah oleh orang yang menurut kita minimal bersedia mengabari berita pernikahannya pun bisa jadi media buat belajar ikhlas, ya khaaan?

Baiklah. Selamat membuat daftar undangan buat teman-teman yang menanti hari bahagia, baik yang sudah ada tanggalnya maupun yang masih dirahasiakan Allah. Nama saya masukkan di baris pertama kategori ‘Akhwat Kewl’ ya ;P

JULIA Perez: Jomblo Mulia Penuh Preztasi

Jadilah Jomblo Mulia

By : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Impian anak muda setelah lulus studi biasanya adalah segera nikah. Punya pasangan yg sah. Merasakan surga dunia. Itu kata mereka

2| Entah gmn ceritanya. Pembahasan nikah saat ini menjadi isu yg begitu populer terutama bagi anak muda yg tak setuju dgn pacaran.

3| Mereka memang tdk pacaran. Tapi saat orientasi pikiran hanya tertuju kpd nikah, tak sadarkah bahwa bnyak amal lain yg terabaikan?

4| Banyak  yg merasa malu jika umur sudah mapan, blm juga dapat pasangan. Akibatnya nikah kayak kejar setoran. Amal lain ditelantarkan.

5| Tak salah jika kebelet nikah. Itu normal. Namun, jgn sampai orientasi hidup utk ibadah jd lalai. Seolah jika tak nikah hidup sudah slesai

6| Banyak akhirnya jomblo yg tersandera. Blm mampu nikah namun amal lain tak ada. Pikiran diarahkan tuk buat rencana agar nikah segera

7| Beruntunglah Jomblo yg sadar diri. Bhw nikah adlh jln tuk dekati ilahi. Jika blm dpt pasangan sibukkan diri dg amal silih berganti

8| Usia muda adlh puncak segala energi. Justru ia pakai utk sebanyak2nya mengabdi kpd Ilahi. Jangan sampai tak brdakwah krn sibuk cari istri

9| Jomblo mulia punya agenda kesibukan yg padat. Berpindah dari amal yg satu ke amal lain. Tak nganggur. Maka tak ada kata galau berjamur

10| Ia tau nikah adalah setengah agama. Tapi ia juga paham, bahwa sibuk dlm amal yg lain bagian setengah agama yg lainnya.

11| Ia pahami nikah ibarat makan siang. Akan datang jadwalnya. Sambil nunggu jadwal datang maka ia bekerja. Tiba2 hidangan tersedia.

12| Perhatikan bagaimana pasien RS. Dari pagi sudah tanya tentang jatah makan siang. Tersebab mereka tak punya kesibukan. Terkapar di ranjang.

13| Jomblo yg nganggur selalu bertanya kapan ia nikah. Untuk apa? Untuk ibadah, katanya. Kalau begitu kenapa tidak banyak tilawah. Ibadah juga kan?

14| Kadang kalau jujur, urusan nikah lebih banyak masalah gengsi. Menjadi jomblo dianggap gak laku. Gak mutu. Nikah jadi diburu

15| Padahal sejarah banyak mencatat jomblo2 bermutu. Namanya abadi krn sibuk dlm amal tak kenal henti. Surga pun menanti.

16| Ibnu Taimiyah contoh Jomblo Mulia. Tak sempat nikah. Namun ia adalah mutiara ilmu bagi banyak ulama. Pahala mengalir deras baginya

17| Begitu pula dgn imam nawawi. Gelarnya muhyiddin ‘yg menghidupkan agama’. Jomblo mulia yg banyak keluarkan banyak buku dan segudang karya

18| Masih banyak contoh lain. Tak inginkah para jomblo mengikuti jejak mereka? Banyak sibuk. Tak ada waktu untuk galau dan gelisah.

19| Sesekali galau silahkan. Tapi Jomblo yg selalu galau adalah jomblo pecundang. Di dunia tak berarti, di akherat rugi. Mau?

20| Jomblo bukan dosa. Yg dosa kalau meratapi nasib dan putus asa. Gagal ukir prestasi saat sedang di puncak energi. Umur terbuang sia2

21| Setan mendekat kepada jomblo yg nganggur. Digiring kepada rasa penyesalan akan taqdir. Sesekali setan ajak tamasya pkirannya tentang pasangan.

