Kita dan Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan

happiness is pray on time

Wilson J. Washington pernah berkata, “Happiness comes from within. Granting another human being the power to determine your level of happiness is removing your ability to decide“.

Mr. Washington sepertinya juga hidup di zaman ketika sebuah perasaan yang hakikatnya hadir dari dalam diri kita masing-masing, tanpa sadar dibuat standarisasinya. Ngerasa gitu juga, ya kan? Bahwa di event-event tertentu dalam hari-hari yang kita jalani, akan selalu saja ada “Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan” yang sepertinya menjadi bahagia setelah membuat standar kebahagiaan hahaha.

Kita semua sepakat bahwa tiap orang punya trigger of bliss yang berbeda-beda. Meskipun, yes, bagi saya dan muslim lainnya, kebahagian sejati tentu lah ketika kelak di akhirat mendapatkan rahmat dari Allah berupa jannah yang kekal abadi. Yang begini adalah hal yang pasti, undebatable, undeniable. But this is not what I really mean as standarisasi kebahagiaan dalam keseharian yang kita lewati.

Yang disayangkan adalah stereotip kebahagiaan yang terlanjur berlaku nasional maupun lokal dalam pergaulan sosial kita di dunia. Saya mengobservasi bahwa masih banyak sekali orang yang membuat standar bahwa prosedur-kehidupan-maka-kalian-pastilah-bahagia itu haruslah sesuai dengan isi otak mereka. Masih sedikit yang seiya sekata dengan kesepakatan global mengenai “happiness comes from within”, sama sedikitnya dengan jumlah manusia yang bersedia hidup tanpa peduli dengan kata-kata “Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan”.

Saya menyimak cukup banyak kisah dari beberapa teman, tentang ibu mertua, tentang suaminya, tentang pekerjaannya, tentang kuliahnya, tentang anak-anaknya, dan beragam kisah lainnya. Dari cerita yang menurut saya sangat simple dan sungguh absurd sekali untuk dijadikan alasan untuk bersedih atau bahagia, sampai cerita yang saya pun ikut sedih, geram, dan ikut bahagia sekali bahkan sekedar menyimak kisahnya. So there I try to walk a mile in their shoes. Lah orang saya aja sekedar jajan gamis dan dapat khimar yang matching dengan gamisnya bisa merasa bahagia luar biasa haha.

Mari mencoba untuk tak lagi masuk dalam Tim Pembentuk Standarisasi Kebahagiaan. Kalau menurut kita orang lain akan lebih bahagia jika mereka mendapatkan hal-hal yang menurut kita harus mereka dapatkan, ayo kita latih supaya itu tidak menjadi standar bahagianya dia. Karena kita tak tau kan apa iya yang ada dalam kepala kita itu adalah hal yang akan bikin mereka bahagia hanya karena kita sudah duluan merasakannya? Belum tentu, ya khaan ~

Apa iya kita harus punya standar kebahagiaan hidup yang sama? Apa iya kita harus jalani prosedur kehidupan serupa? Ada orang yang senang dan bahagia dengan sekadar melihat lautan, tanpa harus menceburkan diri ke dalamnya. Pun ada, juga tak mengapa ketika baru merasa bahagia setelah kaki basah oleh air laut. Lantas, kenapa bahagia kita harus disamaratakan? Bukankah kita menjalani kehidupan yang berbeda. Mengutip kalimat seorang teman, “Kebahagiaan bukan matematika, yang rumus dan hasilnya sama seantero jagad manusia”. Selagi bukan kebahagiaan orang lain yang engkau curi, hiduplah tentram dengan standar bahagia kita sendiri.

Well. Ternyata sekedar membuat tulisan ini pun I feel so happy, as happy as I find out that you’ve read this post 😁 Thanks a lot for reading and becoming the part of my happiness😉.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s