Antara Hidayah Dan Dlolalah (Kesesatan)

Sebuah pertanyaan sering kali terdengar di telinga kita, dari manakah datangnya hidayah itu atau dari mana penyebab dlolalah itu ? Dalam menjawab pertanyaan ini, setidak-tidaknya ada dua pendapat yang berbeda, keduanya saling bertolak belakang. Namun, sebelum dua pendapat ini dibahas lebih lanjut, perlu dipahami terlebih dahulu tentang makna Hidayah dan Dlolalah.

Secara lughowiyyah, Al-Hudaa dapat diartikan sebagai Al-Irsyad yang artinya petunjuk([1]) dan Adl-Dlolal berarti sesat atau tidak mendapatkan petunjuk([2]). Sedangkan secara syar’iyyah Al-Hudaa berarti petunjuk menuju Islam yang selanjutnya akan membuahkan keimanan dan Adl-Dlolaal diartikan dengan menyimpang dari Islam([3]).

Banyak sekali kaum muslimin yang belum memahami makna hidayah (petunjuk) dan dlolalah (kesesatan), dari mana datangnya dan sejauh mana peran manusia di dalamnya. Oleh karena itu, pembahasan ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan menjauhkan kita dari perilaku sesat dan menyesatkan orang lain.

Dalam membahas hidayah dan dlolalah ini, hendaknya tidak terlepas dari nash-nash Al-Qur’an sebagai wahyu Alloh yang di dalamnya banyak ayat-ayat yang membicarakan hidayah dan dlolalah, meskipun akhirnya muncul dua pendapat yang saling bertolak belakang dan seakan-akan menunjukkan adanya ayat-ayat yang bertentangan satu sama lain dalam Al-Qur’an. Hal ini tidak akan terjadi, apabila dalam memahami ayat-ayat tersebut digunakan pemahaman secara syar’iy, dengan menggunakan indikasi syara’ dan indikasi logika.

A. Hidayah dan Dlolalah di-nisbat-kan kepada Allah

Firman Alloh Swt.

“Barangsiapa yang ditunjuki Alloh, niscaya ia mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka mereka adalah orang-orang yang merugi.”(QS.Al A’raaf : 178)

“Bukanlah kewajibanmu (hai Muhammad) untuk memberi petunjuk kepada mereka , tetapi Allohlah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki.” (QS.Al Baqoroh : 272)

“Barang siapa yang dikehendaki Alloh untuk diberi petunjuk niscaya Alloh melapangkan dadanya untuk agama Islam.Dan barang siapa yang dikehendaki Alloh untuk disesatkan , niscaya Alloh jadikan dadanya sempit dan picik, seolah–olah ia tengah naik ke angkasa.”(QS.Al An’am :125)

Ayat-ayat yang lainnya juga ditemukan dalam QS. Ar-Ra’ad : 27, Al-Fathir : 8, Al-An’am : 39, An-Nahl : 93, Al-Kahfi : 17, Al-Qoshosh : 56, dan lain-lain.

Ayat–ayat di atas oleh mereka yang berpemahaman bahwa hidayah dan dlolalah di-nisbat-kan kepada Allah dijadikan alasan tidak perlunya beriman dan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Alloh dan Rosulnya, dengan dalih mereka melakukan perbuatan maksiat itu karena tidak adanya hidayah dri Alloh. Demikian mereka me-nisbat-kan (melimpahkan) kezholiman itu kepada Alloh. Sehingga bila Alloh menyiksa orang yang disesatkan-Nya, berarti ia telah menzholimi orang tersebut. Jadi mencampuradukkan kezholiman mereka sendiri dengan kezholiman yang mereka anggap dari Alloh. Maha suci Alloh dari anggapan semacam itu, sebab Alloh tidak seorangpun atas perbuatan yang tidak dilakukannya.

