Keluarga Lengkap

Hari ini saya ngobrol dengan salah seorang kawan yang membuat definisi bahwa keluarga lengkap adalah yang komposisinya: suami + istri + anak-anak. Saya nyengir manjah once this person stated that definition ๐Ÿ˜ Nyengir manjah karena langsung teringat dengan pasangan “keluarga tidak lengkap” yang fenomenal dunia akhirat yaitu Siti Aisyah radiyallahu anha dan Baginda Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam. 

Kebetulan, *walopun tidak ada yang namanya kebetulan yes di dunia ini hihi*, kawan saya ini keluarganya sudah “lengkap”. Anaknya dua, 1 lelaki 1 perempuan. Nyaris setiap kami ada kesempatan ngobrol *atau setiap kami menyempatkan diri berkomunikasi*, kawan saya selalu nyelipin pertanyaan: Giliran saya (hamil dan punya anak) kapan? As if beranak pinak is the only way to reach the eternal jannah. 

Hampir 6 tahun menjadi istrinya Abang Priana Ashri, alhamdulillaah saya belum pernah merasa stress atau tertekan batin karena belum diamanahi anak. Sama sekali tidak pernah ada desakan dari ibu dan bapak mertua maupun adik ipar tentang anak. No such question like “kenapa belom hamil-hamil” dari circle keluarga terdekat dari pihak suami. Malahan, merekalah (bapak ibu mertua, bibi-bibinya suami, adik dan abang ipar) yang secara diplomatis ngasih jawaban kalo ada kerabat jauh yang merasa perlu melakukan social convention dengan mengajukan pertanyaan begitu. Maka, kami sekeluarga tidak pernah sekalipun merasa tidak lengkap, meskipun komposisi kami hanyalah suami dan istri. 

Saya pernah kok ngobrol ringan dengan suami, tentang ikhtiar yang sudah kami lakukan, tentang belum diamanahinya kami dengan keturunan. Dan alhamdulillaah, sama seperti pasangan suami istri lainnya yang sudah dikaruniai anak dan mengimani bahwa anak adalah titipan Allah untuk menuju jannah, kami pun mengimani keputusan Allah untuk kami bahwa masih berdua dulu juga punya peluang sama besar untuk meraih ridho Allah. Saya teringat dengan firman Allah:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ู„ุงุฏููƒูู…ู’ ุนูŽุฏููˆู‘ู‹ุง ู„ูŽูƒูู…ู’ ููŽุงุญู’ุฐูŽุฑููˆู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽุนู’ูููˆุง ูˆูŽุชูŽุตู’ููŽุญููˆุง ูˆูŽุชูŽุบู’ููุฑููˆุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ (ูกูค) ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ู„ุงุฏููƒูู…ู’ ููุชู’ู†ูŽุฉูŒ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูŒ ุนูŽุธููŠู…ูŒ (ูกูฅ) ููŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุนู’ุชูู…ู’ ูˆูŽุงุณู’ู…ูŽุนููˆุง ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ููู‚ููˆุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ุฃู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠููˆู‚ูŽ ุดูุญู‘ูŽ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ (ูกูฆ) ุฅูู†ู’ ุชูู‚ู’ุฑูุถููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ูŽุฑู’ุถู‹ุง ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ูŠูุถูŽุงุนููู’ู‡ู ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุดูŽูƒููˆุฑูŒ ุญูŽู„ููŠู…ูŒ (ูกูง) ุนูŽุงู„ูู…ู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒู ุงู„ู’ุญูŽูƒููŠู…ู

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu, dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu, dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taghaabun: 14-18).

There. 

Anak (dan juga pasangan) sejatinya adalah bagian dari cobaan dari Allah. Bisa menjadi pembuka jalan menuju jannah, pun bisa pula sebaliknya, bikin orang tua “dipending” dulu masuk syurganya. Wallahualam bishowwab. 

Jadi, saya berhusnudzon aja deh dengan kawan saya yang melontarkan definisi keluarga lengkap adalah suami + istri + anak-anak, seperti saya berhusnudzon kepada Allah bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak lengkap meskipun sebuah keluarga ‘hanya’ terdiri dari suami dan istri, seperti komposisi keluarga Baginda Rasulullah dengan Siti Aisyah *wink ๐Ÿ˜‰

Kalo kamu, bagaimana definisi “keluarga lengkap” versimu? ๐Ÿ˜

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s