I can’t imagine life without aeroplane 

Have you ever imagined if an airplane was never invented? Let’s have a minute and be thankful to God for He has created human beings with such an indigenous brain so today we can enjoy traveling fast and comfortably by an airplane ✈ 

I can’t imagine what if Abbas ibn Firnas had never tried to fly with his glider in 852. Rite, according to a source I read in Researchgate, Muslim Memo, Forgotten Islamic History via Kompas, it turns out that Wright Brothers were actually not the first human being who flew. Ibn Firnas was the one. Anyway, whoever first invented the airplane, let’s appreciate and respect them because their intelligence has contributed a lot to human beings until today! 

If I have to imagine, I guess life without aeroplane must be very chaos and complicated. As an individual, we wouldn’t be able to reach a destination with a long distance shortly. From economics side, many countries might encounter a crisis. Well a trade might be still happening, but it wouldn’t be as great and quick as today. Not to mention from the health side. Many people dying out there need an extra fast service for medicine and health care equipments. Everything would ruin. 

Without aeroplanes, there would be no quick goods delivery, no quick traveling, no quick and stable economy running in the countries, wow aeroplanes really take an important role in our life! 

Viva Aeroplanes!! ✈ ✈ ✈ 

245 tahun Kota Pontianak 

Sebagai perempuan yang atas saran suami memutuskan untuk bergamis tiap ke luar rumah, maka saat saya mengenakan pakaian seperti foto di postingan ini, kebaya + rok corak insang khas melayu, adalah pertanda bahwa saya menghadiri special occasion. Bukan berarti saya tidak menghormati sebuah acara dan menganggapnya menjadi tidak spesial saat saya menghadiri acara itu dengan bergamis loh ya 😉 Simply because that’s now the way I dress. 

Seperti hari ini, 23 Oktober 2016, a very special occasion for Pontianak citizen. Ulang tahun Kota Pontianak yang ke 245 🎉🎉🎉🎉 Dirgahayu Pontianak-ku. Berhubung tanggal 23 Oktober tahun ini adalah hari minggu, maka untuk memperingatinya, sejak jumat kemarin para pekerja di beberapa institusi menyemarakkan hari jadi Pontianak dengan memakai baju kurung khas melayu. Beberapa sekolah bahkan bikin lomba dan parade busana. 

Berbusana melayu saat ke tempat kerja tentu bukan satu-satunya cara memperingati hari jadi kota Pontianak, yes? Hal penting lainnya adalah memberi kontribusi positif untuk kota yang kita tinggali. What have we done to our city? Tahun lalu, saya membuat tulisan berjudul “Pontianak Menyapa Dunia” yang isinya tentang 7 hal yang bisa dilakukan agar kota yang kita tinggali saat ini memiliki reputasi positif tak hanya di mata warga kota lainnya, tapi juga di mata warga dunia. Kontribusi macam apa yaa yang sudah saya lakukan untuk Pontianak 💭

Menuliskan harapan-harapan untuk kota kita tercinta ini tentu mudah sekali ya. Saya sendiri punya banyak harapan untuk kota Pontianak. Yang paling klasik tentu saja harapan supaya Pontianak semakin maju, ndak sering lagi mati lampu, dan semakin banyak tempat wisata yang instagrammable. Baik untuk wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. 

Sampai detik ini, saya masih membayangkan area Sungai Jawi Pontianak menjadi salah 1 lokasi wisata, dengan dinding parit kanan kiri yang dicat warna warni seperti pelangi, lalu ada sampan lancang kuning yang membawa para wisatawan menyusuri sungai. Mungkin hanya bisa dioperasikan saat sungainya tidak terlalu surut dan tidak terlalu pasang. 