B. Hidayah dan Dlolah di-nisbat-kan kepada hamba

Firman Alloh SWT :

“Barangsiapa yang beramal sholeh , maka (pahalanya) untuk dirinya .Dan barangsiapa berbuat jaha, maka (dosa) atas dirinya pula. Dan Rabbmu tidak akan menganiaya hamba-Nya.”(QS.Fushshilat : 46)

Barang siapa yang berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya ia berbuat untuk (keselamatan) dirinya sendiri: dan barang siapa yang sesat, maka dia tersesat bagi (kerugian) dirinya pula………”(QS.Al Isro’ : 15)

“Katakanlah :’Jika aku sesat, maka aku sesat karena diriku sendiri.”(QS.Saba’ : 50)

“Segolongan Ahli kitab berkehendak untuk menyesatkanmu. Padahal tidaklah mereka menyesatkan (orang lain) melainkan diri mereka sendiri (yang sesat).Tetapi mereka tidak sadar.”(QS.Ali Imron : 69)

“Syaithan ingin menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.”(QS.An Nisa’ : 60)

Ayat-ayat lain yang senada dengan semua ini adalah : Az-Zumar : 41, Fushshilat : 29, Ibrahim : 30, Asy-Syu’ara : 99, dan lain-lain.

Melalui ayat-ayat diatas, Allah menyatakan secara tegas bahwa manusia sendirilah yang mengusahakan hidayah dan dlolalah. Dialah yang menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain. QS. An-Nisa’ : 60 juga menyatakan bahwa syaithan pun menyesatkan manusia. Jadi hal ini merupakan indikasi (qorinah) bahwa pe-nisbat-an hidayah dan dlolalah kepada Alloh bukanlah nisbat yang langsung, melainkan tidak langsung. Oleh karena itu kita dapati dilalah atau penunjukan maknanya bukanlah dilalah yang memberikan kesan pe-nisbat-an hidayah dan dlolalah pada si hamba. Oleh karena itu ayat-ayat tadi harus dipahami dengan pemahaman tasyri’, artinya kita harus memahami ayat tersebut secara komprehensif dengan qorinah-qorinah-nya.

Bila kita teliti nash-nash syar’i, maka kita dapati bahwa pemisahan hidayah dan dlolalah pada Alloh SWT kadang memiliki makna nisbat penciptaan (nisbatul kholiq). Sebab Alloh menciptakan dalam diri hambanya qobiliyat (kecenderungan) untuk menerima yang baik atau yang buruk, untuk menerima kebenaran atau menolaknya, yaitu dengan menjadikan diri manusia mampu melakukan perbuatan baik ataupun buruk. Dan dengan memberikan kepada manusia kebebasan memilih salah satu dari dua jalan, yaitu jalan kebahagian atau jalan kenestapaan. Di samping itu Alloh juga menciptakan bagi hamba akal yang mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk.

Firman Alloh SWT :

“Kami tunjukan kepadanya dua jalan .”(QS.Al Balad : 10)

“Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.”(QS. Asy Syams : 7-8)

Jadi nisbat hidayah dan dlolalah kepada Alloh di sini adalah nisbat penciptaan kecenderungan dalam diri dan watak manusia.

Di samping itu nisbat hidayah dan dlolalah terkadang memiliki makna nisbat irsyad wal bayan (tuntunan dan penjelasan). Sebab Alloh SWT telah menegakkan hujjah (bukti kuat) atas hamba-Nya dengan menurunkan kitab dan mengutus para Rosul yang menuntun manusia ke jalan yang diridhoi Alloh, serta menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya.

Firman Alloh SWT :

“Sesungguhnya engkau itu pemberi peringatan, dan memang bagi setiap kaum ada seorang petunjuk (seorang rosul yang menuntun kearah kebenaran).”(QS.Ar Ra’du : 7)

“Adapun kaum Tsamud, sesungguhnya kami telah memberi petunjuk pada mereka . Namun mereka lebih menyukai kebutaan (dlolalah) daripada petunjuk.” (QS.Fushshilat: 17)

Maksudnya bahwa Alloh SWT telah menurunkan kepada mereka jalan yang baik dan hidayah serta menjelaskan kepada mereka. Oleh karena itu Alloh mengabarkan bahwasannya Dia tidak akan mengadzab seseorang sebelum tegaknya hujjah atas dirinya (sebelum datangnya petunjuk)

“Sesungguhnya orang – orang yang beriman dan beramal sholeh mereka akan diberi petunjuk oleh Rabb mereka lantaran kimanannya.”(QS.Yunus : 9)

