0,1 syndrome

Anda memiliki 9 sms 0,1 pada pukul 00.00-12.00 dan 96 sms 0,1 pada pukul 12.00-24.00.

Kurang lebih begitu bunyi balesan pesan waktu saya tekan *389#. Menyedihkan. Dibudakin sama free sms, yang sebenernya malah ga free melainkan penganiayaan jempol sekaligus pembelajaran tentang pemborosan. Yeah, gimana nggak. Setelah pengalaman sekitar setahun lalu yang akibat sms menyebabkan hape saya rusak, sekarang masa harus ngalamin kejadian yang sama? Jangan sampe rusak lagi. Sumpah, belum sanggup beli hape baru pake duit sendiri.

Sebenernya, bukan sekedar perkara hape rusak atau jempol pegel sih, nggak. Sama sekali nggak. Alhamdulillah hape saya yang kali ini cukup tahan banting untuk di otak atik, dibolak balikin gonta ganti kartu. Switching from my primary SIMpati number to IM3, dah hampir setiap hari. Malahan belakangan menjadi 2x sehari. Menyedihkan. Seharusnya punya hape 1 lagi yak? Weleh, mana duitnya? Hehe kasian amat. Saya lagi nungguin orang beliin hape. Katanya tunggu punya penghasilan trus punya banyak saving. Amien, smoga cepet berpenghasilan yah *ikhlas loh ini doainnya, serius!*


Sepertinya saya terkena sindrom 0,1. Sebuah sindrom yang muncul pada pukul 11 siang sampai 11 malam, lalu berlanjut dari 11 malam sampai 11 siangnya lagi. Habisin seribu rupiah dulu untuk 10x sms, lalu dapet 100 sms 0,1/sms. Jelang waktu smsnya abis, baru sayanya yang bingung mau dibuang kemana smsnya. Walopun kadang ada temen untuk habisin sms, tapi pas lagi ga ada, bingung sendiri juga. Mau ngirimin sms taujih, misalnya, ato sms berisi kalimat motivasi, kayaknya stok udah dipake di hari-hari sebelumnya. Orang-orang yang dikirimi sms juga yang itu-itu aja. Inboxnya sampe kepenuhan sama sms-sms saya hoho.


Untungnya ya, 100 sms ini, walopun harus diabisin dalam jangka waktu sangat singkat dan ga bisa ditabung buat besok-besok, bisa ngesms ke semua operator. Cuman, ya itu dia. Kalo saya ngsms ke operator lain, trus smsan sama temen *Dita* yang pake kartu dari operator beda, kasian dianya. Saya ngsms cuman 0,1/sms, dianya ngsms 150/sms. Weleh. Sedangkan temen saya yang pake kartu operator 0,1/sms seperti saya, terbilang sedikit. Ada siy, cuman ga biasa aja smsan sama mereka.


Akibat sindrom 0,1 ini juga, usaha untuk menghilangkan kebiasaan smsan sambil bawa motor, alias smsan pas lagi di jalan raya, jadi sedikit terhalangi. Kemaren-kemaren, saya sedikit berhasil menekan keinginan untuk ngecek-ngecek inbox pas lagi bawa motor. Eh, gara-gara program 0,1/sms ini saya jadinya memunculkan kembali kebiasaan berbahaya itu. Duh, kapan abisnya ya itu program? Apakah kalo nanti program itu usai, intensitas sms saya sama temen saya masih terus berlanjut? Haha. Stupid question, dan ga penting.


5 thoughts on “0,1 syndrome

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s