Nomofobia, Penyakit Kecanduan Ponsel

Takut adalah hal lumrah bagi manusia. Misalnya, takut gelap, takut ketinggian, takut benda tajam, dan sebagainya. Namun, takut yang satu ini unik, yakni takut telepon selulernya ketinggalan alias tidak terbawa. Rasa takut ini populer disebut sebagai Nomophobia, dari kata no mobile dan phobia (=takut).

 

Tentu saja “penyakit” ini hanya dimiliki oleh orang-orang modern. Orang-orang yang tidak mau lepas dari gadget yang saling menghubungkan mereka satu sama lain. Memang, modernitas seperti dibilang sosiolog Zygmunt Baumant berjalan secara ambigu. Di satu sisi menyuguhkan kemudahan yang tidak diperoleh orang-orang di zaman sebelumnya (katakanlah dua dekade silam). Di sisi lain, modernitas juga menyuguhkan aneka risiko. Salah satunya adalah alienasi manusia pada dirinya sendiri. Orang menjadi terasing dengan dirinya. Dan, nomophobia adalah contoh konkretnya.

Bagaimana bisa seorang merasakan takut tidak bisa terhubung dengan orang lain lantaran ponselnya ketinggalan? Menariknya, hal ini tidak terjadi di era sebelum ponsel berada. Dulu, orang hidup sendiri dalam arti tidak terhubung dengan orang, juga bukan sebuah masalah. Sekarang, tidak kontak dengan orang lain, entah telepon, BBM, WhatsApp, chatting di Line dan sebagainya, hidup terasa kurang. Persis di sinilah proses alienasi teknologi terjadi. Padahal eksistensi kemanusiaan orang itu sama sekali tidak tergantung pada ada dan tidaknya ponsel tersebut.

Menurut data SecurEnvoy yang melakukan survei atas 1.000 responden di UK menemukan 66 persen responden takut dirinya ketinggalan maupun kehilangan telepon selulernya. LA Times juga melaporkan hal senada yang mana pada tahun lalu, ada 53 persen responden menyatakan khawatir ponsel mereka ketinggalan.

Perempuan, menurut kajian di atas, menjadi pihak yang merasa paling menderita dari nomophobia ini. Survei teranyar menemukan 70 persen perempuan takut kehilangan ponsel mereka. Hanya 61 persen laki-laki mengatakan mereka terjangkiti nomophobia.

Selain itu, kajian tadi juga menyebut nomophobia menjangkiti sebagian besar generasi yang lebih muda yang mana 77 persen responden yang berusia antara 18-24 tahun menderita nomophobia tersebut.

Penderita nomophobia bahkan dapat memeriksa ponselnya hingga 34 kali sehari dan sering membawanya hingga ke toilet. Ketakutan tersebut termasuk dalam hal kehabisan baterai, melewatkan telepon atau sms, dan melewatkan informasi penting dari jejaring sosial.

Gimana caranya mendeteksi Nomophobia? Perhatikan tanda-tanda berikut ini:

  1. Ketidakmampuan untuk mematikan ponsel
  2. Obsesif memeriksa panggilan, email dan SMS
  3. Terus-menerus mengisi baterai karena takut kehabisan
  4. Membawa ponsel kemanapun pergi, bahkan hingga ke kemar mandi

Hmm.. are you a Nomophobia?

Sumber: Mindtalk

I think sometimes I am, unless I am sleeping😛

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s