22| Allah siapkan kejutan spesial utk jomblo mulia. Yg sibukkan diri dlm amal nyata. Tak dapat pasangan didunia, di akherat kan bersanding dengan kekasih yang ia suka surga

23| Rasul berkata : Di surga tak ada yg jomblo (lajang). Ini hadits shahih dari Imam Muslim. Cukuplah hadits ini jadi hiburan

24| Dari sekarang mulai mencatat. Amal apa yg belum dikerjakan. Segera lakukan. Doa utk nikah, terus panjatkan. Namun tetap dlm kesibukan.

25| Ingat, kewajiban kita lebih banyak daripada waktu tersedia. Mumpung belum direpotkan dgn urusan rmh tangga, banyak-banyakin amal yg lainnya

26| Kelak saat jodoh datang, merasa tak ada amal yg terutang. Semua amal sdh dikerjakan. Berlanjut dlm amal lain yg lebih menantang.

27| Tiap-tiap tahapan ada amalnya. Saat jomblo ada amalnya. Saat menikah ada amalnya. Hidupnya berpindah dari amal yg satu ke amal yg lainnya

28| Yuk ah yg masih galau karena status jomblonya. Tunjukkan bahwa jomblo banyak karya. Bahkan bisa melebihi yg sudah menikah. Mau coba?

29| Demikian kultwit tentang #JULIA Perez (Jomblo Mulia Penuh Preztasi) :D. Semoga ada manfaat. Maaf jika tak berkenan. Silahkan dishare :D

General Steps in Speech Production

There are a lot of little but meaningful things which we forget to gratitude in our every day. One of them is about how brilliant Allah Subhanahu Wa Ta’ala has created our brain in producing the languages we speak daily. Have we ever regularly been thankful for this marvelous ability? If you haven’t, let me help you notice this-amazing-yet-being-ignored-to-be-thankful-for competence.

The Most Merciful, taught the Qur’an, Created man, [And] taught him eloquence. [Ar Rahman: 1 - 4]

dhz speak

Oh yes, Allah, in fact, has stated it in The Holy Qur’an :)

And I got the scientific explanation of it when preparing my presentation for Psycholinguistics session of my vacation.

When we are about to produce an utterance, or doing conversation, we are actually passing the process which is called as SPEECH PRODUCTION. Soenjono (2005) stated that there are four general stages in producing speech: 1. Message Stage, 2. Functional Stage, 3. Positional Stage, and 4. Phonology Stage.

Levelt (1999) mentioned the first stage as Conceptual preparation, in which the intention to create speech links a desired concept to a particular spoken word to be expressed. Here the preverbal intended messages are formulated that specify the concepts to be verbally expressed.

For example: “They are paying attention to the lecturer’s explanation.”

From the sentence above, there will be a concept in our mind:

  1. There are group of people
  2. They are college students
  3. They are doing an activity
  4. The activity is paying attention to the lecturer’s explanation

That’s the first stage. The second called Functional Stage. Soenjono (2005) said that in this stage, the speaker gives the function to the words which are used.  Levelt (1999) stated that stage as formulation, and is related to grammatical encoding, morpho-phonological encoding, and phonetic encoding.

With the same sentence as the example, we should refer “They” as the Subject; meanwhile “Lecturer’s explanation” as the subject.

Then the third stage is Positional Stage. The lexical form that will be uttered is sorted based on the hierarchy meaning in this stage. “Are” is linked to “paying attention” and “Paying attention” is linked to “lecturer’s explanation”.

The last one is Phonology Stage. Because this is spoken language, so the word which we utter should follow the phonological rule of the language we speak. In his book, Psikolinguistik, Soenjono gave example: “Tutiek sedang menyuapi anaknya”. In Bahasa Indonesia, the word “Tutiek” follows the phonological rule of the language, but Ktuiek doesn’t. The vowel also must be in sequence. That’s why, “Tietuk” for example, will have different reference.

