Mengenai sahabat

Belakangan ini, duasahabatkurangwarastapibaikhati cukup sering saya munculkan dalam postingan-postingan saya. Siapa sebenarnya mereka? Apakah mereka benar-benar kurang waras? Atau, apakah mereka benar-benar baik hatinya? Apakah betul mereka laki-laki? Atau, apakah mereka tidak betul-betul laki-laki?

Sedekat apakah saya dengan duasahabatkurangwarastapibaikhati itu? Apakah kedekatan saya dipermasalahkan oleh orang tua saya? Atau apakah orang tua saya mendukung penuh kedekatan saya dengan mereka berdua? Bagaimana kelanjutan kisah saya dan sahabat-sahabat saya? Kita simak di episode selanjutnya.

Nyehehe, kayak ngereview filem aja dah. Oke, saya jawab satu per satu pertanyaan di atas.


1. Siapa sebenarnya mereka? Mereka adalah 2 orang laki-laki dewasa, yang satu bernama Syifaul Khuluq dan yang satunya lagi, agak sedikit gelap, bernama Rivall Rinaldi. Mereka temen kuliah saya di FKIP, satu angkatan juga walopun mereka jauh lebih tua *maaf, ini hiperbola* beberapa tahun dari saya. Ini dia mereka berdua.

2. Apakah mereka benar-benar kurang waras? Ya, dan tidak. Eh, tidak sih sebenernya. Mereka bukan kurang waras, melainkan NGGAK waras. Kalo Syifa *panggilan untuk Syifaul Khuluq* udah jadi wong katro’ sejak usia 10 tahun. Ini terjadi akibat deg-degannya yang gak bisa ilank setiap kali telepon berdering. Sejak 10 tahun, pertama kali pasang telepon di rumah, sampe sekarang punya handphone, tiap kali hpnya bunyi, ya deg-degan. Emang dasar dia setupit yak, dia nanyain ma saya kenapa kok bisa gitu. Haha, ya udah saya jawab aja karna dia katrok, sepok darat laut dan udara nyehehe. Jadi ceritanya, dia dah jadi wong katrok sejak usia 10 tahun, begitu. Nah, kalo Onen *singkatan dari Objek Permanen, panggilan sangat khusus dari saya untuk Rivall. Sebenernya sih objek fotografi saya. Cuman kayaknya, sekarang jadi objek pesakitan untuk saya aniaya deh*, saya bingung gimana jelasinnya ke temen-temen. Secara, nih orang kelebihannya amat sangat sulit sekali diungkapkan, karena ga punya kelebihan nyehehe hahah. Ada sih kelebihannya. Misal: jauh lebih item, jauh lebih malu-maluin, jauh lebih berpotensi untuk dianiyaya hoho. Kidding. Frankly, onen adalah satu-satunya temen saya di dunia ini yang saya yakin takkan saya temukan di belahan dunia manapun saya berpijak, kecuali di kandang sapi dan kandang kambing. Iya kan, nen?


3. Apakah mereka benar-benar baik hatinya? Hmmm, maaf. Pertanyaan ini ga tega untuk saya jawab. Maaf, sahabat. Bukannya ga mau jawab. Ya abis gimana mau jawab. Kalian berdua kan ga punya hati. Bagaimana mungkin baik hati? Hehe. Yeap. Sejujur-jujurnya tangan saya ngetik, Syifa adalah temen yang baik hati. Onen adalah temen saya, sahabat deket saya, belahan hati saya yang begitu tulus tiap kali nolong orang, dan nolong sesama makhluk hidup. Saya bener-bener sayang kalian berdua untuk kebaikan hati kalian.


4. Apakah betul mereka laki-laki? Jelas. Mereka laki-laki, secara fisik. Penjelasannya di pertanyaan nomer 5 aja deh.


5. Apakah mereka tidak betul-betul laki-laki? Secara fisik, iya sangat jelas mereka laki-laki. Manis-manis lagi. Makanya saya ‘terpaksa’ mau temenan sama mereka. Kalo enggak, tidak terima kasih dah. Nah, secara fisik kan mereka ini laki-laki yak. Namun, saya tidak bisa menjamin apakah mereka ini betulbetul lakilaki atau bukan. Kadang, tanpa atau dengan pengetahuan saya, mereka suka bercumbu mesra. Nyeremin. Jadi agak-agak sedikit ragu, begitu.


6. Sedekat apakah saya dengan duasahabatkurangwarastapibaikhati? Dekat, cukup dan sangat dekat. Dekat di mata dekat di hati. Mereka mengerti dan memahami saya jauh lebih mengerti dari apa yang saya bayangkan dan harapkan tentang pengertian sahabat saya yang lain dalam usaha mengerti diri saya yang sesungguhnya.


7. Apakah kedekatan saya dipermasalahkan orang tua saya? So far so good, dan saya tidak pernah berharap orang tua saya tidak mendukung kedekatan saya dengan mereka. Mereka dah dianggep kayak anak sendiri. Ngga ada permasalahan apa-apa saya deket sama mereka. Yang ada, malah orang tua saya seneng dengan mereka, disuruh jagain saya mah pas KKN kmaren *hikz sedih. Eh, tapi barusan tadi saya ke Rasau lagi nyamperin Pa’de ma Bude hehe*. Ya begitulah. Orang tua saya tidak mempermasalahkan.


8. Pertanyaan no 8 dah terjawab di no 7.

9. Bagaimana kelanjutan saya dengan sahabat-sahabat saya? Sahabat saya ada banyak. The most best friend ever is Itsna Isyri Ramadhani. Tetep aja dia yang pertamanya paham betul sifat saya, karakter saya yang fluktuatif, ga dikalahin wanita manapun di dunia ini deh. Baru the second most best friend ever is Onen. Paling ngerti saya. Belon nemu lagi laki-laki yang paham saya. Sayang aja dia item. Kalo dia putih dikiiit aja, saya minta kawin dah ma dia ke orang tua saya *tenang, ini bercanda. Eh, tapi kalo serius juga ga mungkin. Kan onen ga mungkin bisa putih haha*


Yeak, sementara itu aja. Persahabatan saya sama mereka, semoga tidak timbulkan fitnah yang macem-macem. Fitnah kan lebih kejam daripada pembunuhan. Saya sama mereka ga suka ngebunuh, sumpah. Apalagi jadi sumber pembunuhan. Sangat tidak dan tidak mau. Doakan kami langgeng sampe ke pelaminan, dengan pasangan kami masing-masing, nanti.


3 thoughts on “Mengenai sahabat

  1. diar says:

    wohoho…selama ini I’m guessing-guessing, kirain siapa… ternyata… those guys? (kirain perempuan lho, beneran)

    sounds like a very fun friendship🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s