Begitu juga pemukiman warga di bawah jembatan kapuas. Kalau terlalu mustahil untuk digusur, mungkin boleh kali ya meniru ide kota Malang yang ‘mewarna-warnikan’sebuah pemukiman menjadi “layak jepret” 😁

Picture credit by: Mu’allimat Yogyakarta

Saya juga membayangkan Pontianak memiliki 1 area khusus yang menyediakan makanan khas Pontianak dengan toko oleh-oleh di sekitarnya. Seperti food bazar atau festival makanan gitu. Jadi, para wisatawan cukup mampir ke 1 tempat, lalu pilih sendiri makanan yang ingin dicicipi. Chai kue, ikan asam pedas, sate pontianak, mie sagu, bubur paddas, kwe tiau, pisang goreng pontianak, kue bingke, es lidah buaya, aiiih jadi laper. Setelah kenyang makan, cukup jalan kaki ke tempat belanja oleh-oleh. Kalo kurang puas dengan makanan di tempat tersebut, baru deh muter-muter ke restoran atau tempat makan lainnya. Asyik, kan? 1 stop eating and shopping. Atau sudah ada ya tempatnya di Pontianak? Kalo ada berarti saya yang kurang update 😂.

Taman Alun Kapuas, Tugu Khatulistiwa, Aloe Vera Center, Rumah Radakng, Taman Digulis Untan, well Pontianak has several places to visit. Tapi boleh kan kalo ditambahin? Ayooo investor mana nih yang mau berinvestasi di Pontianak? 😉

Umrah: Traveling Spiritual ke Tanah Suci

Umrah dan haji adalah perjalanan spiritual yang penting untuk umat Islam. Pergi ke Tanah Suci Makkah di Arab Saudi lebih dari sekadar ibadah, tapi ada wisata religi yang dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah.

Dari buku Ensiklopedi Tematis Ayat Al Quran dan Hadits terbitan Widya Cahaya, umrah adalah berziarah. Secara syariah, umrah adalah berbaju ihram, melakukan Tawaf memutari Ka’bah, Sa’i dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa, bercukur atau memotong rambut.

Bedanya dengan haji adalah, umrah tidak melakukan Wuquf di Arafah, tidak menginap di Muzdalifah dan tidak melempar Jumrah. Namun yang jelas, animo orang untuk melakukan umrah terus meningkat setiap tahun apalagi di Bulan Ramadan seperti sekarang ini.

Umrah membawa para jamaah menuju Makkah, berkunjung ke Masjidil Haram. Masjid paling besar dan paling suci untuk umat Islam. Inilah tempatnya Ka’bah, kiblat salat untuk umat Islam di seluruh dunia dan tempat dimana doa dikabulkan. Di sini, jamaah yang berbaju ihram melakukan Tawaf memutari Ka’bah, Sa’i dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa diakhiri dengan bercukur atau memotong rambut.

Selanjutnya mereka berziarah ke banyak tempat seperti ke Masjid Nabawi di Madinah untuk melihat Raudhah, area halaman rumah Rasulullah yang kini menjadi bagian masjid tersebut. Ada pula ziarah ke aneka destinasi wisata religi penting seperti Jabal Rahmah, tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa, sampai aneka destinasi wisata belanja seperti supermarket Bin Daud.

Ratusan biro perjalanan haji dan umrah bertebaran di seluruh Indonesia menunggu untuk didatangi calon jamaah. Umrah pada hari ini adalah sebuah tren traveling, tak ubahnya orang bepergian ke Singapura atau Bangkok. Bedanya, umrah adalah traveling yang memiliki dasar religi yang kuat.

Selebihnya, umrah adalah bicara mengenai aneka paket tur yang memberikan jamaah banyak pilihan. Semuanya bisa disesuaikan dengan isi kantong, fasilitas yang didapatkan pun tentu berbeda. Umrah bisa dimulai dari kisaran Rp 18 juta-an sampai Rp 50-an juta. Yang paling mahal biasanya menyertakan agenda traveling ke negara lain seperti Mesir dan Turki.

Apapun paket umrah yang dipilih, itu bergantung pada selera para jamaah. Satu hal yang pasti, Tanah Suci Makkah memiliki magnet dahsyat untuk sebuah traveling lintas negara yang dilakukan umat Islam atas nama mendekatkan diri kepada Allah.

Labbaik Allahuma labbaik!

