2 Jenis Prasangka

Prasangka, terlebih prasangka buruk, merupakan perbuatan yang sangat dikecam oleh Islam. Prasangka tidak sedikitpun mendatangkan kebaikan. Dalam Surat Yunus (10) ayat 36. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apapun.”

 Firman serupa ditegaskan kembali dalam Surat An Najm (53) ayat 28. Kemudian dalam surat Alhujurat (49): 12, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah memperbanyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. “Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan, “Takutlah kalian berprasangka, karena ia merupakan sedusta-dusta perkataan.”

Dengan demikian jelas, prasangka merupakan perbuatan yang berbanding lurus dengan itsm (dosa) dalam pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan akdzab al hadits (sedusta-dusta perkataan) dalam pandangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Karenanya, prasangka sedapat mungkin harus dihindari, dan hanya orang-orang yang beriman yang bisa melakukannya.

Dalam mengelaborasi pengertian prasangka, Imam Sufyan Ats Tsauri menyakan, prasangka itu ada dua jenis. Prasangka yang mendatangkan dosa dan prasangka yang tidak mendatangkan dosa. Yang pertama dilakukanoleh orang yang berprasangka dengan menampakkannya melalui ucapan (juga tulisan:) ). Yang kedua dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati.

Prasangka model pertamalah yang dinilai Imam Ats Tsauri berimplikasi dosa. Sedangkan yang kedua tidak. Namun jika dicermati, prasangka model kedua bisa menjadi pembuka jalan terjadinya prasangka model pertama. Dengan ujaran lain, prasangka yang tertumpahkan melalui ucapan itu terjadi karena bermula dari prasangka dalam hati.

Apalagi memurut banyak riwayat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala justru melihat apa yang ada di kedalaman hati hambaNya. Itu artinya, prasangka dalam hati juga tak pernah luput dari pantauan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini perlu diangkat ke permukaan, karena dalam kondisi bangsa yang serba semrawut ini, s angat mungkin sikap saling berprasangka menjadi lumrah terjadi.

Kita masih ingat tragedy Al Ifki yang menimpa Siti Aisyah, istri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena beliau disangka berselingkuh, masyarakat Madinahpun gempar. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak berkenan. Gunjingan demi gunjingan berhamburan di tiap sudut kota. Ketegangan pun terjadi dimana-mana. Kedamaian hilang. Padahal, berita perselingkuhan itu hanya dusta yang sengaja disebar orang munafik. Untuk itu, menghindari prasangka sangat ditekankan dalam Islam.

 

Via Salimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s