Tentang Kita dan Baper yang Kita Punya

image

Gambar di atas sempat membuat saya ngikik elegan *ahelah, macamana itu ngikik elegan :p*. Karena momennya pas betul di pekan ketika saya merasa saya BAPER!

Apa sih “baper”?. Entah siapa pencetus singkatan ini, tapi saat ini istilah baper cukup sering digunakan terutama di kalangan anak muda masa kini, atau anak yang tak lagi muda tapi yaah boleh lah dibilang berjiwa muda. Baper, singkatan dari bawa perasaan. Maksudnya apa ya bawa perasaan?

Setau saya, belum ada konsensus khusus yang membahas definisi baper. Tapi, dari berbagai konteks kalimat dan situasi yang saya jumpai *juga alami hahahahah*, baper sering dikaitkan dengan tingkat sensitivitas seseorang terhadap suatu keadaan ataupun kepada orang (atau orang-orang) tertentu.

Sebenarnya siiih dari jaman dulu juga saya rasa kita semua pernah mengalami situasi di mana baper seringkali di bawa-bawa. Misalkan, ketika SMA, atau kuliah, atau di tempat kerja, sempat dekat dengan si X, lahluuu karena X sekarang udah jadi pejabat atau jadi paduka raja yang menyebabkan kesibukannya kian ekstra, lantas jadi seperti tak punya waktu lagi untuk sekedar sapa-sapa atau lambai-lambai sebentar ke kita. Well, everybody’s changing, no? Nah, rasa keberatan atau kurang ikhlasnya kita menerima perubahan inilah yang lantas sama beberapa orang disebut BAPER. Bawa perasaan. Dijadikan persoalan. Begitulah kira-kira mungkin yaa ~

Contoh lainnya sebetulnya sih masih banyak. Tapi khawatirnya nanti dibilang nyindir kalo saya paparkan semua :p Semoga contoh kasus di atas cukup memperjelas makna baper yaa untuk yang masih bingung baper itu apa😀

image

Lalu, apa maksud saya menampilkan screenshot di atas? Hihihihi.

Tidak ada maksud apapun selaiiin sepakat dengan gambar tersebut bahwa baper, menurut saya ya ini, memang boleh-boleh saja kok. Dalam beberapa situasi, malah baper sangat diperlukan. Baper, atau menurut generasi yang belum terlalu banyak makan micin dinamakan ‘sensitif’, tetap perlu kita miliki terutama saat berurusan dengan orang lain. Kita perlu peka dengan situasi orang lain. Bilamana mendapati teman yang tadinya pernah dekat, kalo chat pernah asik betul, kalo nanya-nanya bahasa inggrisnya ini itu ke kita *ini kenapa nyambil curcol hahahahaha 😜😜😜*, lalu baik secara mendadak atau perlahan tapi pasti mulai ada jarak terbentang, maka saya rasa kita perlu mempertajam sensitivitas kita. Bukan untuk mempermasalahkan perubahannya dia, melainkan melihat ke diri sendiri kesalahan macam apa yaa kira-kira yang pernah kita lakukan. Mungkiiin, tanpa disadari pernah menyunggung perasaan dia, pernah bohongi dia, atau yaa mungkin kitanya yang emang sudah tak seasik dulu, as simple as that.

Kalau punya kasus serupa, plis baper lah pada tempatnya yaw. Jangan nuduh saya nyindir loh :p

Pesan saya hanya 1: Jangan terlalu memaksakan diri dengan interaksi yang nyaris tak mungkin dibangun lagi. Atau seperti tulisan di gambar ini deh:

image

Atau boleh juga coba laksanakan kutipan dari Mark Chernoff ini:

image

Sepakat ya😀

Dan btw, seriously, postingan ini saya tulis dalam keadaan bebas baper berlebihan. Saya tulis dalam keadaan woles sambil senyum-senyum bahagia *karena sambil bbman dengan orang-orang terkasihhh :p*. So, semoga bermanfaat dan jangan takut dianggap baper. Kalo ada yang nuduh baper, anggap saja yang nuduh kebanyakan makan micin hahaha.

One thought on “Tentang Kita dan Baper yang Kita Punya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s