Bedah Buku Fatwa Kontroversial Yusuf al-Qaradhawi

Alhamdulillaah, Ahad 17 Maret 2013 lalu, saya dan suami berkesempatan untuk hadir ke acara Bedah Buku Fatwa Kontroversial Yusuf al-Qaradhawi yang diselenggarakan oleh Salimah Kota Pontianak.

Image

Sebelumnya, saya dihadiahi buku berjudul serupa oleh Aleg PKS dari Pontianak, bang Pramono Tripambudi. Dari beliau juga saya dapat info bahwa hari Ahad akan ada acara bedah buku di Masjid Darul Falah Kota Baru, Pontianak.

Hadiah dari Bang Pram

Hadiah Buku

Maka, mumpung pekan kemarin saya dan suami sedang di Pontianak, kami gunakanlah kesempatan itu untuk datang ke Majelis Ilmu tersebut. Kapan lagi kan datang ke acara bedah buku yang dibahas langsung oleh penulisnya, Ustadz Hepi Andi Bastoni.

Dalam acara bedah buku tersebut, Ustadz Hepi yang baru sudah 3 kali berjumpa dengan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi memaparkan tentang beberapa alasan beliau menulis bukunya yang ke-47 tersebut. Ada 4 poin yang saya catat, di antaranya:

  1. Popularitas Syeikh Yusuf al-Qaradhawi
  2. Fatwa Syeikh Yusuf al-Qaradhawi dalam berbagai hal
  3. Di Indonesia, Fatwa Syeikh Yusuf al-Qaradhawi menjadi rujukan
  4. Banyaknya kritik terhadap fatwa Syeikh Yusuf al-Qaradhawi

Di buku ini, dikenalkan juga tentang siapa Syeikh Yusuf al-Qaradhawi. Nama aslinya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf, lahir di Kairo, Mesir pada 9 September 1927. Syeikh Yusuf al-Qaradhawi ini sudah hafal AlQur’an sejak usianya belum genap 10 tahun. Beliau memiliki 7 orang anak, yang terdiri dari 4 orang putri, dan 3 orang putra.

Meskipun Syeikh Yusuf al-Qaradhawi ini merupakan ulama yang memiliki pengaruh di dunia internasional, namun hal tersebut tidak membuat beliau lantas mewajibkan anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya bersekolah di bidang yang sama dengan bidang yang beliau kuasai. Syeikh Yusuf al-Qaradhawi justru memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada anak-anaknya untuk memilih sendiri jurusan masing-masing sesuai minat dan bakat yang dimiliki.

Di halaman 31 dan 32, Ustadz Hepi menuliskan tentang keluarga Syeikh Yusuf al-Qaradhawi. Istrinya merupakan seorang yang amanah dalam menjaga dan mendidik anak-anaknya, dan anak-anaknya merupakan karunia dan titipan Allah yang cerdas. Mereka melihat Syeikh Yusuf al-Qaradhawi sebagai teladan hidup, maka menjadi tugas mereka sebagai anak untuk mempersembahkan kesuksesan dan berbakti pada orang tua dengan cara belajar yang rajin dan tekun.

Anak Syeikh Yusuf al-Qaradhawi yang pertama, Ilham, keluar dengan nilai trtinggi dari Universitas Qatar dan meraih gelar doktor dalam bidang fisika nuklir dari Universitas London. Dia mendapat tugas belajar dari Universitas Qatar.

Sedangkan putrinya yang kedua, Siham, juga menjadi alumnus Universitas Qatar dengan nilai tertinggi pada jurusan kimia, dan memperoleh gelar doktor dari salah satu universitas di Inggris dalam bidang biologi organ tubuh. Sama seperti kakaknya, Siham juga diutus oleh pemerintah Qatar.

Sedangkan putrinya yang ketiga, ‘Ala, juga keluar dengan nilai tertinggi dari fakultas biologi jurusan hewan. Dia memperoleh gelar master dari Universitas Texas di Amerika dalam bidang rekayasa genetik. Kemudian dia bekerja sebagai salah seorang peneliti di lembaga riset Universitas Qatar, namun kemudian mengundurkan diri karena ikut suaminya yang bekerja di Kairo.

