My Skills are My Mood Booster 

This week topic for blog writing is about Skill(s). What is actually “a skill”? I define “skill” as people’s flair which can contribute a value to themselves as well as to other people. The contribution to the people themselves can be in form of material and/or immaterial. But the best skill, I presume, should be one that can enhance the quality of the people themselves, in any aspect of their life.

I was kind of confused to mention what actually my skill is. Is it public speaking because I am a radio announcer and a teacher, or can I categorize “English” as one skill simply because I teach it? But I can also sing, and some people say that my voice when singing was good enough, proven by some trophies I brought home back in the old time. In addition, I think I’m also quite good in writing. Maybe not in academic writing, but at least I get paid for being a website content writer until now. Plus, I just got promoted to be the News Editor at the radio station I work for, which requires writing skill, yes? Well then, so I guess those are my skills: public speaking plus English language capability, singing, and writing. 

What have I done with those skills? So many. I’ve been a broadcaster since March 2004, and from being a broadcaster, some event organizers (mostly academic events) trusted me to be their Master of Ceremony. Do I get money from it? Sure I do. Not only money, I also expand my networking. 

While with writing, besides having money, self-pleasure is the priceless gift I have from writing. Sometimes I get my logic back after writing, especially when I write for myself. Most of the time I smile and become happy again after writing. My skills always boost my mood. 

English language in Indonesia, especially in Pontianak is so far still being learned as a foreign language, so to master this language has become a plus value for me. Out there, in Pontianak, maybe you’ll find many people with public speaking and writing skill, also people who can speak and write in English well. But I believe, the number of people who can do those things (public speaking, mastering English language, writing) at a time is still limited. Well, I am Limited Edition 😁😄🤗

Somehow, I am not saying that I master those skills perfectly. I am still learning while doing them. Learning is a never ending process so I will not stop learning and enhancing my skills. 

Even I think I will also learn other skills like sewing (so at least I can have my own gown without having to go to tailors), photoshop and corel draw, photography, videography, journalism, martial arts, and cooking. I want and I will learn them, Insya Allah. Just wait for my next writing when I will post about the stuffs I will make with those new skills, okay 😁😃

Thanks for Listening 

Happiness is: masih dipercaya menjadi penyiar untuk program belajar Bahasa Inggris di stasiun radio favorit saya, Volare 103.4 FM Pontianak. Dari sejak program acaranya masih bernama English Teletalk, hingga kini berganti menjadi Volare Chit Chat. And let me let you know, it all started with listening

Mampu berbahasa Inggris adalah salah satu keinginan saya sejak lama. Ketika pertama kali kenal Volare, saya mulai menjadikan radio swasta pertama dan nomor 1 di Pontianak ini sebagai salah 1 media untuk belajar Bahasa Inggris. Memperkaya kosakata lewat lagu-lagu yang diputar, juga menyimak beragam program acaranya yang berkualitas dan mendidik para pendengar. Program favorit saya saat itu namanya English Teletalk

English Teletalk *waktu itu – sekitar tahun 2000an* adalah program mingguan berdurasi 1 jam yang mengudara tiap hari minggu sore. Talkshow interaktif full English. Pertama kalinya saya menyimak acara tersebut yaitu ketika saya masih kelas 3 SMP, ketika bisa bicara bahasa Inggris masih sekedar mimpi. Not even a single sentence I understood from the broadcasters. Saya mendengarkan 2 penyiarnya bersiaran dengan Bahasa Inggris tanpa paham mereka lagi ngomongin apa. But I kept listening. Setiap pekan selalu saya dengarkan. 

Seperti yang pernah saya tuliskan 5 tahun lalu, dengan tetap menyimak acara tersebut membuat saya semakin menguatkan tekad untuk harus bisa berbahasa Inggris. Maka, ketika saya ditantang untuk menjadi penyiar program English Teletalk, selain grogi berat, ya saya merasa tertantang dan merasa perlu untuk menjawab tantangan itu 😁✌ Dan proses itu berawal dari LISTENING. 

