Kita dan Rejeki yang Beda-beda

Tulisan kali ini adalah lanjutan elaborasi dari caption foto di postingan akun Instagram saya kemarin 😁 

Dalam dunia kerja, saya mungkin boleh dibilang beruntung. I do the jobs that I love to do, without even formally sending application letters like most people do. Di Radio Volare, misalnya. Atas dasar passion, saya beruntung menjadi salah 1 penyiarnya karena iseng ikutan semacam kontes yang di Volare sekarang namanya “Listener of the month”. Kemudian menjadi scriptwriter, lalu menjadi penyiar. Melalui proses wawancara, iya. Rasa-rasanya itu pun wawancara formalitas, untuk menguatkan keyakinan Bu Temi bahwasanya saya cucok dijadikan penyiar πŸ˜œπŸ˜„ 
Contoh lain, saat bergabung di MAN 2 Pontianak. Bermula dari keinginan saya untuk masuk English Study Club sebagai kegiatan ekstra kurikuler, tapi saat itu belum ada ESCnya. Lebih tepatnya, belum ada pembina ekskulnya. Tahun 2006, oleh Ibu Sila Utami saya diminta untuk membina ekskul ESC MAN 2 Pontianak, berbekal pede menjadi alumni dan status mahasiswa prodi pendidikan Bahasa Inggris, I accepted that challenge.

Ternyata, jalan karir saya di MAN 2 berlanjut dengan diminta untuk mengajar les Bahasa Inggris yang diadakan oleh MAN 2, menggantikan Bu Niar yang saat itu sedang cuti hamil dan melahirkan. Dan berlanjut lagi hingga saya menjadi pengajar Conversation class untuk siswa kelas XI dari tahun 2009-2010, terpaksa resign karena akan bersiap-siap menikah dan pindah ikut suami ke Sekadau. Di MAN 2, surat lamaran dibuat setelah saya mengajar selama beberapa pertemuan. Lagi-lagi formalitas.

Not to mention other work places like SSC Pontianak, Akbid Aisyiyah, Poltekkes jurusan Gizi Pontianak, juga Universitas Terbuka Kabupaten Sekadau. Alhamdulillaah rezeki di bidang pengembangan potensi diri bisa dibilang lancar dan sangat dimudahkan Allah. 

Di institusi tempat saya mengajar sekarang, pun begitu. Alhamdulillaah. Rasa-rasanya nyaris belum pernah memasukkan surat lamaran dan melewati proses wawancara yang appropriate. Bantuan orang dalam? Not at all. Siapa lah saya ini, hanya rakyat jelata, mana bisa punya orang dalam πŸ˜‚ Murni karena kuasa Allah, dan mungkin juga hasil dari membangun silaturahim, yang dalam dunia kerja disebut: building the networking. Sehingga sebetulnya, often I question myself, am I even qualified for this job? Am I the right person? Saya sering merasa minder, menciut, mengkerut, terutama saat melihat job offers yang muncul di notifikasi akun LinkedIn saya. Kriterianya itu loh, wow how lucky I am to do things that I enjoy doing walopun kadang-kadang ya mengeluh juga sih. Dasar kurang pandai bersyukur ah 😒

Ketika kemarin kak Siska, rekan mengajar di Amcor Untan, mengajak saya untuk semacam rehearsal interview, semakin lah saya tertampar bahwa kalau saja Allah tidak membuka pintu rezekinya untuk saya di sisi ini, entahlah bisa atau tidak saya bersaing dengan hingar bingar dan gaharnya dunia kerja. 

Begitulah, rezeki setiap kita memang berbeda-beda. Tak selalu dalam wujud materi atau harta benda. Sudah ‘dijatah’ Allah secara adil dan merata, dan pastinya disesuaikan dengan keseriusan ikhtiar kita dalam menjemput atau menjaganya. Tugas kita cukup mensyukuri yang sudah Allah titipi πŸ˜‡ 

One thought on “Kita dan Rejeki yang Beda-beda

  1. Tyas says:

    Setuju, jadi gak khawatir dengan usaha yang sudah kita lakukan. Bahkan jadi ibu rumah tangga juga rezeki dari Allah Swt. Hehe😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s