Please, re-paint me…

Juni sudah berlalu 18 hari, dan saya masih merasa 4 buah resolusi untuk dicapai tahun ini belum juga terpenuhi. Bisakah mereka dihilangkan dari diri saya? Sungguh, saya seringkali merasa diri saya bergumam “Enggak kok, saya ngga gitu deh”, atau “Kan manusia punya sisi lemah dan kekurangan juga toh?”. Iya, betul dini. Tapi, masa ga cape sih nyimpen sifat jelek gitu?

Sungguh, amat sangat cape. Lelah, tak terperikan lelahnya. Membaca kembali resolusi tersebut, semangat saya untuk kembali berubah bangkit lagi! Berubah menjadi lebih baik lagi. Apa ketidak (belum) berubahan ini akibat sifat sanguinis saya? Atau saya yang telah memilih untuk menjadi sanguinis sehingga untuk benar-benar penuhi resolusi yang terkesan sederhana itu jadi begitu sulit sekali?

Berulangkali, selama menajalani kehidupan saya yang jelang masa-masa melewati angka 20 ini, saya telah cukup sering memilih perasaan: joy!

Yes, I choose to be happy everyday. Even it will be OK if I have to be happy after being sad. Because being sad means I am in my nice step to be happy everyday.

Ya, saya pernah menulis seperti itu. Betapa optimisnya saya. Kemana saya yang saat itu? Ayo, Dini! Mari bangkit lagi! Optimislah. Pilihlah perasaan bahagia. Pilihlah senang dan gembira. Pilihlah untuk tersenyum. Pilihan-pilihan itu sudah menanti cukup lama di depan mata. Hanya saja, saya terlalu lama timbul tenggelam tapi lama menikmati ketenggelaman saya.

Saya selalu yakin dah percaya bahwa saya tak diinginkan. Perasaan bodoh itu sudah berkelana menggerogoti pikiran saya bahkan sejak saya SMA Kelas 1. Dia bermain-main dalam alam pikiran saya, mempengaruhi saya yang sedang lemah dan tak berdaya, dan membuat saya mulai berlinang air mata. Tak ada guna, tak ada manfaat, dihampiri hanya untuk disakiti, dihampiri untuk diambil sarinya. Ya, pikiran-pikiran bodoh itu yang suka berjalan-jalan leluasa, berputar dalam sel terkecil di tubuh saya.

Betapa fluktuatifnya perasaan saya. Amat sangat fluktuatif. Ya, saya pernah menjadi orang yang sangat optimis. Sebuah rasa yang diawali dengan sebuah hal penting dan indah.

Ya, hari ini saya ingin merubah warna lagi. Saya adalah yang sempat diberi warna cerah, dan akan segera ‘mewarnai’ diri saya lagi dengan suntikan semangat lain. Semangatlah! Mari memilih perasaan lagi…

3 thoughts on “Please, re-paint me…

  1. Bang_Ichan says:

    Bisa gak ya “re-paint” diri sendiri???? Hmmm kayaknya harus dicoba nih….
    Tapi, apapun warna cat yang kita pakai yang penting tetaplah menjadi diri sendiri, merubah cat bukan berarti merubah wajah.😀

  2. thekupu says:

    annisamy, thx a lot ya…

    bwt bang ichan, iyup… repaint doesnt mean change yourself completely… changing better, that’s the key🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s