Tips untuk yang Masih Berhutang

Saat bangkrut dulu, saya pun sama seperti Anda, yang gak punya uang dan banyak sekali hutang yang harus dibayar.

Kesel? Pasti…

Stress? Pasti…

Puyeng? Apalagi…

Wabil khusus kalau nilai hutangnya nyampe angka miliaran. Wong tetangga saya aja ada yang hutangnya cuma puluhan juta, sempat mau bunuh diri, saking frustasinya… untung gak jadi.

Ya begitulah gambaran orang yang gak punya uang dan banyak hutang. Ini persis yang digambarkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam doa yang pernah diajarkan.

Abu Said Al-Khudhri RA bertutur: 

Pada suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah RA sedang duduk di sana. Beliau bertanya: ”Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?” 

Ia menjawab: ”Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.” 

Beliau bertanya: ”Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?” 

Ia menjawab: ”Tentu, wahai Rasulullah.” 

Beliau bersabda:

”Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” 

Kata Abu Umamah radhiyallahu ’anhu: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud)

**

Coba perhatikan konteks doa yang diajarkan Rasulullah di atas, akan kita temukan beberapa poin, diantaranya: bingung, sedih, lemah, malas, pengecut, dan kikir. Betul?

Nah begitulah kondisi orang yang sedang berhutang. Tergambar jelas kondisi hati dan pikirannya dari isi doa tersebut.

Dan hal tersebut pernah Saya rasakan…

Bagaimana Saya bingung gimana caranya bisa menyelesaikan hutang tersebut…

Bagaimana Saya sedih setiap kali mendapatkan ancaman dan kekerasan dari para debt collector serta investor…

Bagaimana Saya lemah karena tak berdaya dan tak bisa bergerak kemana-mana, seperti kecoa yang terbalik dan tak bisa kembali jalan…

Bagaimana Saya malas karena dirasuki banyak ketakutan dalam setiap usaha yang dilakukan…

Bagaimana Saya jadi pengecut dan tak berani mengangkap telepon dari para pihak yang menagih Saya….

Dan bagaimana Saya menjadi kikir, pelit, jarang sedekah. Pikirku, “Wong hidup aja susah, apalagi sedekah…”

Sampai Saya akhirnya menemukan pola yang tepat untuk menghadapi masalah dan ujian tersebut.

Jadi, kalau kita dalam kondisi sempit, gak punya uang, dan banyak hutang, saran Saya beranikan diri untuk SEDEKAH.

Karena di para penduduk langit, sedekah itu bukan dari yang kaya ke yang miskin, tapi dari yang MAU ke yang MEMBUTUHKAN.

Orang miskin, bisa LAPANG, kalau dia dermawan…

Orang kaya, bisa SEMPIT, kalau dia pelit….

Terserah, Anda mau jadi golongan mana?

Atau jangan-jangan, udah miskin, pelit pula? 

Naudzubillahi min dzalik.

Imam Syafi’i pernah berkata:

Pekerjaan yang berat itu hanya ada tiga:

1. Bersedekah di saat sempit (sulit).

2. Menghindari dosa di saat sendiri. 

3. Berkata benar di hadapan orang yang ditakuti.

Nah, kan….

Perkataan tersebut Saya dapat dari timeline guru Saya, Mas Andre Raditya, yang juga inisiator SiJum (Nasi Jumat).

