​Stres Dalam Rumah Tangga Lebih Berbahaya Dibanding Stres di Tempat Kerja

Ilmu kesehatan jiwa menemukan bahwa stres yang muncul dalam kehidupan rumah tangga ternyata memberikan pengaruh yang lebih buruk dan lebih berbahaya dibandingkan dengan stres di lingkungan pekerjaan. 
Hal itu diungkapkan oleh Tara Parker-Pope, penulis buku “For Better: The Science of a Good Marriage”. Mengapa bisa demikian?

Tara menjelaskan, “Karena stres dalam rumah tangga dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan seringkali sulit untuk dielak atau dihindari, dan banyak pasangan selalu terpapar dengan masalah ini setiap hari, setiap bulan dan bahkan setiap dekade.”

Lebih lanjut Tara menyatakan, ”Banyak pasangan yang hanya menilai seberapa sering (kuantitas) mereka bertengkar atau berargumentasi, misalnya ‘kita lebih sering bertengkar belakangan ini’ atau ‘kita tidak banyak bertengkar akhir-akhir ini.’ Sebenarnya frekuensi pertengkaran tidaklah penting. Yang lebih menentukan adalah ‘kualitas’ pertengkaran tersebut”.

Artinya, walaupun sering bertengkar namun mereka mampu segera mencari solusi dan menyelesaikannya dengan baik, maka tidak membahayakan kehidupan rumah tangga. Walaupun jarang bertengkar namun mereka tidak mampu mengelola pertengkaran dengan baik, justru bisa memberi pengaruh yang negatif. 

Intinya adalah : kemampuan mengendalikan faktor yang bisa memicu munculnya stres dalam kehidupan keluarga.

Contoh rumah tangga yang tidak stress 😁😜😍

Sumber tulisan: Fanpage Cahyadi Takariawan

Hari Kesehatan Dunia

Setiap tahun, tanggal 7 April diperingati sebagai Hari Kesehatan Sedunia. Tahun ini, tema global yang diangkat oleh World Health Organization (WHO) adalah “Depression: Let’s Talk”, dengan tema nasional adalah “Depresi: Yuk Curhat!”. 

Sebuah fakta yang perlu Bujang Dare ketahui, bahwa depresi yang berlarut-larut dan tidak ditangani, dapat mengantarkan pada tindakan bunuh diri. Hampir 800.000 kematian akibat bunuh diri terjadi setiap tahun terjadi di dunia atau dengan kata lain setiap 40 detik, seorang meninggal karena bunuh diri.

Ibu Yuni Djuachiriaty, S.Si M.Si, psikolog di RSJD Sungai Bangkong Provinsi Kalimantan Barat menjabarkan, tidak ada depresi yang terjadi secara mendadak. 

Depresi dimulai karena ada stressor atau penyebab stres yang muncul secara bertahap. Misalnya, ketika SD, sering dibully oleh teman-teman, kemudian saat beranjak SMP, nilai sering anjlok, sering dimarahi orang tua, lalu berlanjut hingga SMA. Ketika kuliah, mendapat tekanan dari senior di kampus, lalu setelah lulus, sulit mendapat pekerjaan. Ketika berhasil masuk dunia kerja, ternyata, tetap mendapat tekanan dari atasan. Hal-hal tersebut di atas disebut sebagai stressor, yang kemudian terakumulasi dan bisa menyebabkan depresi berat. 

Jika penderita depresi sudah masuk tahap depresi berat, kemudian memutuskan untuk bunuh diri setelah kejadian tertentu, misalkan karena berkelahi dengan pasangan, maka kejadian itu disebut sebagai faktor pencetus bunuh diri, bukan penyebabnya. Penyebabnya adalah stressor yang sudah terakumulasi.

Oleh sebab itu, Ibu Yuni mengajak kita untuk kenali ciri-ciri depresi dan penanganannya sebelum menjadi depresi berat.


Tonton video lengkapnya di Chanel YouTube saya 😀😀😀

Selamat Hari Kesehatan Dunia!