Diksi

Terinspirasi dari halaman ini, dan barusan saja saya nonton Ungu nyanyi lagu Para Pencari-Mu di TPI sambil nyeruput Milo panas. Ungu pun bernyayi, “Akulah para pencariMu ya Allah, akulah yang merindukanmu ya Rabbi”, dst…

Setuju deh sama Mbak Dewi Kartika Teguh yang memang sangat berkompetensi membahas tentang lirik-lirik lagu Indonesia yang sepertinya mulai diperkosa. Kasian, masa Aku digandengin sama kata para! Dari jaman saya teka sampe dah kuliah sekarang, perasaan kalo kata AKU itu berarti orang pertama tunggal. Skali lagi, TUNGGAL loh, sendiri. Sedangkan para, berbentuk plural, alias jamak. Knapa gitu yak? Gimana sih sebenernya perasaan personil Ungu, especially yang ciptain tu lagu, waktu lagunya dah selese, trus direkam? Masa ga ngeh ada kesalahan fatal pada diksi yang mereka pake sih?

Diksi, oh diksi… Gara-gara diksi orang bisa jadi berantem. Gara-gara diksi saya suka kritik orang. Gara-gara diksi juga saya dikritik orang. Apaan sih diksi itu?


Well, Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi bahwa diksi adalah pemakaian kata yang terdapat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan agar diperoleh efek tertentu.


Pernah ya, waktu ikutan Musyawarah Tahunan atau disebut juga Mubes alias Musyawarah Bersama or Musyawarah Besar yang diadakan tiap tahun oleh organisasi himpunan jurusan di kampus tempat saya kuliah, yaitu English Student Association, ngebahas kata-kata aja perlu waktu yang panjaaaang banget. Cuman gara-gara kata ‘dan’ sama kata ‘atau’ serta kata ‘dan/atau’, ngabisin waktu 1 hari! Betapa sebuah diksi ngefek sebegitunya ya.


Sebagai anak bahasa *nah, ini diksinya aja salah, din!* hehe maksutnya sebagai mahasiswa dari jurusan Bahasa dan Seni, saya agak sedikit care juga kadang-kadang sama yang beginian. Ditambah lagi dengan hobi saya siaran, yeah sedikit banyak harus peduli juga ya sama pilihan kata yang akan saya keluarin. Salah keluar kata, ya salah arti. Salah satu dari duasahabatkurangwarastapibaikhati lumayan sering nyalah-nyalahin diksi saya. Padahal, secara syntax, walopun susunan kalimatnya agak-agak aneh, tapi semantically kan dia paham maksut saya tuh apa. Jadi, kalo oral speaking buat ngobrol biasa gitu sih, menurut saya ga usah dikritik juga gpp. *Hehe, ini ngeles karena keseringan salah pilih kata tiap kali ngomong dalam suasana santai*


Tadinya, dini hari ini saya mau mengulas beberapa lirik lagu seperti yang dilakukan Mbak Dewi Kartika yang dari Tempo itu. Tapi, kayaknya lehernya dah pegel nih. Nanti aja deh. Tunggu ada yang mau biayain saya penelitian untuk itu nyehehe…


Pesen trakhir sebelon saya tidur:
Hati-hati sama diksi! Jangan sampe gara-gara diksi, trus kita jadi kehilangan orang yang disayang!


2 thoughts on “Diksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s