Sampai detik ini, saya masih membawakan program belajar Bahasa Inggris di Radio Volare. Bukan karena saya enggan beranjak dari comfort zone. Simply, because I really love sharing and enriching myself with something new, dan program Volare Chit Chat mengakomodir passion saya. Berbagi ilmu gratis, sekaligus mendapatkan ilmu secara gratis dan menyenangkan pula. What do I ask more? 

Happy 44th anniversary, Radio Volare. I’m growing up with you and I am proud of it. Untuk teman-teman, bujang dare yang setia menjadi pendengar Radio Volare, we really thank you for listening. #Thx4Listening and please keep listening to Volare 103.4 FM 😉.

Learning English in Volare Chit Chat

image

One of the perks being a broadcaster for a program named “Volare Chit Chat” is I always get a chance to improve my English language in a very fun way. Salah satunya seperti yang terpajang di foto di atas, ketika teman-teman mahasiswa program exchange students Prancis – Indonesia (yang juga merupakan salah satu program Politeknik Negeri Pontianak) bertamu ke studio Volare untuk Volare Chit Chat.

Volare Chit Chat adalah salah satu program acara edukatif di Radio Volare. Dibawakan 2 orang penyiar: Saya dan Lailatul Fidyati, mengudara setiap hari Kamis, pukul 6-8pm. Program ini memiliki 5 segmen:

1. How to say it, membahas sebuah idiom beserta cara pelafalan yang benar. Agar gampang dipahami, dikasi contoh kalimat beserta terjemahannya. Berhubung yang siaran bukan native speaker alias penutur asli Bahasa Inggris, maka di segmen ini diputarkan juga pelafalan idiom yang dibahas versi native speaker. Tujuannya apalagi kalo bukan supaya Bujang Dare yang menyimak bisa melafalkan idiom yang dipilih dengan baik dan benar.

2. Idiom, seperti segmen pertama, segmen ini pun membahas sebuah idiom dilengkapi makna dan contoh kalimat. Bedanya, segmen kedua menyertakan 1 lagu yang judulnya merupakan idiom yang dibahas. Contoh idiom dan lagunya? Coba cek ke http://www.volarefm.com, komplit dipublish beserta pembahasannya loh 😉

3. Bilingual, berita dua bahasa yang up to date.

4. FunSizeFact, memberikan fakta-fakta seputar kata, frasa, budaya, dan lain sebagainya. Tidak semua orang tau kaan kalau “butterfly” tadinya bernama “flutterby?”. Itu salah 1 contoh fakta yang biasa kami sibak di Volare Chit Chat 😀

5. English, please. Segmen favorit saya nih 😀 Kalau di 4 segmen sebelumnya saya dan Fidya bersiaran dengan code mixing and switching, bahasa Indonesia – bahasa Inggris, di segmen ini, seperti namanya, “English, please!”. Di sini lah saya melatih skill speaking sekaligus menyalurkan hobi chit chat di udara hihi. Bonusnya, dapat banyak teman baru, expanding my networks, opening my mind to new things, feeling a brand new experience bahkan sekedar dari cerita guest speakers tentang topik yang hari itu kami bahas. Sounds so fun, yes? Well, yes because IT IS very fun 🙂

Seperti kamis kemarin, misalnya. Again, Volare kedatangan exchange students dari Prancis: Raphaël dan Fatima.

image

I was excitingly surprised saat pertama kali melihat Fatima. She’s wearing hijab 😍 I mean, well it’s just very rapturous for me to see a French woman wearing hijab. Hihi harap maklum yaa, bukan bermaksud rasis tapi ada bule dari negara yang bukan mayoritas muslim, berhijab, dan juga ketika masuk waktu Isya dia izin sholat di studio, it’s really a WOW for me ✌ Rasanya kayak ada manis-manisnyaa gitu 😁

Fatima bercerita bahwa dia sempat bingung memutuskan untuk ke Thailand atau ke Indonesia untuk exchange program ini, lalu orang tuanya menyarankannya untuk memilih Indonesia. She told, “So when we went to Mecca, my parents meet Indonesians there and they told me that Indonesian people are kind”. Orang Indonesia memang mahsyur dengan keramah tamahannya, dek Fatima 😁. Another thing that impressed me about Fatima is she can speak 5 languages! French, English, Spanish, Italian, dan 1 lagi saya lupaaa namanya hehee.