C. Penafsiran Terhadap Ayat-ayat Yang Seolah-olah Allah Tidak Memberikan Hidayah Terhadap Kaum Tertentu Selamanya

Sebagai contoh, firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. “ (QS. Al-Baqarah : 6)

“Dan diwahyukan kepada Nuh,bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang telah mereka lakukan “ (QS. Huud : 36)

“Sekali-kali tidak (demikian), sesungguhnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. Al-Muthoffifin : 14)

Kalau dicermati lebih lanjut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa ayat-ayat tersebut tergolong ke dalam ayat al-ikhtibariyah([4]) bagi Rasulullah dan para pengikutnya sebagai peringatan untuk diambil ibrah atas akibat yang terjadi pada mereka. Dengan demikian, tidak dapat digunakan sebagai dalil pendukung terhadap pendapat yang menyatakan bahwa hidayah dan dlolalah adalah hak prerogatif Allah semata.

D. Macam-Macam Hidayah

a. Hidayat Al-‘Aammah

Inilah hidayah yang diberikan oleh Allah Swt. bagi seluruh makhluq ciptaan-Nya di seluruh jagad raya ini. Hidayah ini berupa pengetahuan dan petunjuk (Irsyad) yang dapat digunakan oleh seluruh makhluq untuk kebaikan hidupnya dan dalam rangka menyelesaikan seluruh problematika yang dihadapinya. Sebagaimana firman Allah,

“ Dan yang menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk “ (QS. Al-A’la : 3)

“….Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk “. (QS. Thoha : 50)

b. Hidayat At-Taklif

Yaitu hidayah yang diberikan kepada seluruh manusia melalui perantaraan utusan-utusan-Nya. Inilah yang melatarbelakangi diutusnya para nabi dan rasul. Sebagaimana firman Allah Swt.

“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu……” (QS. An-Nisa’ : 165)

“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, …” (QS. Fushshilat : 17).

Jadi yang dimaksud dengan hidayah ini adalah segala petunjuk yang diberikan oleh Allah berupa dien (agama) beserta syari’atnya. Akan banyak di antara manusia yang menolak dan meninggalkannya. Firman Allah yang ditujukan kepada Rasulullah Muhammad Saw.,

“….. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kpeda jalan yang lurus “ (QS. Asy-Syuro : 52)

Yang dimaksud dengan jalan yang lurus dalam ayat tersebut adalah jalam Islam. Diutusnya para nabi dan rasul membawa konsekwensi pada dir manusia untuk selalu terikat dengan ajaran-ajaran yang telah disampaikannya. Dengan demikian, setiap manusia yang telah mendapatkan seruan Islam dari para nabi dan rasul tidaka memiliki alasan untuk tidak mengambil hidayah tersebut. Firman Allah Swt.,

“ …. Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. “ (QS. Al-Isra’ : 15).

Dari ayat tersebut di atas, maka barang siapa yang meinggalkan sayari’at dan agama yang telah disampaikan dan didengarkannya dari para nabi dan rasul akan mendapatkan siksa dari Allah Swt., karena kesesatan yang telah diambilnya.

c. Hidayat At-Taufiq

Hidayah taufiq merupakan sebuah hak bagi mereka yang telah mengambil hidayat at-taklif. Sehingga barang siapa yang tidak mau mengambil hidayat at-taklif, maka tidak akan mendapati hidayat at-taufiq. Sebagaimana firman Allah Swt.,

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menajdikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkanm ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “ (QS. Al-Jatsiyah : 23)

Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Alloh tidak akan men-taufiq-i mereka yang menentang para Rosul untuk mengikuti kebenaran. Alloh akan mencegah mereka untuk bertemu dengan hidayah, dengan cara menyumbat mata, telinga dan hatinya dari kebenaran Firman Alloh Swt.

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman dengan ayat-ayat Alloh , tidak akan diberi petunjuk oleh Alloh. Dan bagi mereka (tersedia) adzab yang pedih.”(QS.An Nahl : 104)

Maksud ayat ini adalah ketika mereka kufur terhadap kitab yang dibawa oleh Rosulloh SAW yaitu Al Qur’an, maka Alloh pun menghukum mereka dengan dicabutnya hidayah dari mereka.

