Sang Pecinta Tarbiyah

Beberapa orang mungkin berekspresi ragam wacana begitu membaca judul postingan saya kali ini. Ada yang senyum ikhlas tulus seikhlas mereka jalani Islam yang kaffah, ada yang senyum kulum sinis sesinis mereka menanamkan pemikiran tentang tarbiyah, ada yang biasa-biasa saja, ada yang tidak jadi membaca, ada yang senyum penuh kemenangan, ada yang tertawa jenaka, ada yang terbahak-bahak tertawa tanpa makna.

Beberapa orang pengunjung blog saya, saya yakini tak kuasa tinggalkan jejak kehadiran mereka, baik di shout out apalagi kolom komentar. Pembaca pasif, gitu kali ya istilahnya kalo untuk pembaca blog. Kalo untuk pendengar radio kan, yang ga nelpon tapi tetep denger namanya pendengar pasif hehe. Jadi, pembaca blog, kalo baca doank tapi ga komen, namanya pembaca pasif. Nah, makanya ayo dong pada kasi komen… *ngebujuk pliiiiis mode on*

Pecinta Tarbiyah, I am, and some of my so called-bestfriendsever are… Iya, saya pecinta tarbiyah, wahai teman. Terima kasih untuk azamkan sebutan itu buat saya ya. Sungguh luar biasa penciptaan Allah SWT, semakin tampak di hadapan mata saya beragam jenis umat manusia. Pecinta Tarbiyah, begitu link saya di blog seorang teman. Saya senang dengan nama Pecinta Tarbiyah, karena saya memang mencintai tarbiyah yang secara harfiah berarti pendidikan. Secara kita anak FKIP, begitu hehe. In case, tarbiyahnya Nabi Muhammad, juga saya cintai meski cintanya seringkali terbagi kian kemari.


Dan postingan kali ini saya spesialkan untuk semua pecinta tarbiyah, untuk semua orang yang bisa menerima tarbiyah, dan semua orang yang bisa dengan ikhlas berjalan di atas aturan-aturannya. Dan saya, salah seorang dari sekian banyak pecinta tarbiyah, yang kadar cintanya tentu saja jauh dari kecukupan cinta untuk merasakan inti dari tujuan kehidupan hidup manusia, yaitu bahagia.


Saya sadar dan cukup tau diri bahwa saya jauh dari kriteria kata a besar k besar h besar w besar a besar dan t besar seperti yang disandang teman-teman saya. Saya sadar dan sangat tau diri juga bahwa performa saya kadangkala membuat sebagian orang merangkai penilaian cantik nan indah, seindah kata a besar k besar h besar w besar a besar dan t besar. Saya tak ingin mengelak, pun tak punya kendali untuk menghindari. Seluruh kuasa penilaian tentang saya, bukan di tangan saya sendiri. Maka, untuk apa saya menjadi begitu antipati dan membenci sesuatu yang jauh dari dalam dasar hati paling dalam amat saya cintai dan butuhkan, walopun belum bisa seratus persen saya jalani?


Maaf teman, dan teman-teman, saya yakin saya jauh dari yang diharapkan. Here I am. Once I told you that I am just like the process of butterfly. Fast to fly as it fasts to die. Actually I do really hate to say that, again and again, I am in progress. Proses, ya sebuah proses. Seberapa lama pun saya jalani, kalau memang tidak ada niat sama sekali dari dalam diri saya untuk selesai dari proses itu, maka tiada kata usai. Dan sepertinya, proses saya tak kan pernah selesai, hingga nafas saya berhenti berhembus.


Saya pecinta tarbiyah, mencintai tarbiyah, mengagumi tarbiyah, mencoba dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan tarbiyah sebagai salah satu metode yang baik seperti yang pernah dikatakan seorang teman baik hati ketika saya ajak berdiskusi mengenai hal ini. Semoga, saya seorang pecinta tarbiyah yang setia terhadap Islam, yang mau membuka diri untuk belajar tak hanya dari tarbiyah saja.


Langit ini luas, meskipun warnanya hanya biru saja di pagi, siang, dan sore hari serta tampak gelap ketika malam. Ya, langit itu luas, sangat luas. Salah seorang dari duasahabatkurangwarastapibaikhati seringkali berkata pada saya, bahwa ilmu tak cukup diambil dari satu sumber saja. Saya setuju, sahabat. Sebab itulah saya tak hanya belajar dari satu orang saja dengan kondisi saya yang begitu sugestif dan fluktuatif *idih, fluktuatif lagi, capede*


Begitu ceritanya, teman-teman hehe. Cerita apanya? Lah, sebenernya awalnya tadi mau ngobrol tentang nama-nama saya di blog link temen-temen blogger. Kenapa jadi ini doank? Hehe.


Btw, makasih banyak untuk temen baik hati untuk link Dinie The Kupu, untuk mas Edi Samsuri untuk link DiNie-Makassar *salah atuh kang*, dan untuk Kak Diar untuk link dengan deskripsi yang bikin saya seneng.


2 thoughts on “Sang Pecinta Tarbiyah

  1. fitri ushinawareta says:

    kenapa? ada yang salah?? bukankah dirimu emang pecinta tarbiyah???

    katakan salah, jika salah.
    katakan benar, jika benar.

    **********

    baidewei, terlepas dari itu semua. kata2nya terlalu berbelit-belit, berulang-ulang, kadang malah agak sulit dimengerti, sehingga musti dibaca berulang-ulang, sama seperti tulisannya yang berulang-ulang….

    wakakakakakaka……..

    *saya yakin, semua orang emang punya gaya tulisan yang berbeda-beda*

    wallahu’alam

  2. thekupu says:

    tulisan-tulisan dini kayaknye emang untuk dibaca berulang-ulang kak pit, khusus untuk orang yg perlu bacenye ngulang2.

    nothing wrong if we thing we r right
    nothing right if we thing people are never wrong but hypocrite😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s