Raphaël, is also such a nice and friendly guy. Kalau Fatima adalah campuran Prancis-Algeria, Raphaël murni Prancis. Mereka 1 kelas, di semester 4 jurusan physics measurement (begitu tadi yang saya tangkap, maapkanlaah apabila keliru ✌😁). Bersama 5 temannya, mereka akan mengikuti internship program selama 3 bulan di Pontianak.

Because of English isn’t our mother language, maka sama seperti saya, teman-teman mahasiswa dari Prancis ini pun belajar Bahasa Inggris juga. Jadi, ketika ngobrol dan ada kata dalam Bahasa Inggris yang kami lupa atau tidak tau padanannya, we’re literally speechless karena nyebutin kata yang dimaksud dalam L1 atau first language masing-masing juga kami sama-sama tidak paham hahaha.

Begitulah sebagian kecil dari menyenangkannya siaran untuk program Volare Chit Chat. Misalkan teman-teman (khususnya yang berdomisili di Pontianak) ingin juga melatih speaking skill lewat program ini, bisa juga looh mendaftar untuk jadi guest speaker di segmen “English, please”. Jangan khawatir keliru dan salah-salah ngomong, namanya juga belajar ya khaan 😉 Kalau serius, bisa hubungi saya via kolom komen postingan ini, atau lewat personal message ke akun sosmed saya juga boleh. Misalkan masih malu-malu, tetap simak programnya yaa sampai siap ber-casciscus chit chat di udara with me and Fidya 😀

Learning is not always about sitting in a classroom, listening to our teachers or lecturers explaining materials. It can also be really refreshing like listening to radio. You know what, unlike watching TV, while listening to radio, you can also do other things like driving, cooking, even doing your school or college assignments 😉

So, let’s keep learning English wherever and whenever we are, okay 👌

Merampot french fries, Tanguy said

image

Kamis, 21 Mei 2015 lalu saya berkesempatan ngobrol dan having fun dengan mahasiswa dari Prancis yang ikut program pertukaran pelajar di Radio Volare 103.4 FM untuk program Volare Chit Chat. Seru dan lucu 😀

Ada 4 mahasiswa prancis peserta program pertukaran pelajar. They are Arthur, Elyas, Tanguy (dibaca: tonggi), dan Pierre. Unfortunately hari itu Poerre sedang sakit sehingga tidak bisa hadir di studio Volare. Anyway, siarannya tetap berempat, yaitu Arthur, Elyas, Tanguy, ditemani pak Ali yang adalah kepala International Office Politeknik Negeri Pontianak. Polnep Pontianak menjadi institusi tempat teman-teman mahasiswa Prancis dari Université de Valenciennes ini menjalin MoU. Which means, kata pak Ali, nanti gantian mahasiswa Polnep Pontianak yang akan belajar di Prancis. Seru yaa ~

Kami (saya + Fidya) mengawali Volare Chit Chat dengan beberapa segmen seperti biasanya. Belajar bahasa Inggris lewat idiom, how to say it, juga bilingual info. Baru deh dilanjut dengan ngobrol2 bareng tamu spesial malam itu.

Arthur, Elyas, dan Tanguy menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah kami siapkan. Termasuk pertanyaan-pertanyaan titipan 😀 Kita pengennya tanya2 tentang pengalaman mereka dong ya, things that we couldn’t find the answer by googling hehe. So we asked them, what was the first thing came through their mind when they were selected as the students to represent France to join the exchange program. And what they prepared for it.

