Sayonarakah Kita

image

1. “Berhasil bikin situasi tidak nyaman dengan dia”

2. “Ternyata selama ini kakak yang mempengaruhi dia”

3. “Dia sudah terpengaruh oleh kakak”,

Pamungkas. Petrified. Shock.

Demi husnudzon dengan orang yang sudah dipilih dia, aku terpaksa mengingat-ingat momen yang mungkin sudah jauh terbuang dalam jurang memori, tentang kapan aku pernah berjumpa dengan orang yang melontarkan kalimat-kalimat bernada judgemental itu. Berhari-hari tak juga ketemu. Aku takut keliru, takut akulah yang salah sangka menyangka orang yang dipilihnya itulah yang akhlaknya entah kemana karena tiba-tiba muncul dengan tuduhan-tuduhan membingungkan. Tendensius. Insecure. Menuduh orang yang sekali pun tak pernah interaksi di mana pun, ketika niat baik diasumsikan sebagai “mempengaruhi untuk melawan”. Ketika halal pun belum.

Sakit hati. Sedih. Murka. Kesal. Kecewa luar biasa karena the true colors dari orang yang dipilihnya baru nampak *atau ditampakkan* manakala segala persiapan menuju mitsaqan ghalidza sudah nyaris lengkap. Meski di awal dulu sudah terlalu banyak pertanda yang terang benderang ditampakkan, untuk sebuah perjalanan panjang yang bukan cuma melibatkan 2 insan manusia, keraguan yang dia lontarkan padaku pun tak lagi berguna.

Terlalu banyak hal mencengangkan. Tak dinyana. Aku dan suamiku yang dulu paling mendukung dengan landasan husnudzon dan ingin dia bahagia, hari ini malah dianggap seperti virus ebola. Dijauhkan, diputus semua alur komunikasi darinya dengan sengaja, seolah tak pernah sekalipun dan tak ada satu pun hal baik yang kami lakukan untuk dia dan orang itu. Aku harus husnudzon, bahwa barangkali ketika madah tentang memutus silaturahim itu dilarang, orang itu berhalangan hadiri lingkaran.

Tak diduga, ketika belum akan diminta secara resmi ke orang tua, tabiat orang yang dia pilih itu tertutupi lewat keberaniannya membuka komunikasi dengan suamiku. Meminta sebuah design. Dan kami semakin husnudzon meski sudah begitu banyak suara-suara lain yang ternyata sangat menolak keras dia jalan terus dengan orang itu karena sudah lebih dulu kenal betul tabiatnya. Tak diduga, ternyata aku yang tertipu.

Dan tanganku pun sepertinya ikut “terpengaruh” denganku, terlalu kecewa untuk meneruskan cerita ini. Cerita yang terserah saja mau dianggap nyata atau fiksi. Well, either it’s a real story or a fiction, what I’m trying to say is: Seperti kalimat di gambar itu, peduli ku pun berbatas waktu🙂

Luka ini amat sangat dalam. Terlalu dalam. Hingga aku kehilangan kekuatan untuk membalas perbuatan yang sudah membuat kami (by kami, I mean: aku dan suami) terluka dan dilecehkan. Pun aku enggan mengotori diri sendiri dengan membalas, menjatuhkan level diri. Kami sepakat menyerahkan hal yang “forgiven but can never be forgotten” ini kepada Allah saja, sebaik-baik Pembalas ☺

Till the second I write this post, I still have no idea: is this our goodbye? Our end? By our, I mean: aku dan dia. I have no idea.

Aku hanya bisa menyimpulkan: well, I guess this is it. I’m done. I’m done thinking about it. I’m done.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s