Membenarkan yang Tidak Benar

Hari ini, 31 Mei 2016 adalah tahun kedua saya kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup saya. 31 Mei 2014 pukul 14.51 WIB bapak saya kembali pada Allah. Saya tak mau lagi berlarut-larut dalam sedih dan tangis. Semoga tak menangis saat mengetik tulisan ini bukan karena hati saya menjadi keras, melainkan karena berusaha ikhlas menerima ketetapan Allah. Mengutip Maher Zain dari lagunya So Soon, “I have to move on cause I know it’s been too long”. Jasadnya sudah tidak lagi menemani kami yang sangat mencintainya, tapi kenangan bersama bapak mana mungkin terlupakan. Termasuk pesan-pesan yang bapak tinggalkan ke saya, baik tersurat juga tersirat.

Dulu ketika kuliah, sebelum menikah, salah 1 aktivitas favorit saya adalah ngobrol sama bapak membahas random things mulai dari topik tentang keluarga sampai topik politik. Among those random discussions, ada 1 pesan tersirat dari bapak yang ingin saya bahas, yaitu tentang kebiasaan manusia yang sering membenarkan yang tidak benar, yang berimbas pada melonjaknya angka perilaku keliru karena merasa dibenarkan. Atau sebaliknya, menyalahkan tindakan yang benar sehingga orang jadi minder atau sungkan untuk meneruskan. Supaya lebih jelas, dikasih contoh dari berbagai aspek kehidupan deh hihi.

image

Contoh kecil adalah mengerjakan PR di sekolah. Saya tidak tau apakah kebiasaan ini masih berlangsung sampai sekarang atau tidak. Tapi jaman saya sekolah dulu, terutama di masa SMP-SMA, datang pagi-pagi ke sekolah untuk bikin PR adalah kejadian yang nyaris rutin terjadi. Either karena lupa ngerjain PR di rumah, atau PRnya kelewat susah sehingga hampir 1 kelas melakukan tindak kriminal ini hahaha. It’s a wrong thing to do, right? Tapi dibenarkan oleh banyak orang sehingga tindakan yang keliru itu berlangsung terus dan menjadi kebiasaan. Malahan, kalo ada yang laporan ke guru siapa aja yang bikin PR di sekolah, otomatis jadi public enemy 😂😂😂😂.

Masih di ruang lingkup pendidikan, contoh lainnya adalah ketika ada siswa melanggar peraturan, lalu guru memberi hukuman. Meminjam kata-kata yang banyak beredar di media sosial:

image

Walhasil, seperti yang ditulis oleh Dr. Badrul Mustafa di sini, zaman sekarang guru-guru jadi terkesan apatis dan enggan memberi hukuman pada siswa yang sebetulnya memang layak dihukum (dihukum ya, bukan dianiaya 😁✌) karena sudah melanggar peraturan yang ditetapkan. Khawatir berujung di penjara, atau minimal ‘dilaporkan’ secara terbuka lewat media massa atau media sosial yang kalau sudah jadi viral, sulit sekali menghapus jejakmu. Jadi, daripada menanggung risiko berkepanjangan yang mungkin akan muncul, lebih baik cari aman.

Dari ranah sosial, saya ambil contoh MBA atau married by accident atau hamil di luar nikah. Tidak seperti di negara barat sana, di Indonesia, hamil di luar nikah is still (or it isn’t anymore?) considered as an aib, a shameful thing. Jumlahnya makin banyak, iya kan? Saya ambil 1 sample aja deh untuk kasus ini via radarjogja. Di tempat lain, seperti di Kabupaten Sekadau, dari info yang saya dapatkan, jumlahnya pun semakin bertambah. Kira-kira karena apa ya selain karena perkembangan teknologi yang menjadi-jadi? Menurut saya, makin banyaknya kejadian hamil di luar nikah ini juga karena para pelaku justru ‘dimanja’ oleh lingkungan sekitar. Berdalih “yang terjadi biarlah terjadi, sudah terlanjur”, tindakan keliru ini justru ditindaklanjuti dengan pemakluman dari orang sekitar. Mungkin tidak semua orang tau ya hal-hal penting mengenai hamil di luar nikah seperti yang dibahas di website konsultasi syariah. Belum lagi jumlah public figure yang mengalami hal serupa, atau film-film yang alur ceritanya, ya gitu deeh. Sehingga, tanpa sadar, kita pun kini ikut-ikutan maklum dan ‘cukup tau aja’ deh kalo ada kejadian begini.