Do you see now? Our eloquence, even if we think it’s simple, is actually vividly a brilliant gift from Allah. So which of the favors of your Lord would you deny? (Ar Rahman: 13)

That’s why, let’s try to not betray HIM by speaking good, or remain silent :)

Halo, Motivasi!

Seperti apapun sulitnya perjalanan mengarungi bahtera di dunia kuliah, kobarkanlah terus semangat yang membara dalam tiap langkah temanteman. Buatlah catatan sejarah yang baik. Gelar s1 memang bukan apa-apa. Tapi perjalanan menuju ke sana menjadi sebuah pertanda, bahwa kita menghargai proses belajar, bagaimana kita menghargai kejujuran, dan pada akhirnya kepuasan tersendirilah yang akan kita raih.

Sekitar 3 tahun lalu, paragraf itu saya ketik. Hahaha, agak berapi-api ya :lol:

Well yes, rasa-rasanya saya nyaris selalu berapi-api jika bicara tentang motivasi. Pernah ketika mengikuti seleksi Mawapres Untan 2009, di sesi presentasi saya begitu bersemangat memaparkan judul karya tulis saya. Memaksimalkan Blog sebagai sarana peningkatan motivasi menulis bagi mahasiswa. Aih, ada motivasinya :P Dan bisa diterka, judul yang demikian memang membuat saya semangat memaparkan karena saya merasa di situlah passion saya: Blog, dan menulis *meskipun yang terakhir disebut itu tak juga kunjung ada peningkatan kualitas dari tahun ke tahun* :cry:

Saking semangatnya saya kala itu melakukan presentasi, setelah seleksi usai, salah seorang juri berkata pada saya, “Dini ini seperti Mario Teguh versi wanita” :lol: :lol: :lol: tak karuan saya ketawa hahaha.

Anyway ini bukan tentang saya yang seperti Mario Teguh edisi wanita. Berhubungan dengan Mario Teguh, ya bisa jadi. Karena ini tentang motivasi. Terutama, sebagaimana paragraf nostalgia yang saya jadikan sebagai pengantar, motivasi yang sedang teman-teman baca ini adalah motivasi terkait studi.

Saya menyalin status facebook dosen saya yang saat ini sedang study S3 di Amerika, bunyinya begini:

Ketika seorang mahasiswa berhasil menyelesaikan pendidikannya, banyak momen2 ‘indah’ yg tetap dikenang bahkan mungkin ada beberapa yg ingin di ulang. Contoh (saya):
1. ‘Aha’ moment (pas nemu ide)
2. ‘Brilliant’ moment (otak lagi bisa fokus dibawa baca, nulis lancar)
3. ‘down’ moment (abis ketemu dosen pembimbing & dpt oleh2 feedback warna-warni)
4. ‘procrastinating’ moment (Dgn santainya menunda mengerjakan tugas krn yakin dgn ‘the power of DueDate’)
5. ‘Stuck’ moment (otak mampet, nda bisa mikir, writer’s block)
6. ‘sleepless’ moment (lembur nda tidur2 krn dikejar2 si DD)
7. ‘panic’ moment (ketika si DD semakin mendekat)
8. ‘relieved’ moment (abis submit tugas)
9. ‘relaxed’ moment (ngantri kopi Starbuck, makan Ind’mie, hang out sama tmn2, nonton YouTube)
10. ‘horror’ moment (pas ketinggalan bis & hrs jln kaki mlm2 melewati kuburan)
11.’Sad’ moment (kangen berat sama beloved ones)
12. ‘Mouth-watering’ moment (pingin makan jajanan ‘lokal’)

Semua mahasiswa, saya yakin, paling tidak pernah mengalami 5 dari 12 point di atas. And FYI *walaupun mungkin infonya tidak berguna :P*, those lists actually one of the motivations why I decided to take more ‘Vacation;) I did miss the panic moment, relieved moment which I just felt few weeks ago haha, and also the relaxed moment which I enjoy the most :D

So seriously, if there comes somebody asking me question, what motivates me to do the study, I’ll answer that I miss the moments behind. I miss the process. People may laugh at my reason and not believe, but who cares? That’s what I felt, and my husband will still be happy sponsoring me to go on the vacation :mrgreen:

