Let’s open the eyes…

Tahun 2006 lalu, hari jumat, saya masih ingat saat saya dan seorang sahabat kebingungan akan melarikan diri kemana setelah kuliah usai. Sedangkan untuk pulang ke rumah, nanggung. Nongkrong di perpustakaan, ga bisa ribut-ribut. Ke kantin, udah kenyang. Lah, trus gimana nih ren? Begitu pertanyaan saya waktu itu.

Sementara, seorang sahabat lain sudah bergabung dalam sebuah forum yang saya tak tau apa namanya waktu itu. Ya udah ren, kita ikut gabung ke situ aja yuk. Seperti itu kira-kira bunyi ajakan saya. Akhirnya, duduklah saya dan Rena dalam lingkaran sekumpulan muslimah yang sedang mengaji, mengkaji, dan membahas suatu materi.

Itu kejadian saat saya semester 3. Sebuah forum yang dulu begitu saya hindari, saya bingungi *bingungi? kosakata apa itu?* dan tidak begitu saya ambil peduli *ehehe maksa nih bikin kalimat berima sama*. Iya, saat itu saya tidak tau bahwa ternyata forum yang saya masuki tanpa sengaja itu adalah sebuah kegiatan rutin yang sangat bermanfaat untuk mengisi batere ruhiyah sepekan sekali.

Tapi sejujurnya, selama perjalanan dari saya semester 3 sampai pertengahan semester lalu, beribu pertanyaan berkecamuk dalam kepala saya. Apa ini? Kenapa harus tiap minggu? Kok kalo saya absen diuber-uber sih? Apaan tuh ta’limat? Apalagi tu MR? Waah banyak banget waktu itu pertanyaan yang bahkan sampai sekarang pun jawabannya belum terlalu memuaskan. Namun…


setelah beberapa waktu lalu berdiskusi dengan seorang teman yang saya kenal lewat friendster seorang sahabat, saya berkali-kali menganggukkan kepala, bergumam, “Iya juga ya”. Berikut isi argumen teman saya tersebut:

* Emang harus ikhwan akhwat?
Beberapa waktu lalu seorang teman saya milih mundur dari jamaah. Mungkin ada akumulasi alasan ketidaknyamanan. Tapi salah satu yang saya denger ya soal penggunaan kosakata ikhwan akhwat. Dia ngerasa itu mengkotakkotakkan saudara sesama muslim. seolah-olah kalo nggak ngaji maka bukan ikhwah (saudara) kita. Sederhana sekali ya alasannya.

“dia kan bukan ikhwan” atau “dia kan bukan akhwat?” kadang istilah ini dipakai untuk mengidentifikasikan apakah seorang itu ngaji (baca: LQ) atau nggak. Emang salah ya? Enggak ah, tergantung konteks kalimatnya aja.

Emang pengertian ikhwan/akhwat (selanjutna saya singkat ikhwah gitu ya)sebenarnya bagus kan? Bukan sekedar pemanis dalam sapaan tapi menunjukakn ikatan kahs. Ikatan persaudaraan. Bukankah kita semua muslim bersaudara? terlepas apakah kita berada pada organisasi yang berbeda.

Nah mungkin yang yang tidak kita pahami, ketika istilah ini juga digunakan untuk mengidentifikasikan suatu kelompok. Dan bagi saya wajar ketika suatu kelompok mengadopsi sebuah istilah sebagai identitas bagi pengikutnya. Nah temen2 tarbiyah biasanya make kosakata ikhwah, sebagaimana nahdliyin bagi saudara2 NU, atau Hizby bagi saudara2 HT.

Yang lebih penting apakah kemudian penggunaan istilah ini mencabut hak2 saudara muslim kita atau tidak. Salah ketika mentang2 dia bukan ikhwah (dalam pengertian sempit) lalu kita nggak mau senyum saat bertemu, membesuk ketika tau ia sakit, mendo’akan, menjaga kehormatan, harta dan keluarganya. Yang jelas semua Muslim itu ikhwah (saudara) kita. Tapi gak salah kan ketika ada yang menggunakan istilah ini buat identifikasi atas sebuah kelompok.

* Kenapa harus tarbiyah?
Nggak harus kok. Nggak ada paksaan dalam agama. Apalagi Tarbiyah. Masuk tarbiyah juga bukan jaminan surga. Maka jangan janjiin surga ke adik2 atau teman2 kalo mau ngajak mereka ngaji. Murobbi juga gak bisa ngejamin kita bebas dari neraka. Tapi, emang ada jaminan juga kalo kita sendirian kita bisa bebas dari neraka dan masuk surga? Enggak juga kan. Nah soal masuk surga neraka itu kembali ke masing2 orang.
Ikut Tarbiyah tidak menjamin kita masuk surga, sama halnya dengan tidak ikut tarbiyah pun tidak menjamin kita bebas dari neraka.

* Kalo saya memandangnya begini:
Kenapa saya ikut Tarbiyah? Tarbiyah itu semacam metode saja. Kebetulan kalo saya pribadi gak punya cukup metode untuk meningkatkan wawasan keagamaan, menjaga perilaku dan amal yaumi saya. sementara Tarbiyah menawarkan itu. Di sana ada pertemuan pekanan, ada mukhoyam, ada tatsqif,dll.

Kalo ust. Ali Abdul Halim Mahmud, dalam bukunya bilang: tarbiyah adalah cara ideal berinteraksi dngn fitrah manusia, baik secara langsung (berupa kata2) maupun tidak langsung (berupa keteladanan, sesuai dengan sistem perangkatnya yang khas) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.
-menuju kondisi yang lebih baik-

Itu tujuannya. Dan kalo kita bisa mencapai tujuan itu tanpa ikut tarbiyah ya nggak masalah. Lewat jalur lain ya oke2 aja. Sendiri atau bareng2 ya sama aja. Cuma lebih mudah untuk beramal baik itu kalo kita ditengah keramaian. (kayak lagu Tombo Ati itu lo; berkumpullah dengan orang2 soleh, ato ya minimal punya niat jadi orang soleh)

Nah, sekali lagi, intinya adalah NIAT, keikhlasan kita. Satu lagi juga: YAKIN. Kalau merasa masih belum bisa yakin dengan jalan ini, maka jangan ditempuh dulu. Tapi, kalau teman-teman tidak yakin bisa bertahan di jalan yang sebenarnya sudah teman-teman yakini kebenarannya, maka jangan berhenti berusaha untuk bertahan. Sesungguhnya ketidakyakinan itu adalah ujian dari Allah SWT dalam proses perubahan diri untuk menjadi lebih baik.

Milikilah niat kuat itu. Bukalah mata dan hati kita.

P.S. Seseorang yang amat saya cintai mengingatkan saya: “Pemuka Agama Bukanlah Agama Tersebut”. Dan saya pun merenung, “Orang ga pacaran belom tentu tarbiyah. Orang tarbiyah belom tentu ga pacaran” Hehe… maksa gak sih?

Wallahu’alam Bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s