Mereka bilang, they were so happy, excited, they called their mom, also did google to find out about Indonesia. Terkait ini, Fidya asked a brilliant question which was, their expectation before they came to Pontianak. Ternyata, dalam bayangan mereka, ketika tiba di sini mereka bisa ke pantai setiap hari 😂 Ternyata pantainya jauh dari Pontianak hihihi.

But they did go to the beach. Mereka sudah diajak ke Singkawang sama pak Ali, menghadiri acara nikahan. Juga ke pantai tentunya. And surprisingly, mereka juga sudah snorkeling ke Lemukutan. Saya yang penduduk Kalbar aja belum pernah ke sana 😂

Selain tempat-tempat wisata, mereka juga berbagi pengalaman tentang makanan khas yang sudah pernah mereka cicip selama di Pontianak. Arthur paling suka mie tiaw, Tanguy awalnya suka sate tapi lantas batal suka karena setelah makan sate malah mules2 hahaha. Sedangkan Elyas said he likes nasi goreng. Mereka bilang mereka tidak tahan pedas, walhasil ketika nongkrong di tempat makan, mereka selalu pesan “Tidak pedas” ke waiternya.

One culture shock yang dialami teman-teman Prancis kita ini adalah manakala menjumpai french fries di Pontianak. Mereka bilang, french fries di sini sangat berbeda dengan di negara asal mereka. Dari bentuk sampai rasa, jauh berbeda. Sampai-sampai Tanguy bilang, “It was merampot french fries” hahahahaa.

Oh yes, teman-teman kita ini juga sudah menguasai beberapa kosakata bahasa Indonesia loh. Bahkan bahasa melayu Pontianak 😀 Termasuk “merampot” tadi hihi. Merampot means lie, bohong. Arthur menyebut “Yok lah balek” waktu kami tanya bahasa melayu apa saja yang sudah dia kuasai. Sedangkan Elyas menjawab “Aok”. Bahasa melayu Pontianak ini diajarkan secara cuma-cuma oleh teman-teman mahasiswa Polnep Pontianak yang malam itu mengantarkan mereka ke studio Volare. Thanks a lot yaa Ricky Adiputra, Agustian Pratama, dan Doni Ilhamsyah. Ingat pesan saya, jangan diajari bahasa melayu yang tadak-tadak bule2 kece tu hihihihi.

Ohh iya, bule, in French, artinye stupid loh hahaha. Mereka mestilah terkaget-kaget saat pertama kali tiba di Pontianak karena berkali-kali dilabeli bule. Luckily they can speak English so they now get it right after someone explained them about the term.

Selain makanan dan bahasa, mereka juga bercerita tentang perbedaan antara atmosfer pendidikan di Pontianak dan Prancis. Menurut mereka, di Pontianak hubungan antara dosen dan mahasiswa bisa sangat akrab seperti dengan teman. Sesuatu yang kata Arthur jarang dijumpai di Prancis. Tanguy sempat memaparkan tentang berbedanya sistem punishment atau consequence yang didapat jika tidak hadir pada pertemuan perkuliahan. Di Prancis, jika mahasiswa tak hadir, the student will get a trouble but they do not need to pay, tak perlu bayar denda. Sedangkan di Pontianak (in this case is Polnep Pontianak), kalo absen harus bayar denda. Namun hal ini diluruskan oleh pak Ali. Ujar beliau, mahasiswa tidak wajib membayar. Prosedurny adalah, jika absen kuliah, maka harus mengganti dengan kerja/magang. Kalau tidak bersedia, baru deh diganti dengan bayar denda. Gitu. Anyway, secara umum sih sama ya. Karena di kampus lain seperti Untan Pontianak, kalo gak hadir tak perlu bayar. Rugi sendiri aja palingan ya kalo ketinggalan 1 kali pertemuan. 1 perbedaan lain menurut Elyas yaitu seragam. Mungkin karena sehari-hari Elyas melihat mahasiswa Polnep berseragam mungkin ya. Something that he doesn’t find in his college.

