Sungai Kapuas yang Mengering

Idul Fitri tahun ini menjadi Idul Fitri pertama saya tanpa bapak. Sedih sudah pasti. Air mata di mana-mana. Hanya saja rasanya tak elok kalau menangis dan bersedih pun harus terus menerus larut dalam suasana hari raya. Apalagi, kami yang ditinggalkan selalu berdoa agar bapak di alam barzakh sana dikaruniai rahmat, nikmat, maghfirah, dan kesejahteraan sehingga bapak merasa bahagia. Jika Allah perkenankan doa kami dan bapak dibuat bahagia, maka mengapa kami harus berlarut-larut dalam kesedihan?

Life must go on, and we go on the Eid Mubarak this year in Sintang, di kampung halaman bapak dan ibu saya. Bisa dibilang, saya dan suami ‘roadshow’ di Idul Fitri tahun ini. Dari Sekadau, kami menuju Pontianak sehari sebelum lebaran. Shalat Ied di Pontianak, lalu berziarah ke makam bapak dan silaturahim ke rumah keluarga. Besoknya, kami menuju Sintang.

Sebelum tiba di Sintang, kami mampir ke rumah mertua di Sanggau, dilanjutkan bermalam di rumah kami di Sekadau. Besok paginya lanjut lagi deh ke Sintang.

Dari Pontianak hingga Sintang kami melewati sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas yang nyaris mengering karena kemarau. Saking keringnya, pasir dan batu dari dalam sungai bermunculan, membuat Sungai Kapuas malah tampak seperti pantai.

image

Sungai Kapuas

Bahkan, di depan rumah atok (bapaknya ibu saya), nyaris pasir saja yang membentang di tempat yang biasanya penuh air sungai.

image

Sungai di depan rumah atok

Dulu waktu kecil, saya dan para sepupu nyaris tiap sore mandi berenang dan bermain di sungai. That has been a long time and I feel like to rewind the memory. Maka nyebur lah saya dan para adik, ibu, tante, juga suami saya ke sungai kapuas yang nyaris mengering sore itu😀

image

Bermain di Sungai Kapuas

Aih seru dan entah kapan bisa terulang lagi. Anyway, sungai di depan rumah atok bisa sekering itu selain karena kemarau, juga akibat aktivitas PETI alias penambangan emas tanpa izin. Miris.

Nah. Itu dia pengalaman Idul Fitri saya. Pengalaman teman-teman tentulah lebih seru dan mengesankan daripada cerita saya. Ayo cerita dong :p

6 thoughts on “Sungai Kapuas yang Mengering

  1. mhilal says:

    wah, bisa kayak gitu ya sungai kapuas.
    Duli waktu kecil saya pernah ke pntianak, naik perahu di atas sungai kapuas🙂

    • Biasa aja, kalo besar, bisa banjir makanya rumah orang2 di kampung atok saya bangunannya tinggi2🙂

      Namanya juga aktivitas tanpa izin, tentu tak diperhatikan pemerintah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s