Nasib yang sama juga menimpa pada orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan hidayah. Alloh tidak akan memberi hidayah kecuali bila melepaskan sifat-sifat buruk tadi. Firman Alloh SWT

“Katakanlah : Terangkan padaku, bagaimana pendapatmu jika AlQur’an itu datang dari sisi Alloh, tetapi kamu mengingkarinya, padahal seorang saksi dari Bani Isroil mengakui (kebenarannya) yang serupa denagan (yang tersebut dalam AL Qur’an), lalu dia beriman,sedangkan kalian menyombongkan diri. Sungguh Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dholim.”(QS.Al Ahqof : 10)

“Yang demikian itu (yaitu tidak adanya ampunan bagi mereka ) adalah karena mereka kafir kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(QS.At Taubah : 80)

“Yang demikian itu (murka Alloh dan adzab-Nya) adalah karena sesungguhnya mereka lebih mencintai kehidupan dunia dari (kehidupan)akhirat.Dan bahwasannya Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada kaum kafir.”(QS.An Nahl : 107)

“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapatkan petunjuk kepada orang-orang yang sesat, maka sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang disesatkan . Dan mereka tidak ada seorang penolong.”(QS.An Nahl : 37)

“Sesungguhnya Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang berlebihan (keterlaluan) lagi pendusta.”(QS.Ghofir : 28)

Maksud ayat-ayat diatas bahwasannya orang – orang yang memiliki sifat tercela seperti berlaku dholim, kufur, fasiq, berlebihan dan dusta akan mendapatkan hukuman akibat perbuatannya, yaitu ditutupnya mata hati dan kepala mereka dari kebenaran. Sebagaimana Firman Alloh SWT :

“Sekali – kali tidaklah demikian . Bahkan sebenarnya yang mereka usahakan itulah yang menutup hati mereka.”(QS.Al Muthoffifin : 14)

Jadi, karena mereka berpaling dari kebenaran serta menolaknya, maka Alloh menghukumnya dengan memalingkan hati mereka dengan mencapnya dengan kekufuran. Hukuman ini merupakan ketiadaan taufiq ke arah hidayah. Sedangkan hati yang terkunci mati adalah akibat berpalingnya mereka dari kebenaran serta tidak adanya usaha dari mereka untuk mencari hidayah, malah justru melakukan perbuatan yang sesat. Hukuman seperti in tidak akan terjadi bila saja mereka tidak sesat dan melakukan perbuatan sesat yang disengaja.

Dengan demikian jelaslah makna hidayah dan dlolalah itu, yaitu bahwa sebenarnya hamba itu sendiri yang mengusahakan hidayah, dan dia sendiri pula yang sesat. Dia sendiri yang menggapai hidayah dan dlolalah dengan menggunakan akalnya. Jadi ia bebas menentukan hidayah atau dlolalah bagi dirinya, tanpa ada paksaan. Hanya saja apabila ia mencari petunjuk, maka Alloh akan menambahnya hidayah, memberi taufiq dan membantunya. Akan tetapi apabila ia memilih jalan sesat, Alloh akan lebih menyesatkannya, mata hati dan mata kepalanya akan ditutup dari kebenaran sebagai hukuman kesesatannya.

Sudah jelas bahwa dlolalah itu tidak ada permulaan, melainkan terjadi karena si hamba melakukan perbuatan yang sesat dan tingkah lakunya menyerupai orang-orang sesat. Hukuman Alloh terhadap orang-orang sesat adalah sangat adil, karena mereka sendirilah yang berpaling dari kebenaran dan menentang para Rosul serta berjalan di jalan yang sesat. Padahal kebenaran itu sudah jelas dan mereka telah diberi akal yang dapat menimbang serta kemampuan untuk memilih sesuka hati, hidayah atau dlolalah. Dan ganjaran bagi orang-orang yang mendapat petunjuk adalah karunia dari Alloh, sebab Dialah yang membantu serta menetapkan mereka dijalan hidayah. Dan Alloh pula yang dibawa oleh Rosul dan Nabi. Dan Alloh pula yang memberi karunia atas hamba-hamba-Nya dengan mengirimkan utusan untuk mereka ke arah yang diridhoi-Nya.