Our motivation to study hard and seriously may be varied and unique. Membahagiakan orang tua dan orang-orang yang kita sayangi adalah alasan klasik yang truistic. Tanpa sekolah lagi dan belajar yang serius pun, kita tetap harus membahagiakan mereka kan? Dan kemarin saya dijumpakan dengan 1 motivasi belajar yang keren dari scholarship hunter favorit saya 8-)

Motivasinya tak lagi sekedar alasan pribadi seperti “Ingin membahagiakan orang tua” atau “Kangen dengan masa-masa kuliah” apalagi “Ingin belajar di luar negeri dan dapat gelar internasional”, melainkan karena menjadi seorang scholarship awardee dari sebuah negara di mana penduduk miskin masih ada di sudut kota merupakan amanah yang harus dituntaskan dengan lebih serius. Biaya hidup dan belajar dari pemerintah, menurut scholarship hunter favorit saya ini, barangkali berasal dari pajak warga negara pemberi beasiswa tanpa memilah latar belakang ekonomi mereka. Which means, uang pajak yang dibayarkan si miskin mungkin saja digunakan untuk makan di sebuah restoran mahal di suatu sore. Semacam itulah.

So then, sudah sejauh mana kita mengejawantahkan motivasi yang kita miliki ke dalam aktivitas belajar kita? We decide it, and we do it :)

Ingress makes us move

Pertama kali membaca kata ‘Ingress’, saya mengira itu semacam plesetan dari Inggris. Lewat akun instagramnya, bang Freddy Hernawan-lah yang pertama kali berhasil membuat saya penasaran dan mencari tau tentang Ingress. Well, Ingress rupanya aplikasi yang tersedia di Play Store.

Sebagai seorang yang mengaku sebagai ‘social butterfly‘, saya merasa perlu untuk punya akun di aplikasi yang ketika selesai saya unduh saya masih tak paham itu untuk apa. Yang penting punya akunnya: diniehz. Selesai :lol:

Hingga kemudian bang Freddy mendeteksi keberadaan saya di Ingress lewat username yang khas itu, lalu mengundang saya jadi member Grup Whatsapp Enlightened Kalbar. Dan saya tetap bingung harus saya apain ini Ingress. Sempat terpikir mau leave grup dan uninstal aplikasinya, tapi untunglah tak jadi hehe ^^v

Ketika mengunduh, saya sudah googling dan cari tau tentang cara main Ingress yang juga bisa teman-teman baca di sini. Dan pencarian saya selesai sampai membaca artikel tersebut, tanpa bergerak kemana-mana :P

Supaya paham tulisan ini lebih lanjut, ada beberapa terms Ingress yang harus teman-teman pahami, such as: agen, portal, resonator, deploy, hack, control field, portal key, dan lain sebagainya yang saya pun sampai hari ini masih pelajari. Di artikel yang tadi saya share sudah dijelaskan kok beberapa istilah di Ingress :)

25 November 2013 pertama kali saya bikin akun Ingress dan memilih menjadi agen Enlightened 8-)  dan baru 2 bulan kemudian saya mulai sedikit paham bagaimana mendayagunakan aplikasi Ingress di Android saya. Itu pun, karena didampingi suami saya :lol:

Dari interaksi para agen di grup WhatsApp, sepintas saya sempat membaca bahwa di Pasir Panjang Singkawang ada portal. Saya pun nyalain scanner, dan voila! Terdeteksi ada 2 portal di kawasan Pasir Panjang. Ohiya, kenapa saya dan suami bisa ada di Pasir Panjang itu nanti saya ceritakan di masa yang akan datang aja ya *kalo inget :P

Awalnya saya sempat ragu whether or not mau bergerak mainin Ingress. Soalnya, jarak portal yang ada di Pasir Panjang dari hotel tempat kami menginap lumayan jauh untuk ukuran perempuan yang tak pernah jarang jalan kaki seperti saya. Di layar screener, tertulis jaraknya sekitar 2 km dari hotel – portal – hotel. “Yakin nih mau jalan kaki?” tanya suami saya. Yaah mumpung lagi di Pasir Panjang, hajarrrr.

