Menikah via Skype

Sudah lama saya ingin publish cerita inspiratif ini di blog, sejak pasangan hafidz hafidzah ini sah menjadi pasangan suami istri pada Maret 2014 lalu. Alhamdulillah setelah mereka walimah, saya mendapat izin untuk meneruskan kisah pernikahan mereka yang membuat saya berdecak kagum dan semakin yakin bahwa menikah itu tak perlu dibikin ribet.

Nabilah Hayatina dan Fawzan Husein. Barakallahulakuma wa baraka’alakuma wa jama’a bainakuma fii khoiir.
Saya tidak begitu mengenal Nabilah. Yang saya tau, Nabilah adalah seorang shalihat penerima beasiswa di salah satu Universitas di Turki. Seorang hafidzah yang cerdas. Cantik pula. Saya mengenal Nabilah lewat cerita teman saya yang juga penerima beasiswa Turki, Izhan Fakhruzie.
Hingga waktu itu saya mendapat kabar melalui akun-akun social media milik Nabilah yang saya ikuti. Sebuah pernikahan yang dilaksanakan di tempat terpisah, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Banyak ketakjuban dan kekaguman: Sebuah pernikahan, Nabilah yang masih berusia belia, mempelai pria beserta wali calon istri ada di Madinah, mempelai wanita ada di Turki, sepasang calon pengantin yang penghafal AlQur’an, mereka pasti terlahir dari orang tua yang luar biasa!
Mereka sah menjadi sepasang suami istri, dengan jarak terpisah berkilo-kilometer jauhnya. Dari Turki, Nabilah dan teman-teman sekamarnya menyaksikan prosesi ijab qabul antara calon suami dengan ayahnya yang berada di Madinah. Belum ada malam pertama, apalagi honeymoon keliling dunia. Tapi pastilah amat sangat membahagiakan. Bahkan saya yang tidak kenal Nabilah saja bahagia, apalagi mereka yang menjalaninya😀
Dan saya semakin bahagia setelah mendapat izin untuk publish cerita inspiratif pernikahan mereka. Saya copy paste yaa tulisannya Nabilah:
Alhamdulillah, tiada kalimat yang pantas di ungkap selainNya. MashaAllah, tiada keagungan kalimat melainkanNya. Ternyata benar teh. Ustadzah saya dulu pernah bercerita, “Menikah itu tidak nikmat. Tapi amat sangatlah nikmat…” Dan kini saya dan suami, sudah hampir 4 bulan menikah. Meski baru 2 bulan bertatap dan berkenalan. Tiada kalimat yang dapat dilantunkan selain tentang-Nya. Bagaimana bisa, seseorang yang sejak dahulu saya kenal, saya kagumi kini berada di samping saya? Setiap pagi membangunkan, menegur dengan lembut, sesekali menguji hapfalan Quran. Ya, jujur saya masih malu teh. Malu malu tapi bahagia.
Dia, sosok yang memotivasi saya dari belakang. Tanpa pernah bicara, apalagi bertatap muka. Dia, yang saya kagumi. Sejak dulu dia tidak memiliki hafalan al-Quran, dan kini bahkan mampu mengajarkannya dan menginspirasi banyak orang. Ya, dulu saya banyak mencuri-curi dia. Mencuri bagaimana dia menghafal, belajar. Saya curi dari guru-guru yang mengajar. Saya banyak bertanya. Hingga akhirnya dia lulus setahun lebih awal dari saya dengan hafalan 17 juz, dan saya setahun setelahnya dengan hafalan 15,5 juz.
Impian saya, kuliah meneruskan amanah Allah. Menjadi penerus risalah dakwah. 6 tahun kemudian, Allah takdirkan dia yang saya impikan datang ke rumah, sebelum keberangkatan ke turki. Dia mengkhitbah. Meski entah kapan kami menikah. Karena saat itu, posisinya sudah berada di Madinah. Dan saya masih ingin teteh sebagai yang pertama menikah. Alhamdulillah, Allah mudahkan jalan setiap kebaikan. Teteh hanya berselang 2 pekan taaruf, lalu menikah. Dan di susul dengan nabila. Menjadi bahan surprise kawan kawan dan saudara-saudara. Kenapa tidak ada berita atau undangan dan pengumuman apapun. Saya, umi abi, juga suami hanya bertawakal pada Allah. Khawatir usia yang tidak sampai. Sebab hendak akad di Madinah. Lalu mengapa Madinah? Tanpa saya, juga keluarga? Na’udzubillah min asy-syaythoonirajim. Ia dan golongannya bisa masuk dari celah mana sajakan teh? Kami beritikad menjaga diri dan hafalan kami, untuk-Nya. Meski berat. Ya, berat. Bagaimana tidak? Tiada orang tua masing-masing. Tiada kerabat dan sahabat. Jauh dari segala macam bentuk upacara nikah layaknya di Indonesia.
Alhamdulillah, walimah pun terlaksana dengan 2 pasang pengantin. Teteh saya, yang kini sudah mengandung 3 bulan. Dan kami meyakini, nikah adalah ibadah. Menikah adalah amanah. Menikah adalah dakwah. Maka segala di dalamnya harus sesuai dengan syariat ibadah, amanah, dan dakwah. Menikah adalah ibadah, maka kami mencoba di dalamnya tiadak musik. Hanya sekadar nasyid dari Syaikh Mishari Rasyid. Kami mencoba memisahkan bagian ikhwan akhwat, kami mencoba tidak ada standing party. Menikah adalah amanah. Maka kami mencoba, dalam surat undangan terselip pula CD murattal keluarga. Bapak saya, dan dua adik laki-laki saya. Menikah adalah dakwah. Maka kami mencoba, meski sudah berbulan kami menikah, tiada ingin kami pajang foto kemesraan. Maka kami menggantinya dengan kaligrafi tangan bapak saya sendiri. Katanya, untuk dua anak tercinta. Alhamdulillah…

Alhamdulillaah.. Sekali lagi, Barakallah untuk Nabilah sekeluarga. Untuk teman-teman yang membaca tulisan ini dan belum menikah, semoga Allah permudah menuju pernikahan yang barokah🙂

3 thoughts on “Menikah via Skype

  1. dewi suryani says:

    subhanallah…so sweet ceritanya..setiap orang punya kisah tersendiri ketika moment bertemu dengan pasangan jiwanya…Allah Maha Merancang Stiap Skenario untuk hamba2 Nya..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s