Orang Kaya vs Orang Miskin

Perbedaan mendasar dari orang kaya dan miskin adalah sikap terhadap harta. Orang kaya cenderung ingin memberi sedangkan orang miskin cenderung ingin diberi.

Paling kentara adalah saat pembagian sembako gratis atau apa pun yang gratis. Orang miskin merasa paling layak dan berhak mendapatkan jatah.

Ternyata kekayaan bisa dipelihara layaknya memelihara hewan kesayangan seperti komodo, buaya, atau macan tutul. Maaf, maksudnya kucing, kura-kura, serta ikan hias.

Caranya dengan menyediakan kandang atau tempat hidup yang cocok untuk hewan kesayangan itu. Simple.

Barangkali analogi yang paling pas adalah memelihara ikan hias, syaratnya kita perlu menyiapkan akuarium. 

Atau ingin mengundang kupu-kupu, syaratnya buatlah taman di depan rumah kita sehingga kupu-kupu datang sendiri.

Nah kekayaan pun begitu. Kalau mau memelihara kekayaan, siapkan “kandangnya” agar kekayaan nyaman dan betah berlama-lama di rumah kita.

Buatlah taman yang membuat kekayaan datang sendiri layaknya kupu-kupu yang hinggap di ujung bunga.

Pertanyaannya adalah apa yang menjadi “kandang” kekayaan? Lalu bagaimana cara perawatan kekayaan agar dia tumbuh besar dan semakin besar?

Saya yakin Anda yang membaca tulisan ini tidak sabar dengan jawabannya dan semakin Anda penasaran, semakin Anda bertekad untuk menuntaskan membaca tulisan ini hingga selesai.

Baiklah saya buka rahasianya.

Ternyata yang menjadi kandang kekayaan atau taman yang bisa mengundang kekayaan layaknya kupu-kupu yang datang sendiri adalah MEMBERI.

Jadi memberi bukanlah karena kaya, tapi cara mengundang kekayaan. Kenapa orang kaya suka memberi? Karena dengan cara itu mereka -sebenarnya- menjadi kaya dan bahkan semakin kaya.

Pertanyaannya, bagaimana cara memberi bagi orang miskin? Bukankah dia tidak memiliki apa yang mau diberi? 

Ternyata, memberi bukanlah masalah materi. Tapi masalah NIAT. Bila dimulakan dari niat, maka akan menjalar ke semua SIKAP.

Nah sikap memberi ini menjadi pangkal PEMBERIAN. Maksudnya?

Sebagai pengguna angkutan umum, rebutan tempat duduk sudah menjadi hal yang lumrah. Saking ingin dapat tempat duduk, pintu bis yang lebarnya gak sampai 1 meter dijejali oleh 20 orang sekaligus.

Itu pengalaman saya dulu. 

Sampai saya merasa percuma dan memutuskan untuk masuk paling akhir walau pun artinya tidak mendapat tempat duduk. 

Kenapa? Karena sekalipun mendapat tempat duduk, bila ada wanita atau orang tua yang berdiri, saya selalu mengalah memberikan tempat duduk ke mereka.

Jadi buat apa rebutan tempat duduk kalau akhirnya berdiri juga?

Saat itu saya miskin, rajin antri di tiap pembagian sembako gratis atau pasar murah. Tapi saya suka memberi, memberi tempat duduk ke orang yang lebih perlu.

Jadi, memberi tidak melulu materi. Sekedar mengalah dari antrian untuk mengutamakan orang lain pun termasuk memberi.

Dalam kapasitas kita, selalu ada kesempatan memberi. Saya menyebutnya KONTRIBUSI. Kita mampu memberi kontribusi pada kehidupan orang lain. Di posisi apa pun level kehidupan kita.

Orang miskin berfokus pada menerima kontribusi. Dia berfikir dan bertindak CARA MENERIMA ATAU MENDAPAT kontribusi dari orang lain. 

Jadi, orang miskin akan mengakali cara memanfaatkan orang lain demi mendapat kontribusi dari orang itu.

Saya yakin ini bukan Anda yang sedang membaca tulisan ini.

Sedangkan orang kaya berfokus cara memberi kontribusi pada kehidupan orang lain. Dia berfikir cara MEMBERI MANFAAT kepada sesama.

Mungkin Anda perawat yang jaga malam, daripada hitung-hitungan jam kerja, Anda malah berfokus meringankan penderitaan pasien dengan pelayanan yang lebih baik dan lebih tulus.

Inilah “kandang” kekayaan.

Atau Anda seorang staff biasa, daripada hitung-hitungan bonus, Anda berfokus membuat atasan Anda merasa beruntung mempekerjakan Anda dan rekan kerja Anda merasa bahagia terhadap kehadiran Anda.

Inilah “taman” kekayaan.

Jadi dalam benak Anda hanya ada satu: Bagaimana caranya berkontribusi pada kehidupan sesama?

Inilah cara merawat kekayaan!

Selama Anda berfokus pada apa yang (seharusnya) Anda dapat, selama itu pula Anda berada pada kelompok orang miskin.

Sebanyak apa pun uang yang berhasil Anda dapatkan, sebanyak itu pula yang Anda habiskan. Efeknya kekurangan lagi.

Tapi bila Anda mampu berfokus apa yang (seharusnya) Anda beri, selama itu pula Anda telah (menjadi) kaya.

Sekecil apa pun uang yang Anda terima, tak akan membuat Anda kekurangan apalagi menderita. Selalu saja ada jalan dan ada solusi atas tantangan yang Anda hadapi.

Dan sejujurnya, tulisan ini adalah cara saya berkontribusi kepada Anda. 

Sekarang, di posisi manakah Anda berada? Lalu kontribusi apakah yang akan Anda berikan?

Wallahu ‘alam
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s