Dramatisasi diri

Saya ke kiri, ada magnet kuat di kanan.

Saya ke kanan, di kiri ada magnet lain yang mengerti kejengahan saya.

Saya ke tepi, lantas saya dikatai dengan halus dan berbudi.

Saya kebingungan, dan teman saya baru akan menghampiri setelah beberapa hari saya hilang hati.

Terlambat, jedanya sudah cukup lama. Saya sudah berada dalam sebuah kecantikan arti pertemanan yang tak ucapkan ingin. Benar-benar dramatisasi diri, dramatisasi dini. Kalian mencari masalah untuk saya, bahkan jelang pengganjilan usia saya sebentar lagi.

Saya berada dalam fase nyaman untuk dapatkan diri saya yang dulu, dalam pencarian diri, lantas dipandang merusak ikrar terpuji. Baiklah, teman-teman. Melepas ikrar *saya senang menyebutnya: melepas label* bukanlah perkara susah, semudah saya menyandangnya tanpa pikir panjang. Hari ini pun, akan saya lepas dengan kekuatan melepaskan yang kalian berikan, meletakkan saya dalam posisi begitu penuh noda. Ya, terima kasih teman-teman. Teman-teman yang tak paham diri saya sepenuhnya, seperti saya belum paham diri saya seutuhnya.


Langitnya biru, luas, siap memayungi saya yang akan terus bertualang. Siap pula menghujani saya dengan ribuan ilmu untuk terus saya selami.


Harusnya seperti itu. Tapi, barisan kata yang sudah saya selipkan rupanya tak juga dipedulikan, dan segera diambil benang merah kasar untuk menyimpulkan permasalahan bahkan di depan orang ramai. Benar-benar teman yang baik. Terima kasih, teman-teman.


Dan pilihan sudah di tangan: labelnya sementara ini akan saya lepas. Sampai jumpa entah kapan.

4 thoughts on “Dramatisasi diri

  1. thekupu says:

    Rupanya sutra lembut itu tak juga layak didampingi jiwa penuh gejolak ingin lepas dari keterpasungan.. Benang merah kasar itu terlanjur dililitkan dgn cantik, agar lama2 ia bisa halus seperti sutra yg tak memicu adab biadab.

  2. Dian Jarumi says:

    wahai jiwa-jiwa yang sepi dari suara, yang terlilit oleh benang-benang yang menyesak tatkala menyerakkan diri dari asa tuk melangkah lagi, melangkahlah di jalanmu, namun jangan sampai keluar dari angin dingin yang kan mengantarmu ke danau bening yang jernih dan segar bahkan lebih dari itu.
    Sesungguhnya perjalanan masih belum usai.

  3. thekupu says:

    dan perjalanan akan dilanjutkan dengan jiwa penuh optimisme… sendiri tak berarti lari. dan kutaksendiri, karena Dia bersamaku, dan kuyakin engkau menemani…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s