Memaafkan tanpa Tapi

Interaksi horizontal kita sesama manusia hakikatnya mungkin seperti tanaman kaktus yang tak pernah sengaja ingin menyakiti. Duri-durinya ada di situ untuk melindungi, supaya tidak sembarangan diganggu orang. Tak pernah bermaksud menyakiti, tapi karena kesenggol dikit, kena durinya, sakit deh. 

Kadangkala hidup bisa sefilosofis kaktus dan durinya. Terserah mau memposisikan diri sebagai kaktus dengan duri-durinya, atau sebagai orang lewat yang baik ga sengaja atau sengaja iseng aja nyenggolin kaktus. Manusia sewaktu-waktu memang bisa selucu itu 😁

Either we are like the cactus or not, berduri-duri, naturally, when we did something wrong to other human beings, hal pertama yang secara refleks akan kita lakukan adalah meminta maaf. Dan sebagai orang yang merasa bersalah, hal pertama yang kita harapkan adalah dimaafkan kesalahannya. 

Kalau orang yang disakitin masih tampak cuek dan tak lagi seperti dulu, biasanya sih akan muncul persepsi bahwa kita belum dimaafkan. Sambil mengeluarkan kalimat seperti “Allah saja Maha Pemaaf, mengampuni hambaNya yang bertaubat”, “Rasulullah saja dengan Yahudi yang menghina beliau, tetap memaafkan”, dan kalimat sejenis lainnya. 

Mungkin, di situ lah letak perbedaan antara Sang Khalik dan ciptaanNya yang ma’shum dengan manusia biasa seperti kita. Atau seperti saya deh more specifically πŸ˜‚

Seiring makin seringnya kita berinteraksi lalu melewati masa-masa disakiti, tak sengaja menyakiti, membuat orang lain kecewa, atau dikecewakan, saya menyimpulkan bahwa tiap manusia punya metode memaafkan yang berbeda. Ada orang yang setelah disakiti sedemikian rupa, bahkan tanpa permintaan maaf sekali pun, bisa dengan lapang dada memaafkan tanpa tapi. Maafin gue ya, iya gue maafin, jangan diulangin lagi ya, oke yuk kita jalan lagi kayak dulu πŸ˜πŸ‘«πŸ‘¬πŸ‘­. Ibaratnya seperti piring abis pecah, trus beli piring baru gitu deh. Tak nampak bekas pecahannya sama sekali. *Yaiyalah namanya juga beli piring baru πŸ˜‚

Ada juga jenis manusia yang sudah memaafkan, juga sudah melupakan kesalahan orang lain, atau sebut saja sudah get over dan move on, tapi memilih berhati-hati, belajar dari pengalaman karena udah terkoyak-koyak dan tercabik-cabik dengan luka dalam *halahh*. Ibarat kata pepatah, “Forgiving is easy, but to trust again is another story”. Every person experiences different kind of feelings, no? Kebanyakan manusia, termasuk saya, kan seringnya suka ngelunjak. Udah dimaafin, diulangin lagi salahnya. Sampai-sampai kadang terlintas di pikiran saya, terlalu sering dikasih amnesti bikin manusia jadi mudah meremehkan kesalahan. Mikirnya ya, ah nanti kalo bikin salah juga orang-orang bakalan lupa, bakal dimaafin kok nanti. Walhasil, tak ada efek jera. Yaah kira-kira seperti tulisan saya tentang membenarkan yang tidak benar kemarin itu lah yaa.

Saya pribadi pernah berada di posisi keduanya: 1. Ga sengaja nyakitin *kayaknya yang ini sering sekali 😭*, dan juga 2. Disakitin pake banget, baik dengan atau tanpa permintaan maaf dari orang yang menyakiti. 

Well, maybe that’s why I’m always trying to understand once certain people treat me different than before. Mungkin kemarin-kemarin pernah tersinggung karena keseringan ditanya “kapan kawin kapan beres kuliah” dengan cara brutal πŸ™ˆ. Memaafkan itu memang gampang, ya kan? Tapi buat bisa akrab lagi seperti kemarin-kemarin, I can’t think more awkward situation than trying too hard for being close to somebody we have lost the vibe with. Pastilah sangat tidak nyaman. 
Jadi, kalau boleh saya menyimpulkan tulisan yang sebenarnya  agak dalem tapi bisa jadi gaje alias gak jelas ini 😁✌, sesungguhnya memaafkan itu melegakan. We forgive, then we get peace. Silakan memilih, mau memaafkan tanpa tapi, atau memaafkan sembari berhati-hati. You know what suits you and what’s best for you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s