Merampot french fries, Tanguy said

image

Kamis, 21 Mei 2015 lalu saya berkesempatan ngobrol dan having fun dengan mahasiswa dari Prancis yang ikut program pertukaran pelajar di Radio Volare 103.4 FM untuk program Volare Chit Chat. Seru dan lucu😀

Ada 4 mahasiswa prancis peserta program pertukaran pelajar. They are Arthur, Elyas, Tanguy (dibaca: tonggi), dan Pierre. Unfortunately hari itu Poerre sedang sakit sehingga tidak bisa hadir di studio Volare. Anyway, siarannya tetap berempat, yaitu Arthur, Elyas, Tanguy, ditemani pak Ali yang adalah kepala International Office Politeknik Negeri Pontianak. Polnep Pontianak menjadi institusi tempat teman-teman mahasiswa Prancis dari Université de Valenciennes ini menjalin MoU. Which means, kata pak Ali, nanti gantian mahasiswa Polnep Pontianak yang akan belajar di Prancis. Seru yaa ~

Kami (saya + Fidya) mengawali Volare Chit Chat dengan beberapa segmen seperti biasanya. Belajar bahasa Inggris lewat idiom, how to say it, juga bilingual info. Baru deh dilanjut dengan ngobrol2 bareng tamu spesial malam itu.

Arthur, Elyas, dan Tanguy menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah kami siapkan. Termasuk pertanyaan-pertanyaan titipan😀 Kita pengennya tanya2 tentang pengalaman mereka dong ya, things that we couldn’t find the answer by googling hehe. So we asked them, what was the first thing came through their mind when they were selected as the students to represent France to join the exchange program. And what they prepared for it.

Mereka bilang, they were so happy, excited, they called their mom, also did google to find out about Indonesia. Terkait ini, Fidya asked a brilliant question which was, their expectation before they came to Pontianak. Ternyata, dalam bayangan mereka, ketika tiba di sini mereka bisa ke pantai setiap hari 😂 Ternyata pantainya jauh dari Pontianak hihihi.

But they did go to the beach. Mereka sudah diajak ke Singkawang sama pak Ali, menghadiri acara nikahan. Juga ke pantai tentunya. And surprisingly, mereka juga sudah snorkeling ke Lemukutan. Saya yang penduduk Kalbar aja belum pernah ke sana 😂

Selain tempat-tempat wisata, mereka juga berbagi pengalaman tentang makanan khas yang sudah pernah mereka cicip selama di Pontianak. Arthur paling suka mie tiaw, Tanguy awalnya suka sate tapi lantas batal suka karena setelah makan sate malah mules2 hahaha. Sedangkan Elyas said he likes nasi goreng. Mereka bilang mereka tidak tahan pedas, walhasil ketika nongkrong di tempat makan, mereka selalu pesan “Tidak pedas” ke waiternya.

One culture shock yang dialami teman-teman Prancis kita ini adalah manakala menjumpai french fries di Pontianak. Mereka bilang, french fries di sini sangat berbeda dengan di negara asal mereka. Dari bentuk sampai rasa, jauh berbeda. Sampai-sampai Tanguy bilang, “It was merampot french fries” hahahahaa.

Oh yes, teman-teman kita ini juga sudah menguasai beberapa kosakata bahasa Indonesia loh. Bahkan bahasa melayu Pontianak😀 Termasuk “merampot” tadi hihi. Merampot means lie, bohong. Arthur menyebut “Yok lah balek” waktu kami tanya bahasa melayu apa saja yang sudah dia kuasai. Sedangkan Elyas menjawab “Aok”. Bahasa melayu Pontianak ini diajarkan secara cuma-cuma oleh teman-teman mahasiswa Polnep Pontianak yang malam itu mengantarkan mereka ke studio Volare. Thanks a lot yaa Ricky Adiputra, Agustian Pratama, dan Doni Ilhamsyah. Ingat pesan saya, jangan diajari bahasa melayu yang tadak-tadak bule2 kece tu hihihihi.