Sumber : Dewa Eka Prayoga

Kultwit tentang Sedekah oleh Ustadz Fauzil Adhim @kupinang

Luruskan Niat

  1. Sesungguhnya rezeki yang barakah, bertambahnya membawa kebaikan dan berkurangnya tidak menyesakkan dada.
  2. Sedangkan rezeki yang tidak barakah, bertambahnya membuat kehidupan rumah-tangga terasa hambar & berkurangnya menjadikan hati semakin rusuh.
  3. Sesungguhnya, pd harta kita ada hak org-org miskin –yg meminta maupun tidak—serta org-org yg sgt memerlukan, di luar zakat yg kita tunaikan.
  4. Janganlah memberi sedekah karena mengharapkan dunia, sebab ini dapat menggelincirkan kita dunia akhirat.
  5. Marilah kita renungkan sejenak nasehat Dr. Ahmad Faridh dalam kitabnya yang berjudul Tazkiyatun Nufus.
  6. Beliau menunjukkan ada hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu ttg TIGA golongan yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka, >>
  7. >> yaitu orang yg berperang, yg bersedekah & yg membaca Al-Qur’an dg tujuan mengejar dunia & mndapat keuntungannya. Periksa di Shahih Musim.
  8. Oleh sebab itu, jagalah agar sedekah kalian tetap ikhlas semata karena mengharap ridha Allah ’Azza wa Jalla. Bukan untuk mendapat mobil.
  9. Sungguh, Allah Ta’ala tidak membutuhkan sedekah yang tidak ikhlas, meskipun untuk membangun masjid-masjid dan panti asuhan.
  10. Jika sedekah u/ mmperoleh dunia yg lbh banyak, di dunia belum tentu dpt, sdgkan di akhirat tak mndapatkan knikmatan apa-apa dr sedekah kita.
  11. Sesungguhnya, yg pasti memperoleh balasan di dunia ini atas sedekahnya adlh orang-orang kafir. Tapi mereka tidak mendapat bagian di akhirat.
  12. “وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى” QS. Thaahaa, 20: 132
  13. Allah Ta’ala berfirman, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. >>
  14. >> Kami TIDAK MEMINTA REZEKI kepadamu, Kami yg memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yg baik) itu adlh bagi orang yg bertakwa.” QS. 20: 132
  15. Maka, jangan sekali-kali merasa berjasa kepada Allah Ta’ala karena sedekah yang engkau keluarkan.
  16. Sungguh, sedekahmu tak cukup untuk menukar nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadamu, andai saja engkau harus membayar nikmat itu.
  17. Maka, alangkah ruginya… Betapa celaka… RT @rifqifauzi: @kupinang sedekah dg niat tdk krrn Allah mndpt ancaman neraka baca Qs. Hud:15-16
  18. Beruntung yg bersihkan jiwa. RT @heninggar: Kunci perubahan bukan pd maal (harta) dan mulk (kekuasaan), tp pada nafs (jiwa) | via @kupinang
  19. RT @hanifacep: @fsiera wa la tamnun tastaktsir…dan janganlah engkau memberi untuk mengharap menerima lebih banyak (QS. Al-mudatstsir: 6)
  20. Renungi: “ومن الناس من يعجبك قوله في الحياة الدنيا ويشهد الله على ما في قلبه وهو ألد الخصام” QS. 2: 204
  21. Renungi: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, >>
  22. >> dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” QS. 2: 204

 

Disalin dari: Chirpstory

Wallaualam Bishowwab.

Iri yang Dibolehkan


Boleh Hasud (Iri hati) terhadap Dua Hal

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وعمرو الناقد وزهير بن حرب. كلهم عن ابن عيينة. قال زهير: حدثنا سفيان بن عيينة. حَدَثَنَا الزُّهْرِي عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. قَالَ “لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ. فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ أَنَاءَ اللَّيْلِ. وَآناَءَ النَّهَارِ. وَرَجُلٌ آتاَهُ اللهُ مَالاً. فَهُوَ يُنْفِقُهُ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ”.

266 – (815)

Hadits riwayat Salim Radhiyallahu’anhu:

Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan Alquran dan ia membacanya di waktu malam dan di waktu siang dan terhadap orang yang Allah berikan harta dan ia membelanjakannya untuk kebaikan di waktu malam dan di waktu siang

(Shahih Muslim No.815-266)

وحدثني حرملة بن يحيى. أخبرنا ابن وهب. أخبرني يونس عن ابن شهاب. قال: أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيْهِ، قَالَ:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “لاَ حَسَدَ إِلاَّ عَلَى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ هٰذَا الْكِتَابِ. فَقَامَ بِهِ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ. وَرَجُلٌ آتاَهُ اللهُ مَالاً. فَتَصَدَّقَ بِهِ آناَءَ اللَّيْلِ وَآناَءَ النَّهَارِ”.