Bicara soal public figure, di era media sosial begini di mana smartphone is owned by almost all people and always in their hand, sepertinya cukup berat jadi orang terkenal. Apalagi di dunia politik dan showbiz yang konsumennya adalah masyarakat dari berbagai kalangan. Masyarakat memilih sendiri siapa yang hendak mereka jadikan idola, dan juga, di era sosmed ini, terkesan sangat amat bebas mencerca cela public figure atau selebritis yang menurut mereka tidak layak tampil di layar kaca. Either itu karena menurut masyarakat, si public figure tidak punya skill dan kualitas apapun untuk tampil, atau karena jengah dengan tingkah polah mereka. Misalnya, Donald Trump yang karena statementnya yang berbau SARA, walhasil dia banyak mendapat kecaman dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan di Instagram, cukup sering saya liat orang-orang posting meme yang lumayan kejam untuk Trump 😂. Di Indonesia, ada Saiful Jamil yang jadi bahan ejekan karena kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, selain karena bapak ini, sebelum kasusnya mencuat ke permukaan, apa-apa dijawab pake nyanyi hahaha. Selain itu, ada juga Mulan Jameela, yang hingga hari ini tampaknya masih belum mendapat ampun dari masyarakat akibat kesalahannya di masa lalu. Ini tercermin dari banyaknya *meminjam istilah kawan saya* haters militan si artis. Apa-apa yang berkaitan dengan Muljem, selalu diserang habis-habisan oleh netizen. Kejadian terbaru terpampang nyata di akun Instagram @riomotret yang memposting maternity shootnya Mulan dan panen ribuan hujatan mengerikan.

Kira-kira, apakah tindakan menghujat orang yang tak mereka kenal secara pribadi itu adalah tindakan yang boleh dibenarkan? Secara kemanusiaan, tentu salah besar. Mana ada bullying yang halal hahaha 😂. Lalu, apakah perilaku dari public figure di atas, mulai dari membuat pernyataan yang menyinggung agama, dugaan pelecehan seksual, sampai ‘dugaan’ kawin siri sama suami sahabat sendiri yang sudah membesarkan nama di dunia showbiz adalah perilaku yang boleh dibenarkan? A rhetorical question needs no answer. Lantas, apa mereka jadi layak dibully dan dicaci maki? Menurut saya, sebagai sesama manusia dengan perasaan sensitif seperti kulit bayi *halaah*, setegar apapun mereka, tidak ada seorang pun di dunia ini yang layak diperlakukan begitu. Again, mengutip kata-kata kawan saya, “kita tidak bisa mengatur-atur orang lain mau beropini atau berprasangka apa dengan yang kita lakukan, tapi kita bisa memilih untuk berhenti atau tidak melakukan hal-hal yang berpotensi memancing prasangka orang lain”. Jadi yaa, siapa lah kita ini yang hanya rakyat jelata biasa mau ngatur-ngatur orang komen apa di akun orang lain. Mending fokus meningkatkan kualitas diri, menahan diri untuk gak mancing-mancing minta diprasangkai hehe ✌.

Anyway, that’s the truth, no? What comes around, goes around. Hidup ini memang tak lepas dari risiko atas pilihan-pilihan hidup yang sudah kita putuskan, kan? Baik pilihan manis atau pahit, berlaku ketetapan yang sama. Entah itu imbasnya kita sendiri yang langsung merasakan, atau menurun ke anak cucu kita di dunia, atau oleh Allah ditangguhkan ganjarannya hingga nanti di akhirat.

Finally, melampirkan kembali isi pesan tersirat dari obrolan dengan bapak saya, untuk urusan dunia maupun akhirat, jangan membenarkan yang keliru. Singkat, dan kadang kala agak “ringan di lidah berat di langkah” sih ya 😁. Well, thank you for reading. Last but not least, overall, tulisan ini practically is just another piece of my-nampol-of-the-day. Plak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s