Putrinya yang keempat, Asma’, memperoleh gelar dari Universitas Khalij di Bahrain. Dia mengambil program doktor di Universitas Nottingham di Inggris bersama suaminya.

Anak laki-lakinya yang bernama Muhammad merupakan alumnus Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Qatar. Dia diutus untuk mengambil program doktor di Amerika, memperoleh gelar master dari Universitas Denver di Colorado, dan menyelesaikan tugas akhir doktornya di Universitas Orlando di Florida.

Anak laki-lakinya yang kedua, Abdurahman, menempuh jalur yang berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia tidak mengambil jurusan eksakta, tapi masuk ke sebuah akademi keagamaan di Qatar. Setelah lulus sekolah menengah, dia masuk Fakultas Syariah dan Fiqih. Dia lulus dengan nilai sangat baik, dan ditugaskan untuk menjadi asisten dosen. Setelah itu, ia diutus ke Universitas Darul Ulum Kairo untuk s2 bidang Ushul Fiqih.

Sedangkan anak bungsunya, Usamah, adalah alumni Fakultas Teknik Jurusan Elektro. Dia diangkat sebagai dosen di almamaternya, tapi dia memilih untuk bekerja di kementerian pelistrikan di Qatar.

Yang menarik dari bedah buku kemarin adalah, Ustadz Hepi menyampaikan mengenai contoh fardhu kifayah yang dipaparkan oleh Syeikh Yusuf al-Qaradhawi. Ujar beliau, nyaris setiap kali kita ditanyai tentang contoh fardhu kifayah, kita akan menjawab dengan: mengurus jenazah. Padahal, fardhu kifayah bukan hanya itu saja. Menyekolahkan anak perempuan di fakultas kedokteran, terutama spesialis kandungan, pun termasuk dalam contoh fardhu kifayah.

Btw, sudah tau kan arti fardhu kifayah? Hehehe. Yup, fardhu kifayah adalah status hukum dari sebuah aktivitas dalam Islam yang wajib dilakukan, namun bila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban tersebut menjadi gugur.

Mengapa menyekolahkan anak perempuan di fakultas kedokteran, wa bil khusus spesialis kandungan, menjadi fardhu kifayah? Bukankah perempuan yang bekerja lebih banyak mudharatnya dan sebaiknya di rumah saja? Well then. Coba saja lihat fakta dan realita di lapangan saat ini, berapa banyak sih jumlah dokter kandungan yang perempuan? Jumlahnya masih sedikit sekali, apalagi kalau dibandingkan dengan dokter kandungan laki-laki.

Maka, coba saja tanyakan kepada para ibu hamil, terutama ibu-ibu muslimah yang sehari-harinya sedemikian kokoh menjaga interaksi agar tak bersentuhan dengan lawan jenis. Apa tak risih ketika memeriksakan kandungan, atau memeriksakan kesehatan reproduksi, yang meriksa dokter lelaki? Bagian tubuh yang sepanjang hari dibalut hijab panjang dan rapi, hanya diperlihatkan untuk suami saja, tiba-tiba mau tak mau harus diperlihatkan, bahkan dipegang juga oleh lelaki lain. Apa tak boleh? Ujar Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, boleh, karena kondisinya darurat kan. Kalo tak diperiksa, malah dikhawatirkan bisa memunculkan mudhorat lain.

Namun, kondisi darurat seperti itu tidak boleh dipelihara. Jangan jadi manusia yang suka memelihara kondisi darurat dan keenakan bahkan menikmati kondisi darurat. Selagi bisa diantisipasi, kondisi darurat tersebut sebaiknya diubah. Oleh karena itu, berterima kasihlah kepada orang tua yang mengikhlaskan anak perempuannya untuk bersekolah di kedokteran spesialis kandungan. Berterima kasihlah kepada suami yang mengikhlaskan istrinya untuk bekerja sebagai dokter spesialis kandungan. Berterima kasihlah kepada anak-anak yang merelakan ibu mereka untuk menyebarluaskan manfaat yang dimilikinya kepada lebih banyak orang. Bukankah kita *para muslimah* ini lebih nyaman memeriksakan diri ke dokter wanita daripada ke dokter lelaki? Saya pribadi sih demikian🙂