267 – (815)

Hadits riwayat IbnuUmar Radhiyallahu’anhu,iaberkata :

Rasulullah  Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan kitab ini (Alquran) kemudian ia melaksanakannya di waktu malam dan di waktu siang dan terhadap orang yang Allah berikan harta dan ia menyedekahkannya di waktu malam dan di waktu siang.

(Shahih Muslim No.815-267)

وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا وكيع عن إسماعيل، عن قيس. قال: قال عبدالله بن مسعود. ح وحدثنا ابن نمير. حدثنا أبي ومحمد بن بشر. قالا: حَدَثَناَ إِسْمَاعِيْلُ عَنْ قَيْسٍ. قَالَ:

سَمِعْتُ عَبْدَاللهِ بْنَ مَسْعُوْدٍ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم “لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتاَهُ اللهُ مَالاً، فَسَلَّطَهُ عَلَى هِلْكَتِهِ فِي الْحَقِّ. وَرَجُلٌ آتاَهُ اللهُ حِكْمَةً، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا”.

268 – (816)

Hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu, ia berkata :

Rasulullah  Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidak boleh hasad (iri) kecuali pada dua hal, (pertama) kepada seseorang yang dikaruniai Allah harta, lalu ia membelanjakannya dalam kebenaran, (dan yang kedua) kepada seseorang yang diberi Allah hikmah (ilmu), dan ia memberi keputusan dengan ilmu tersebut dan mengajarkannya.”

(Shahih Muslim No.816-268)

Sumber: mromi

Kumpulan Hadits tentang Sedekah

1) Dari Abu hurairah  ra. ia berkata ; ada seseorang yang datang kepada nabi saw dan bertanya;wahai rasulullah sedekah apakah yang paling besar pahalanya ? beliau menjawab  bersedekahlah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya, dan jangankah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan  maka kamu baru berkata; untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian,padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya) (HR Bukhari dan Muslim)

2) Dari abu hurairah ia berkata  sesungguhnya rasulullah saw ia bersabda; bersegaralah kalian beramal sebelum datangnya tujuh perkara

-apakah kamu menantikan kemiskinan yang dapat melupakan

– kekayaan yang dapat menimbulkan  kesombongan

– sakit yang dapat menendorkan

– tua renta yang dapat melemahkan

– mati yang dapat menudahi segala-galanya

– atau menunggu datangnya dajal padahal ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang ditunggu

– atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah sesuatu yang amat berat dan amat menakutkan (HR Tarmidzi)

3) Abu Dzar menerangkan bahwa sebagian sahabat rasulullah saw, berkata kepada beliau ” Wahai rasulullah , orang -orang kaya  itu pergi dengan banyak pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana yangkami kerjakan , mereka berpuasa sebagaimana yang kami kerjakan ,dan mereka bersedeqah dengan k elebihan harta yang mereka miliki (sementara kami tidak bisa melakukannya)

Beliau bersabda,’bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian sedeqahkan ?; sesungguhnya setiap tasbih(subhanallah) adalah sedeqah, setiap takbir (Allohu akbar) adalah shadaqah, setiap tahmid(Alhamdulillah) adalah shadaqah,setiap tahlil( la illaha ilallah) adalah shadaqah, menyeru kepada kebaikan adalah shadaqah dan bersetubuh dengan istri juga shadaqah,

Mereka bertanya “Wahai rasulullah apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya juga mendapat pahala ?Beliau menjawab”bukankan jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala ((HR Muslim)

4) Abu hurairah ra. berkata, rasulullah bersabda, “Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan shadaqqahnya setiap hari , ketika matahari terbit, mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah shadaqqah , menoloing seseorang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkatkan barang ke atas kendaraannya adalah shadaqqah, kata-kata yang baik adalah shadaqqah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah shadaqqah , dan membersihkan rintangan dari jalan adalah shadaqqah (HR Bukhari dan Muslim)

