Orang dewasa belum tentu dewasa

Saya teringat pesan sebuah iklan rokok: tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Atau sebuah kalimat dalam wawancara yang saya simak sekilas: usia hanyalah sekedar angka. Begitulah. Tidak ada yang bisa menjamin semua orang dewasa bersifat dewasa. Adult doesn’t mean mature. Sebagaimana seringkali juga kita saksikan di muka bumi, anak kecil masakini telah tumbuh ‘dewasa’ sebelum waktunya. Meskipun, yaah, kalimat barusan lebih sering bermakna negatif daripada positif.

Apa sebetulnya ciri-ciri seseorang bisa kita katakan dewasa? Beragam dan sangat relatif. Jika menurut saya seseorang yang hampir tiap menit ganti display picture dan personal message di BBM tidak dewasa, belum tentu menurut yang lain begitu. Atau, jika menurut suami saya terlalu banyak berkicau yang remeh temeh adalah hal yang tidak dewasa, belum tentu menurut saya begitu. Ah, memang agak sulit ketika kita harus menghakimi seseorang whether or not dia bersifat dewasa.

Anyway, saya rasa sebagian besar orang sependapat bahwa sifat dewasa itu diartikan sebagaimana paham waktu dan situasi dia harus berkata dan bertindak, untuk kemudian berani bertanggung jawab dengan segala ucapan dan perilakunya. Selain juga bertingkah laku sesuai dengan ucapannya, tentunya.

Bersifat dewasa, *kalau yang ini menurut saya ya hehe* berarti berani bersikap ksatria. Ketika merasa salah, ya akuilah bahwa ucapan atau perbuatan kita salah. Perkara oranglain bersedia memaafkan atau tidak, biarkanlah menjadi urusan hatinya dengan Sang Maha Pembolakbalik hati. Toh, mengutip Mario Teguh, setiap kesalahan bisa dimaafkan meskipun tidak semua kesalahan bebas dari tanggungjawab.

Bicara tentang maaf-maafan, di bulan Syawal ini memang sebaiknya tak elok mengingatingat perkara yang telah lalu, kecuali mengambil hikmahnya saja. Jika Allah saja Maha Pemaaf, masa siiih kita tak ingin menjadi lebih dewasa dengan ‘mengadopsi’ sifat Allah yang Pemaaf?😉

Sebuah pertimbangan pula untuk memaafkan khilaf seseorang: Ketika muncul permintaan maaf, kadangkala tak sekedar sesali khilaf belaka, namun lebih karena utk hargai ukhuwah yang telah lama terjalin. Maka, jika pintu maaf belum terbuka, dan tak kau jumpakan aku untukmu lagi, jangan kau sesali setitik egomu ketika kau abaikan pinta maafku😉

Setuju? Saya setujuuu. Meskipun saya sendiri, di usia 24 tahun ini, masih sedang menjajaki diri menuju tahap ideal tersebut. Marilah mari kita samasama berbenah sendiri, selagi hayat masih di kandung badan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s