Okesip, itu tentang fardhu kifayah. Selain itu, Ustadz Hepi juga membahas fatwa-fatwa dan ijtihad Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, serta metode fatwa yang beliau gunakan:

  • Menggabungkan antara fiqih dan hadits
  • Bersikap moderat dan mudah
  • Memperhatikan realita (Fiqhul Waqi’)
  • Bebas dari fanatisme mazhab (membebaskan talfiq)
  • Fleksibel dan tidak jumud
  • Bersifat kausustik
  • Menggabungkan antara naqal dan aqal

Fiqhul waqi’ atau melihat kondisi real di lingkungan, misalnya pada kasus hukum sholat jumat untuk musafir. Hukum asalnya adalah musafir tidak wajib untuk laksanakan sholat jumat. Namun, jika akibat dari tidak sholatnya sang musafir (misalnya musafir tersebut adalah ulama atau tokoh masyarakat) memicu munculnya fitnah, maka lebih baik jika musafir tersebut tetap sholat. Pertimbangannya, belum tentu masyarakat lain tau hukum tidak sholat jumat bagi musafir, begitu.

Kemudian dipaparkan pula oleh Ustadz Hepi, bahwa dalam talfiq, diterapkan beberapa syarat: bukan sengaja mencari yang enak, bukan membatalkan keputusan penguasa, bukan membatalkan keyakinan yang sebelumnya dipilih, dan berhubungan dengan furu’ (cabang syariat).

Dalam memahami fatwa Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, menurut ustadz Hepi, ada 4 hal yang harus kita camkan:

  1. Perbedaan pendapat adalah hal yang pasti
  2. Bukan hanya Syeikh Yusuf al-Qaradhawi
  3. Beda tempat, beda fatwa.
  4. Kritik boleh, tapi jangan memaki

Ujar ustadz Hepi, tidak semua fatwa Syeikh Yusuf al-Qaradhawi harus kita pakai. Sesuai poin nomor 3, beda tempat (juga beda kondisi), fatwa bisa berbeda. Misal, untuk fatwa tentang ucapan selamat natal, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi membolehkan. Tapi Ustadz Hepi secara pribadi *dan juga saya pribadi*, memilih untuk tidak mengucapkan selamat natal. Ujar Ustadz Hepi, ada perbedaan konteks antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab dalam lafadz selamat natal, beda situasi antara muslim yang berada di negara mayoritas  muslim dengan negara minoritas. Ada juga sih alasan lain yang membuat Ustadz Hepi *dan juga saya hehe* lebih memilih untuk tidak ucapkan selamat natal. Off the record aja ah😛

Overall, bahasan-bahasan tersebut, beserta fatwa-fatwa kontroversial lainnya bisa teman-teman baca di buku yang ditulis oleh Ustadz Hepi. Kalo ingin pesan, bisa langsung kontak beliau di:

  • Pustaka al-Bustan
    Taman Kenari Blok B6 No 3A Ciluar Bogor
  • Telp: 0251 650158
  • Hp: 0817-0-1945-60

Selain Ustadz Hepi, bahasan dari Ustadz Misyruqi Asy Syairy, MPI pun tak kalah seru. Beliau membahas tentang Fiqih, juga mengenai sebab-sebab ikhtilaf fiqh yang tak terhitung banyaknya. Di antaranya:

  1. Berbeda dalam sumber hukum
  2. Berbeda dalam menilai hadits
  3. Berbeda dalam riwayat hadits
  4. Berbeda memahami teks hukum baik ayat maupun hadits
  5. Berbeda tahqiqul manath

Untuk urusan ijtihad, ujar Ustadz Misyruqy, kita tidak bisa mengklaim sebagai yang paling benar.

Di sesi diskusi dan tanya jawab, saya ingat salah satu pertanyaan menarik dari peserta bedah buku. Pertanyaannya yaitu tentang tradisi tahlilan (yasinan) yang hingga hari ini masih berlaku di masyarakat kita, padahal Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mencontohkan yasinan tiap malam jum’at. Jika ingin datang, apakah boleh meniatkan datang untuk silaturahim? Pertanyaan ini dijawab dengan apik oleh Ustadz Hepi.

