Ujian Orang Kaya Lebih Berat daripada Orang Miskin

TERNYATA UJIAN ORANG KAYA ITU LEBIH BERAT DARIPADA ORANG MISKIN

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ , وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا , أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Dari ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu anhu, salah seorang sahabat yang ikut serta dalam perang Badar, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku khawatir akan dilapangkan (harta benda) dunia kepada kalian, sebagaimana telah dilapangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian akan saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dan (kemewahan) dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim).

BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:

1) Ujian yang Allah berikan kepada para hamba-Nya itu adakalanya berupa kebaikan dan kenikmatan, seperti berlimpahnya harta benda, sehatnya badan, penglihatan dan pendengaran, kedudukan yang tinggi, ilmu, dan ketaatan. Dan adakalanya berupa keburukan dan kesempitan, seperti kefakiran dan kemiskinan, sakitnya badan, kegagalan usaha, kematian orang yang  tercinta, kebodohan tentang agama, berkuasanya musuh, dan selainnya.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan di dalam firman Allah ta’ala:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35).

Dan firman-Nya pula:
وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Dan Kami uji mereka (Orang Yahudi) dengan nikmat yg baik-baik dan bencana yg buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf : 168).

2) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih mengkhawatirkan umatnya diuji oleh Allah dengan dilapangkannya rezeki dan dibukakannya pintu-pintu kemewahan dunia daripada mereka diuji dengan kefakiran, kemiskinan n kesulitan.

Oleh karena itu, pada hari Kiamat, Allah ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kepada para hamba-Nya tentang harta benda yang mereka miliki dari dua sisi; yakni dari mana ia mendapatkannya, dan kemana ia membelanjakannya. 

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَمَا ذَا عَمِلَ فِيمَ عَلِمَ؟

Artinya: “Tidak akan bergeser kaki manusia dari hadapan (Allah) Rabbnya di hari kiamat hingga ditanya tentang lima perkara (yaitu); Tentang umurnya untuk apa ia gunakan, tentang masa mudanya untuk apa ia habiskan, tentang harta bendanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari ilmunya?” (HR. At-Timidzi. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2417).

3) Kenikmatan dan kemewahan dunia dengan berbagai macamnya merupakan ujian yang sangat berat bagi umat Islam. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

إِنَّ لِكُلِ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

Artinya: “Sesungguhnya bagi setiap umat ada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan fitnah (ujian) bagi umatku adalah harta.” (HR. At-Timidzi. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2336).

Abdurrahman bin ’Auf radhiyallahu anhu berkata: “Dahulu kami diuji (oleh Allah) bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan kesengsaraan (seperti kefakiran, kesulitan, dan siksaan dari musuh, pent), maka kami pun (mampu) bersabar. Kemudian setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggal dunia, kami diuji (oleh Allah) dengan kemewahan (kesenangan, kelapangan, kekuasaan, pent) maka kami tidak mampu bersabar (dalam menghadapi dan menyikapinya, pent).”  (Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2464).

Demikianlah pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan secara singkat dari hadits ini. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 11/01/2013)

Sumber: Abu Fawaz

3 thoughts on “Ujian Orang Kaya Lebih Berat daripada Orang Miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s