Sarasehan Bahasa bagian 1

Saya takjub dan terkejut mengetahui bahwasanya barang yang biasa saya sebut sebagai mic memiliki padanan kata: PELANTANG. Lebih kaget lagi waktu diberi tahu: Calir adalah padanan kata dari Handbody Lotion. Subhanallaah. Rupanya masih banyak kosakata Bahasa Indonesia yang belum saya ketahui!

Ilmu tersebut saya dapatkan setelah mengikuti Sarasehan Bahasa yang diadakan oleh Radio Volare. Ini dia Undangannya.

Pas sekali acara ini diadakan pada 24 Maret, ketika saya yang waktu itu sedang di Pontianak memang belum punya agenda mau kemana-mana. Berhubung pesertanya terbatas, maka saya pun menghubungi nomor telepon atas nama Hani yang tertera pada adlibs yang saya bacakan saat siaran. Rupanya, Hani yang dimaksud adalah Kak Hani ‘honeylizious‘ Rohani SyawaliahūüėÄ

Tapi, di acara kemarin saya tak sekedar menjadi peserta. Alhamdulillaah ditawari untuk menjadi moderator pula sama Mbak Temi. Haseeek.

Oke, mari memulai sarasehan bahasa yang terselenggara masih dalam rangka HUT Volare ke-39 ini.

Pembicara pertama pada sarasehan ini adalah Ibu Evi Novianti, M.Hum yang menyampaikan materi berjudul¬†“Sudah terlalu miskinkah Bahasa Indonesia?”.

Kalimat tanya tersebut menjadi materi pertama dalam rangka melihat banyaknya orang Indonesia yang memilih untuk gunakan bahasa asing. Baik dalam penggunaan nama toko, pemakaian dalam media *yang menjadi tema utama dari pelaksanaan sarasehan ini*, serta dalam penggunaan sehari-hari.

Coba deh teman-teman perhatikan toko dan gerai di sekitar tempat tinggal masing-masing. Mudah sekali kita temukan tulisan-tulisan di plang nama toko seperti: Dini Cyber, Cozy Boutique, atau Terima Service HP.   Mengapa harus gunakan Bahasa Inggris? Apakah salah kalau diganti dengan Warnet Dini, misalnya? Yaa, kan supaya keren gitu. Hmmm, baiklaaah.

Kalau penggunaannya tepat sih tiada mengapa ya. Kalau kemudian maksudnya supaya keren tapi jadinya malah hancurrr seperti tulisan di kompasiana ini, jadinya kan malah lucu dan memalukan hihihi.

Bahasa asing memang diperlukan dalam pergaulan internasional. Namun, penggunaannya harus sesuai dengan ranahnya. Artinya, boleh saja gunakan bahasa asing asalkan perhatikan waktu dan tempat. Begitu kata Ibu Evi di Sabtu sore yang sejuk itu.

Mencintai Bahasa Indonesia bukan berarti alergi atau anti dengan bahasa asing. 

Saya berhasil mencatat beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi cenderung gunakan bahasa asing.

1. Cara pandang yang salah

Dalam hal ini, banyak orang yang menganggap bahwa segala hal yang berasal dari luar negeri itu bergengsi. Milik sendiri sih kampungan, tidak keren. Lagipula, nama usaha dengan kosakata asing pasti jauh lebih menarik. Padahal, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Coba kita lihat orang Jepang. Mereka bangga loh gunakan bahasa mereka sendiri sebagai nama produk buatan mereka. Tetap keren dan tetap laris juga kanūüôā

2. Beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Semakin berkembangnya teknologi membuat istilah-istilah asing jadi lebih mudah untuk masuk ke para pengguna bahasa. Semakin mudah deh jadinya kita terpengaruh dan menganggap bahwa bahasa asing tersebut adalah bagian dari bahasa kita. Seperti 2 kata yang saya sebutkan di awal: mic dan lotion. Padanan kata Bahasa Indonesianya yang justru terdengar asing ya di telinga kita ._.

3. Sikap positif terhadap Bahasa Indonesia masih rendah

Menurut Ibu Evi, ada 3 tolak ukur sikap positif kita terhadap Bahasa Indonesia: Bangga akan Bahasa Indonesia, Setia dengan Bahasa Indonesia, dan sadar untuk dengan kaidah Bahasa Indonesia.

Nah, bagaimana? Sudah seberapa besar sikap positif kita terhadap Bahasa Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s