​Doa: Haruskah Spesifik dan Tervisualisasi

Doa adalah salah satu senjata ampuh seseorang yang beriman. Ketika mereka yang tidak memiliki tuhan hanya bisa berusaha mencapai keinginannya dengan kerja dan kerja. Maka kita memiliki dua cara untuk mewujudkannya, ya.. doa dan usaha.

Doa. Betapa Allah menyukai orang-orang yang berdoa penuh harap kepadaNya. Bahkan, mereka yang tidak pernah berdoa, dianggap sombong dan pantas masuk nerakaNya. Seperti dalam firmanNya dalam surat Al Mu’min ayat 60 :

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mu’min [40] : 60)

Perihal doa..  dewasa ini kita banyak disuguhi teori bahwa doa haruslah spesifik dan tervisualisasi. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan istilah Law of Attraction. Bagaimana teori ini menurut Islam? Mari kita belajar dari hamba-hamba terpilih tentang doa.

Hamba agung pertama adalah Musa. Betapa payah dia berlari dari Mesir hingga Madyan, dikejar pasukan setelah membunuh. Kisah yang diabadikan Surah Al Qashash itu amat indah, bahwa dalam lelah dan gelisah Musa tetap tergerak menolong sesama. Ada dua putri Syu’aib yang tersebab kehormatan diri tak ingin berdesak-desak menunggu giliran memberi minum ternak. Maka Musa -yang walau perkasa tapi tenaganya tinggal sisa-sisa- menolong kedua gadis mulia itu dengan begitu ksatria. Seusainya, Musa bernaung di tempat yang agak teduh. Para Mufassir menyebutkan, dia begitu lapar dan memerlukan makanan. Tapi apakah kemudian Musa berdoa secara detail, spesifik, & divisualisasikan atas apa yang dia hajatkan? Mari kita simak.

Musa berdoa: “Rabbi, inni lima anzalta ilayya min KHAIRIN faqiir.. Duhai Rabbku, sungguh aku terhadap yang Kau turunkan padaku dari antara KEBAIKAN; aku amat faqir, amatlah memerlukan.” {QS 28: 24}.

Kalimat doanya dipilih dengan indah. Musa tidak menyebut hajatnya yang amat jelas; lapar. Musa tak menyebut kebutuhannya yang sangat mendesak; makanan. Dengan amat santun dan mesra, dia mohon pada Rabb-nya kebaikan. Dan dia tahu, Allah lebih mengetahui yang terbaik baginya. Maka apa sajakah yang diterima Musa dari Allah atas doa yang tidak detail, tidak spesifik, dan tidak tervisualisasi ini? Musa bukan hanya mendapat makan atas laparnya, tapi juga perlindungan, bimbingan, pekerjaan, bahkan kelak istri dan kerasulan. Betapa Allah Maha Pemurah, doa hambaNya yang santun dan sederhana, dijawab dengan limpahan karunia melampaui hajat utama.

Hamba agung kedua yang kita akan belajar doa darinya ialah Yunus, ‘Alaihis Salam -setelah dia marah dan pergi dari kaumnya-. Mari kita fahami betapa berat tugas da’wah Yunus di Ninawa. Betapa telah habis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Lalu diapun pergi sembari mengancamkan ‘adzab Allah yang sebagaimana terjadi dahulu, pasti turun pada kaum pendurhaka. Tapi dia pergi karena ketaksabarannya sebelum ada perintah Allah, maka Allah akan mendidiknya untuk sabar dengan cara lain.

Kita tahu, ringkasnya, Yunus dibuang ke laut dari atas kapal setelah 3 kali undian muncul namanya. Lalu ia ditelan ikan. Menurut sebagian Mufassir, ikan yang menelannya ditelan ikan lebih besar. Jadilah ia gelap, dalam gelap, dalam gelap. Bahkan ikan itu membawanya ke dasar samudera. Maka terinsyaf Yunus akan khilafnya, lalu menghibalah dia. Bagaimana doanya? Apakah doanya detail, spesifik, & tervisualisasi -jika yang paling dihajatkan Yunus saat itu ialah keluar dari perut ikan-?

Tapi doanya justru: “La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin.. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau, Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” {QS 21: 87}

Indah & mesra; penuh kerendahan hati. Apa yang diperoleh Yunus dari doa yang amat tidak spesifik, tidak detail, dan tidak tervisualisasi ini? Sungguh berlimpah! Yunus bukan hanya dikeluarkan dari perut ikan, dia bahkan tak perlu payah berenang karena ‘diantar’ sampai daratan. Dan bukan sembarang daratan! Ibn Katsir mengetengahkan riwayat, Yunus didamparkan di tanah yang ditumbuhi suatu tanaman. Ketika Yunus memakannya; tanaman itu memulihkan tenaga dan kesehatannya setelah sakit dan payah berpuluh hari di perut ikan & lautan. Yunuspun bugar, bersemangat, dan berjanji pada Allah untuk nanti tak menyerah mendakwahi kaumnya, apapun yang terjadi. Tapi alangkah takjub penuh syukurnya dia, ketika kembali ke Ninawa, seluruh kaumnya justru telah beriman pada Allah.

Doa sederhana itu diijabah, bebas dari perut ikan, selamat dari laut ke darat, tanaman pembugar, & berimanlah kaumnya! Berkata Ibn Taimiyah; “Di antara seagung doa, ialah doa Yunus AS. Padanya terkandung 2 hal; pengagungan keesaan Allah.. dan pengakuan akan dosa.” Sungguh untuk bermesra dengan Allah dan dikaruniai nikmat agung, 2 hal dalam doa Yunus ini cukup.

Dari, dua orang hamba Allah yang terpilih di atas. Kita mungkin terhenyak. Kaget. Dan menyadari, bahwa jika dilihat lebih jeli.. betapa jauh LoA dari ‘aqidah Diin ini. Bukankah memang demikianlah berdoa? Berdoa bukan lah cara kita memberi tahu Allah apa yang kita perlukan, sebab Allah Maha Tahu, Maha Bijaksana. Berdoa itu berbincang mesra, agar Allah mengaruniakan yang terbaik untuk kita dengan ilmu dan kuasaNya yang sungguh Maha.

Di atas soal ‘boleh-tidak boleh’, ada perbincangan tentang Adab kepada Allah SWT, hingga para ‘ulama memuji doa Adam AS. Doa dengan kalimat imperatif (mengandung Fi’lul Amr/kata kerja perintah). Sesungguhnya tak terlarang, tapi Adam mengajarkan Adab.

“Rabbana zhalamna anfusana, wa IN LAM taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.. Duhai Rabb kami, kami telah menganiaya diri sendiri. ANDAI Kau TAK ampuni & sayangi kami, sungguh kami pastilah termasuk orang merugi.”

Doa indah itu menghiba -merendah, mengakui lemah, fakir, salah, & bernodanya diri- disertai mengagungkan keesaan Allah. Tanpa hendak mengatakan bahwa doa detail, spesifik, & tervisualisasi itu dilarang. Mari kita ambil hikmahnya. Bahwa memang ada Adab dalam berdoa. Jika sebuah doa yang sederhana dan santun sudah menghadirkan banyak karunia, kenapa harus kita persulit dengan sembuat spesifikasi dan visualisasinya? Bukankah kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui?

Wallahu’alam bishowab..

*disarikan dari kultwit @SalimAFillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s