Mendisiplinkan Orang Indonesia

Saya seringkali kesal melihat kurang disiplinnya beberapa orang Indonesia di jalan raya. Menerobos lampu lalu lintas, menggunakan HP saat berkendara, tidak pakai helm, dan pelanggaran-pelanggaran lain yang sepertinya sepele tapi amat sangat nyebelin dan bisa berakibat fatal, tak hanya untuk yang melanggar peraturan, tapi juga untuk orang lain yang sudah berusaha disiplin. 

Hampir setiap hari saya lihat sendiri ada aja yang keukeuh jalan terus padahal terang benderang lampunya udah berubah warna merah. Ada juga pengemudi atau pengendara yang ga sabaran banget! Belum juga sedetik merah berubah ke hijau, udah bunyikan klakson bertubi-tubi. Rasanya pengen saya lempar tuh orang-orang ke sungai kapuas biar bisa merasakan lalu lintas tanpa lampu merah hahaha 😈

Tuh gitu, kalo maen HP jangan di jalan 😁✌

Kenapa ya, sebagian (entah besar entah kecil) orang Indonesia kok susah sekali disiplin? Beda jauh sama penduduk Kuching, Malaysia. Tahun 2014, saya, suami dan ibu sempat *terpaksa* stay di Kuching selama sekitar 2 pekan untuk pengobatan bapak saya. Selama di sana, kami bawa kendaraan sendiri. Pulang pergi dari penginapan ke medical centre berbekal navigasi via google map. Saya takjub dengan kedisiplinan mereka dalam berlalu lintas. Taat dengan lampu merah, ngasih jalan untuk kendaraan lain, ga maen asal klakson bahkan nyaris tidak pernah saya dengar suara klakson yang tidak perlu selama 2 pekan di sana. Beda banget lah pokoknya sama di sini yang bahkan buat say hi atau bye sama teman pun, kadang pake klakson yakhan πŸ˜‚

Saya lagi-lagi bertanya-tanya, kenapa sih warga Indonesia kok susah bener disiplin? Padahal peraturan tentang lalu lintas ini sudah ada undang-undangnya. Misalnya, peraturan tentang traffic light, diatur di Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“PP 79/2013) dan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009. Bagi yang melanggar, dendanya 500.000 atau kurungan selama 2 bulan loh. Masa iya sih harus ada polantas sepanjang waktu jagain jalan atau harus diadakan razia terus setiap hari supaya disiplin πŸ˜‘ 

Kalau ngomongin solusi untuk negara ini sepertinya susah-susah gampang. Lebih banyak susahnya daripada gampangnya. Saking susahnya, salah seorang dosen saya menganggap bahwa mental ketidakdisiplinan sebagian orang Indonesia ini sudah memfosil. Susah sekali untuk diubah. Do you think so, too? 

Lalu gimana ya memunculkan mental disiplin orang Indonesia? Dalam hal ini disiplin berlalu lintas aja dulu deh. Apa perlu di setiap traffic light dan sepanjang jalan raya dipasangin CCTV yang bisa otomatis merekam nomor plat kendaraan-kendaraan yang melanggar lalu lintas. Trus nanti saat pemilik nomor plat tersebut bayar pajak kendaraan, dikasi bill sesuai nominal pelanggarannya, dan kalo ga mau bayar, masukkan penjara supaya jera. Kira-kira solusi begitu termasuk konkrit dan realistis gak yaa untuk diimplementasikan di negara hukum yang….. Ah sudahlah πŸ™ˆπŸ™Š

Anyway, solusi paling gampang dan terkesan abstrak sih yaa palingan memulai disiplin dari diri sendiri. Beberapa tahun lalu saya pernah kok maenan HP sambil berkendara. Tangan kanan pegang stang motor, tangan kiri balas sms. Selain memang bahaya untuk keselamatan jiwa, saya sebel banget liat orang lain macam begitu, akhirnya sampai sekarang saya tak pernah begitu lagi. Makanya cukup pede nih bikin tulisan ini, karena udah ga maen HP lagi di jalan πŸ˜πŸ˜„

Kalau menurut teman-teman, solusi lain yang lebih konkrit dan applicable kira-kira gimana? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s