Sumber: detikTravel

Ongkos Traveling ke Singapore dari Pontianak

Tulisan ini merupakan rangkaian dari tulisan saya tentang program KEy Smart Traveling.

Biaya perjalanan menuju Singapore sebetulnya beragam. Tergantung dari kota mana kita berangkat. Berhubung waktu itu saya dan rombongan berangkatnya dari Pontianak, maka kali ini saya akan menyajikan estimasi biaya traveling dari Pontianak ke Singapore, roundtrip, alias pp, alias pulang pergi, dengan perhitungan 16 orang yang menjadi peserta traveling.

Tiket Pesawat

Kami berangkat ke Singapore dari Kuching dengan pesawat Air Asia. Harga tiket yang kami dapatkan untuk tiap orang berbeda-beda, berkisar antara Rp. 800.00 – Rp. 1.200.000 per orang untuk penerbangan roundtrip Singapore – Kuching – Singapore. Berhubung ini adalah traveling komunitas, maka harga tersebut kami bagi rata menjadi sekitar Rp. 1.100.000 per orang.

Tiket Bus

Demi menghemat biaya, kami memilih menggunakan bus untuk menuju Kuching. Bus yang kami pilih adalah Bus Eva yang berada di Jl. Sisingamangaraja Pontianak. Tiket bis roundtrip Pontianak – Kuching – Pontianak untuk Bus Eva kelas super adalah Rp. 380.000 per orang.

Fee + Potongan Kartu Kredit + Potongan Bank

Fee dan potongan kartu kredit ini berlaku karena kami menggunakan jasa perusahaan travel untuk pesan tiket. Sedangkan potongan bank untuk uang yang kami tabungkan di bank demi keamanan. Total biayanya adalah Rp. 93.000 per orang

Penginapan di Kuching

Berhubung kami pulang dari Singapore dengan jadwal keberangkatan siang hari, maka kami harus transit 1 malam di Kuching untuk keberangkatan bus ke Pontianak esok harinya. Kami memutuskan untuk menginap di Laila Inn. Kami memesan 4 kamar sehingga 1 kamar berisi 4 orang. Biaya penginapan di Kuching + biaya telpon hostel untuk booking sekitar Rp. 100.000/orang/malam.

Penginapan di Singapore

Di Singapore kami memilih hostel yang murah meriah: ABC Hostel yang per malamnya dikenai biaya $22 atau sekitar Rp. 174.000. Kami menginap selama 2 malam, sehingga per orang dikenai biaya Rp. 348.000. Di ABC Hostel, pengunjung juga akan dikenai biaya $10 untuk sewa kunci kamar. Tapi uang ini nanti akan dikembalikan lagi saat kita check out.

Transportasi

Selama di Singapore, kami lebih banyak naik MRT, jalan kaki, dan naik bis. Untuk MRT dan bis, kita perlu membeli EZ Link Card seharga $12. EZ Link Card ini bisa diisi ulang kalo saldonya habis. Sebagai persiapan, kami menganggarkan $40 untuk transport, yang kalo dirupiahkan jadi sekitar Rp. 316.000 per orang.

Di Malaysia, kami memilih naik taksi. Untuk transportasi selama di Malaysia, kami anggarkan RM30, atau sekitar Rp. 95.000 per orang.

Maka, jika ditotalkan, transport di Singapore + Malaysia yaitu Rp. 411.000 per orang.

Makan dan Minum

Untuk makan dan minum selama di Singapore + Malaysia, kami menganggarkan Rp. 395.000 per orang.

Belanja souvenir

Belanja souvenir kami anggarkan dari dana yang tersisa untuk keperluan di atas, menjadi Rp. 173.000 per orang.

Maka, total seluruhnya adalah Rp. 3.000.000 per orang.

Tentu saja tiap peserta dipersilakan untuk membawa bekal uang masing-masing. Kalau tidak sempat menukarkan uang di Pontianak, bisa ditukar di money changer yang ada di airport, baik Changi maupun Kuching International Airport.

Untuk detail cerita perjalanan kami, bisa dibaca di blog saya 🙂

Nah, have a nice traveling!