Berbaik Sangka Kepada Allah

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (10: 107)

 

Seringkali kita mengaku beriman kepada Allah, percaya pada takdir yang telah Allah gariskan sejak lama di Lauhul Mahfudz. Pengakuan tersebut pastilah baru bisa dipercaya jika kita terbukti mengamalkannya.

Dan fase inilah yang kini sedang saya lewati.

Kaget, shock, tak menyangka, nyaris tak percaya bahwa malam itu, Sabtu 29 Maret 2014 bapak saya tercinta dicabut nikmat sehatnya oleh Allah (untuk sementara, Insya Allah). Bapak terkena serangan stroke, anggota tubuh bapak yang sebelah kiri tidak bisa bergerak, dan pecah pembuluh darah di otak. Rasanya saya tak perlu bercerita berapa banyak derai air mata yang saya habiskan ketika kejadian tersebut. Mulai dari membawa bapak ke Rumah Sakit di dekat rumah dengan ambulance, dirujuk ke Rumah Sakit lain, sampai dengan ikut serta mendampingi bapak menjalani operasi dan pemulihan di Normah Medical Specialist Centre, Kuching.

Hidup adalah ladang hikmah. Dan kondisi saat ini adalah fase bagi saya, kami sekeluarga untuk memetik hikmah-hikmah yang demikian banyak. Saya dan keluarga senantiasa berusaha untuk husnudzon pada Allah. Inilah barangkali cara Allah menggugurkan dosa-dosa dan segala khilaf bapak. Saya bersyukur Allah menegur kami di dunia. Semoga di akhirat kelak,  yang kami dapatkan, terutama bapak yang langsung merasakan sakit, tinggal menerima ganjaran atas amalan-amalan kebaikan yang bapak lakukan selama di dunia. Aamiin ya Rabb.

Ada pula 1 pelajaran lain yang saya dapatkan dari Bapak Muchlis Muchyie, International Public Relation Executive Normah Medical Specialist Centre. Beliau menyampaikan banyak motivasi dan nasehat berguna untuk kami selaku keluarga pasien. Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika beliau mengatakan bahwa sebagai manusia, senantiasalah berlaku baik kepada semua orang bahkan kepada orang yang menjahati kita. Tak perlu membalas, karena jika kita membalas kejahatan orang tersebut dengan skenario dendam kita sendiri, maka Allah mungkin tak lagi akan turut campur membalas perbuatan jahat orang tersebut dengan caraNya yang pastilah lebih dahsyat dari skenario kita.

Saya jadi teringat pesan Anis Matta yang bunyinya kurang lebih begini: jika kita mendapati orang lain zholim kepada kita, serahkanlah urusan tersebut kepada yang di langit. Artinya, biarkan saja kita lanjut dengan kehidupan kita, karena Allah pun geram dengan perbuatan jahat manusia, dan sudah memiliki caraNya sendiri untuk memberikan balasan setimpal kepada orang yang berbuat jahat pada kita. Tugas kita adalah mengikhlaskan, kemudian serahkan pada Allah.

Saya berharap, siapapun yang membaca tulisan ini, apabila bapak saya, juga saya, pernah berlaku zholim kepada teman-teman, bersedia memaafkan kesalahan kami, sehingga Allah bukakan pintu maafNya pula untuk bapak dan Allah titipkan kembali nikmat sehat kepada bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s