white fever, not brown

Berapa hari terakhir ya, saya suka mosting-mosting di yahoomessenger, plurk dan facebook saya: Cokelat putih. Hehe… Ini awalnya, sepertinya siy garagara waktu saya siaran, trus tiada sengaja berjumpa dengan seorang teman di plurk, dan kemudian saya iseng aja rikwes cokelat putih. Eeeeeh, malah jadi berlanjut pada keinginan makan cokelat putih beneran.

Sampe sampe, Mba Temi ngirim pack of chocolate berisi cokelat putih via facebook. Malah jadi makin pengen T_T. Andai saja sekotak cokelat itu bisa beneran saya makan, kan enaaaak hohoho. Naaaah, di tengah keinginan makan cokelat putih, murid saya dateng minta tolong menerjemahkan tugasnya. Sebagai seorang guru yang baik *ciyaaarrrgh* maka saya pun menolong, dengan maksut tiada pamrih. Eeeeh, murid saya dong pas ngambil terjemahannya yang sedikit itu, datang dengan membawa sebatang cokelat, tapi berwarna cokelat!

Aih, aiiih…


Bukannya ga berterima kasih, sih. Saya bilang makasih kok sama dia. Tapi, coba cokelatnya putih ya hehe *ini namanya ga bisa bersyukur ya hehe*.


Saking kangennya ya barangkali dah lama ga makan cokelat berwarna putih, dan sampe hari ini belon kesampaian *padahal harusnya bisa beli sendiri hihi*, saya sampe demam!


Aneh, saya kok demam. Padahal biasanya saya paling anti-demam. Kalo dah mulai ngerasa badan jadi ga enak, mulai ngerasa didatangi demam, saya akan segera memaksakan diri berkegiatan. But it didn’t happen these 2 days. Sejak sabtu malem, sampai dengan saya ngetik ini, saya sama sekali ga kemanamana slain ke luar kamar, turun ke bawah, dan nganterin 2 orang kakakkakak yang jenguk saya sore ini. Saya memanjakan demam saya T_T


Syukur Alhamdulillah, walopun cokelat putihnya mpe sekarang belooon aja dateng ke saya, tapi malam ini badan saya dah berkeringat lagi. Kepala masih berat sebelah, migren. Mungkin, kalo ada relawan yang bersedia ngasi saya cokelat putih, migren saya bisa sembuh. Hihihi… *ngarep.com*


Yeah, ya sudahlah. Ambil hikmah saja dari sakit saya ini. Semoga dosadosa saya dilunturkan oleh Allah melalui demam yang saya derita, dengan atau tanpa makan cokelat putih.


2 thoughts on “white fever, not brown

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s