245 tahun Kota Pontianak 

Sebagai perempuan yang atas saran suami memutuskan untuk bergamis tiap ke luar rumah, maka saat saya mengenakan pakaian seperti foto di postingan ini, kebaya + rok corak insang khas melayu, adalah pertanda bahwa saya menghadiri special occasion. Bukan berarti saya tidak menghormati sebuah acara dan menganggapnya menjadi tidak spesial saat saya menghadiri acara itu dengan bergamis loh ya 😉 Simply because that’s now the way I dress. 

Seperti hari ini, 23 Oktober 2016, a very special occasion for Pontianak citizen. Ulang tahun Kota Pontianak yang ke 245 🎉🎉🎉🎉 Dirgahayu Pontianak-ku. Berhubung tanggal 23 Oktober tahun ini adalah hari minggu, maka untuk memperingatinya, sejak jumat kemarin para pekerja di beberapa institusi menyemarakkan hari jadi Pontianak dengan memakai baju kurung khas melayu. Beberapa sekolah bahkan bikin lomba dan parade busana. 

Berbusana melayu saat ke tempat kerja tentu bukan satu-satunya cara memperingati hari jadi kota Pontianak, yes? Hal penting lainnya adalah memberi kontribusi positif untuk kota yang kita tinggali. What have we done to our city? Tahun lalu, saya membuat tulisan berjudul “Pontianak Menyapa Dunia” yang isinya tentang 7 hal yang bisa dilakukan agar kota yang kita tinggali saat ini memiliki reputasi positif tak hanya di mata warga kota lainnya, tapi juga di mata warga dunia. Kontribusi macam apa yaa yang sudah saya lakukan untuk Pontianak 💭

Menuliskan harapan-harapan untuk kota kita tercinta ini tentu mudah sekali ya. Saya sendiri punya banyak harapan untuk kota Pontianak. Yang paling klasik tentu saja harapan supaya Pontianak semakin maju, ndak sering lagi mati lampu, dan semakin banyak tempat wisata yang instagrammable. Baik untuk wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. 

Sampai detik ini, saya masih membayangkan area Sungai Jawi Pontianak menjadi salah 1 lokasi wisata, dengan dinding parit kanan kiri yang dicat warna warni seperti pelangi, lalu ada sampan lancang kuning yang membawa para wisatawan menyusuri sungai. Mungkin hanya bisa dioperasikan saat sungainya tidak terlalu surut dan tidak terlalu pasang. 

Begitu juga pemukiman warga di bawah jembatan kapuas. Kalau terlalu mustahil untuk digusur, mungkin boleh kali ya meniru ide kota Malang yang ‘mewarna-warnikan’sebuah pemukiman menjadi “layak jepret” 😁

Picture credit by: Mu’allimat Yogyakarta

Saya juga membayangkan Pontianak memiliki 1 area khusus yang menyediakan makanan khas Pontianak dengan toko oleh-oleh di sekitarnya. Seperti food bazar atau festival makanan gitu. Jadi, para wisatawan cukup mampir ke 1 tempat, lalu pilih sendiri makanan yang ingin dicicipi. Chai kue, ikan asam pedas, sate pontianak, mie sagu, bubur paddas, kwe tiau, pisang goreng pontianak, kue bingke, es lidah buaya, aiiih jadi laper. Setelah kenyang makan, cukup jalan kaki ke tempat belanja oleh-oleh. Kalo kurang puas dengan makanan di tempat tersebut, baru deh muter-muter ke restoran atau tempat makan lainnya. Asyik, kan? 1 stop eating and shopping. Atau sudah ada ya tempatnya di Pontianak? Kalo ada berarti saya yang kurang update 😂.

Taman Alun Kapuas, Tugu Khatulistiwa, Aloe Vera Center, Rumah Radakng, Taman Digulis Untan, well Pontianak has several places to visit. Tapi boleh kan kalo ditambahin? Ayooo investor mana nih yang mau berinvestasi di Pontianak? 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s