I am a sobbed sister

Teman-teman pernah berkunjung ke sini? Kalo belum, cobalah berkunjung, lalu baca dengan penuh penghayatan beberapa artikel yang ada di situ. Oke, sudah selesai membaca? Oh, belum? Ya sudah, baca dulu.

Gimana? Dah selese baca? Bagus gak ceritanya? Apah? Belum baca lagi? Oke, ya udah gapapa. Gak ada cerita di situ yang akan saya copy. Tujuan saya membuat postingan ini sebetulnya ingin tau kadar kesensitifan teman-teman.

Saya tergolong perempuan yang lumayan sensitif, untuk hal apapun. Kenapa tadi di awal saya meminta teman-teman untuk baca artikel yang ada di sini? Itu karena saya ingin tau, apakah teman-teman menitikkan air mata pada saat dan sesudah membaca artikel itu? Oh yeah, saya iya!

Bukan sekedar artikel saja yang bisa membuat saya melelehkan air mata. Kalo ngeliad bapak-bapak jualan bakso, trus muka bapak itu keliatan capeeee’ banged, juga bisa bikin saya nangis. Apalagi kalo gerobak baksonya jatuh, trus baksonya tumpah. Saya bisa nangis sampe harus menutup muka pake tutup helm. Serius!

Nah, apalagi dalam situasi belakangan ini. Di bulan yang tadi siang, kata saya, membuat saya merasa agak kurang beruntung. Sebetulnya, bukan salah bulannya siy. Sayanya aja yang memang kurang piawai mengelola emosi. Deuh, percuma aja ikut Leadership Training dah kalo kayak gini. Efektif cuman sekian minggu, trus abis itu sayanya melempem lagi. Hoaaargh pantesan aja TRK itu penting ya *uwm, saya lupa kepanjangan TRK itu apa hehe. Tapi yang pasti, saya sekarang mengakui kalo TRK memang sangad penting!*

Yang membuad saya sedikit menyesal hari ini adalah, saya tidak bisa mengimbangi perasaan senang yang sahabat saya, Dita, rasakan hari ini. Saya, dengan egoisnya, malah menangis setelah Dita cerita betapa seneng dan bahagianya dia menghabiskan waktu dari pagi sampai siang tadi. Trus saya dateng, ya ampun, merusak mood Dita aja kayaknya. Maafin saya, sahabat.

Makanya, berhubung juga Dita besok genap *ato ganjil siy?* 21 tahun, saya yang sudah menyediakan hadiah ulang tahun untuk Dita, ingin lagi memberikan kado yang juga sebetulnya untuk saya sendiri: sebuah keputusan untuk menikmati apa yang sekarang saya punya, mengarahkan pikiran saya menuju perasaan senang, sehingga saya ga perlu nangis terus. Yeah, dengan sahabat yang luar biasa seperti Dita.

Well. Today I realize that I am still a sobbed sister, still can’t handle my bathetic, still not capable in managing my very own emotion, still dumb for making very easy decision to my own happiness! That’s why, today, I promise myself, to fill in my resolution, in the D day of my bestfriend’s special day, 3 days before reaching 2009. Really, I promise! And I believe I am able to!

Soon, I will publish that I am happy enough to be me, to have happy family, to feel intended, to love a man who loves me badly, to be together with people who love me. Sure, apa yang saya inginkan gak mungkin bisa semuanya saya dapatkan. Tapi paling tidak, saya memutuskan untuk menginginkan sesuatu yang bisa saya penuhi sendiri: yaitu bahagia menjadi diri saya sendiri, coz


I’d rather be hated for who I am, than be loved for who I am not.

Bismillah. Allah is with me, always.

3 thoughts on “I am a sobbed sister

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s