Tentang Ucapan ‘Insya Allah’

TAFSIR Q.S.AL-KAHFI:23-24 TENTANG UCAPAN INSYA ALLAH SAAT BERJANJI

Janji adalah hutang dan hutang wajib dibayar. Oleh karena itu, suatu janji wajib hukumnya untuk ditepati, bahkan bila seorang berjanji lalu diingkarinya tanpa uzur, maka ia tergolong memiliki tanda orang munafik yang akan kekal di neraka bersama orang-orang kafir. Namun karena seseorang tidak bisa memprediksi bahwa ia bisa dan pasti mampu melaksanakan sesuatu yang telah dijanjikannya pada orang lain pada masa yang akan datang, maka seharusnya ia menyertakan janji-janjinya untuk masa datang dengan sebuah kalimat Insya Allah (jika Allah menghendaki) atau bi Masyiatillah (dengan kehendak Allah) atau illa An YasyaAllah (kecuali jika Allah menghendaki).

Hal ini, sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S. al-Kahfi: 23-24, yang artinya yaitu:

“(23) dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:

“Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, (24) kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.

Menurut beberapa kitab tafsir, seperti tafsir Imam Qurthubi (Juz 10, hlm. 384) bahwa sebab turunnya dua ayat di atas adalah karena beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab: “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan!”. dan beliau tidak mengucapkan insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang (bahkan riwayatnya sampai 15 hari) untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.
Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa jika berjanji hendaknya ada pengecualian dengan mengatakan “jika Allah menghendaki”.

Hal ini berfungsi jika orang yang janji itu lupa atau ada uzur, sehingga tidak bisa menepati janjinya, maka ia tidak tergolong orang yang berbohong atau ingkar janji. Bahkan pada ayat berikutnya (ayat 24) ada anjuran jika lupa mengucapkan Insya Allah lalu ingat, maka tetap dianjurkan untuk mengucapkan itu, walaupun sudah lama waktu antara janji (yang lupa Insya Allah) dengan waktu ingatnya itu bahkan walau sudah hampir satu tahun, sebagaimana pendapat sahabat Ibn Abbas yang dinukil oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya.

Dalam al-Qur’an sendiri terdapat pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu tentang ucapan Insya Allah yang terulang sebanyak 6 kali, yaitu: (1) Q.S. al-Baqarah: 70, tentang janji Bani Israil kepada Nabi Musa untuk menyembelih seekor sapi dengan ciri-ciri tertentu; (2) Q.S. Yusuf: 99, tentang Janji Nabi Yusuf pada saudara-saudranya untuk masuk Mesir dengan aman; (3) Q.S. al-Kahfi: 69, tentang janji Nabi Musa pada Nabi Khidir untuk taat dan sabar saat belajar padanya; (4). Q.S. al-Qashash: 27, tentang janji Nabi Syu’aeb pada Nabi Musa yang akan dinikahkan dengan salah seorang putrinya setelah mahar dari Nabi Musa berupa kerja di ladangnya dalam hitungan waktu tertentu terpenuhi sebagiannya; (5) Q.S. al-Shaaffat: 102, tentang janji Nabi Ismail pada ayahnya; Nabi Ibrahim bahwa ia akan ikhlas dan tidak berontak saat akan di sembelih ayahnya, oleh karena itu ia minta pada ayahnya agar ia tidak usah diikat, karena tidak akan lari dan; (6) Q.S. al-Fath: 27, tentang janji Allah pada Nabi Muhammad untuk bisa (dalam waktu dekat) kembali menguasai kota suci mekkah dan bisa berhaji lagi setelah sebelumya di embargo oleh orang-orang kafir Quraesy.

Para ulama telah sepakat bahwa berjanji dengan tambahan pengecualian kata Insya Allah atau semisal dengan bahasa Arab atau bahasa apapun adalah sunnah (dianjurkan dan berpahala) walau memang ada sebagian kecil ulama yang berpendapat wajib hukumnya tambahan kalimat Insya Allah. Namun ulama yang berpendapat sunnah pun memberi syarat; boleh berjanji tanpa Insya Allah, jika dalam hatinya tidak ada keyakianan bahwa ia pasti bisa menepati janjinya tanpa ada kaitanya dengan taqdir Allah.

Wallahu a’alam bi al-Shawab

Sumber: Madadul Haq

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s