I was, am, and will…

“The clock is running. Make the most of today. Time waits for no man. Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That’s why it is called the present.” 



Wooow, I’ve been about 5 years managing this blog! Berrrmacam-macam topik tulisan dari sejak saya masih duduk di bangku kuliah semester 3: nikah *paling sering kayaknya wkwkwk*, persahabatan, bahasa, tugas belajar, pekerjaan, asmara, keuangan, yaakk mulai berasa seperti akan bacain zodiak. Errr…


Pernah beberapa kali saya tuliskan tentang masa lalu. Sebagian kita mungkin tak lagi malumalu saat harus menertawakan masa lalu. Tertawa malu melihat tulisan tentang kenangan dengan someone special di diary saat SMP. Atau membongkar tumpukan buku dari dalam gudang kemudian menemukan selembar kertas usang yang isinya surat mesra. Awww, ngapain disimpan-simpan sih ya. Hihihi.


Namun barangkali kita punya alasan masing-masing untuk tetap menyimpan beberapa bukti otentik yang menjadi bagian dari masa lalu. Seperti saya yang tetap menyimpan tulisan-tulisan saya sejak 5 tahun lalu, 4 tahun lalu, 3 tahun lalu, 2 tahun lalu, dan setahun lalu di blog ini. Selain untuk database dan memang malas sayang untuk dihapus-hapusin, melalui tulisan-tulisan itu saya bisa introspeksi diri, membandingkan saya yang dulu dengan yang sekarang, mengambil pelajaran berharga dari tiap kalimat di sana. Sebagaimana bunyi blog description mbak temi: It’s not about the writing. It’s about the feeling behind the words.

Butterfly was just an egg

Kalaupun kemudian terjumpakan cerita-cerita horor tak menyenangkan di masa lalu, ya simpan saja itu, tak perlu ditebar kesana kemari, apalagi kelewat diratap-ratapi. If you are still talking about what you did yesterday, it means you haven’t done much today. Lihat yang sekarang sajalah. Toh meskipun hidup ini kita jalani melalui proses yang ada, yang akan dilihat di penghujung hari kelak tetaplah bagaimana kita saat ini. Yes, as Alice Morse Earler said: make the most of today!

Metamorfosis sempurna

Seperti kupukupu, metamorfosisnya sempurna. Hidupnya bermula dari telur, larva, pupa, dan imago! Jadilah ia dewasa. Kupu-kupu yang cantik. Meskipun keberadaannya tak lama di dunia, namun saat kita jumpai imago yang telah mati, kita tetap mengenalinya sebagai kupu-kupu. Bukan pupa, larva, apalagi telur. Begitu pun kita sebagai manusia. Berproses seperti siklus hidup kupu-kupu, dan berharap tinggalkan dunia ini dengan akhir yang terbaik: husnul khotimah. Insya Allah.


So, there I was, here I am, and still have no idea how I would be tomorrow. Semoga berakhir indah dan cantik, lebih cantik dari semua kupukupu di dunia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s