Allah memang memberikan kita pasangan yang bisa saling mengisi satu sama lain. Tiba di lokasi portal, di kala saya kebingungan harus ngapain dengan Ingress meskipun udah baca artikel, suami saya jualah yang benar-benar ngerti cara maininnya dan akhirnya menyelesaikan berbagai macam misi untuk level 1 Ingress hahaha. Saling mengisi macam apa ini :lol: :P

Dan di situlah saya mulai merasakan SERUnya main Ingress. It forces me to move, to go outside, to feel the adventure, to go out of my box! Sehingga besoknya, saya dan suami memutuskan untuk mengitari sebagian wilayah Pontianak untuk ngehack portal dan deploy beberapa portal. Perasaan saya? Entah kenapa saya merasa riang gembira :D

Well, after reading the whole of this post, I believe some of you will frown. But it’s good you have read till the end, anyway hehehe.

Wanna feel the sensation of playing Ingress? Do it! And be the enlightened agent 8-)

Kita dan Chemistry yang Entah Kemana

Dulu saya mengira, saya adalah satu-satunya orang yang bisa kehilangan ‘chemistry’ dengan beberapa orang yang dulu pernah langsung atau pelan-pelan dapet ‘click’nya. Rupanya ini adalah common case. Paling tidak, sudah atau baru 2 orang yang saya tau yang mengalami this kind of unique losing. A bound losing.

Apa teman-teman juga pernah mengalaminya? Ketika suatu waktu berjumpa dengan kawan yang dulu demikian akrab dan tak pernah kehabisan topik kala berbincang, bahkan saling diam pun tetap terasa nyaman, lalu tiba-tiba menjadi sangat canggung dan ingin segera menyelesaikan percakapan karena situasi yang tak nyaman? Kalau pernah, berarti minimal ada 4 orang yang pernah merasakan chemistry yang hilang: I and my 2 friends, plus you :)

Chemistry in a relationship is something really unique. If a friendship can exist because there are things in common between or among people, this chemistry stuff, based on my experience, doesn’t really happen because of the things in common. Things in common is the part, yes. But the fact is, not all people with things in common with us can be close and automatically have the chemistry, rite? Yep, I feel it ;)

Ada beberapa orang yang punya cukup banyak kesamaan dengan saya, misal sama-sama suka menulis, sama-sama suka Bahasa Inggris, sama-sama suka jalan-jalan, dan banyak sama-sama lainnya, tapi tak lantas bisa membuat saya akrab dan merasa nyaman ketika harus berlama-lama dengan mereka. It’s hard to explain further, but I believe it’s simply because we don’t own the chemistry.

Sebaliknya, ketika sudah ada chemistry, bahkan ketika menemukan hal yang tidak sama atau bertolak belakang sekalipun, misal saya memilih untuk berkarir di rumah sedangkan dia lebih senang karir di luar rumah, saya suka pedas dia anti pedas, saya berhijab sangat lebar dia belum *atau tidak berhijab, bahkan* dan sebagainya, the bond is still there! The conversation is always going fun. The atmosphere always brings a bliss.

Dan tiba-tiba chemistry itu hilang entah kemana.

Berdasarkan pengalaman saya, faktornya bisa beragam. Tapi yang paling memberi andil adalah komunikasi yang tak lagi dijaga. Jarak dan jarang berjumpa? Bisa juga. Tapi saya pribadi sudah membuktikan, bahwa jarak bisa diatasi. Bukankah orang bijak pernah berkata: “True friendship isn’t being inseparable. It’s being separated and nothing changes” ;)

Apalagi di era serba digital seperti sekarang. Hanya jarak di hutan belantara saja yang bikin komunikasi jadi susah. Soalnya gak ada sinyal hahaha :P

Komunikasi adalah cara kita menjaga chemistry. Sedangkan saling berjumpa adalah ruang di mana kita melihat, masih adakah chemistry di antara kita? Atau ia mengdihilangkan entah kemana?

Chemistry is not a mystery. A mystery is the reason behind your choice to keep the distance away. That’s it :)