Bukan sekedar mata uang, hati juga

Saya seneng dengan tulisan-tulisan saya, dan recenly cukup senang untuk mengilas balik yang satu ini.

That’s why, my Lord…
Send me one to lie down
To let out this frown
To astonish me that I also need my head to put a crown

Bicara rasa memang ga ada habisnya. Makanya saya sebenernya agak-agak males mau kilas balik tentang rasa. Anyway, beberapa malam yang lalu, jelang pergantian hari, saya sempat sharing sama seorang sahabat setengah jam sebelum pergi tidur, bahwa saya seringkali begitu takut untuk kembali olah rasa.

Emang gimana gitu caranya mengolah rasa? Kan saya ga pinter masak? Nyehehe… ga ada hubungannya sama masak memasak sih. Walaupun masak ADALAH masalah yang cukup sensitif kalo dibicarakan bersama saya, tapi perihal mengolah rasa yang satu ini rasanya jauh lebih sensitif daripada sekedar memasak.


Saking sensitifnya, hingga kadangkala umat manusia tidak merasa bahwa RASA dalam HATI bisa berfluktuasi layaknya mata uang. Paling tidak, begitulah yang saya rasakan. Naik turun rasa dalam hati: bingung, seneng, kecewa, khawatir, ya sekarang ini benar-benar sedang fluctuating feeling.


3 thoughts on “Bukan sekedar mata uang, hati juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s