Semoga Syurga untuk Bang Indra 

Beliau penyiar favorit banyak orang. Beliau guru untuk sebagian besar penyiar dan kru Volare yang sempat berinteraksi semasa beliau hidup. Bagi para pendengar setianya, guyonan, saran, dan nasehat bijak yang bang Indra sampaikan lewat banyak program acara yang dibawakannya di Radio Volare, masih dan akan selalu terngiang-ngiang hingga detik ini. 

Saya ingat betul waktu saya masih SMP, sebelum bergabung dengan Volare, di program pagi saat membuka siaran bang Indra berkata, mulailah hari dengan sesuatu yang dapat membuat mood kita bagus sepanjang hari, salah satunya dengan menyimak lagu favorit. Sering saya terapkan. And most of the times, it works. 

Saya juga masih ingat dengan istilah “Satkepar Semkepar” yang beliau gunakan di acara Rhythm of the Night, sebuah program malam minggu yang Volare adakan untuk para pendengar yang mau curhat tentang apa saja lalu dikasih masukan oleh penyiar. Ketika ada pendengar yang meminta saran tentang masalahnya, bang Indra menyebutkan istilah tersebut, “Satkepar Semkepar”, singkatan dari “Satu ke paret semue ke paret” :’)) Waktu itu saya ngakak sendiri di kamar. It did sound funny when he said it. Istilah itu, “satkepar semkepar”, hingga kini masih saya gunakan sesekali sebagai ice breaking terutama ketika menjawab soal bersama mahasiswa atau peserta pelatihan. 

Setelah saya bergabung menjadi penulis naskah sampai akhirnya bersiaran di Radio Volare, entah sudah berapa banyak ilmu yang tanpa sadar bang Indra teruskan pada saya sekedar lewat ngobrol santai sebelum maupun sesudah siaran. Ilmu bersiaran, ilmu politik, ilmu ikhlas, banyak sekali. Setiap ngobrol dengan bang Indra, setelahnya saya selalu merasa lebih senang. He has such a positive vibe! Selalu menebarkan rasa bahagia. Setiap beliau selesai menyimak saya siaran, notifikasi LINE saya akan muncul, berisi pesan dari bang Indra yang kadang suka ngisengin dengan ngajak ngobrol pake bahasa hulu (nyaris selalu begini sejak pertama kali beliau tau bahwa orang tua saya berasal dari Sintang), namun lebih sering memuji siaran saya hingga saya merasa berbunga-bunga :’) 

Dulu, sebelum saya menikah dan pindah ke Sekadau, saya dan bang Indra sempat ngobrol-ngobrol di sela pergantian jadwal siaran. Ngobrolin politik, ngobrolin teman akrab saya waktu itu, sampai ngobrol tentang rencana beliau untuk berhaji. Kami memang tidak terlalu akrab, tapi entah kenapa saya melihat bang Indra seperti melihat bapak sendiri. Selain memang usia bapak saya dan usia bang Indra yang tidak jauh beda, mungkin juga karena beliau pun melihat saya seperti anak sendiri. Yang terakhir ini, sayang sekali tak sempat saya tanyakan langsung ke bang Indra 😢

Kemarin, bertepatan dengan hari lahirnya yang ke 57, Allah mengambil beliau kembali. Selesai sudah tugas bang Indra di dunia. Insya Allah sudah berguguran dosa-dosa beliau semasa hidup, terangkat melalui perjuangan beliau melawan kanker. Saya dan banh Indra tak bisa lagi ngobrol seperti dulu di dunia. Insya Allah, mudah-mudahan Allah jumpakan kami lagi di syurga, bertetangga dengan Baginda Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam, dengan bapak saya (Allahuyarham), dengan para penghuni syurga. Aamiin. 

Selamat jalan, Bang Indra. You will always be missed. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s