5) Dari abu dzarr ra ia berkata  sesungguhnya rasulullah saw bersabda; setiap pagi pada ruas tulang kalian terdapat sedekah, setiap ucapan tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (alhamdulillah ) adalah sedekah setiap tahlil (laa ilaha iallah) adalah sedekah, setiap takbir (allahu akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar adalah sedekah, dua rakaat yang dikerjakan dalam shalat dhua telah mencakup semuanya (HR Muslim)

6) Dari aisyah ra. ia berkata,  “Rasulullah saw bersabda sesungguhnya setiap anak cucu adam diciptakan sebanyak 350 ruas tulang. maka siapa saja mengagungkan Alloh (Takbir), memuji Alloh (hamdalah),  membaca tasbih (subhanallah) membaca istigfar (astagfirullah) menyingkirkan batu dari jalanan, menyingkirkan dan mencegah kemungkaran hingga genap tigaratus enam puluh kali berarti pada sore hari ia telah menjauhkan dirinya dari neraka (HR Muslim)

7) Dari abu hurairah ra , ia berkata ; Rasulullah saw bersabda” wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga itu merasa terhina untuk memberi sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya berupa kikil kambing  (HR Bukhari dan muslim)

8.) Dari jabir ra. ia berkata, rasulullah saw bersabda ; setiap perbuatan baik adalah sedekah (HR Bukhari)

9.) Dari jabir ra. Ia berkata : rasulullah saw bersabda; seorang muslim yang menanam tananam , kemudian ia makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia termasuk sedekah baginya (HR Muslim)

10) Dari abu musa ra. dari nabi saw, beliau bersabda ; “setiap orang islam itu wajib bersedekah.”Salah seorang sahabat bertanya; Bagaimana jika ia tidak mempunya apa- apa  beliau menjawab; “hendaklah ia berbuat  dengan kedua tangannya sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan bagi dirinya dan dapat pula untik disedekahkan ” ia bertanya ; “Bagaimana seandanya ia tidak mampu untuk berbuat seperti itu ? beliau menjawab hendaklah ia membantu orang yang sangat membutuhkan bantuannya ” ia bertanya lagi bagaimana seandainya ia tidak mampu memberi bantuan ? beliau menjawab; hendaklah menyuruh orang untuk berbuat baik; bagaimana seandainya ia juga tidak mampu berbuat seperti itu ?; hendaklah ia mencegah dirinya dari perbuatan keji, karena mencegah dirinya dari perbuatan keji termasuk sedekah (HR Muslim)

11. Dari ibnu umar ra;  ia berkata ketika rasulullah saw berada di atas mimbar, beliau bebicara tentang sedekah, dan menjaga diri dari meminta-minta, beliau bersabda; tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah; tangan di atas adalah yang memberi sedangkan yang di bawah adalah tangan yang meminta-minta  (HR Bukhari dan Muslim )

12) (BUKHARI – 1213) : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abu Waqash dari bapaknya radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah mengunjungiku pada hari Haji Wada’ (perpisahan) saat sakitku sudah sangat parah, lalu aku berkata: ” Sakitku sudah sangat parah (menjelang kematianku) dan aku banyak memiliki harta sedangkan tidak ada yang akan mewarisinya kecuali anak perempuanku. Bolehkah aku menyedekahkan sepertiga dari hartaku ini?. Beliau menjawab: “Tidak boleh”. Aku katakan lagi: “Bagaimana kalau setengahnya?”. Beliau menjawab: “Tidak boleh”. Kemudian Beliau melanjutkan: “Sepertiga dan sepertiga itu sudah besar atau banyak. Sesungguhnya kamu bila meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan (kaya) itu lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka serba kekurangan sehingga nantinya mereka meminta-minta kepada manusia. Dan kamu tidaklah menginfaqkan suatu nafaqah yang hanya kamu hanya niatkan mencari ridha Allah kecuali kamu pasti diberi balasan pahala atasnya bahkan sekalipun nafkah yang kamu berikan untuk mulut isterimu”. Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah aku diberi umur panjang setelah sahabat-sahabatku?. Beliau berkata,: “Tidaklah sekali-kali engkau diberi umur panjang lalu kamu beramal shalih melainkan akan bertambah derajat dan kemuliaanmu. Dan semoga kamu diberi umur panjang sehingga orang-orang dapat mengambil manfaat dari dirimu dan juga mungkin dapat mendatangkan madharat bagi kaum yang lain. Ya Allah sempurnakanlah pahala hijrah sahabat-sahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang”. Namun Sa’ad bin Khaulah membuat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersedih karena dia akhirnya meningal dunia di Makkah.

