Dua Kisah yang Sering Tak Kita Pedulikan

Malam mulai pekat, tapi langkah Alif masih jejak menapak kehidupan. Suaranya masih mendengung riang bersahutan dengan ukulelenya. Dengan perut keroncongan Alif menghibur mereka yang sedang lahap makan disebuah rumah makan ditepi jalan.

“Kok dibuang sih Dek?” Nada sumbang itu begitu memanas telinga alif. Sepotong tempe mendoan tergeletak bebas di dekat kaki, membasahi tenggorokannya dengan telanan ludah.

“Nggak enak Yah tempenya.” Nada polos itu sungguh menggemaskan.


“Ya tapi jangan dibuang Dek, kamu ini. Ya sudah makan nasinya.” Sang Ayah memberi nasihat. Lalu memberikan dua keping lima ratusan kepada pengamen itu. Alif berlalu. 

Apa yang disia-siakan mungkin saja itu menggantung harapan besar untuk orang lain.
***
 

“Kakinya jangan gitu Ben, nanti kesandung.” Beni tetap saja menendang-nendang kaleng bekas minuman, tidak menghiraukan nasihat ibunya. Hatinya masih mendekal karena tidak diperbolehkan membeli mainan oleh sang Ibu. Dari arah yang berlawaan seorang kakek tua sedang mengayunkan gancunya, matanya melirik ke sana kemari mencari sesuatu. Sambil memanggil karung kecil yang sudah setengah penuh oleh barang.

“BENI, jalannya licin nanti kamu jatuh.” Sekuat tenaga Beni menendang kaleng itu hingga melesat jauh ke sebuah parit. Ia kesal sejadi-jadinya. Tak selang lama kakek tua itu sedang bersusah payah mendapatkan sebuah kaleng minuman yang ditendang oleh Beni tadi. 

Apa kita seakan lupa, hal yang sesederhana itu betapa berharga, menjadi tumpuan hidup seorang jiwa yang berusaha menyambung nyawanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s