Ohh iya, bule, in French, artinye stupid loh hahaha. Mereka mestilah terkaget-kaget saat pertama kali tiba di Pontianak karena berkali-kali dilabeli bule. Luckily they can speak English so they now get it right after someone explained them about the term.

Selain makanan dan bahasa, mereka juga bercerita tentang perbedaan antara atmosfer pendidikan di Pontianak dan Prancis. Menurut mereka, di Pontianak hubungan antara dosen dan mahasiswa bisa sangat akrab seperti dengan teman. Sesuatu yang kata Arthur jarang dijumpai di Prancis. Tanguy sempat memaparkan tentang berbedanya sistem punishment atau consequence yang didapat jika tidak hadir pada pertemuan perkuliahan. Di Prancis, jika mahasiswa tak hadir, the student will get a trouble but they do not need to pay, tak perlu bayar denda. Sedangkan di Pontianak (in this case is Polnep Pontianak), kalo absen harus bayar denda. Namun hal ini diluruskan oleh pak Ali. Ujar beliau, mahasiswa tidak wajib membayar. Prosedurny adalah, jika absen kuliah, maka harus mengganti dengan kerja/magang. Kalau tidak bersedia, baru deh diganti dengan bayar denda. Gitu. Anyway, secara umum sih sama ya. Karena di kampus lain seperti Untan Pontianak, kalo gak hadir tak perlu bayar. Rugi sendiri aja palingan ya kalo ketinggalan 1 kali pertemuan. 1 perbedaan lain menurut Elyas yaitu seragam. Mungkin karena sehari-hari Elyas melihat mahasiswa Polnep berseragam mungkin ya. Something that he doesn’t find in his college.

Di ujung acara, Fidya menanyai mereka tentang musik Indonesia. Mereka bilang mereka suka dangdut hihihi. And one other funny moment was when Elyas + Tanguy sang a song yang liriknya diubah. Intinya tentang kecintaan mereka kepada nasi goreng hahahaha. Sayang sekali saya tidak abadikan lewat video hehe.

Waktu 1 jam terasa kurang untuk ngobrol2 dengan mereka. Sehingga, ketika off air setelah acara, saya lanjut tanya-tanya lagi ke mereka hahaha. Apalagi setelah dikasi tau sama pak Ali bahwa Elyas rupanya muslim. Saya pun nanya-nanya pendapat Elyas tentang muslim di Pontianak. He said we’re great. Dan Elyas rutin juga jumatan meski khutbahnya pake Bahasa Indonesia *yaiyalah kalo di Prancis baru pake bahasa Prancis :p

Kata teman-teman Polnep yang bawa mereka ke studio, daripada nongkrong2 di Café, mereka lebih senang berolahraga seperti basket dan renang selama di Pontianak. Trus juga, di Prancis tidak ada yang pakai Blackberry Messenger, pakainya WhatsApp. Walhasil, mereka baru instal bbm di Indonesia karena banyak yang minta pin bbm, selain juga buanyak yang minta foto bareng tentunya hahaha.

image

After broadcasting

There’s still lot of questions to ask. Sayang sekali udah malem, sayanya harus segera pulang, mereka pun harus lanjut ke agenda berikutnya. They will still be staying in Pontianak till July 12, which means Elyas dan kawan2 akan merasakan pengalaman pertama jalani Ramadhan di Pontianak. Semoga lancar jaya segala macam aktivitas mereka sampai kembali lagi ke negara tercinta.

Semoga nanti saya bisa ketemu mereka lagi. Kalo bukan di Pontianak, di Prancis barangkali? Takdir siapa yang tau ya khaan ~😉

10 thoughts on “Merampot french fries, Tanguy said

  1. mahasiswa dari Prancis yang ikut program pertukaran pelajar di Radio Volare 103.4 FM ~~ mantap haye volare,pertukaran pelajarnye di radio.hihi. elyas ni dari turunan arab maroko atau aljazair kalik ye?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s