13) Dari abu hurairah r.a. berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Ketika seseorang sedang berada di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu kemudian turun sebagai hujan di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu salah satu tumpukan dari tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun, sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata air itu mengalir di sebuah tempat dimana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Ia menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan nama saya?” Orang itu berkata, “Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah si Fulan,’ dan saya mendengar namamu disebut. Apakah sebenarnya amalanmu (sehingga mencapai derajat seperti itu)?” Pemilik kebun itu berkata, “Karena engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan Allah SWT, sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk keperluan kebun ini.” (HR. Muslim)

14) Nabi SAW bersabda, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat baik kepada binatang?” Beliau SAW menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘Alaih)

15) “Bershadaqah pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat.” (HR. Al Hakim)

16) Dari Uqbah bin Harits r.a., “Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi SAW di madinah munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau SAW. Ketika rasulullah SAW keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, ‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (HR. Bukhari)

17) Allah SWT berfirman (dalam hadits qudsi): “Hai anak adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)

18) “Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (HR. Bukhari)

19) Seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, “Shadaqah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi SAW menjawab, “Saat kamu bershadaqah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu ditenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

20) “Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (HR. Ahmad)

21) “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (shadaqah) sebutir kurma.” (Muttafaq ‘Alaih)

22) “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bershadaqah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR. Ath Thabrani)

23) “Tiada seorang bershadaqah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (HR. Ahmad)

24) “Barangsiapa yang menginfaqkan kelebihan hartanya di jalan Allah SWT maka Allah akan melipatgandakan dengan tujuh ratus (kali lipat). Dan barangsiapa yang berinfaq untuk dirinya dan keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri, maka mendapatkan kebaikan dan kebaikan dengan sepuluh kali  lipatnya. Puasa itu tameng selama ia tidak merusaknya. Dan barangsiapa yang Allah uji dengan satu ujian pada fisiknya, maka itu akan menjadi penggugur (dosa-dosanya).” (HR. Ahmad)

25) “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi sedekah.” (HR. Ibnu Majah)

26) “Janganlah kalian menganggap remeh satu kebaikan pun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika menemui saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau membeli daging, atau memasak dengan periuk/kuali maka perbanyaklah kuah dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Tirmidzi)

27) Abu hurairah r.a. berkata bahwa Nabi SAW bersabda,

“Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi, dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, “Ya Allah, berilah pahala kepada orang yang menginfaqkan hartanya.” Kemudian malaikat yang satu berkata, “Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil.” (Muttafaq ‘Alaih)

28) Dari Abu Umamah r.a., sabda Nabi SAW,

“Wahai anak adam, seandainya engkau berikan kelebihan dari hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan seandainya engkau kikir yang demikian itu buruk bagimu. Menyimpan sekadar untuk keperluan tidaklah dicela dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (HR. Muslim)

29) Sabda Nabi lainnya yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., pernah seseorang bertanya kepada Nabi SAW,

“Ya Rasulullah sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah SAW bersabda, “ Bersedekah pada waktu sehat, takut miskin, dan sedang berangan-angan menjadi orang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, ‘Harta untuk si Fulan sekian, dan untuk si Fulan sekian padahal harta itu telah menjadi miliki si Fulan (ahli waris).” (HR. Bukhari Muslim)

30) “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah SWT, Allah SWT akan mengangkat (derajatnya).” (HR.Muslim) 

Sumber Referensi:

Al Qur’an Al Kariim

Hadits

Hadits Qudsi

Ypuarrukh.wordpress.com