Senyuman awal tahun

Alhamdulillah, tahun ini bisa saya mulai dengan senyuman. Barangkali, perasaan senang ini agak sedikit saya paksakan. Uwm, bukan dipaksakan siy, nope. Ini perasaan yang saya putuskan untuk saya rasakan malam ini, dini hari ini, jelang 2009.

Awal tahun lalu, saya sudah bertekad untuk berubah jadi lebih baik. Oh yeah, tiap hari saya inginkan itu. Saya selalu ingin menjadi lebih baik, tapi tak harus kehilangan jati diri saya sendiri. I am able to make it! Sure…

Jika beberapa hari yang lalu saya sempat merasa penurunan mood, perasaan tak diinginkan, hawa-hawa hati yang penuh luka dan menanti sesuatu yang tak pasti, maka malam hari ini, jelang 2009 ini, saya telah membuat analisa kenapa perasaan semacam itu bisa muncul. Inilah analisa saya:

1. Sepanjang semester akhir tahun ini, saya lumayan jauh dari amalan-amalan sunnah. Ya ampun, rupanya saya lalai ngasih makan jiwa saya yang kelaperan! Saya sombong dan males. Ya, saya tidak seimbang. Well, well. Masih mau gitu lagi din tahun depan? Sure, not. Makanya, saya beresolusi: Memberi makan jiwa saya yang lapar, dengan spiritual, recharge lagi. Saya tetap akan jadi diri saya sendiri, yang lebih baik. Saya berubah jadi labih baik, dan tak perlu kehilangan jati diri.

2. Saya terlalu bergantung sama orang lain. Sejak berani memelihara rasa berjudul ‘cinta’, yang menurut salah seorang teman, itu adalah sesuatu yang dudul *hehe, nyinggong sikid ye kak pit :p*, saya mulai bertindak bodoh, terbutakan. Bego ah. Makanya, saya beresolusi: SABAR. Beneran, ga ada solusi lain selain sabar. Oh yeah, Ikhlas juga. Bersabar, sambil berusaha ikhlas, tanpa lupa bersyukur.

3. Saya kebanyakan janji. Janji ga ngulangin ini, janji ga posesif lagi, janji ga bertindak bodoh lagi. Oaaargh, kebanyakan janji. Kalo kata Andrew Matthews dalam bukunya “Being Happy”, justru saya malah akan melakukan sebaliknya. Makanya, saya bersolusi: menghindari janji, bahkan kepada diri saya sendiri. Kalo mau berubah, lakukan saja, ga usah janji. Kalo ga berubah, toh saya akan punah.

4. Saya terlalu banyak mimpi dan ngimpi. Mimpi, boleh aja. Tapi kalo ga realistis tetep aja percuma. Inged, din: Happiness is not having what you dream but appreciating what you have. Intinya, saya kurang bersyukur. Makanya, saya beresolusi: perbanyak bersyukur.

Well, resolusi kali ini sedikit berbeda dari resolusi tahun lalu. Walaupun resolusi tahun lalu itu sepertinya belum begitu terasa dampaknya, tapi saya tau saya sedang menuju hasilnya. Saya sedang melewati dinamika cantik itu. Nah, sekarang saatnya menjadi baru! Tersenyumlah, dinie. Semangadlah!

Semangadlah!

Tersenyumlah!

Bahagialah!


Tentu, tak satu pun yang dapat ganggu bahagiamu jika Dia sudah ada di hatimu, hati kita semua, kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s