Kata Ustadz Hepi, di sinilah pentingnya peran kita menjadi insan yang memiliki pengaruh di lingkungan masyarakat, memiliki kemampuan komunikasi dan bahasa yang baik, tidak ujug-ujug “Ini bid’ah nih, bubar!” walaupun hal itu memang bid’ah karena tak pernah dicontohkan Rasulullah. Ustadz Hepi menceritakan tentang bagaimana mengubah kebiasaan yang keliru dengan cara yang bijak, yakni, sebelum acara tahlilan (yasinan) tersebut dimulai, kita duluan yang ambil alih, membuka acara, dan secara bertahap ‘membuat acara di dalam acara’.

Jadi, supaya masyarakat tidak shock dan jadi ilfil sama kita, kitanya mesti bersabar menuntun masyarakat agar bisa lepas dari bid’ah dan kembali ke jalur yang sesuai dengan syari’at. Misalnya dimulai dari pekan pertama, sampaikan: “Hari ini, sebelum yasinan, kita mulai dengan taujih/tausiyah”. Pekan kedua: “Supaya pengajian kita lebih variatif dan tidak monoton, hari ini, baca yasinnya bergantian, tidak berjama’ah ya ibu-ibu”. Pekan ketiga: “Bagaimana kalau hari ini kita baca surah al-kahfi? Sesuai dengan sabda Baginda Rasulullah:

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, dari NabiShallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

Siapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘Atiq.” (HR. Al-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736 dan Shahih al-Jami’, no. 6471)

Masih dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang anjuran membaca surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua Jum’at.

Al-Mundziri berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa.” (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)

Dan seterusnya sampai dengan kebiasaan yang keliru tersebut benar-benar hilang dari masyarakat dan berganti dengan kebiasaan yang sesuai tuntunan syari’at.

Begitu manteman.

Pelajaran dan hikmah yang saya dapatkan dari acara bedah buku yang saya ikuti kemarin adalah, agar diri ini tidak mudah merasa taat hingga memandang sebelah mata saudara-saudara saya yang sedang sama-sama berproses menjadi lebih baik. Artinya, jangan gampang menjadi manusia yang “mentang-mentang”. Mentang-mentang rutin ikut kajian tiap pekan, lalu mudah nyinyir sama orang yang baru mau mulai belajar ngaji. Mentang-mentang amal yaumi seabreg *jelas bukan amal yaumi saya*, lantas meremehkan orang-orang yang baru mau mulai beramal. Yah begitulah, di atas langit masih ada langit kan? Kalo kata Fahri Hamzah di twitnya: “teman2 yang banyak ibadahnya jgn anggap orang lain jauh dari Allah…itu private…tak ada yg tahu. itu rahasia.”, gitu😀

Baiklah. Demikianlah segelintir oleh-oleh dari Bedah Buku Fatwa Kontroversial Yusuf al-Qaradhawi. Semoga bermanfaat untuk semua, terutama untuk teman-teman di Pontianak yang kemarin tak sempat datang ^^v

4 thoughts on “Bedah Buku Fatwa Kontroversial Yusuf al-Qaradhawi

  1. hazelniez said:
    Jadi, supaya masyarakat tidak shock dan jadi ilfil sama kita, kitanya mesti bersabar menuntun masyarakat agar bisa lepas dari bid’ah dan kembali ke jalur yang sesuai dengan syari’at. Misalnya dimulai dari pekan pertama, sampaikan: “Hari ini, sebelum yasinan, kita mulai dengan taujih/tausiyah”. Pekan kedua: “Supaya pengajian kita lebih variatif dan tidak monoton, hari ini, baca yasinnya bergantian, tidak berjama’ah ya ibu-ibu”. Pekan ketiga: “Bagaimana kalau hari ini kita baca surah al-kahfi?

    Saya sangat suka dengan pendekatan halus seperti ini. Tentunya benar-benar dibutuhkan kesabaran.
    Sepertinya recommended banget buku ini. Jazakillah khairan, mbak Dini, bermanfaat sekali sharingnya.
    Saya masukkan dalam daftar belanja buku weekend ini nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s