Belajar Dari Hasan Al-Banna Jadi Seorang Suami

 

Dakwah tidak membuat Hasan Al-Banna menjadi sibuk atau berpaling dari kewajiban-kewajibannya sebagai seorang suami Muslim yang meneladani Rasulullah saw: “Sebaik-baik kalian, sebaik-baik kalian adalah kepada keluarganya.” Ustadz Saiful Islam bercerita: Ayahku adalah seorang yang sangat menjaga penerapan sunnah Rasulullah saw. Ketika beliau menikah, beliau berusaha mengenali kerabat istrinya satu-persatu. Setiap orang yang berhubungan dengan istrinya, beliau sambung. Beliau hitung jumlah mereka, didatangi rumahnya meskipun jaraknya jauh karena kondisi kekeluargaan yang turun-menurun. Akan tetapi ayah—rahimahullah—suatu ketika mengagetkan ibuku bahwa ia telah mengunjungi seorang laki-laki. Dan ini beliau lakukan melalui hubungan kerabat melalui si fulan, karena ia adalah anaknya fulan. Ini kembali kepada kelembutannya yang kuat dalam memegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw. Demikianlah perhatian Hasan al-Banna terhadap urusan rumah tangganya secara sempurna tanpa kurang sedikitpun. Beliau mencatat sendiri berbagai kebutuhan dan semua jenis urusan rumah tangga selama sebulan dan memperlihatkannya di awal bulan kepada salah seorang ikhwan, yaitu haji Sayyid Syihabuddin, pemilik toko yang terkenal untuk menyediakan bahan makanan setiap bulannya.

Imam Syahid Hasan Al-Bana merasakan cobaan hidup yang dijumpai istrinya dan berusaha mencarikan seorang pembantu untuk selalu menyertainya agar bisa menangani tugas-tugas rumah tangga.

Ustadz Saiful Islam menceritakan tentang kelembutan dan kepekaan perasaannya. Ia berkata: Beliau pulang ke rumah selalu pada larut malam setelah berkumpul bersama Ikhwan. Saya sebutkan bahwa kunci rumahnya berbentuk panjang. Pada beberapa malam saya sengaja begadang dengan membaca buku. Tiba-tiba ayah membuka pintu dengan kunci yang beliau pegang dengan sangat pelan-pelan dan tenang sekali agar tidak mengganggu semua yang sedang tidur. Dan saat itu saya mengagetkan kedatangannya.

Anak putrinya, Tsana bercerita: Ayah adalah orang yang tenang, lapang dada dan lemah-lembut. Di rumah, suaranya tidak pernah keras karena sebab apapun. Beliau membantu ibu dalam sebagian tugas rumah tangga, meskipun beliau sibuk dengan tugas dakwah. Ayah saya adalah sosok yang rendah hati terhadap seluruh anggota keluarga, baik yang besar ataupun yang kecil. Setiap hari beliau menulis di sebuah notes kecil tentang semua kebutuhan rumah sampai mengabsennya sendiri atau menyuruh salah satu di antara kami untuk mengabsennya. Beliau mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan rumah sampai pada jadwal mengurus banyak hal seperti mentega, bawang, mentimun dan lain sebagainya.

Ustad Saiful Islam bercerita: Ketika masuk rumah, beliau menutup selimut anak-anak dengan sangat pelan-pelan. Terkadang beliau makan malam dengan hidangan yang ada di atas meja tanpa membangunkan ibu atau seorang pun di antara penghuni rumah karena kedatangannya di tengah malam itu. (Dikutip dari Majalah Liwa Islam)

Sumber: Rumah Keluarga Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s