Again, silly emotion

Betapa naifnya saya, lagi dan lagi.

Ternyata…
Saya belum cukup dewasa untuk mencintai.
Saya belum cukup pengertian untuk memahami.
Saya belum cukup profesional untuk tidak cemburu.
Saya belum cukup mampu untuk menahan hati.

Padahal…
Saya pernah berkata bahwa ketakutan manusia terhadap sesuatu di dunia, justru akan membawa manusia pada ketakutannya itu.
Sekali saja saya berkata saya takut mencintai orang yang tak berani saya cintai, maka sebenarnya saya sedang dalam proses mencintai orang tersebut.
Maka, sedikit saja saya merasa takut kehilangan orang yang sudah berhasil saya cintai dan mencintai saya itu, maka jejak awal ketakutan itu akan tampak pula.

Bersiaplah kehilangan manusia, wahai manusia.
Karena, tidak akan ada seorang manusia pun yang tak kehilangan, sesuatu dan seseorang yang sangat dicintai sekalipun.

Terima kasih, telah terbuka mata hati ini kembali, bahwa manusia bukan untuk diharapkan, tidak untuk dinantikan. Bukan manusia tujuan saya kembali. Bukan manusia yang selamatkan hidup saya. Bukan manusia yang membawa saya menjadi tetangga Rasulullah. Seluruh manusia di dunia ini tau, hanya Allah SWT saja yang paling pantas dinanti, paling berkuasa menyatukan saya dengan manusia-manusia yang sudah sadar bahwa tidak ada seorang manusia pun untuk dijadikan tempat bergantung dalam hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s