Why I Continue My Study

I believe that our motivation to continue (or not to continue) our study to university level must be various and has its own uniqueness. So did mine. 

Few years ago, I wrote about this in a posting entitled “Halo, Motivasi!“. I re-read it, and suddenly appeared one mysterious motivation inside me to continue study to S3 level πŸ˜‚πŸ˜­ Noo waay, I’m not sure I’m ready hahaha. 

Anyway, what were actually my real intentions to continue my study to postgraduate level? Isn’t it enough, even more than enough to have S.Pd behind my name? 

Well, it turns out that it’s not about having the degree. It’s about my huge eagerness to learn. For me, learning something has no ending. Including learning English, or for my case is English language education. I always want to learn. I declare myself as a lifetime learner. We all are lifetime learners, aren’t we? 

Never ever crossed to my mind before I finally deciding to continue my study that I would move to Pontianak and become a lecturer at Untan. Moreover, I am not a civil servant. I did not work for any institution. I had no affiliation to any academic institutions at all at the time I decided to continue my study. And for your information, I continued my study with no scholarship from anyone but from my husband. My husband was the one who paid everything, starting from the study fee, the costs for books, all in. And I’m really glad of it because it means, I don’t “owe” myself to anyone but my husband 😁😁😁😁

So then, why did I really want to continue my study to postgraduate level? At that time, in 2003, I really missed the “aha + brilliant moment”, when an idea for doing assignments from lecturers came to mind. I also did miss “relieved and relaxed moment”, when the assignments were finally done and submitted to the lecturers no matter what my score would be πŸ˜πŸ˜‚. I missed the learning atmosphere. I missed hanging out with my classmates when having the class break. Somehow, those stuffs I mentioned above actually can still be realized in the workplace, although of course the sense is different.

Now that I am already in the workplace, I really feel the advantage of having those formal education. Not about money or position, but about mindset and knowledge. I know that we can always upgrade ourselves through any kind of life stages we experience, but I believe, formal education always offers us something that we might not find outside the classroom door πŸ˜ƒ

Halo, Motivasi!

Seperti apapun sulitnya perjalanan mengarungi bahtera di dunia kuliah, kobarkanlah terus semangat yang membara dalam tiap langkah temanteman. Buatlah catatan sejarah yang baik. Gelar s1 memang bukan apa-apa. Tapi perjalanan menuju ke sana menjadi sebuah pertanda, bahwa kita menghargai proses belajar, bagaimana kita menghargai kejujuran, dan pada akhirnya kepuasan tersendirilah yang akan kita raih.

Sekitar 3 tahun lalu, paragraf itu saya ketik. Hahaha, agak berapi-api ya πŸ˜†

Well yes, rasa-rasanya saya nyaris selalu berapi-api jika bicara tentang motivasi. Pernah ketika mengikuti seleksi Mawapres Untan 2009, di sesi presentasi saya begitu bersemangat memaparkan judul karya tulis saya. Memaksimalkan Blog sebagai sarana peningkatan motivasi menulis bagi mahasiswa. Aih, ada motivasinya πŸ˜› Dan bisa diterka, judul yang demikian memang membuat saya semangat memaparkan karena saya merasa di situlah passion saya: Blog, dan menulis *meskipun yang terakhir disebut itu tak juga kunjung ada peningkatan kualitas dari tahun ke tahun* πŸ˜₯

Saking semangatnya saya kala itu melakukan presentasi, setelah seleksi usai, salah seorang juri berkata pada saya, “Dini ini seperti Mario Teguh versi wanita” πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜† tak karuan saya ketawa hahaha.

Anyway ini bukan tentang saya yang seperti Mario Teguh edisi wanita. Berhubungan dengan Mario Teguh, ya bisa jadi. Karena ini tentang motivasi. Terutama, sebagaimana paragraf nostalgia yang saya jadikan sebagai pengantar, motivasi yang sedang teman-teman baca ini adalah motivasi terkait studi.

Saya menyalin status facebook dosen saya yang saat ini sedang study S3 di Amerika, bunyinya begini:

Ketika seorang mahasiswa berhasil menyelesaikan pendidikannya, banyak momen2 ‘indah’ yg tetap dikenang bahkan mungkin ada beberapa yg ingin di ulang. Contoh (saya):
1. ‘Aha’ moment (pas nemu ide)
2. ‘Brilliant’ moment (otak lagi bisa fokus dibawa baca, nulis lancar)
3. ‘down’ moment (abis ketemu dosen pembimbing & dpt oleh2 feedback warna-warni)
4. ‘procrastinating’ moment (Dgn santainya menundaΒ mengerjakan tugas krn yakin dgn ‘the power of DueDate’)
5. ‘Stuck’ moment (otak mampet, nda bisa mikir, writer’s block)
6. ‘sleepless’ moment (lembur nda tidur2 krn dikejar2 si DD)
7. ‘panic’ moment (ketika si DD semakin mendekat)
8. ‘relieved’ moment (abis submit tugas)
9. ‘relaxed’ moment (ngantri kopi Starbuck, makan Ind’mie, hang out sama tmn2, nonton YouTube)
10. ‘horror’ moment (pas ketinggalan bis & hrs jln kaki mlm2 melewati kuburan)
11.’Sad’ moment (kangen berat sama beloved ones)
12. ‘Mouth-watering’ moment (pingin makan jajanan ‘lokal’)

Semua mahasiswa, saya yakin, paling tidak pernah mengalami 5 dari 12 point di atas. And FYI *walaupun mungkin infonya tidak berguna :P*, those lists actually one of the motivations why I decided to take more ‘Vacation‘ πŸ˜‰ I did miss the panic moment, relieved moment which I just felt few weeks ago haha, and also the relaxed moment which I enjoy the most πŸ˜€

So seriously, if there comes somebody asking me question, what motivates me to do the study, I’ll answer that I miss the moments behind. I miss the process. People may laugh at my reason and not believe, but who cares? That’s what I felt, and my husband will still be happy sponsoring me to go on the vacation :mrgreen:

Our motivation to study hard and seriously may be varied and unique. Membahagiakan orang tua dan orang-orang yang kita sayangi adalah alasan klasik yang truistic. Tanpa sekolah lagi dan belajar yang serius pun, kita tetap harus membahagiakan mereka kan? Dan kemarin saya dijumpakan dengan 1 motivasi belajar yang keren dari scholarship hunter favorit saya 😎

Motivasinya tak lagi sekedar alasan pribadi seperti “Ingin membahagiakan orang tua” atau “Kangen dengan masa-masa kuliah” apalagi “Ingin belajar di luar negeri dan dapat gelar internasional”, melainkan karena menjadi seorang scholarship awardee dari sebuah negara di mana penduduk miskin masih ada di sudut kota merupakan amanah yang harus dituntaskan dengan lebih serius. Biaya hidup dan belajar dari pemerintah, menurut scholarship hunter favorit saya ini, barangkali berasal dari pajak warga negara pemberi beasiswa tanpa memilah latar belakang ekonomi mereka. Which means, uang pajak yang dibayarkan si miskin mungkin saja digunakan untuk makan di sebuah restoran mahal di suatu sore. Semacam itulah.

So then, sudah sejauh mana kita mengejawantahkan motivasi yang kita miliki ke dalam aktivitas belajar kita? We decide it, and we do it πŸ™‚