Namun patut kita sadari, meskipun Alloh telah mencap hati orang-orang yang berpaling dari kebenaran namun Alloh tidak mentaufiqi mereka ke jalan dlolalah. Sebab Alloh kuasa untuk menghilangkan cap serta noda hati ini. Oleh karena itu apabila mereka kembali ke Rabb-nya untuk bertaubat dan mencari hidayah, maka Alloh dengan kemuliaannya akan men-taufiq-i serta membantunya.

Bila semuanya ini telah terjadi bagi seorang muslim, maka wajiblah baginya untuk sangat takut dan mawas diri kepada Alloh. Sebab Alloh akan menghisab segala perbuatannya, besar maupun kecil. Fiman Alloh SWT :

“Setiap diri itu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.” (QS.Al Muddatsir : 38)

“Mereka yang berbuat kebaikan walau sebesar atompun akan tampak. Dan mereka yang berbuat keburukan walau seberat atompun akan tampak.”(Al-Zalzalah : 7-8)

Dan memang sudah menjadi sifat manusia, banyak berbuat aniaya serta bodoh (jahil) terhadap bermanfaat baginya, Alloh pun lalu menyuruh mereka berdo’a kepada-Nya minta taufiq dan pertolongan. Meminta untuk dianugerahi sebab-sebab kearah hidayah dan minta agar ditetapkan hatinya, yaitu melalui ayat yang berbunyi :

“Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah : 6)

Oleh karena itu do’a yang paling banyak dipanjatkan Rosullah SAW adalah

“Ya, Alloh dengan kemuliaanmu tiada Ilah selain Engkau, aku berlindung agar tidak Engkau sesatkan aku.”(HR.Muslim)

“Ya Alloh, hiasilah dengan perhiasan iman, dan berikanlah aku hidayahnya orang-orang yang mendapat petunjuk.”(HR.An-Nasa’i)

Setiap muslim harus membaca do’a ini, karena hamba senatiasa butuh dari Alloh untuk mendapatkan hidayah dan ketetapan hati. Karena ia memiliki sifat lemah dan pelupa, maka ia dikuatirkan akan mendapatkan hukuman tidak adanya taufiq dan berkuasanya syaitan atas dirinya serta dikunci mati hatinya.

Memang benar bahwa seorang hamba mendapatkan hidayah dan dlolalah itu atas kehendak Alloh. Dan memang betul bahwa segala yang diperbuatnya itu atas kehendak dan iradah Alloh SWT. Akan tetapi bukanlah Alloh sendiri yang berkehendak agar si hamba bebas melakukan pilihannya sendiri untuk melakukan kebaikan atau keburukan, sebagaimana Firman Alloh SWT :

“Bila Alloh mau, niscaya seluruh penduduk bumi akan beriman semuanya . “(QS.Yunus : 99)

Apabila Alloh menghendaki niscaya seluruh penduduk bumi “dipaksa” untuk menerima hidayah. Tetapi telah menjadi iradah Alloh untuk memberikan mereka bebas memilih. Firman Alloh SWT :

“Bila mau, niscaya ia beriman. Dan apabila mau, niscaya iapun kafir.”(QS. Al Kahfi : 29)

Inilah hakikat hidayah dan dlolalah sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash-nash Syar’i. Semoga kita selalu dilindungi-Nya dari hal-hal yang sesat dan menyesatkan. Amiin.

Wa Allaahu A’lamu bi ash-Showaab.

[1] Dr. Ibrahim Annis, dkk., Al Mu’jam Al Wasith, jilid I, hal.978

[2] Ibid, hal. 543

[3] Taqiyyuddin An Nabhany, Asy Syakhshiyyah Al Islamiyyah, jilid I, hal. 74, TT

[4] Ayat-ayat ikhtibariyah merupakan ayat-ayat yang memuat kisah-kisah para nabi, hukum yang berlaku di masa lampau, dan informasi kepada Nabi mengenai hal-hal yang ghaib (mughoyyabat) dan ilmu Allah.

Sumber: myquran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s