Kasih Orang Tua, Kasih Tanpa Batas

Kasih sayang orang tua itu limitless yah. Semakin saya sadari kebenaran kalimat tersebut setelah menikah. Teringat beberapa tahun lalu sebelum menikah, ibu saya seringkali mengingatkan: “Kita hidup bersama serumah kayak sekarang takkan selamanya. Akan ada waktunya nanti kakak tinggal dengan orang lain, entah dengan mertua atau hidup berdua dengan suami saja. Akan ada waktunya orang tua dipanggil Allah”. Waktu itu, kalimat tersebut tak begitu saya anggap sebagai sesuatu yang berarti. Just let it uttered from my mother’s mouth, came into my mind a while, then forgotten in minutes.

Tapi sekarang, ketika saya telah berada di posisi yang ibu saya katakan, saat masa hidup bersama orang tua usai sudah, kalimat tersebut sungguh sesuatu *halah, tersyahrini deh :p*. Sangat terasa berbeda hari-hari yang saya lewati tanpa melihat wajah mereka setiap hari. Apalagi, saya memang belum pernah hidup jauh dari orang tua. Perpisahan saya dan orang tua setelah menikah benarbenar menyisakan air mata. Air mata saya, air mata bapak, dan juga air mata ibu *sounds like judul sinetron jaman dulu ihihi*.

Dengan alasan cinta kasih dari orang tua yang tak terbatas itulah, dari sejak saya lulus SD sampai dengan memutuskan untuk menikah, kedua orang tua saya memberikan kebebasan seluasluasnya pada saya dan adik2 saya untuk memilih di mana kami akan sekolah, ekstra kurikuler apa yang akan kami ikuti, dan yang terbaru: kapan saya ingin menikah. Tentunya, kebebasan yang disertai dengan pertimbangan dari mereka. Untuk menikah misalnya. Saya sudah ingin menikah itu dari sejak lama *walaupun masang targetnya pengen nikah di usia 23 sih*, namun kedua orang tua saya ingin saya selesai kuliah dulu, barulah menikah. Well, we deal for that.

Untuk pilihan sekolah, kampus, pekerjaan, we are free choosing based on our own interest. Saya memilih MTsN 1, MAN 2, FKIP Bahasa Inggris Untan, menjadi penyiar Radio Volare, mengajar di sana di situ di sono dan di manamana, terserah asalkan tidak merugikan diri saya. Adik saya setuju untuk sekolah di MTsN 1, MAN 1, FKIP Bahasa Inggris Untan, ikut MTQ bidang fahmil Qur’an, sampai menghabiskan waktunya di kamar main Play Station daripada wara wiri di luar juga terserah dia. Kami yang memilih, kami yang bertanggung jawab atas pilihan kami. Mereka selaku orang tua memberikan support terbaik yang mereka punya.

Dan ketika saya sudah menikah, kasih sayang mereka tak juga berkurang. Malah rasanya bertambah. Saya yang tinggal di kota berbeda dari mereka, setelah menikah pun masih ‘dimanjakan’. Lumayan sering dikirimi ini itu. Kalau minta sesuatu, besoknya langsung dikirim. Kalau ibu saya menemukan sesuatu yang berkaitan dengan saya, misalnya ngeliat bros warna pink pas lagi belanja, langsung deh tuh dibeliin. Atau ketika Ramadhan kemarin, ngeliat caikue yang biasanya jadi menu rutin untuk saya buka puasa, mewek dah beliau. Ah emak.. Begitupun bapak saya. Sejak menikah, saya makin sering smsan dengan bapak. Ah bapak…

Memang benarlah lirik lagu tersebut:

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.

Kasih bapak juga donk tentunya🙂

Countless thanks to my parents, and yours too🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s