Di ujung acara, Fidya menanyai mereka tentang musik Indonesia. Mereka bilang mereka suka dangdut hihihi. And one other funny moment was when Elyas + Tanguy sang a song yang liriknya diubah. Intinya tentang kecintaan mereka kepada nasi goreng hahahaha. Sayang sekali saya tidak abadikan lewat video hehe.

Waktu 1 jam terasa kurang untuk ngobrol2 dengan mereka. Sehingga, ketika off air setelah acara, saya lanjut tanya-tanya lagi ke mereka hahaha. Apalagi setelah dikasi tau sama pak Ali bahwa Elyas rupanya muslim. Saya pun nanya-nanya pendapat Elyas tentang muslim di Pontianak. He said we’re great. Dan Elyas rutin juga jumatan meski khutbahnya pake Bahasa Indonesia *yaiyalah kalo di Prancis baru pake bahasa Prancis :p

Kata teman-teman Polnep yang bawa mereka ke studio, daripada nongkrong2 di Café, mereka lebih senang berolahraga seperti basket dan renang selama di Pontianak. Trus juga, di Prancis tidak ada yang pakai Blackberry Messenger, pakainya WhatsApp. Walhasil, mereka baru instal bbm di Indonesia karena banyak yang minta pin bbm, selain juga buanyak yang minta foto bareng tentunya hahaha.

image

After broadcasting

There’s still lot of questions to ask. Sayang sekali udah malem, sayanya harus segera pulang, mereka pun harus lanjut ke agenda berikutnya. They will still be staying in Pontianak till July 12, which means Elyas dan kawan2 akan merasakan pengalaman pertama jalani Ramadhan di Pontianak. Semoga lancar jaya segala macam aktivitas mereka sampai kembali lagi ke negara tercinta.

Semoga nanti saya bisa ketemu mereka lagi. Kalo bukan di Pontianak, di Prancis barangkali? Takdir siapa yang tau ya khaan ~ 😉

Apa sih yang asik dari radio?

image

Jelang 42 tahun Radio Volare

1. Pertama kali on air dengan status sebagai penyiar (walopun masih training) itu tanggal 11 Maret 2003 di @radiovolare and it was amazing

2. Sejak SMP memang senang dengar radio. Dan ingin sekali jadi penyiar. And you know what we need to be a broadcaster? Be a good listener first.

3. Dan akan makin seru ketika kita tak sekedar menjadi pendengar, tapi juga menjadi pendengar yang aktif interaksi. #DengarRadioYok

4. Menjadi passive listener mungkin lebih mudah daripada menjadi active listener, tapi menjadi active listener is challenging! #DengarRadioYok

5. Misal ni ya, pagi2 nyimak program di @radiovolare yang kadang membahas isu nasional yang sedang hangat…

6. Dan menjadi active listener ‘memaksa’ kita untuk berpikir kritis agar bisa nimbrung dengan penyiar. #DengarRadioYok

7. Plus, menjadi active listener juga membuka peluang untuk menambah teman baru loh. #DengarRadioYok

8. Dan kalo menjadi active listener di @radiovolare, berpotensi menjadi listener of the month 😀 #DengarRadioYok

9. Anyway, baik itu menjadi pendengar aktif atau pasif, mendengar radio salah 1 mood booster yang oke loh. #DengarRadioYok

10. Coba deh simak ketika penyiar bersiaran, tak ada kan yang mengajak pendengar untuk bersedih hati hihi. #DengarRadioYok

11. Meski radio tak menampilkan rupa penyiar, namun ketika bersiaran, para penyiar berbicara dengan senyum paling manis 🙂  #DengarRadioYok

12. Jadi, di hari radio ini, yok #DengarRadioYok dan ikut andil menjadi masyarakat yang memberi pengaruh baik untuk orang banyak.

Disalin dari Chirpstory dalam rangka World Radio Day yang diperingati kemarin, 13 Februari 2014.

Happy already radio day!