Please, zap my lips

Saya pernah kerepotan dengan ‘kecanggihan’ yang melekat pada diri saya. Kecanggihan gimana?

Begini…

My friend told me once that I am very talkative, more than ones she ever found! She said that I am always dominating a conversation. Even, one others (who used to be quite close to me) said that I have no intention to LISTEN. He kept talking, “Dini, you are NOT listening,”. Yeah, maybe it made him leave me now. It was a matter, but it is not anymore… and I am not gonna discuss about that. What I am gonna share here is about my ‘kecanggihan’ itu tadi…

“Dini ni, mulutnye canggih. Ndak pandai diam. Ndak cape keh din ngomong terus?” Begitu komentar Sussi, seorang sahabat, yang saya rasa sudah kese-entah-kian-kalinya berkata begitu setiap momen saya dan Gaby berkumpul di sela tiada dosen, tiada kuliah, dan tiada daya upaya untuk ikut kelas (males maksudnya hehe). Yeah, ada yang bilang saya orangnya mendominasi, saya suka ngomong, banyak omong, cerewet, pengomong, ribut, heboh, semuaaaa deh yang hubungannya sama ngomong. Sampai-sampai, pernah saat ditanya saya hobinya apa, saya jawab siaran! Hehe. Sekarang ga deh kayaknya. Malah cenderung males siaran ah. Lebih suka rekaman. *oke, fokus din, fokus. Be systematic!*

Dulunya, daftar sifat-sifat yang berkaitan sama ngomong dan ga bisa diem itu sempat membuat saya khawatir untuk menjulurkan jilbab seperti yang diperintahkan dalam Q.S 33:59 dan Q.S 24:31 kepada seluruh wanita muslim di dunia. Agak-agak khawatir juga kalau-kalau nanti citra wanita muslimah yang berjilbab jadi berubah gara-gara saya yang seperti ini. Nah, seperti apa sih memangnya saya?

Oke oke. Seperti di awal saya jelaskan, bahwa teman saya mengganggap saya adalah orang yang mendominasi, ga bisa diem, dan lain sebagainya. Tidak salah, memang. Pernah gara-gara ketidakbisadieman saya itu, saya keceplosan ngomongin agenda rutin mingguan di depan sahabat saya. Yea, walopun sahabat, sebaiknya juga ga tau, gitu…


Sampai akhirnya, saya bingung juga dengan masalah saya ini, saya pun qodoyah sama si ‘bos’. Katanya, emang susah orang sanguinis, harus ada yang bisa ngontrol. Kalo diri sendiri ga bisa kontrol, maka cobalah minta kontrol dengan sahabat atau teman yang sering sama-sama (jalan bareng) dini. Begitu saran ‘bos’ waktu itu.

Sanguinis ya? Well, itu artinya sifat sanguinis mendominasi dalam diri saya. Ya, saya memang sanguinis sepertinya. Lihatlah daftar berikut ini:

Karakter SANGUINIS pada umumnya mempunyai:
KEKUATAN:
* Suka bicara
* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
* Antusias dan ekspresif
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu
* Hidup di masa sekarang
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
* Umumnya hebat di permukaan
* Mudah berteman dan menyukai orang lain
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
* Mengambil inisiatif / menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
* Menyukai hal-hal yang spontan

KELEMAHAN:
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
* Susah untuk diam
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
* Mudah berubah-ubah
* Susah datang tepat waktu jam kantor
* Prioritas kegiatan kacau
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya
* Egoistis
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
* Konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”.

Saya pengen sekali mengomentari setiap poin yang ada di character-list sifat sanguinis di atas. Beberapa poin, iya bener. Sedangkan poin lainnya, hehe iya kadang bener juga. Gila, ebad juga si eyang hippocrates bisa nebak sifat saya yak?

Tapi, saya sungguh-sungguh ingin mengonversi (atau mengkonversi sih) beberapa kelemahan itu menjadi sebuah energi positif supaya tidak menjadi penghambat kebangkitan Islam. Yeah, mana tau kaaan, ternyata gara-gara sifat sanguinis saya itu, apa yang seharusnya segera terjadi malah jadi penghambat. Nah, I really don’t wanna be the part of the obstacles, as well as I don’t wanna be only the spectator of the Golden Back Era of Islam. I wanna be the part of it, and I WILL…

That’s why, PLEASE people… Help me vanishing, or if it is too impossible, help me minimizing ‘si sanguinitas’….

Nah, what about you? What is (are) your obstacle(s) in facing yourselves?

One thought on “Please, zap my lips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s