Mengenai sahabat (lagi, lagi)

Belakangan, saya merasakan gejolak aneh tapi membahagiakan mampir ke dalam kehidupan saya. Kenapa saya bilang aneh? Gejolak aneh itu adalah kedekatan saya lagi dengan seorang sahabat lama, yang sekarang menjadi jauh lebih dekat daripada dulu saat saya bersahabat dengan dia. Gejolak itu aneh, tapi beneran bikin saya senang. Rasa aneh itu sebenernya muncul lebih karena sahabat saya ini memang orangnya aneh: sering bales sms orang sambil tidur nyehehe *peace, taaa*.

Iyeap, setelah postingan saya yang di sini, di sini, dan di sini, kali ini saya pengen lagi eksprersikan rasa cinta saya untuk sahabat saya yang sangat saya *uhuk uhuk* sayangi. Seorang sahabat yang begitu mengerti saya, seorang sahabat bernama Dita Wulandari.

Kedekatan saya sama Dita, seperti yang saya paparkan sebelumnya, sebetulnya sudah terjadi sejak kami di semester awal kuliah dulu. Waktu itu, kita berempat: Saya, Rena, Elisa, dan Dita. Saya dulunya jauh lebih dekat dengan Rena dibandingkan dengan Elisa dan Dita. Deket juga sama mereka, cuman ga sedeket saya sama Rena dulu.

Hingga akhirnya serentetan kisah terjadi dalam persahabatan kami berempat. Rena yang tak disangka menikah di semester 4. Dita yang ‘terpaksa’ harus bekerja keras ketika kami duduk di semester 4 dan lantas malah meninggalkan kuliah. Elisa, yang tak disangka ternyata mendapat kesempatan untuk ikut program pertukaran pemuda ke Canada. Saya sendiri, tidak berdinamika apa-apa, selain seperti yang saya ceritakan di sini. Kuliah saya lancar. Ngelamar beasiswa belon berhasil-berhasil juga. Kerja, tapi tak tinggalkan kuliah *hehe, balak kan aku ta kikikik*. Dan belum ada yang melamar saya sehingga saya tetaplah Dini yang menjadi mahasiswi berbakti menduduki bangku kuliah hingga jelang semester akhir ini.

Lalu, bagaimana kisah kami berempat? Ya itu. Rena skarang dah punya anak 1. Elisa skarang masih di Canada. Dita skarang lagi jatuh cinta, dan semakin deket sama saya. Awal kedekatan kami adalah: nonton ESA tanding futsal. Saya inget, waktu itu Dita pas ga ada kelas, hari Jumat. Sebenernya ga ada rencana mau nonton futsal. Hanya mau ditraktir makan lamongan aja. Tapi, karena hari itu adalah hari perdana ESA tanding futsal, maka saya ajak Dita sekalian buad nonton. Eh, ternyata bisa.

Dari situ, saya sama Dita makin intim deh. Tiap malem mesti cerita kisah-kisah gila kami dengan orang-orang yang kami gilai dan menggila-gilai kami. Macem-macem dah. Saya ngerasa kayak orang jatuh cinta aja *hueks, ini hiperbola, kawan!*. Dita, punya beberapa sifat yang kadang bikin saya agak merinding: nyium saya. TENANG, Dita normal. Saya dah ngeliad langsung kok buktinya kikikik. Trus, Dita tipikal perempuan pekerja keras. Sangat baik dan tidak pernah pelit. Ga pernah nagih utang! Makanya, kalo mo ngutang, sama Dita aja. Nanti biar saya yang nagih hehe. Yang pasti, Dita sangat bersedia berbagi dan mendengarkan cerita-cerita saya. Seperti saya pun, sangat senang mendengar cerita-cerita Dita.

Yeah, sungguh. Setelah berbagi cerita, berbagi rasa, berbagi kesedihan dan semuanya sama Dita, saya merasa beban yang nggerendelin saya beberapa minggu belakangan agak sedikit terangkat. Ringan. Jauh lebih ringan. Rupanya, teori para psikolog tentang pentingnya teman sharing: 100% benar. Selama ini, saya hanya sharing segala macem cerita lewat laptop ini, dibekali password. Di blog, yea implisitly saya bagi-bagi. Sharing sama Allah, itu pasti.

Anyway, sharing dengan seorang sahabat yang begitu paham apa masalah kita, bersedia mendengarkan, bersedia juga berbagi tentang cerita-ceritanya dengan kita, sangatlah menyenangkan. Dan ini terjadi pada saya dan Dita. Adalah sebuah gejolak membahagiakan yang membuat saya mendapat semangat baru untuk hidup di dunia ini, saat mengetahui bahwa Allah anugerahkan pada saya seorang sahabat yang benar-benar MEMAHAMI saya, apa adanya saya, bukan saya ada apanya. Begitu bahagia ketika menyadari bahwa saya pun, bosa MEMAHAMI dia, apa adanya dia, bukan dia ada apanya.

Yeah, begitula Dita. Dita yang skarang mulai merintis semangat dari awal, kuliah dari semester pertama di Ekstensi FKIP Bahasa Inggris. Dita yang sekarang menomorsatukan kuliah, menomorduakan pekerjaan, dan menomortigakan urusan asmara. Sebuah pelajaran berharga yang saya coba terapkan, sambil belajar mencari klik, dengan tetap memprioritaskan urusat akhirat di atas segalanya, Insya Allah.

Iya ya ta? Akhirat tetap teratas!

2 thoughts on “Mengenai sahabat (lagi, lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s